
"Kurang ajar!" Asmodias berkali kali mengumpat. Dirinya hampir putus asa menghadapi sosok yang kini bisa dirinya lihat dengan jelas jika sosok yang di hadapannya bukanlah seorang Demon, Alan.
"Siapa kamu sebenarnya?" Asmodias mengelap darah hijau yang merembes di ujung bibirnya sambil mencoba untuk bangkit. Sudah beberapa kali dirinya merasakan pukulan atau pun tebasan yang Alan berikan. Dan entah kenapa pukulan maupun tebasan yang Alan berikan jauh lebih kuat daripada ketika dirinya menghadapi Alan di Istana Chigaza tadi.
"Namaku AS! Aku tidak akan mengulang tawaranku kepadamu lagi... Turuti semua perintahku! Maka kamu akan kubiarkan hidup!" Alan memainkan The Forgotten Dagger yang ada di tangannya. Memberi tanda jika dirinya sudah tidak akan bermain main lagi terhadap Asmodias.
"Apa sebenarnya maumu?" Asmodias terlihat mulai mempertimbangkan tawaran Alan. Dirinya merasa tidak mungkin untuk bisa menang melawan Alan di dunia ini. Bahkan Silent Wave dari Abysal Spear tidak bisa menghentikan Alan. Kekuatan pasif Abysal Spear pun tidak berguna di dunia ini. Alan bisa mengeluarkan semua skill skillnya tanpa kendala. Seakan akan Alan tidak terpengaruh akan keberadaan Abysal Spear. Asmodias sama sekali tidak menduga jika Alan memiliki senjata rahasia seperti ini.
"Bagus... Jadilah Demon yang penurut! Aku hanya minta kamu tetap tinggal disini dan membuatkan barang barang dengan kemampuanmu itu!" Alan tersenyum puas, melihat Asmodias mulai bisa di ajak berkompromi.
"Apa?" Perkataan Alan terdengar sederhana, namun sulit untuk dilakukan. Maksud dari perkataan Alan adalah meminta Asmodias untuk hidup mendekam di dunia antah berantah yang bisa seenaknya Alan kendalikan.
"Kita tidak sedang di posisi negosiasi. Ini adalah pilihan yang harus kamu ambil. Kamu hidup dan menuruti permintaanku. Atau jiwamu aku ambil, dan aku akan menggunakan tubuhmu yang tak berjiwa untuk membuatkan barang barang yang aku mau."
Asmodias menggigit giginya sendiri. Apapun pilihan yang Alan berikan sama sekali tidak ada yang baik untuknya. Dirinya bisa saja menolak dan memilih mati. Namun tetap saja, Alan bisa menggunakan tubuhnya di dunia ini selayaknya mayat hidup untuk membuatkan barang barang yang diminta oleh Alan. Membuat Alan sama sekali tidak rugi akan keputusan apapun yang Asmodias ambil. Bedanya hanya siapa yang akan mengendalikan tubuh Asmodias. Apa itu Alan atau Asmodias sendiri.
"Baiklah... Aku turuti maumu!" Asmodias merasa tidak ada jalan lain. Satu satunya harapan yang dirinya miliki adalah Alan akan puas dengan barang yang dirinya buat, dan membebaskan dirinya dari dunia antah berantah yang dirinya tinggali saat ini.
"Baguslah... Sepertinya kamu cukup pintar sebagai Jenderal besar Demon." Alan puas mendengar jawaban dari Asmodias. Kemampuan special Asmodias benar benar sangat menarik bagi Alan. Bayangkan saja... Bisa membuat benda nyata hanya dengan menuliskannya dalam bentuk tulisan rune, Alan sudah membayangkan berbagai bisnis yang akan dirinya lakukan di main world nantinya.
"Tapi ada syaratnya agar aku memenuhi permintaanmu!" Perkataan Asmodias langsung menghilangkan senyum puas yang ada di wajah Alan. Berganti dengan sebuah kerutan di dahinya.
"Sepertinya kamu masih belum paham dengan kondisi kita..." Alan memainkan The Forgotten Daggernya sekali lagi. Memberi peringatan jika tawarannya sudah tidak bisa ditawar lagi.
"Jangan buru buru... Syarat yang akan ku sampaikan ini juga berhubungan denganmu." Asmodias tetap tidak kehilangan ketenangannya. Dirinya memang tidak takut untuk mati saat ini. Tapi dirinya masih memendam dendam selama ini. Asmodias tentu tidak mau mati tanpa ada usaha untuk membalaskan dendamnya.
"Katakan!" Alan memberi kesempatan kepada Asmodias untuk berbicara syarat yang diajukannya.
__ADS_1
"Cepat atau lambat... Perang antara bangsa Demon dan para Dewa akan pecah kembali. Aku ingin kamu membawakan Helios kesini. Aku ingin membunuhnya dan menuntaskan dendam ku kepadanya selama ini."
"Helios?" Alan tidak menyangka nama dewa cahaya akan disebut oleh Asmodias sebagai bagian dari persyaratan yang diajukan oleh Asmodias.
"Dendam mu itu urusanmu... Bukan urusanku... Aku tidak peduli dengan keinginanmu..." Alan menambahkan.
