
Semua orang juga tahu, jika Ken jauh lebih kuat dari pada Gina. Mau dibandingkan dari segi apapun, Gold Fighter tersebut memiliki keunggulan atribut. Baik itu dalam segi kecepatan, kekuatan, maupun pertahanan. Semua orang pun mulanya berpikir jika Ken akan bisa menang dengan mudah dan lolos ke final esok hari. Mengingat Gina sudah bertarung habis habisan untuk melawan Poska. Skill skill terhebat yang Gina miliki masih dalam masa cooldown semua, yang tentunya membuat Gina dalam posisi yang tidak diuntungkan.
Namun kenyataan tidak berjalan lurus dengan pemikiran semua orang. Pertarungan yang harusnya bisa dengan mudah Ken menangkan, justru menjadi pertarungan yang begitu sulit untuk Ken.
Bukan karena Gina yang lebih superior, atau Gina yang telah mengetahui kelemahan Ken. Tapi karena Ken yang tidak bisa untuk mendaratkan serangan pukulannya kepada Gina.
Mau bagaimanapun juga, Ken adalah seorang pria yang dibesarkan di lingkungan Kuil Shaolin. Dirinya selalu mendapat ajaran jika dirinya haruslah selalu memperlakukan wanita dengan pantas. Memukul seorang wanita bukanlah suatu hal yang pantas dilakukan oleh seorang pria sejati seperti Ken.
"Kenapa? Kamu meremehkanku?" Gina merasa ada yang aneh dengan Ken, berkali kali Ken berhasil mendapatkan kesempatan untuk mendaratkan serangan kepada dirinya. Namun pukulan Ken tidak pernah sampai pada tubuhnya.
Ken tidak menjawab pertanyaan Gina. Dirinya benar benar sedang pusing memikirkan cara untuk bisa menang melawan Gina tanpa memukulnya. Dirinya memang telah meninggalkan Kuil Shaolin, tapi bukan berarti ajaran Kuil Shaolin juga dirinya tinggalkan. Merupakan suatu larangan terbesar bagi dirinya untuk memukul seorang wanita, meskipun wanita di hadapannya merupakan seorang wanita yang terlihat maskulin.
Melihat Ken tidak memberikan reaksi, Gina semakin terpancing emosi. Tidak ada yang lebih membuat dirinya marah daripada melihat seseorang yang menganggap dirinya seperti semut kecil.
"Baiklah kalau kamu tidak mau menyerang... Biar aku tuntaskan ini dengan cepat..." Gina menarik busur panahnya. Menerbangkan puluhan anak panah bayangan yang mengincar tubuh Ken.
Thang...
Thang...
Ken dengan mudahnya menghalau semua anak panah bayangan yang Gina lesatkan. Tidak ada satupun anak panah bayangan Gina yang mampu memberikan luka pada tubuh kerasnya.
"Kenapa?" Gina semakin dibuat bingung dengan tingkah laku Ken. Jika memang Ken tidak berniat bertarung, mestinya Ken akan menerima serangan yang dirinya lesatkan barusan, bukannya menangkis semua anak panah bayangannya.
"Maaf? Tapi bisakah kamu menyerah saja? Aku tidak bisa melukai seorang wanita." Ken mencoba menjelaskan kepada Gina, kenapa dirinya tidak pernah mendaratkan satupun serangan kepada Gina, meskipun dirinya memiliki banyak kesempatan.
"Apa? Jadi ini karena aku seorang wanita?" Bukannya memaklumi apa yang telah Ken jelaskan. Gina justru semakin terpancing emosi. Apa yang Ken ucapkan adalah suatu hal yang begitu dirinya benci.
