
Asmodias masih tetap setia memandangi belasan layar datar yang ada di hadapannya. Matanya tetap tajam mengawasi satu demi satu tempat yang ditunjukkan oleh layar datar tersebut.
Di belakang layar datar tersebut, berdiri kokoh sebuah tiang setinggi 3 meter. Di permukaan tiang tersebut terukir berbagai macam tulisan Rune yang sulit dimengerti artinya. Di atas tulisan rune tersebut tersemat sebuah gambar satu mata dengan kelopak mata berwarna hitam. Tiang tersebut lah yang menjadi pemberi gambar kepada layar layar yang saat ini dilihat oleh Asmodias. Tiang tersebut lebih dikenal sebagai The Eye di kalangan bangsa Demon.
Di bagian paling atas The Eye, terdapat 7 warna batu rugbi yang berwarna warni. Di saat Asmodias tengah sibuk mengawasi belasan layar datar yang ada di hadapannya. Sebuah batu rugbi berwarna hitam yang tersemat di bagian paling atas The Eye pecah secara tiba tiba.
"Apa?" Asmodias tentu terkejut mendapati batu rugbi berwarna hitam tersebut pecah secara tiba tiba. Batu rugbi di bagian paling atas The Eye tersebut merupakan pecahan jiwa dari para Jenderal Demon. Dan batu rugbi hitam tersebut merupakan pecahan jiwa dari sosok Demon yang tidak akan bisa mati, Chigaza.
"Chigaza?" Asmodias tidak bisa untuk tidak terheran. Dirinya tahu betul kekuatan special yang dimiliki oleh Chigaza. Tidak ada satupun Demon di dunia Abyss yang bisa membuat Chigaza sampai benar benar mati. Jikapun Chigaza mati, Chigaza pasti akan hidup kembali. Dan batu rugbi hitam yang tersemat di The Eye paling hanya akan sedikit meredup.
Tapi bola rugbi hitam itu kini pecah secara tiba tiba... Menandakan jiwa Demon Chigaza benar benar telah lenyap.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Asmodias langsung mengatur The Eye untuk menampilkan Istana Chigaza. Dirinya sangat yakin jika Chigaza tidak akan meninggalkan Istananya jika tidak memiliki urusan yang sangat penting. Untuk itulah... Hal pertama yang dirinya lakukan adalah melihat situasi Istana Chigaza melalui The Eye.
"Apa itu?" Asmodias tidak bisa untuk tidak bertanya kepada dirinya sendiri. Melihat sebuah aura kegelapan yang hampir menyelimuti Istana Chigaza secara keseluruhan.
"Ini tidak bisa dibiarkan..." Apapun aura kegelapan yang menyelimuti Istana Chigaza tersebut, Asmodias tidak bisa menebaknya. Satu hal yang dirinya yakini adalah... Aura kegelapan tersebut pasti dimiliki oleh seseorang yang telah membunuh Chigaza di Istananya.
Asmodias langsung menggerakkan tangannya untuk menulis berbagai huruf huruf rune di udara. Huruf rune berwarna hitam dengan border merah tua pun melayang layang di udara bekas goresan tangan Asmodias. Setiap huruf seakan memiliki pemikirannya sendiri, mereka langsung terbang berputar mengelilingi Asmodias. Terus berputar hingga semakin cepat. Dan akhirnya terciptalah sebuah lingkaran sihir di bawah kaki Asmodias.
Slap...
Bagaikan tertelan oleh lingkaran sihir. Sosok Asmodias masuk ke dalam lingkaran sihir di bawah kakinya dan menghilang dari ruangan tempat dirinya berada tadi.
###
Alan dan Flyin mulai meninggalkan Istana Chigaza. Mereka merasa sudah tidak memiliki kepentingan lagi di istana senyap tersebut, terutama setelah Alan membersihkan semua harta yang ada di Istana tersebut. Mereka berdua tentu tidak ingin berlama lama tinggal di Istana yang terkesan sangat suram. Sudah cukup lama bagi mereka berdua menahan kesabaran mereka untuk segera meninggalkan istana suram bekas milik Chigaza tersebut.
