
Toni tidak akan pernah menyangka, ketidakhadiran dirinya di New World selama beberapa hari membuat satu perubahan yang begitu besar pada batalyonnya. Semua anggota batalyon Toni nampak begitu murung begitu dirinya kembali ke Kuil Cahaya. Toni pun bisa menduga, jika ada satu hal besar yang telah menimpa batalyon yang dirinya pimpin.
"Apa ada sesuatu selama aku pergi? Kenapa kalian begitu murung?" Sapa Toni pada semua anggota Light Guardian.
Semua anggota Light Guardian pun terdiam, mereka saling berpandangan agar ada salah satu orang yang berani menjelaskan kepada Toni mengenai hal yang terjadi. Pandang saling pandang, akhirnya pandangan terakhir jatuh pada Vizgraf. Semua anggota Light Guardian akhirnya setuju, jika Vizgraf lah yang paling pantas untuk menjelaskan permasalahan yang ada.
"Hah... Aku juga..." Batin Vizgraf sembari menghela nafas panjang, akhirnya dirinya juga yang harus menjelaskan kepada Toni.
"Apakah kamu masih belum tahu Kapten?" Vizgraf sedikit bertanya tanya, masalah yang ada benar benar viral di forum New World.
"Memang ada apa?" Toni semakin bertanya tanya dengan sikap yang ditunjukkan oleh Vizgraf.
"Nona Tara meminta kepada kita untuk menghancurkan Gereja Satanisme selama kamu pergi. Dan karena hal itu..."
"Menghancurkan Gereja Satanisme?" Toni langsung terkejut, mendengar permulaan penjelasan dari Vizgraf. Wajah geram langsung terlihat di wajah Toni. Memang dirinya pemimpin batalyon Light Guardian, tapi dirinya tidak pernah menyetujui jika dirinya mendapatkan perintah untuk menghabisi musuh musuh Kuil Cahaya. Pembunuhan kepada NPC hampir sama dengan pembunuhan di dunia nyata. Toni sama sekali tidak setuju jika menyebarkan ajaran harus disertai dengan adanya korban pembunuhan.
"Ya... Ton..." Jawab Vizgraf ragu kepada Toni.
Toni pun langsung lemas, membayangkan betapa bersalahnya para anggotanya karena harus menuruti perintah dari Tara. Dirinya pun menyalahkan dirinya sendiri, karena telah menjerumuskan para anggotanya pada satu kesalahan yang seharusnya bisa dihindari.
"Lalu apa yang terjadi?"
"Setelah kami menghancurkan Gereja di pagi hari, sore harinya muncul dua orang Demon di tempat reruntuhan gereja."
"Demon?" Toni sedikit mengerutkan dahi, mendengar kata Demon, itu berarti kemunculan Demon tersebut berhubungan dengan Dungeon yang seharusnya dirinya selidiki. Mengingat penghubung antara Dunia Abyss dan Main World adalah Dungeon.
Padahal tadinya dirinya berpikir kemunculan Dungeon tersebut karena Alan yang keluar dari Dunia Abyss. Namun rupa rupanya perkiraannya salah... Bangsa Demon sendiri yang menggunakan Dungeon tersebut untuk masuk ke dalam Main World.
"Benar Ton... Akan aku kirimkan video yang aku dapat di forum." Vizgraf mengirimkan video yang didapatkannya di forum agar Toni bisa melihatnya.
"Ini..." Toni terperangah sejenak. Melihat akan kemunculan dua orang Demon yang diselimuti aura keunguan. Namun yang lebih membuat dirinya merinding adalah, seseorang yang tengah berdiri di atas kepala Naga yang sedang terbang.
__ADS_1
Dari aura yang terlihat saja sudah jelas, jika sosok berjubah hitam yang berdiri di atas kepala Naga tersebut bukan sosok yang boleh disinggung.
"Apa yang harus kita lakukan Ton?" Vizgraf tidak memiliki bayangan sama sekali akan masalah yang dirinya buat tersebut. Karena ulah dirinya, Kerajaan Demon God yang tadinya sudah panas kini tersiram minyak. Membuat kekacauan sudah pasti akan terjadi di Kerajaan Demon God.