Gina adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Dirinya memiliki dua orang adik, yang kedua duanya adalah laki-laki. Orang tua Gina selalu mempermasalahkan jenis kelaminnya yang terlahir sebagai seorang perempuan. Dirinya selalu diperlakukan secara tidak adil oleh kedua orang tuanya, terutama ayahnya. Seakan ayahnya tersebut tidak menganggap Gina sebagai seorang anak kandungnya. Ayahnya selalu beranggapan, jika anak perempuan tidak akan berguna bagi keluarga. Ayahnya selalu lebih mementingkan kedua adik laki lakinya, daripada dirinya yang seorang perempuan.
Karena hal itulah, Gina memilih penampilan yang jauh berbeda dari penampilannya di dunia nyata. Dirinya ingin menampar wajah ayahnya denga satu pembuktian. Pembuktian jika dirinya juga tidak akan kalah dengan kedua adik laki lakinya, meski dirinya adalah seorang perempuan.?
"Ternyata kamu juga sama dengan Dia..." Gina mengepalkan tangan kanannya. Apa yang dikatakan oleh Ken membuat dirinya mengingat perlakuan ayahnya kepada dirinya.
"Matilah..." Gina yang terbawa emosi pun terus melancarkan anak panah bayangannya. Terus menerus, hingga anak panah yang mengarah ke arah Ke tidak lagi dalam hitungan puluhan, melainkan sampai ratusan.
Thang...
Thang...
__ADS_1
"Kenapa dia tiba tiba marah?" Ken tahu perubahan emosi yang terjadi pada lawannya. Serangan yang Gina lesatkan kepada dirinya kini bahkan sama sekali tidak terarah. Menandakan Gina benar benar tidak berkonsentrasi dalam membidik targetnya.
Ken pun dengan mudahnya menghalau semua serangan anak panah bayangan yang mengarah kepada dirinya. Meskipun ada ratusan anak panah bayangan yang menuju ke arah dirinya. Tidak ada satupun yang bisa menembus kuatnya pertahanan tubuhnya.
"Mati... Mati... Mati..." Bagaikan sebuah senapan mesin berkaliber tinggi. Gina terus meluncurkan anak panah bayangan miliknya. Skill Gina satu ini memang mirip dengan Wind Arrow milik Alan. Selama Gina memiliki Mana, Gina akan mampu melesatkan anak panah bayangan ke arah lawannya.
Gina terus membakar mana di dalam tubuhnya untuk meluncurkan anak panah bayangan. Gina terlalu terlarut dalam emosi, hingga dirinya lupa memeriksa kondisi mana miliknya.
"Sampai kapan kamu akan seperti itu?" Tanya Ken yang mencoba mendekati Gina sambil terus menangkis anak panah bayangan yang Gina lesatkan.
"Diam kau! Pergilah ke neraka!" Teriak Gina sembari terus melesatkan anak panah bayangan miliknya. Tidak peduli jika mana miliknya kini telah terkuras habis.
"Berhentilah... Mari kita bicara..." Ken akhirnya bisa sampai di hadapan Gina. Tangan kanan Ken bisa meraih tangan kiri Gina yang membawa busur panah. Dan bertepatan dengan itu, mana Gina juga telah habis seutuhnya. Gina tidak lagi bisa meluncurkan anak panah bayangan miliknya.
"Kau..." Gina tidak bisa merespon, dirinya begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Ken. Seharusnya Ken memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang dan menghabisi dirinya. Namun justru sebaliknya, Ken justru mengatakan ingin mengajak dirinya berbicara.
"Aku tahu kamu sedang emosi... Tapi bukan berarti emosimu menjadikan dirimu melupakan siapa dirimu sebenarnya...." Genggaman tangan Ken ke tangan kiri Gina tidaklah kuat nan menyakitkan, namun tetap terdapat kemantapan di dalam genggaman tangan Ken tersebut. Gina tahu akan sulit untuk melepaskan tangan kirinya dari genggaman tangan Ken tersebut. Namun entah kenapa... Dirinya juga merasa genggaman tangan tersebut memberikan satu hal yang berbeda... Ketenangan.
