New World

New World
Pasrah


__ADS_3

Pasrah... Hanya satu kata itu yang terlintas di dalam benak Fire Blade saat ini. Mendapati api di tubuhnya padam secara perlahan dan tidak bisa berbuat apa apa.


Pandangannya menyisir ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari pertolongan pada siapapun yang bisa menolongnya. Namun apa yang dilakukannya percuma, bukan hanya dirinya yang sedang terdesak saat ini. Semua anggota RnP Guild hampir bernasib sama dengan dirinya.


Batin Fire Blade semakin perih, melihat para anggotanya saling menyerang satu sama lainnya. Saling bunuh membunuh untuk bisa bertahan hidup. Entah apa yang terjadi dengan anggotanya, Fire Blade tidak ingin terlalu memusingkannya. Memikirkan diri sendiri saja Fire Blade kesulitan, apalagi harus memikirkan orang lain.


"Apa hanya seperti ini yang bisa aku lakukan?" Fire Blade mulai bisa menerima apa adanya akan kondisinya. Tadinya dirinya mengira jika dirinya sudah begitu kuat dan tidak akan ada yang bisa mengalahkan dirinya.


Namun rupanya, kesombongan dan sifat naifnya membutakan dirinya akan suatu kenyataan. Di atas langit masih ada langit yang lebih tinggi. Sekeras apapun dirinya mencoba mengalahkan sosok di hadapannya, semuanya akan percuma.


Sekuat apapun dirinya, semua akan tidak berarti di hadapan suatu kekuatan yang begitu mutlak. Sosok di hadapannya bagaikan seorang Dewa dalam legenda, yang memiliki kekuatan tidak berbatas untuk melakukan semua kehendaknya.


"Bunuh lah aku..." Pinta Fire Blade pada Alan yang berjalan perlahan mendekati dirinya.


"Baguslah kalau kau sadar akan batasan dirimu... Dengan begini semua akan lebih mudah..." Alan bersiap menebaskan The Forgotten Dagger pada tubuh Fire Blade yang mulai membentuk sebuah arang. Alan yakin... Jika kini dirinya bisa menebas tubuh Fire Blade dengan belatinya.


"Guild Master!" Teriak Gina yang tidak terima akan kekalahan Fire Blade. Bagi dirinya Fire Blade adalah seorang player terkuat.


Setahun lebih dirinya dan Fire Blade membangun RnP Guild. Jika Fire Blade kalah dan mati dalam peperangan ini, maka kalah lah sudah RnP Guild dalam peperangan. Nama besar dan harga diri RnP Guild pasti akan langsung tercoreng.


Tidak akan ada lagi guild guild yang takut akan kekuatan RnP Guild, tidak akan ada lagi perusahaan perusahaan besar yang mau menginvestasikan dana mereka ke RnP Guild. Semua akan berakhir... Jika Fire Blade mati dalam pertarungan ini.


"Aku harus mencegahnya..." Gina menggigit giginya sendiri, menguatkan tekad akan apa yang dirinya lakukan.


"Shadow Mark! Change Position!"


Tubuh Gina dan Fire Blade langsung tertutupi bayangan hitam yang keluar dari bayangan mereka. Tubuh Gina dan Fire Blade langsung bertukar posisi dengan sendirinya.


Alan tahu apa yang dilakukan oleh Gina, namun dirinya tidak mencoba mencegahnya. Apa yang dilakukan Gina bukanlah suatu penyelamatan pada Fire Blade, melainkan hanya sebuah penundaan kematian semata.


Slash...


Belati Alan menebas kepala Gina hingga terlepas dari tubuhnya. Darah merah Gina pun menyembur dari lehernya, seiring dengan jatuhnya tubuh Gina ke atas tanah.


"Tidak... Gina..." Fire Blade tercengang, melihat apa yang dilakukan oleh Gina. Dirinya tidak menyangka, Kaptennya tersebut akan rela mengorbankan dirinya untuk menunda kematiannya.


"Tenang saja... Giliranmu tidak akan lama lagi..." Gumam Alan sembari membersihkan darah Gina dari The Forgotten Dagger.


