
Naga Yin dan Yang bisa melihat dengan jelas Istana Marry dari ketinggian. Namun mereka berdua tidak langsung turun. Mereka berdua ragu untuk turun setelah melihat sosok Marry yang tengah terbang sembari terus membombardir seseorang.
"Yang... Apa yang sebenarnya terjadi?" Naga Yin ingin mengumpat sejadinya kepada Naga Yang. Melihat lawan yang harus mereka berdua hadapi dalam merebut kembali segel.
"Aku juga tidak tahu... Tapi jika benar Demon itu adalah musuh, maka kita harus segera melenyapkannya." Balas Naga Yang.
"Sial..." Umpat Naga Yin. Dirinya tidak punya pilihan lain selain menuruti perkataan Naga Yang. Sosok Marry yang telah berubah menjadi Super Demon tentu akan membuat kekacauan. Mereka berdua sebagai penjaga pintu keluar Dunia Abyss, cepat atau lambat pasti juga akan terkena imbasnya. Lebih baik melenyapkan Marry sekarang, daripada menunggu Marry mengumpulkan kekuatan yang jauh lebih besar nantinya.
Kedua Naga Yang dan Naga Yin terbang menukik untuk turun. Mencoba membantu Alan yang sedang terpojok oleh bombardir serangan dari Marry.
Wush...
Semburan api hitam dan putih langsung menuju ke arah Marry dengan kecepatan tinggi.
Duar...
Layaknya membentur sebuah perisai tebal. Semburan api hitam dan putih yang dikeluarkan Naga Yin dan Yang terhenti beberapa meter di hadapan Marry. Tidak ada sepercik api pun yang bisa mengenai tubuh Marry.
"Tikus pengganggu!" Marry melihat ke arah asal serangan yang baru saja mengenai perisai pelindungnya. Melihat dua ekor Naga yang terbang bersampingan, Marry pun melancarkan serangan balasan.
"Mati kalian!" Lima buah gelombang energi hitam meluncur ke arah Naga Yin dan Yang. Menyasar mereka berdua dengan kecepatan tinggi.
Duar...
Naga Yin dan Yang membalas serangan Marry dengan semburan api hitam dan putih mereka. Namun tanpa mereka duga, serangan Marry terus melaju ke arah mereka berdua, seakan semburan api hitam dan putih yang baru saja mereka berdua lepaskan tidak memiliki efek pada serangan Marry.
Boom..
Boom..
Tubuh Naga Yin dan Naga Yang langsung terpental mundur jauh, mereka berdua jatuh dari ketinggian akibat serangan dari Marry.
'Joker... Apa yang sebenarnya terjadi?'
Tadinya Alan busa sedikit bernafas lega, melihat Naga Yin dan Yang datang membantunya. Namun melihat kedua Naga tersebut terpental dalam satu pertukaran serangan, tentu membuat dirinya berpikir keras. Dirinya tahu sekuat apa kekuatan yang dimiliki Naga Yang, yang telah mengikat Shadow Blood di dalam tubuhnya.
[Semburan api Naga Yin dan Yang terhalau oleh medan energi, yang disebut Absolute Domain. Mirip dengan Shadow Zone yang kamu miliki, hanya saja fungsinya untuk melindungi tubuh.]
'Lalu ada apa dengan pertukaran serangan mereka tadi? Seharusnya atribut Naga Yin dan Yang bisa mengimbangi serangan Marry.'
[Serangan Naga Yin mengandung unsur kekuatan kegelapan, yang menjadi sumber kekuatan Marry. Serangan Marry menyerap kekuatan semburan api Naga Yin, dan menjadikan serangan Marry lebih kuat.]
'Sial... Ada cara untuk mengalahkannya?'
[Ada dua pilihan AS. Satu kamu memaksa Marry masuk ke dalam The Forgotten World. Cara kedua adalah menyerang Marry dengan sihir elemen cahaya yang kuat.]
"Ah... Andai saja ada Azazel disini..." Alan mengumpat sendiri. Jika saja Azazel ada disini, Azazel bisa mengumpulkan berkah cahaya untuk menyerang Marry. Namun kenyataan berkata lain.
Duar...
Duar...
__ADS_1
Setelah menyerang Naga Yin dan Yang, Marry kembali menjadikan Alan sebagai sasaran utamanya. Dirinya kembali melayangkan serangan gelombang energi hitam dari ketinggian.
"Kita harus segera membantunya!" Flyin merasa frustasi. Melihat Naga Yin dan Yang jatuh dengan satu serangan, dan Alan kembali harus menghindari serangan serangan dari Marry.