"Darimana kamu tahu?" Gina tidak bisa menahan raut wajahnya yang nampak bimbang. Baru kali ini dirinya bertemu dengan seseorang yang busa begitu mengerti dirinya. Padahal baru kali ini dirinya bertatap muka dengan pria di hadapannya tersebut.
"Darimana aku tahu... Itu tidaklah penting..." Ken menatap wajah gadis di hadapannya dengan rasa iba. Dirinya merasa Gina sedang menahan suatu emosi yang tidak pernah terlampiaskan dari dulu.
"Emosi bagaikan sebuah duri, jika tidak pernah kamu lampiaskan... Itu akan menjadi satu dengan hatimu. Tapi jangan sampai karena kita meluapkan emosi, kita melupakan siapa diri kita sebenarnya... Emosi ada untuk dikendalikan, bukan ada untuk mengendalikan..."
Tanpa sadar... Air mata Gina menetes dengan sendirinya. Dirinya merasa begitu bodoh telah menuruti semua emosinya selama ini. Mungkin... Jika dirinya meluapkan emosinya sedari dulu, dan mengendalikannya dengan benar... Dirinya mungkin bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Ayahnya. Jika dirinya juga adalah anaknya... Anak yang seharusnya dilindungi oleh Ayahnya tersebut.
"Haduh... Malah menangis... Tolong jangan menangis... Aku tidak sanggup melihat seorang gadis menangis di hadapanku..." Ken menjadi bingung sendiri. Dirinya sudah dibuat pusing dengan prinsip hatinya yang tidak bisa memukul seorang wanita. Ditambah dengan melihat Gina menangis di hadapannya, tentu membuat pikiran Ken semakin rumit, tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan untuk memenangkan pertarungan.
"Kamu memang berbeda..." Sedikit senyum tergambar di wajah Gadis berpenampilan maskulin tersebut. Dirinya benar benar kagum dengan pola pikir Ken.
"Jadi... Mau kau kamu mengalah untukku? Aku tidak bisa memukul seorang wanita..." Ken mencoba meminta secara halus, barangkali lawannya akan menyetujui permintaannya. Lagipula mana milik Gina sudah terkuras habis, Gina juga belum mampu menembus pertahanan Ken. Jika pertarungan dilanjutkan secara normal, entah pertarungan ini akan selesai sampai kapan. Ken yang tidak bisa melukai lawannya karena prinsip hatinya, dan Gina yang tidak bisa melukai lawannya karena ketidakmampuannya.
"Huuuu...."
"Ini bukan tempat pacaran...."
"Kalau mau cari pasangan bukan disini tempatnya..."
Penonton yang melihat adegan Ken dan Gina di atas arena pertarungan mulai kehilangan kesabarannya. Mereka datang kesini untuk melihat sebuah pertarungan yang mendebarkan, bukannya melihat orang yang sedang pacaran. Terlebih lagi... Apa yang dilakukan mereka berdua membuat iri semua player jomblo yang ada di Abyss Colloseum.
__ADS_1
Ken pun memandang ke arah sekitar arena pertarungan, dan benar saja... Nampak begitu banyak penonton yang seakan tidak puas dengan pertarungan yang disajikan oleh Ken dan Gina. Namun Ken tetap tidak memperdulikannya. Prinsip hatinya jauh lebih kuat daripada hanya omongan orang lain.
"Kenapa? Kenapa kamu begitu baik?" Gina masih kesulitan mencerna pola pikir Ken. Dirinya masih tidak percaya jika ada seorang pria yang memiliki pola pikir seperti Ken.
"Baik atau buruk itu hanyalah pola pikir yang relatif... Belum tentu aku yang terlihat baik di matamu, terlihat baik juga di mata orang lain." Ken menjawab dengan senyuman yang begitu khas. Sebuah senyuman yang langsung bisa meluluhkan hati keras miliki Gina.