Fire Blade mengepalkan tinjunya dengan keras, ingin sekali dirinya melawan. Namun apa daya... Dirinya sadar akan batas kekuatannya. Dirinya tahu betul jika tidak mungkin bagi dirinya untuk bisa sekedar kabur dari sosok berjubah hitam di hadapannya.


"Hah... Lakukanlah dengan cepat..." Fire Blade menghela nafas panjang. Menerima nasibnya harus turun satu level dan kehilangan salah satu item secara acak.


Slash...

__ADS_1


Alan menuruti permintaan Fire Blade agar tidak memberikan rasa sakit berlebih atas kematiannya. Baginya Fire Blade termasuk lawan yang patut mendapatkan respect, mengingat kekuatannya benar benar luar biasa.


"Yosh... Induknya sudah ku selesaikan... Tinggal anak anaknya saja..." Gumam Alan sembari melirik ke kanan dan ke kiri. Namun apa yang Alan ingin lakukan rupanya hanya menjadi harapan semu. Rendemiz, Selene, Chiro dan Flyin benar benar memperlihatkan kekuatan dari Bangsa Demon.


Player anggota RnP Guild yang tadinya berjumlah ribuan, kini hanya tinggal ratusan. Mereka bahkan memilih untuk pergi meninggalkan lokasi pertarungan daripada harus ikut menjadi korban pembantaian.


###


"Dimana aku?" Satu pertanyaan keluar dari mulut Toni setelah dirinya tersadar dari pingsannya. Tubuhnya terasa lemas, dan kepalanya terasa sedikit berat akibat efek pingsan di dalam game.


Mata Toni memeriksa ke kanan dan ke kiri, melihat di mana dirinya berada saat ini. Ranjang yang empuk, ruangan yang terang dengan ornamen ornamen berwarna merah menyala menyambut kesadaran Toni.


Toni merasa bingung sendiri. Ingatan terakhir yang dirinya ingat adalah, dirinya sedang terbang menggunakan Flying Skatenya. Namun kini dirinya harus terbaring di atas ranjang yang empuk.


"Kau sudah sadar?" Satu pertanyaan menginvasi ke dalam indera pendengaran Toni yang terbaring di atas ranjang. Dengan segera Toni mengalihkan pandangan ke asal suara yang dirinya kenal.


Sesosok pria bertudung hitam terlihat sedang duduk di ujung ruangan. Posisi duduk pria tersebut menghadap ke jendela, dengan membelakangi ranjang Toni berbaring.


"Ah... Alan..." Toni baru teringat, jika terakhir kali dirinya sadar adalah dirinya sedang bertemu dengan Alan. Tidak dirinya sangka jika kini dirinya akan bersama dengan Alan dalam satu ruangan. Padahal terakhir kali dirinya dan Alan berada dalam pihak yang berseberangan.


"Aku salut kamu bisa mengenaliku..." Alan berdiri dan melepas tudung hitam yang menutupi kepalanya. Wajah rupawan seorang Elf yang sedari dulu tertutupi tudung hitam pun kini bisa terlihat dengan jelas.


"Aku sudah bersama mu lebih dari 3 tahun... Bagaimana aku lupa suaramu bodoh..." Umpat Toni sembari melihat wajah sahabat akrabnya tersebut.


"Najis... Mending aku masuk ke neraka daripada harus seperti itu."


"Hahaha..." Alan tertawa geli, melihat tingkah sahabatnya.


Dengan menarik salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut, duduklah Alan di samping ranjang tempat Toni beristirahat. Mulai lah cerita cerita tidak penting yang selalu keluar ketika mereka bersama.


"Jadi... Ini yang kamu katakan suatu misi penting?" Toni yang merasa tubuhnya sudah membaik, kini menatap ke arah luar ruangan dari jendela ruangan. Terlihat di kejauhan masih ada asap hitam mengepul ke udara, menandakan telah terjadi pertarungan sengit di tempat asap hitam mengepul tersebut.


"Ya... Aku tahu ini mungkin sedikit aneh... Tapi entah mengapa aku tidak bisa membiarkan para Bangsa Demon untuk terus tinggal di Dunia Abyss."


