
3 hari sebelum kematian Julian.
Kring... kring...
Dering telepon rumah berbunyi. Telepon langsung di angkat oleh pemilik rumah.
"Halo... Hiro tamada?" Suara langsung terdengar dari ujung gagang telepon.
"Ya... Benar... Maaf siapa ini? bagaimana bisa tahu nomer rumahku?"
Jatidiri Hiro sangat dirahasiakan oleh Microboot. Apalagi setelah dia menjadi pencipta New World. Microboot seakan memberikan kehidupan baru bagi Hiro Tamada. Hal ini tentunya sebagai tindakan pencegahan adanya sabotase untuk game New World. Mengingat prospek dari New World begitu besar.
"Kamu tidak perlu tahu aku dapat darimana nomermu. Yang kamu perlu tahu adalah apa yang aku inginkan darimu." kata pria di telepon tersebut.
"Apa yang kamu inginkan?" Hiro pun merasa tidak ingin berbasa basi dengan pria di telepon. Dia bisa mendapatkan nomer telepon rumahnya berarti pria tersebut memiliki jangkauan informasi yang luas. Sebagai tanda pria tersebut bukan orang biasa.
"Hahaha.... Menarik sekali kamu langsung menuju intinya. Aku ingin akses ke game master New World. "
"Apa? Apa kamu gila?"
"Hahahaha.... Tentu aku gila. Kalau aku tidak gila aku tidak akan meminta hal itu. "
"Haaah.... Maaf... Tapi aku tidak bisa memenuhi permintaanmu."
"Apa? Apa kamu tidak sayang dengan nyawamu? Coba kamu lihat ke vas bunga merah di atas meja."
Hiro melihat ke vas bunga yang disebut pria itu.
Thar.....
Kaca jendela dan vas bunga langsung pecah karena peluru yang tiba tiba datang entah darimana. Hiro langsung panik seketika, tidak membayangkan kalau ada sniper yang sedang mengintainya.
"Bagaimana?" Tanya pria di telepon itu lagi.
"A..a..a.. Aku bukannya tidak mau memberi, tapi tidak bisa." Jawab Hiro dengan terbata bata. Pikirannya masih terkejut akan datangnya peluru yang tiba tiba.
"Apa maksudmu tidak bisa?" Suara pria di telepon langsung meninggi.
"Ne...Bew World i... Itu tidak memiliki game master."
"Apa? jadi percuma saja aku berdebat denganmu. Aku tidak membutuhkanmu lagi."
"Tunggu.... Tunggu... Jangan bunuh aku." Hiro langsung panik setelah mendengar kata dirinya tidak dibutuhkan. Dirinya takut jika pria tersebut akan langsung membunuhnya.
"Kenapa? Kenapa aku tidak harus membunuhmu?"
"New World memang tidak memiliki game master. Tapi aku bisa membuat sistem penunjang untuk player. Sistem itu akan berisi seluruh informasi dan data dari New World. Tapi tidak bisa memodifikasi apa yang sudah ada di New World. "
"Hem... Menarik juga tawaranmu."
"Tapi... " Hiro.
"Tapi apa?"
"Tapi tentu saja untuk membuat sistem itu tidaklah mudah. Perlu biaya yang besar. "
__ADS_1
"Hahahaha.... Aku sudah tahu itu. Aku pun tidak akan mengambil barang tanpa membayarnya. Berapa yang kamu minta?"
"Satu milyar dollar. "
"Apa kamu gila?"
"Itu wajar... Untuk membuat sistem itu aku perlu mencuri data dari Microboot. Jika Microboot mengetahui aku mencuri data mereka, tentunya aku akan kehilangan semua yang aku miliki sekarang. Satu milyar dollar itu untuk biaya pensiunku."
Pria di telepon itu pun tidak bersuara. Dia tampaknya sedang berpikir. Hiro menambahkan lagi argument agar dirinya bisa selamat sekarang.
"Dengan 1 milyar dollar kamu bisa memiliki informasi apapun di New World. New World akan menjadi kehidupan kedua bagi manusia. Kedepannya uang di dalam game itu akan menjadi mata uang asli. Cuma dengan 1 milyar dolar, bayangkan jika kamu menjadi penemu tambang emas di New World. Berapa yang akan kamu peroleh?" Tambah Hiro. Tentu saja itu hanya abal abal dari Hiro. Karena tidak ada yang namanya tambang emas di New World.