"Kita harus melapor kepada Poska. Jika memang mereka berniat menghancurkan Kuil Cahaya, mau tidak mau kita harus melindunginya." Toni menghela nafas panjang, mencoba mengatur nafasnya yang sedikit terasa berat setelah melihat video yang Vizgraf kirimkan.
"Baiklah... Kita akan selalu mengikuti keputusanmu..." Vizgraf menjawab dengan mantap. Diimbangi dengan anggukan kepala dari masing masing anggota Light Guardian yang ada di bawah komando Toni.
"Terima kasih kalian semua... Kita hadapi mereka bersama sama." Toni tersenyum kecil melihay reaksi setiao anggotanya. Dirinya merasa bersyukur memiliki anggota yang tidak takut akan kekalahan dalam suatu pertarungan.
Meskipun dalam masalah ini anggotanya lah yang salah, namun dirinya tetap harus membela semua yang ada di sisinya. Dan lagipula, mungkin ini bisa menjadi penebusan kesalahan yang anggotanya buat.
###
Mencari informasi akan kedua sosok yang telah membunuhnya bukan lah hal yang mudah bagi Rhodes. Kerajaan Demon God cukup luas, bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami jika dirinya harus mencari kedua sosok di Kerajaan Demon God ini.
Kini dirinya tengah minum wine di suatu bar. Bar merupakan tempat berkumpul para player untuk menghabiskan uang atau pun sekedar berbagi informasi. Dirinya yakin sangat, jika kedua sosok berjubah hitam tersebut akan muncul dan membuat heboh. Dan tempat pertama berita tersebut akan terdengar adalah di bar.
"Kamu sudah baca di forum kemarin? Katanya muncul Demon di Ibukota Kerajaan Demon God." Salah seorang player berclass Swordman nampak berbicara dengan temannya yang seorang Elementalist.
"Gila... Itu gila banget... Kamu lihat Naga yang ada di Video itu? Bisa bisanya ada orang yang bisa menaklukan Naga untuk menjadi tunggangannya." Jawab si Elementalist dengan berapi api.
Mendengar kata Naga, Rhodes sedikit tertarik. Sedari dulu dirinya begitu penasaran akan adanya satu monster bernama Naga. Dirinya sudah berusaha mencarinya sedari dulu, namun belum pernah bisa menemukannya di New World.
"Bener banget bro... Kalau sosok berjubah hitam itu player, dia pasti jadi player terkuat saat ini bro... Bayangin aja.. Dia tinggal nyuruh Naganya buat hancurin satu kota." Timpal Swordman.
Mendengar kata pria berjubah hitam, Rhodes langsung tersedak wine yang sedang dirinya minum. Buru buru dirinya membuka forum dan melihat kebenaran dari sosok pria berjubah hitam.
"Ini dia..." Rhodes berteriak sejadinya, membuat dirinya kini menjadi pusat perhatian seisi bar. Seisi bar pun langsung sepi nan sunyi karena satu teriakan dari Rhodes.
"Tidak... Tidak... Lanjutkan saja apa yang kalian lakukan." Rhodes merasa begitu malu, dirinya menjadi tontonan karena kebodohan yang dirinya buat.
__ADS_1
"Aku harus segera menemui Guild Master." Gumam Rhodes yang begitu senang karena menemukan apa yang dirinya cari. Walaupun hanya berjumpa satu kali, dirinya begitu yakin jika sosok berjubah hitam tersebut adalah orang yang telah menggagalkan rencana perampokannya. Rhodes pun bergegas meninggalkan bar untuk kembali ke markas Guild RnP.
Namun baru saja Rhodes melangkahkan beberapa langkah kaki. Sebuah suara seruling terdengar di dalam bar. Suara seruling tersebut begitu merdu, membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan langsung terhanyut dalam lantunan melodi seruling.
"Indahnya... Siapa yang memainkan seruling seindah ini..." Gumam beberapa player yang ada di bar.