__ADS_1
"Sepertinya kita ada yang terlupakan Flyin..." Alan memandang ke arah Flyin yang berjalan di sampingnya. Dirinya merasa ada yang janggal dengan situasi saat ini.
"Anda benar Tuan... Kita meninggalkan Rendemiz." Flyin menjawab dengan polosnya. Seakan akan apa yang dirinya katakan barusan bukan suatu kesalahan besar.
"Ahhh..." Mulut Alan terbuka lebar. Dirinya baru teringat jika Rendemiz tidak bersama dengan mereka selama ini.
"Mungkin sudah takdirnya untuk selalu menjadi yang terlupakan." Gumam Alan di dalam hatinya.
"Jangan begitu Tuan... Kita sudah berjanji untuk membantunya. Sebaiknya kita jemput dia dulu sekarang. Baru melanjutkan perjalanan kita setelahnya." Flyin yang membaca isi pikiran Alan mengingatkan Alan akan janji yang pernah dirinya buat kepada Rendemiz. Sebagai seorang pria tentu Flyin tidak ingin mengingkari janji yang pernah dirinya buat. Meskipun Flyin adalah seorang Demon, bangsa yang tidak bisa dipegang kata katanya.
"Terserah kamu Flyin..." Alan tidak ingin berdebat dengan Flyin. Karena dirinya tahu sifat dasar Flyin yang selalu serius dengan kata katanya. Jika Flyin sudah berkata untuk membantu Rendemiz, tentu Flyin akan berusaha sebisa mungkin membantunya.
Namun langkah kaki Alan dan Flyin terhenti ketika mereka sampai pada halaman depan Istana Chigaza. Sesosok Demon dengan baju hitam bercorak garis merah darah di bagian tengah bajunya, kini tengah berdiri di tengah tengah halaman Istana Chigaza. Dua buah tanduk merah di tengah rambut hitam dengan potongan curtain, irish mata berwarna merah yang mengisi dua bola mata yang menatap tajam, jubah hitam dengan gambar demon berwarna merah di bagian dalam, menjadi ciri khas tersendiri sosok Demon yang ada di tengah tengah halaman Istana Chigaza tersebut.
"As... Asmodias..." Flyin terbata bata mengucapkan nama sosok Demon di hadapannya. Terlihat jelas jika dirinya sangat tidak menduga akan bertemu dengan sosok Demon yang paling tidak ingin dirinya temui saat ini.
"Siapa kalian?" Suara Asmodias terdengar garang, sangat cocok sekali dengan penampilannya yang terlihat sangat mengintimidasi sekitarnya.
"Ka... Kami... Hanya..." Flyin ingin menjawab pertanyaan Asmodias. Namun mulutnya seakan kaku, tidak bisa menyelesaikan kata katanya.
"Kami hanya sekedar lewat..." Alan memperjelas perkataan Flyin yang terbata bata. Terlihat jelas jika Flyin masih shock akan kemunculan Asmodias yang secara tiba tiba.
"Sekedar lewat katamu? Apa yang kalian lakukan di istana ini? Dimana Chigaza?" Asmodias menatap tajam kedua Demon di hadapannya. Raut wajahnya terlihat tidak senang melihat sosok Alan. Alarm insting di dalam tubuhnya seakan berkata jika Alan bukanlah sosok Demon biasa. Melihat sikap Alan yang bisa terlihat tenang setelah melihat kedatangannya yang tiba tiba.
"Kami hanya sekedar lewat, dan kebetulan Chigaza mengundang kami. Kalau Chigaza sudah mati saat ini." Alan masih berkata dengan biasa saja. Seakan akan dirinya tidak terintimidasi akan tatapan tajam Asmodias.
"Mati katamu?" Walaupun sudah melihat pecahan kristal jiwa Chigaza pecah, Asmodias tentu tidak akan semudah itu percaya jika tidak melihat langsung buktinya. Dirinya tahu seperti apa mengerikannya kekuatan yang Chigaza miliki.