"Ayo Selene... Kita bantu dia!" Rendemiz mengeratkan genggamannya pada Timeless Blade. Memantapkan niatnya untuk membantu Alan dalam menghadapi Marry.
"Tapi kakak..." Selene mencoba memperingatkan. Namun melihat Rendemiz yang langsung menghilangkan keberadaannya, dirinya tahu jika apa yang baru saja dirinya lakukan itu percuma.
"Ah... Kamu berhutang segentong darah padaku untuk ini..." Selene mengambil cambuknya, bersiap membantu Rendemiz untuk menghadapi Marry.
Thang...
Thang...
Marry merasakan adanya seseorang yang menyerang perisai pelindungnya. Namun dirinya tidak bisa melihat siapa yang menyerangnya, hanya sebuah getaran getaran listrik yang tercipta akibat gesekan perisai pelindung dengan sebuah serangan saja yang bisa dirinya lihat.
Belum sampai Marry bisa menyadari keberadaan sosok yang menyerang dirinya, Marry harus mengalihkan pandangannya pada ayunan cambuk yang melesat ke arah dirinya.
Thang...
Thang...
Sama seperti serangan Rendemiz, semua serangan cambukan Selene hanya bisa menggetarkan perisai pelindung Marry. Tidak ada satupun serangan dari mereka berdua yang berhasil mendekati tubuh Marry, semua berhenti beberapa meter di sekitar tubuh Marry.
"Tikus..." Marry melayangkan serangan gelombang energi hitam ke arah Selene. Meskipun dirinya sedikit menyayangkan harus membunuh Selene disini.
Duar...
"Sial... Tidaka ada carakah untuk menembus pertahanannya?" Selene merasa terheran, kekuatannya telah meningkat begitu pesat Tapi tidak ada satupun serangan dirinya yang berhasil menembus perisai pelindung Marry.
"Binasalah kalian!" Marry membombardir serangan ke segala arah, mencoba menyerang Rendemiz yang tidak terlihat. Sesekali dirinya juga menyerang ke arah Selene yang mencoba mencari celah untuk menyerangnya.
"Ini waktunya!" Alan merasa memiliki celah untuk sekedar mendekati Marry dan membuka gerbang ke The Forgotten World. Yang dirinya perlukan hanyalah sebuah pengalihan agar dirinya bisa cukup dekat dengan Marry.
"Shadow Stab!"
"Bagaimana bisa?" Alan yang mencoba muncul di dekat Marry terkejut, mendapati dirinya masih berada beberapa meter di belakang Marry. Merasa tidak ada pilihan, Alan menebaskan The Forgotten World untuk membuka gerbang The Forgotten World.
Thang...
Tebasan The Forgotten World membentur perisai pelindung Marry. Namun di perisai pelindung Marry muncul sebuah retakan, retakan kecil yang sedikit demi sedikit mulai membesar. Hingga menjadi sebuah lubang hitam yang menghisap semua yang ada di dekatnya.
"Semua menjauh!" Alan memperingatkan semua yang ada di tempat tersebut agar menjauh. Takut jika ada orang lainnya yang terhisap ke dalam The Forgotten World selain dirinya dan Marry.
"Bocah..." Marry benar benar tidak menduga akan kemunculan Alan dan retakan dimensi yang menghisap dirinya dan sekitarnya. Tapi dirinya lebih terkejut dengan senjata yang Alan pegang. Senjata yang sangat dirinya kenali sebagai senjata ayahnya dulu.
"Darimana kamu dapat senjata itu?" Marry memperbesar aura kegelapan yang menyelimutinya, melindungi dirinya dari hisapan lubang hitam.
Melihat Marry bisa bertahan dari hisapan lubang hitam, Alan langsung melompat ke belakang. Takut jika malah hanya dirinya saja yang terhisap, sedangkan Marry tidak.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku!" Marry semakin memperbesar aura kegelapan yang menyelimutinya, mengumpulkannya beberapa di tangan lalu melemparkannya ke arah Alan.
__ADS_1
Duar...
Alan yang tidak bisa berbuat banyak untuk menghindar harus mengaktifkan skill pelindung dari gauntletnya. Membuat Alan bisa bertahan dari serangan Marry.
"Tuan... Cepat tutup lubang hitam itu!" Flyin berteriak kencang. Memperingatkan Alan jika dirinya beserta semua yang ada di sekitar tempat itu sedang berusaha keras untuk tidak ikut terhisap.
"Ah... Sial... Rencana ini gagal..." Alan terpakasa harus menutup lubang hitam yang menghubungkan ke The Forgotten World. Dirinya tentu tidak ingin dirinya ditinggal berdua dengan Marry di tempat ini.