Berbeda dengan player lain yang terhanyut, Rhodes tahu jika ada sesuatu yang tidak beres di bar tempat dirinya berada. Tidak mungkin ada player yang mau bermain seruling di tengah tengah bar seperti ini. Apalagi dirinya tidak melihat adanya wanita penghibur di panggung hiburan yang ada di dalam bar.
Rhodes mengawasi sekitar, mencoba mencari apa yang tidak sesuai dengan pikirannya. Namun dirinya tidak mendapati adanya player maupun NPC yang bermain seruling.
"Biarlah... Ada hal lain yang harus aku urus.." Rhodes kembali melangkahkan kaki untuk menuju pintu keluar dari bar. Dirinya sudah membayangkan akan betapa senangnya Guild Masternya nanti setelah dirinya melaporkan temuannya.
Namun begitu Rhodes sampai di depan pintu keluar, suara seruling yang tadinya begitu merdu langsung berubah menjadi memekik telinga. Semua orang yang ada di dalam bar langsung meronta, mencoba menutup telinga mereka yang seakan sedang ditusuk dengan pedang yang panas. Tidak terkecuali Rhodes, Rhodes langsung jatuh berlutut. Tidak kuasa menahan rasa sakit di kedua telinganya. Kepalanya bagaikan mau pecah saat mendengar nada nada yang begitu tinggi yang memaksa masuk ke dalam kepalanya.
"Aaah...." Satu persatu player yang ada di dalam bar berteriak. Namun setelah berteriak mereka langsung jatuh terguling di atas lantai, tidak lagi bergerak sedkitpun.
Rhodes tentu tidak bisa mengetahui apa yang telah terjadi di dalam bar tersebut. Dirinya terlalu disibukkan dengan rasa sakit yang menyerang kedua telinganya.
"Bagus juga kamu bisa menjadi yang terakhir bertahan di dalam bar ini... Padahal tadinya aku berpikir aku tidak perlu membunuh semua orang yang ada di dalam bar ini..." Sebuah suara tiba tiba terdengar di belakang Rhodes. Rhodes sama sekali tidak menyadari akan adanya orang yang sedang mendekatinya.
"Siapa kau?" Bentak Rhodes yang sudah bisa bergerak, suara seruling yang memekikkan telinganya telah berhenti saat ini.
"Aku adalah salah satu malaikat pencabut nyawamu..." Kata orang tersebut, yang nampak sedang melemparkan pisau kecil ke arah Rhodes.
Rhodes terlambat menyadari akan adanya pisau yang mengarah kepadanya. Lagipula jika dirinya sadar, dirinya tidak bisa menghindari. Tubuh ya masih terasa lemah karena efek dari suara seruling tadi.
"Aaargh..." Suara serak keluar dari mulut Rhodes begitu pisau yang mengarah kepada dirinya menancap di lehernya. Dirinya hanya bisa menghafali wajah yang menjadi pembunuh dirinya. Namun nyatanya percuma, wajah pembunuhnya tertutup oleh topeng hitam yang menutupi wajahnya sepenuhnya.
"Satu lagi selesai Commander..." Pria bertopeng hitam tersebut melakukan panggilan sistem setelah dirinya membunuh Rhodes. Memberikan laporan akan keberhasilan misi yang diberikan kepadanya.
"Bagus Silent Rogue... Lanjutkan pada sasaran selanjutnya..." Jawab Commandernya dari seberang panggilan.
__ADS_1
"Segera dilaksanakan Commander..." Jawab Silent Rogue dan menutup panggilan sistemnya. Dirinya tidak lupa untuk mengambil beberapa item yang dijatuhkan oleh para player yang dibunuhnya.
"Yuhu... Setelah misi ini... Aku bisa bersenang senang di Kerajaan Black Dessert..." Gumam Silent Rogue yang sudah tidak sabar untuk bisa memanfaatkan uang yang dirinya dapat dari misi dan penjualan item item yang dirinya dapatkan. Bayangan akan wanita wanita penghibur di Kerajaan Black Dessert pun kini sudah terbayang bayang di dalam angan angannya.