__ADS_1
"Benar... Kamu bisa melihat kerangkanya di dalam jika tidak percaya." Alan menunjuk ke arah dalam Istana. Tempat tadi dirinya membunuh Chigaza.
Perkataan Alan rupanya malah menyiram bensin ke dalam api. Asmodias tidak hanya marah saat ini, tapi dirinya sangat marah setelah mendengar perkataan Alan. Tubuh Asmodias pun mengeluarkan aura merah yang menyelubungi seluruh tubuhnya.
Chigaza adalah salah satu bagian dari kepingan rencananya untuk menghadapi permainan Mary. Jika Chigaza benar benar mati, maka rencananya akan berantakan semua.
"Katakan... Apa kamu yang membunuhnya?" Tanya Asmodias dengan pelan. Namun suara pelan Asmodias tersebut lebih mengerikan daripada suara Asmodias yang tadi Alan dan Flyin dengar. Terlihat jelas jika Asmodias sedang menahan amarahnya untuk sesaat.
"Bisa dibilang begitu... Tapi Chigaza sendiri yang memintanya. Aku tentu tidak bisa menolak permintaannya." Alan masih menjawab dengan datar. Tidak memperdulikan jika Asmodias begitu marah kepadanya.
Apa yang Alan lakukan bukan tanpa alasan. Alan tahu jika Asmodias pasti tidak akan mempercayai apapun yang dirinya katakan. Pertempuran dengan Asmodias tentu tidak akan bisa Alan hindari. Oleh sebab itu dirinya lebih memilih untuk memancing emosi Asmodias. Akan lebih mudah menghadapi Asmodias dalam keadaan marah daripada menghadapi Asmodias dalam keadaan pikiran yang tenang.
"Tuan... Anda..." Flyin yang membaca isi pikiran Alan tentu tidak bisa sejalan dengan pemikiran Alan. Alan belum tahu semengerikan apa Asmodias jika dia sedang marah. Flyin tahu jika Alan sudah kuat sekarang, bahkan harus dirinya akui. Dirinya pasti kalah jika harus bertarung dengan Alan.
Namun kali ini yang di hadapan Alan adalah Asmodias. Sosok Demon terkuat di dunia Abyss saat ini. Asmodias tentu tidak akan menyandang gelar Demon terkuat tanpa alasan yang tidak pasti. Apa lagi kekuatan special yang dimiliki oleh Asmodias begitu mengerikan, Reality Hand.
Asmodias bisa mewujudkan apapun yang dirinya tulis selama apa yang dirinya tulis adalah sebuah benda mati. Tentu saja Asmodias tidak bisa menuliskan sebuah makhluk hidup untuk menjadi wujud yang nyata. Asmodias tidak memiliki kekuatan yang hanya dimiliki oleh Tuhan.
"Tenang... Aku tidak akan gegabah." Alan mencoba menenangkan Flyin yang begitu gusar akan apa yang dirinya lakukan. Alan sudah tahu kekuatan special yang dimiliki oleh Asmodias. Di sela sela dirinya memancing emosi Asmodias, dirinya sudah meminta kepada Joker untuk menunjukkan data tentang Asmodias.
"Kau cukup bernyali untuk berani mengatakan hal itu di depanku." Asmodias menuliskan beberapa huruf rune di udara. Membuat huruf rune berwarna hitam dengan border merah tua sempat melayang sebentar lalu menghilang begitu saja. Seakan tidak pernah ada.
"Thousand Flying Blade!" Suara lirih Asmodias.
Seketika muncul ribuan pedang yang kini terbang dan hampir memenuhi halaman Istana Chigaza. Setiap ujung pedang yang runcing dan tajam menghadap ke arah Alan dan Flyin. Seakan akan ribuan pedang tersebut sudah siap untuk mencabut nyawa Alan dan Flyin.
"Matilah kalian!" Satu kata dari Asmodias menggerakkan ribuan pedang yang sedang terbang untuk bergerak menuju ke arah Alan dan Flyin.
__ADS_1