"Bocah... Berani kamu mengabaikanku!" Marry semakin marah, dirinya sudah marah kepada Alan sedari tadi. Tapi setelah mengenali belati yang dipakai Alan dan melihat sikap Alan, membuat Marry benar benar murka.
"Akan kuhabisi kalian sampai ke tulang tulang kalian!" Marry merentangkan kedua tangannya ke samping. Seakan dirinya sedang mengumpulkan kekuatan yang begitu besar.
"Gawat... Kita harus cepat pergi!" Selene menarik paksa tangan Rendemiz. Melihat apa yang dilakukan oleh Marry, tentu dirinya sadar jika mereka tidak akan selamat jika tidak segera pergi dari tempat tersebut.
###
Naga Yin dan Yang terpaksa harus memakan gumpalan tanah di mulut mereka. Terjatuh dari ketinggian benar benar sangat tidak mengenakkan.
"Yin... Kamu tidak apa?" Naga Yang berusaha bangkit secara perlahan. Tubuhnya terasa begitu sakit akibat menerima serangan dari Marry tadi. Dari sekali pertukaran serangan tadi, dirinya bisa mengetahui jika serangan Marry menyerap serangan yang dikeluarkan oleh Naga Yin.
"Ya... Ini hanya luka kecil..." Naga Yin berusaha bangkit, namun luka di tubuhnya tidak bisa dibohongi. Dirinya sudah terluka karena pertarungan dengan Naga Yang tadi. Dan kini harus menambah luka dari serangan Marry. Untuk menggerakkan tubuhnya saja kini terasa begitu kaku bagi dirinya.
"Kita terlalu meremehkannya." Naga Yang mencoba membantu Naga Yin untuk bangkit.
"Tidak apa Yang... Tinggalkan aku... Bantu mereka. Lagipula aku tidak bisa berguna jika melawannya." Naga Yin sadar diri, serangan yang dirinya keluarkan akan terhisap oleh kekuatan yang dimiliki oleh Marry. Jika dirinya ikut bertarung, dirinya malah akan semakin memperbesar beban bagi Naga Yang.
"Yin..." Naga Yang tetap bersikeras, dirinya tidak ingin meninggalkan Naga Yin yang sedang terluka.
"Kamu harus bisa menghabisinya. Apapun yang terjadi!"
"Kau... Dasar egois... Baiklah... Tunggu disini... Jangan mati!" Naga Yang mengepakkan sayapnya lagi, untuk kembali terbang ke Istana Marry.
"Seharusnya aku yang bilang seperti itu Yang..." Naga Yin tahu jika partnernya perlu berusaha ekstra keras untuk bisa mengalahkan Marry. Bahkan mungkin saja Naga Yang harus mengorbankan dirinya nanti.
Naga Yang menelan ludah dalam dalam ketika terbang, melihat kekuatan kegelapan yang sedang dikumpulkan oleh Marry.
"Ini... Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja!" Naga Yang memaksakan tubuh terlukanya, untuk terbang lebih cepat ke arah Marry.
Wush....
Semburan api putih langsung membentur perisai pelindung Marry. Membuat Marry mengalihkan pandangannya ke arah semburan api.
"Kamu masih hidup rupanya..." Marry mempersiapkan serangan ke arah Naga Yang, namun tanpa dirinya sadari.
Slash...
Sebuah tebasan pedang berhasil mengenai tubuhnya. Semburan api Naga Yang rupa rupanya hanya bertujuan untuk membuka jalan bagi Rendemiz untuk bisa menyerang Marry. Naga Yang menyerang Marry menggunakan kekuatan cahaya yang bisa digunakan untuk menyeimbangkan perisai pelindung Marry.
"Bagaimana bisa?" Marry nampak terkejut, melihat darah hijau mulai keluar dari bekas luka yang Rendemiz berikan. Padahal luka tersebut baru saja bisa sembuh setelah dirinya berubah menjadi Super Demon.
"Bagus Flyin..." Alan yang melihat semua situasi dengan jelas memuji kejelian Flyin dalam membaca pikiran Naga Yang. Mengetahui Naga Yang akan membukakan jalan untuk menembus perisai pelindung Marry, Flyin langsung meminta Rendemiz untuk menyerang Marry dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Ya... Hanya Rendemiz yang bisa melakukannya, Rendemiz yang memegang Timeless Blade. Dengan mengaktifkan Time Space, Rendemiz bisa menyerang Marry dengan cepat. Meskipun waktu yang dirinya miliki tidak sampai satu detik. Tapi satu detik dengan menggunakan Time Space? Rendemiz tentu bisa melakukan banyak hal.