"Kamu pikir kamu bisa menolaknya? Meskipun wujud mu tidak berubah, tapi aku tahu darah Demon mengalir di dalam tubuhmu. Dan aku yakin... Dia pasti juga tidak akan melepaskan dirimu. Mengingat kekuatanmu akan merepotkan jika peperangan pecah." Asmodias memasang senyum kemenangan, seakan dirinya tahu jika Alan pasti akan menerima permintaannya.
"Maksudmu?"
"Jika peperangan antara Demon dan Dewa pecah sekali lagi, para dewa pasti akan berusaha menghabisi semua bangsa Demon tanpa tersisa. Termasuk dirimu..."
"Pikirkanlah baik baik... Kamu mungkin bisa mengambil jiwaku dan mengendalikan tubuhku di dunia ini. Tapi kamu tidak akan bisa menggunakan kekuatan tubuhku seperti aku yang menggunakannya."
Alan nampak berpikir keras akan yang dikatakan oleh Asmodias. Memang semua yang dikatakan oleh Jenderal besar Demon terkuat itu benar semuanya, termasuk kehidupan Asmodias yang akan lebih berguna daripada jika hanya seonggok tubuhnya yang bisa Alan kendalikan. Namun Alan juga memikirkan jika saja Asmodias sedang merencanakan sesuatu yang nantinya akan merugikan Alan. Alan tentu wajib mengantisipasi semua kemungkinan yang ada, mengingat dirinya sedang bernegosiasi dengan Asmodias, bangsa Demon. Bangsa yang terkenal akan kelicikan dan tipu muslihatnya.
"Ahh... Darimana aku harus mulai..." Asmodias menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memikirkan darimana dirinya harus mulai bercerita.
"Kira kira seribu tahun yang lalu semuanya dimulai..." Asmodias menceritakan semuanya yang terjadi dari seribu tahun yang lalu. Awal mula adanya tiga dunia yang kini ada di New World. Lebih dari setengah jam sendiri Asmodias bercerita, mulai dari kehidupan damai yang ada seribu tahun yang lalu. Sampai perang besar antara bangsa Demon dan para Dewa. Yang membuat sang pencipta harus memisahkan kehidupan para bangsa Demon, para Dewa, dan makhluk ras lainnya dalam tiga dunia yang berbeda.
"Jadi begitu..." Alan tentu tidak terlalu menanggapi cerita dari Asmodias. Karena semua yang dikatakan Asmodias pada dasarnya tidak pernah terjadi. Semua hal yang dikatakan oleh Asmodias adalah main story yang ada di New World.
"Memang kalau dilihat dari siapa yang memicu perang, bangsa Demon patut disalahkan. Tapi itu semua karena ulah Satan. Kekuatan yang dimilikinya membuat dirinya terlalu berambisi untuk memegang kekuasaan secara mutlak." Asmodias menghentikan ucapannya sebentar.
"Yang aku inginkan hanyalah bisa membunuh Helios dan mengembalikan kehidupan bangsa Demon seperti dulu. Tidak harus menderita hidup di dunia seperti ini."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah membunuh Helios?"
__ADS_1
"Entahlah... Masih belum terpikirkan..." Asmodias menjawab dengan datarnya. Tanda dirinya benar benar belum memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah semua keinginannya tercapai.
"Baiklah... Aku pegang kata katamu. Tapi aku perlu bukti nyata agar kamu tidak menipuku!"
"Tenang... Aku bisa mengaturnya. Lagipula aku juga perlu kepastian darimu agar membawakan Helios kepadaku."
"Selama kamu menuruti apa yang aku mau... Tentu tidak masalah..."
"Baiklah... Kita buat perjanjian dengan darah Demon kita sebagai saksinya. Jika ada yang melanggar..." Asmodias tidak melanjutkan perkataannya, karena lanjutan pernyataan Asmodias hanya berisi tentang kematian.
Alan tentu tidak keberatan. Bagi dirinya... Cepat atau lambat dirinya harus berhadapan dengan para Dewa. Mengingat dirinya mempunyai darah Demon
Asmodias pun menuliskan beberapa huruf Rune untuk membuat sebuah hexagon sihir. Dengan setetes darah dari Alan dan Asmodias. Sebuah perjanjian antara kedua Demon tersebut pun tersepakati.
"Satu hal lagi... Berhati hatilah dengan Marry. Aku tahu dia sedang mencoba menguasai pintu keluar dari dunia Abyss." Asmodias memperingatkan Alan sebelum Alan kembali ke dunia Abyss. Meninggalkan Asmodias sendirian di dalam The Forgotten World.
"Marry?"
"Benar... Jenderal Demon satu itu adalah yang terlicik diantara Jenderal demon yang lainnya."
"Akan kuingat pesan darimu..."
"Ada satu hal yang juga ingin ku sampaikan padamu..."
"Anakmu merindukanmu..." Satu kalimat terakhir dari Alan sebelum dirinya menghilang dari The Forgotten World. Yang tentunya membuat Asmodias terperangah.
"Dasar... Bocah itu memang tidak sesederhana yang ku pikirkan." Asmodias tersenyum kecil. Mengetahui jika Alan dan Rendemiz saling mengenal. Mungkin karena keberadaan Rendemiz jugalah yang membuat Alan tidak langsung membunuh dirinya di The Forgotten World ini. Terbesit sedikit rasa terima kasih dalam diri Asmodias kepada anak sulungnya tersebut. Anak yang dirinya anggap tidak berguna selama ini.
__ADS_1