"Ka... Kau..." Mulut Gina menganga mendengar jawaban dari Ken. Pola pikir Ken ternyata jauh lebih luas dari pada apa yang dirinya bayangkan. Dirinya pun merasa begitu malu, karena telah menganggap semua pria memiliki sifat yang sama hanya karena perlakuan satu orang, yaitu ayahnya.
"Jadi..." Ken menaikkan satu alisnya ke atas... Pertanda dirinya menunggu jawaban dari Gina. Jujur saja dirinya juga merasa canggung harus terus memegang tangan kiri Gina di hadapan seisi Abyss Colloseum.
"Baiklah.... Aku kalah..." Gina mengaku atas kekalahannya. Meskipun begitu berat untuk mengakuinya, namun dirinya merasa itu adalah hal yang wajar. Mungkin pengakuan kekalahannya bisa menjadi satu ucapan terima kasih kepada Ken yang telah membuka satu sudut pandang baru dalam kehidupannya.
"Terima kasih..." Ken pun melepaskan pegangan tangannya pada tangan kiri Gina.
Gina tahu jika pertarungan ini tidak akan selesai sebelum ada satu orang yang mati di atas arena. Untuk itulah dirinya mengambil sebuah pisau yang merupakan senjata keduanya.
"Terima kasih Ken..." Ucap Gina sebelum menusukkan sendiri pisaunya ke arah jantung miliknya. Membuat tubuhnya harus tergeletak di atas arena dengan sebuah senyuman di bibir manisnya.
"Apa apaan ini?"
"Pertarungan macam apa?"
"Kembalikan uang kami!"
Penonton yang merasa tidak puas tentu merasa begitu dirugikan. Namun apa daya bagi mereka? Meskipun mereka tidak puas akan apa yang ditampilkan oleh kedua peserta, itu bukanlah kesalahan pihak penyelenggara turnamen.
"Hem... Ada ada saja..." Poska merasa geli sendiri melihat Gina membunuh dirinya sendiri di atas arena. Tidak dirinya sangka, jika yang mengalahkan dirinya akan kalah hanya dengan buaian kata kata dari Ken.
"Hahaha.... Bodoh..." XXX yang melihat pertarungan emosi tersebut hanya menyunggingkan sebuah senyum menghina. Apa yang dilakukan oleh Ken dan Gina merupakan sebuah kebodohan bagi dirinya. "Emosi? Aku sudah lama membuangnya..." Gumam Vampire yang kini telah melepas tudung hitamnya. Tudung yang selama seharian melindungi tubuh ya dari sinar matahari yang melemahkan atributnya.
"Ken? Joker... Aku ingin data yang lengkap untuk player itu..." Ucap Alan yang memandang sosok tubuh Ken yang masih di atas arena pertarungan. Alan bisa mendengar semua yang Ken dan Gina bicarakan berkat bantuan Joker.
Alan memang sependapat dengan Ken. Namun tetap saja... Bagi dirinya... Pola pikir Ken tersebut bukanlah sebuah pola pikir yang biasa ditemukan di khalayak umum. Pastinya Ken telah terpengaruh suatu lingkungan khusus yang membuat Ken memiliki Pola pikir seperti itu.
Joker pun langsung melakukan apa yang Alan minta. Data mengenai Ken yang terdapat di New World langsung bisa dibaca oleh Alan di layar tampilannya.
"Gaya bertarungnya sungguh menarik... Aku belum pernah melihat seni bela diri seperti ini..." Gumam Alan setelah dirinya melihat begitu banyak rekaman pertarungan Ken selama berada di New World.
"Sepertinya dia akan berguna..." Gumam Alan dengan sebuah senyuman yang begitu khas. Tanda dirinya memiliki sebuah rencana pada player bernama Ken tersebut.
__ADS_1
***Telat banged ya updatenya? Maaf ya... Aurhornya lagi batuk... Dima batuk itu sekarang menjadi satu penyakit yang sangat ditakuti... Author pun nesti menjalani serangkaian tes yang menyita banyak waktu. Jadi hari ini updatenya malem banget...
Stay safe buat kalian semua...***