"Ok... Kapan kamu bisa siapkan barangnya?"
"Satu minggu... Beri aku waktu satu minggu untuk menyiapkan semuanya. Tapi aku ingin tempat yang tenang untuk bertransaksi. Aku tidak ingin pihak Microboot mengetahui ini."
"Ok... 1 minggu... Kita bertemu di Mediteran City. Bagaimana?"
"Ok.... Mediteran City. " Hiro bernafas lega setelah kesepakatan tercapai dengan pria tersebut. Kini dirinya pun perlu bersiap untuk menyiapkan barang yang akan dijualnya.
###
Satu minggu kemudian, Hiro sudah menyiapkan sebuah chip yang biasanya terdapat di dalam helm VR. Bedanya di dalam chip ini terdapat sebuah sistem penunjang untuk player yang menggunakannya.
ahiro sampai di stasiun Mediteran City pada sore hari. Dia berjanji untuk bertemu dengan pembelinya di sebuah hotel bintang 5. Hiro langsung menuju ke hotel tempat transaksi. Mengingat waktu yang dijanjikan adalah saat makan malam.
Hiro mengambil sebuah kamar kelas atas di hotel tersebut. Saat makan malam Hiro turun ke restoran dengan membawa koper hitam yang berisi chip.
Seorang pria dengan setelan jas putih sudah menunggunya.
"Halo Hiro Tamada. Perkenalkan saya Antonio Louis. Senang bertemu denganmu." Antonio langsung menyapa Hiro yang baru saja datang.
"Senang bertemu anda. Saya membawa barang yang anda inginkan. Bagaimana dengan uangnya?" Tanya Hiro tanpa basa basi.
"Hahahaha.... Kenapa terburu buru? Silahkan duduk dulu. Pesanlah makanan terlebih dahulu. Tidak baik membicarakan bisnis dengan perut kosong." Antonio mempersilahkan Hiro untuk duduk.
Hiro pun menurut dan memesan sebuah wagyu steak.
"Begini Hiro. Apakah kamu bisa menjamin ke aslian dari chip ini?" Tanya Antonio dengan pelan takut ada orang yang mendengar.
"Apa maksud anda tuan Antonio? Saya mempertaruhkan karir saya untuk membuat chip ini."
"Oh...oh... Jangan marah dulu Hiro. Aku hanya ingin memastikan kalau fungsi dari chip ini sesuai yang kamu bilang. Kamu harusnya juga mengerti kalau 1 milyar dollar itu bukan jumlah yang sedikit kan?"
"Maksud anda, anda ingin mencoba chip ini terlebih dahulu?"
"Tepat sekali. Satu minggu setelah aku mencoba chip itu aku akan memberikan uangnya."
"Maaf tuan antonio. sepertinya ada sedikit perbedaan dari perkataan anda kemarin. Saya pun memilih untuk tidak melanjutkan transaksi ini." Hiro bangkit dari duduknya tapi ditahan oleh Antonio.
"Kenapa terburu buru Hiro... Aku berjanji akan memberikan uangnya."
"Maaf tuan antonio. tapi anda sudah mengingkari janji anda satu kali. Pastinya Anda tentunya akan mengingkari janji anda lagi. " Hiro langsung pergi meninggalkan Antonio.
Antonio langsung memberi aba aba kepada bodyguardnya untuk membuntuti Hiro. Hiro yang mengetahuinya langsung masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Keamanan di hotel bintang lima adalah yang terbaik bagi para buronan. Di kamarnya Hiro bersembunyi selama 2 hari. Makan dan minum pun hiro memilih memesan dari layanan kamar. Bahkan pembersihan kamar Hiro tolak.
Hiro merasa 2 hari sudah cukup baginya untuk menghapus jejak dari penguntitnya. Hiro pun memilih meninggalkan hotel dan menuju stasiun pada malam hari. Agar menghindari perhatian orang.
Sesampainya di depan stasiun Hiro terkejut melihat surganya lelaki yang tidak dia dapati sewaktu berangkat ke kota ini. Dia pun memilih untuk merilekskan pikirannya sejenak dengan salah satu kenikmatan disana.