"Apa kamu tidak khawatir akan adanya suatu hal buruk yang tidak bisa kamu kendalikan nantinya?" Toni tahu betul apa yang diinginkan Alan. Dirinya hanya khawatir jika sahabatnya tersebut akan mendapat masalah yang tidak bisa Alan tangani kelak. Mengingat berpihak dan membela Bangsa Demon sama saja dengan membela suatu pihak yang dianggap sesat.


"Aku tidak tahu... Jika pun itu terjadi... Aku sudah siap menerima semua konsekuensinya."


"Hah... Kamu memang selalu seperti itu..." Toni tidak bisa memungkiri, Alan adalah orang yang siap bertanggung jawab akan semua perbuatannya.


"Jadi... Apa kamu akan ikut denganku?" Tawar Alan pada sahabatnya satu itu. Dirinya ingin sekali bisa mendapat bantuan dari Toni.


"Sudah kuduga kamu akan mengatakan hal seperti itu..."

__ADS_1


"Hahaha.... Kamu memang selalu bisa membaca isi pikiranku..."


"Tapi maaf Lan? Aku tidak bisa..."


"Oooh ya?"


"Terlalu banyak hal yang aku korbankan jika aku harus ikut denganmu... Aku tidak bisa terlalu egois dengan mengorbankan begitu banyak hal untuk membantumu saat ini..."


"Hah... Aku tahu kamu juga akan berkata seperti itu..." Alan sudah tahu jika Toni akan menolak tawarannya, dirinya tahu betul jika Toni sedang membangun WMC untuk menjadi lebih besar lagi dengan bantuan Light Guardian. Tapi paling tidak dirinya sudah mencobanya, masalah belum dapat hasil, setidaknya dirinya sudah mencoba memberikan tawaran.


"Thanks AS... Kamu memang pengertian..." Toni menepuk pundak sahabatnya, merasa bangga memiliki sahabat yang tidak memaksakan keinginannya pada dirinya.


"Usahakan untuk menghindari sengketa dengan Kerajaan kami... Aku tidak tahu lagi, apakah aku masih bisa menyelamatkanmu lagi atau tidak, jika kita harus berhadapan lagi lain kali." Alan memberi wejangan pada Toni.


"Thanks AS... Aku tahu apa yang kamu takutkan."


"Tapi aku masih penasaran dengan kekuatanmu... Bisa kita latih tanding dulu sebelum aku pergi?"


"Apa kau yakin? Prioda yang seorang High Angel saja tidak bisa berkutik di hadapanku..." Alan tersenyum licik, mendengar suatu tantangan latih tanding dari Toni.


"Aku yakin kamu hanya beruntung tadi... Dan keberuntunganmu pasti sudah habis saat ini..."


"Beruntung katamu?"


"Baiklah... Tapi tidak akan seru tanpa taruhan..." Alan mencoba mencari kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dari sahabatnya satu ini.


"Justru itu yang aku harapkan..." Toni tersenyum licik, mendengar Alan masuk ke dalam perangkap utamanya.


"Ahh... Kurang ajar... Kamu pasti mengincar Joker kan?" Tanya Alan dengan lirikan sebelah mata.


"Kamu memang bisa membaca isi pikiranku... Jadi... Bagaimana?"


"Baiklah... Tapi aku ingin mobil barumu? Bagaimana?" Balik Alan dengan senyum tak kalah puas.


"Itu..." Toni berpikir keras, mobil barunya adalah satu satunya harta berharganya sekarang. Jika dirinya kalah dari Alan, maka hilanglah sudah satu satunya harta berharganya tersebut.


"Mobil masih ada yang jual... Kalau Joker tidak akan ada yang menjualnya lagi..." Goda Alan pada Toni, agar Toni mau melanjutkan niatannya.


"Ok... Tak masalah..."


"Deal?"


"Deal!"

__ADS_1


"Aku harap kamu jangan menyesal..." Sindir Alan dengan kebodohan sahabatnya satu ini yang rela melepaskan mobilnya untuk dirinya.


__ADS_2