
Red Ascend pun mengangguk. Tanda mengiyakan maksud Toni. Walaupun tanpa sepatah kata yang keluar dari mulut Toni. Red Ascend tentu paham maksud dari tatapan Toni yang meminta pertimbangan kepada dirinya tentang keputusan yang harus Toni ambil. Mungkin kata orang benar, cinta memiliki satu bahasa tersendiri. Yang dimana bahasa cinta itu tidak mungkin bisa digambarkan dengan kata kata. Bahasa itulah yang Toni dan Red Ascend gunakan saat ini. Hanya dengan saling tatap, mereka bisa saling mengerti maksud dari satu sama lainnya.
"Baiklah... Saya setuju... Tapi ada satu permintaan dari saya."
"Apa itu?"
"Saya harus pergi ke Kerajaan South Mountain dalam waktu dekat untuk suatu urusan penting. Saya harap Anda mengijinkan saya untuk pergi kesana. Tapi saya berjanji akan kembali lagi kesini setelah urusan saya selesai."
"Apa kata katamu bisa ku pegang?"
"Tentu... Saya akan meninggalkan palu ini kepada Anda jika Anda perlu jaminan." Toni menatap Poska dengan serius. Tanda dirinya sama sekali tidak main main dengan perkataannya.
"Tidak perlu... Aku percaya padamu. Lagi pula kalian masih harus menjalani tes masuk terlebih dahulu. Walaupun kalian teman Vizgraf, tidak ada perlakuan special untuk kalian berdua." Poska yang melihat keseriusan Toni tentu tidak mempermasalahkan hal sepele seperti itu lebih jauh. Lagipula dirinya memiliki rencana tersendiri untuk Toni, jika Toni memang ingin pergi ke Kerajaan South Mountain.
Ya... Poska cukup memberikan tugas kepada Toni untuk membersihkan dungeon sepanjang perjalanannya ke Kerajaan South Mountain. Sambil menyelam minum air. Itulah yang Poska harapkan dari Toni.
"Tentu... Kapan kami bisa mulai tesnya?" Toni sudah tidak sabar untuk bisa berlatih menggunakan mana. Untuk urusan tes masuk, Toni yakin dirinya dan Red Ascend akan bisa melewatinya dengan mudah.
"Sekarang pun kalian bisa." Poska seraya berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keluar ruangan. Memberi tanda kepada semua orang yang ada di dalam ruangan agar mengikutinya.
###
"Susah sekali menemukan kalian..." Sosok Chigaza tiba tiba muncul di dekat Alan dan Flyin yang baru beristirahat. Memaksa Alan dan Flyin untuk langsung siaga akan kedatangan Chigaza.
[Chigaza, High Litch Demon.]
"Chigaza..." Alan langsung menarik pedang pendek dan belatinya, bersiap untuk bertarung dengan Chigaza.
Sementara Flyin masih memandang Chigaza dengan keterkejutan. Dirinya sama sekali tidak merasakan kedatangan Chigaza, tiba tiba saja Chigaza sudah muncul di dekat mereka. Flyin sangat yakin jika Chigaza menggunakan suatu alat untuk bisa tiba tiba muncul di dekat mereka tanpa terdeteksi terlebih dahulu.
Begitu juga Alan, dirinya tentu terkejut mendapati Chigaza tibah tiba muncul di dekat mereka. Padahal dirinya sudah meminta kepada Joker untuk memberi tahunya jika ada bahaya mendekat.
Alan tanpa basa basi menyerang Chigaza dengan kecepatan penuh, tidak memberi kesempatan kepada Chigaza untuk menyerang terlebih dahulu.
__ADS_1
Thang...
Suara pedang pendek Alan yang membentur tulang tangan Chigaza begitu nyaring. Walaupun tanpa menggunakan senjata, terlihat jelas jika Chigaza sama sekali tidak merasakan sakit saat menangkis serangan Alan. Berkali kali Alan menyerang menggunakan pedang dan belatinya, namun selalu berhasil ditangkis dengan sempurna oleh Chigaza.