###
Udara malam di kota Mediteran malam ini begitu dingin. Suhu mencapai 3 derajat celcius. Udara seperti ini menandakan musim dingin akan segera tiba.
Begitu sampai di stasiun, Milton sudah menjemput mereka. Menjemput Toni lebih tepatnya. Milton menyampaikan kalau Toni diharuskan pulang kerumah keluarga besarnya karena ada pertemuan penting besok paginya. Toni sempat menawari Alan untuk mengantarnya terlebih dahulu, tapi Alan menolaknya. Alan pun memilih untuk berjalan sendirian.
Begitu keluar dari stasiun udara dingin begitu menusuk. Alan mengambil penutup kepala dan muka dari tasnya. Tidak lupa dia memakai sarung tangan untuk membantu menahan hawa dingin yang menusuk ke tubuh.
Pemandangan di luar stasiun hampir sama dengan waktu Alan pertama kali datang. Bedanya pakaian wanita wanita ini sekarang begitu rapat karena udara yang begitu dingin.
Alan melewati jalanan yang penuh dengan wanita di pinggir jalan, tanpa mempedulikan godaan dan rayuan dari wanita wanita itu. Saat Alan melewati depan salah satu motel. Alan berpapasan dengan seseorang yang pernah alan lihat sewaktu peluncuran New World.
"Hiro Tamada?"
Hiro keluar dari motel itu bersama dengan seorang wanita. Dia membawa koper hitam di tangannya. Alan pun mencoba menghampiri hiro untuk bertukar sapa. Namun....
Duar...
Suara letusan pistol terdengar. Semua orang langsung panik karena ada letusan pistol, Begitu juga Alan yang langsung tiarap.
Hiro Tamada yang menjadi sasaran tembakan langsung jatuh berlumuran darah. Wanita yang bersama dengan Hiro langsung teriak histeris. Alan menoleh ke arah wanita itu dan melihat Hiro sudah terbujur lemas diatas darahnya.
Seorang pria bermantel tebal berlari ke arah Hiro. Dia mengambil koper yang tadi dibawa Hiro dan langsung kabur.
Alan yang melihat hal tersebut tanpa pikir panjang berlari mengejar pria tersebut. Pria tersebut menyadari Alan mengejar dirinya. Dia pun mengarahkan pistol ke Alan.
Alann yang menyadari akan menjadi sasaran tembak langsung berlari zig zag agar pria tersebut tidak bisa membidik dirinya.
Duar....
Duar....
Tembakan pria tersebut meleset. Alan perlu berterima kasih kepada Gun in Fire untuk kejadian ini.
Jarak Alan dengan pria itu pun semakin dekat. Alan langsung melempar koper yang dia bawa ke arah kaki pria tersebut.
Bruk...
Koper Alan tepat mengenai kaki pria itu. Pria itu pun jatuh tersungkur. Pistol dan koper hitam milik Hiro lepas dari tangan pria itu. Melihat pria itu jatuh Alan langsung melompat ke atas pria itu. Dengan satu tendangan tepat ke arah belakang kepala, Alan membuat pria itu pingsan.
Wiu...wiu...wiu...
Suara sirine mobil polisi memecah sunyinya malam Mediteran. Mobil polisi datang ke tempat Hiro di tembak. Alan yang berhasil membuat pingsan pelaku akhirnya menyerahkan pelaku dan koper hitam milik hiro sebagai barang bukti.
Sayangnya, koper milik Hiro dan milik Alan sama persis dari luar. Alan salah memberikan koper milik dirinya kepada polisi. Namun Alan tidak menyadarinya karena tidak membuka isinya.
Setelah di interogasi polisi dan membuat laporan kejadian Alan kembali ke asrama. Alan menata barang bawaannya. Tanpa sadar koper Alan terjatuh dari atas tempat tidur dan terbuka.
Koper alan tadinya kosong. Tapi sekarang ada sterofom hitam di dalamnya. Alan yang merasa janggal dengan kopernya lalu membuka koper seutuhnya.
__ADS_1
Begitu membukanya alan terkejut dengan apa yang ada di dalam koper tersebut.
"Masterchip..."