"Kenapa dia hanya bertahan?" Alan merasa ada yang janggal dengan apa yang dilakukan oleh Chigaza. Seharusnya Chigaza bisa beberapa kali mendaratkan serangan balasan kepada Alan ketika Chigaza menangkis serangannya. Namun Chigaza sama sekali tidak menggunakan kesempatan itu dan terus bertahan. Alan pun memilih mengambil jarak dari Chigaza, takut jika Chigaza sedang merencanakan sesuatu yang berbahaya.
"Aku harus mengakhiri ini dengan cepat!" Alan menggigit giginya sendiri. Kondisi tubuhnya belum pulih seutuhnya setelah berjam jam menggunakan Shadow Zone. Jika pertarungan berlanjut berjam jam... Alan tentu dalam posisi yang tidak diuntungkan.
Alan mulai mengalirkan sensasi panas yang ada di dalam tubuhnya ke dalam bayangannya. Mencoba mengaktifkan Shadow Zonenya sekali lagi. Alan yakin jika dirinya menggunakan Shadow Zone, dirinya bisa mengalahkan Chigaza dengan cepat.
"Tunggu Tuan..." Suara Flyin memaksa Alan untuk langsung menghentikan Alan mengaktifkan Shadow Zonenya.
"Kenapa Flyin?" Alan tidak tahu alasan Flyin menghentikan dirinya, tapi dirinya yakin jika Flyin melakukan hal seperti itu bukan tanpa sebab.
"Aku rasa dia tidak berniat buruk kepada kita." Flyin yang bisa membaca isi pikiran Chigaza selama Alan menyerang Chigaza tentu paham dengan tujuan Chigaza menemui mereka berdua. Tadinya Flyin sedikit ragu dengan isi pikiran Chigaza tersebut. Tapi setelah melihat Alan mengaktifkan Shadow Zone dan membaca isi pikiran Chigaza sekali lagi, Flyin paham betul maksud dari Chigaza.
"Maksudmu?" Alan menghilangkan aura kegelapan yang sudah sedikit muncul dari dalam bayangannya.
"Terima kasih... Aku hargai itu..." Suara serak Chigaza keluar dari rongga mulut yang tanpa lidah. Yang tentunya menambah kesan mengerikan dari sosok Chigaza.
"Tidak baik jika aku memberitahu kalian disini. Aku harap kalian mau datang ke Istanaku." Chigaza mengangkat tangan kanannya ke depan dada. Dan sekali lagi... Tulang tulang mulai keluar dari dalam tanah, membentuk sebuah kerangka naga tanpa kulit maupun daging.
Alan yang melihat apa yang dilakukan Chigaza tentu berdecak kagum. Walaupun dirinya pernah melihat Jonta menghidupkan monster monster yang mati. Jelas terlihat jika Chigaza berada di kelas yang berbeda dengan Jonta dalam hal membangkitkan Undead.
"Naiklah... Akan lebih cepat jika kita terbang." Ajak Chigaza ketika dirinya sudah berada di atas punggung naga tanpa daging tersebut.
Alan menatap ke arah Flyin. Meminta pendapat kepada Flyin apakah Chigaza benar benar bisa dipercaya atau tidak. Flyin tentu paham dengan yang Alan inginkan, dirinya cukup menganggukkan kepalanya dan langsung ikut naik ke atas punggung naga.
"Hah... Baiklah..." Alan tidak bisa lagi menolak setelah melihat Flyin begitu percaya kepada Chigaza. Dirinya paham betul jika tidak akan ada kebohongan yang luput dari kekuatan special Flyin. Naik lah Alan ke punggung naga tanpa daging tersebut, menyusul Flyin dan Chigaza yang sudah terlebih dahulu ada disana.
Naga tanpa daging itupun mulai mengepakkan sayapnya. Beberapa kali kepakan sayap barulah naga tersebut bisa melayang dan terbang dengan seutuhnya. Meninggalkan tanah kering di bawah mereka untuk menuju istana Chigaza.
Istana yang nampak tidak terawat bisa Alan lihat dari kejauhan. Istana tersebut adalah tempat tinggal Chigaza. Sekali melihat dari kejauhan pun Alan bisa merasakan kesuraman dari Istana yang luasnya hampir seperti stadion olahraga tersebut.
__ADS_1
Apa yang Alan yakini tadi benar seutuhnya, begitu naga yang dirinya tunggangi mendarat, dan dirinya menginjakkan kaki di atas lantai istana, angin lembab langsung mengisi paru paru Alan. Memaksa Alan harus sedikit menyesuaikan tubuhnya agar terbiasa dengan udara sekitarnya.
"Berbeda sekali dengan Istana Azazel..." Batin Alan.
Flyin yang bisa membaca isi pikiran Alan tentu hanya senyum senyum sendiri. Dirinya merasa bangga karena telah berhasil merawat istana Azazel seorang diri selama ini.
"Mari masuk..." Ajak Chigaza kepada Alan dan Flyin untuk memasuki istana, meninggalkan halaman depan tempat naga yang mereka tunggangi mendarat.
Memasuki Istana, menelusuri koridor remang remang menambah rasa tidak enak yang sedari tadi Alan rasakan. Alan bisa melihat dinding dinding ruangan yang sedikit berlumut dan tidak pernah dibersihkan. Penerangan yang hanya mengandalkan lilin lilin kecil menambah suasana Istana ini menjadi semakin tidak nyaman untuk ditinggali.
"Ada orang yang bisa hidup di tempat seperti ini?" Alan tentu tidak berani mengucapkannya secara langsung. Dirinya takut menyinggung perasaan Chigaza yang sudah mengundang dirinya dan Flyin untuk datang ke Istananya.
Mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan. Ruangan yang Alan masuki tidak berbeda jauh dengan koridor yang dirinya tadi lewati. Penerangan hanya menggunakan lilin lilin yang tertempel di dinding. Membuat Alan tidak bisa melihat dengan jelas interior ruangan tersebut. Alan bisa menebak jika lilin lilin tersebut bukanlah lilin biasa, mengingat lilin tersebut terus menyala tanpa berkurang sedikitpun batangnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan kami? Tidak mungkin kamu mengundang kami kesini hanya untuk melihat istana mu kan?" Alan yang merasa sudah tidak nyaman dengan lingkungan Istana Chigaza memaksa untuk bertanya. Dirinya ingin segera mengetahui apa yang ingin Chigaza bicarakan dengannya dan segera meninggalkan Istana senyap ini.
"Terlepas dari kekuatan hebatmu. Ternyata kamu juga pemuda yang menarik." Chigaza menggerakkan tulang rahangnya. Jika saja masih ada daging dan kulit tertempel pada rahang tersebut, senyum yang lebar pasti sudah bisa Alan dan Flyin lihat.
"Maafkan dia Tuan. Dia masih belum memahami betul kehidupan Demon secara luas." Flyin yang membaca isi pikiran Chigaza mencoba untuk menengahi. Takut jika Chigaza berubah pikiran dan berbuat hal yang tidak diinginkan.
"Tidak apa... Aku paham... Duduklah... Kita bicara sambil duduk..." Chigaza menggerakkan tangannya, dan seketika tulang tulang keluar dari bawah lantai, tulang tulang tersebut saling menyambung satu persatu dan akhirnya menjadi dua buah kursi yang bisa diduduki.
Jujur saja Alan terkejut dengan kemampuan Chigaza, tidak hanya bisa membangkitkan orang mati. Chigaza juga bisa membuat sebuah kursi dari tulang tulang Demon yang dirinya bangkitkan. Jika saja Alan memiliki kekuatan milik Chigaza itu di dunia nyata, dirinya pasti sudah membuka usaha produksi mebel.
Dengan segan Alan duduk di kursi yang baru saja Chigaza buat, duduk di atas kursi yang terbuat dari tulang benar benar membuat Alan tidak nyaman. Namun pada akhirnya Alan tetap duduk juga, menghargai sang tuan rumah Chigaza.
"Aku ingin minta bantuanmu." Chigaza langsung pada inti permasalahan yang ingin dirinya bicarakan dengan Alan dan Flyin, lebih tepatnya Alan. Karena dirinya meminta bantuan kepada Alan.
"Apa itu?" Alan merespon dengan singkat. Sementara Flyin tetap berdiam diri. Dirinya sudah mengetahui sedari tadi apa yang Chigaza ingin bicarakan dengan Alan.
"Aku ingin kamu membunuhku!" Jawab Chigaza singkat. Yang tentunya membuat Alan begitu terkejut.
Membunuh Chigaza? Diminta membunuh Chigaza okeh Chigaza sendiri? Ini hal tergila yang pernah Alan dengar.
__ADS_1