New World

New World
Umpan


__ADS_3

Tadinya Alan benar benar harus memutar otak agar rencana dirinya membawa bangsa Demon ke Main World benar benar bisa diterima. Kedatangan bangsa Demon yang tiba tiba, tentu akan menarik perhatian dari semua Player maupun NPC. Namun semuanya berubah setelah kejadian penyerangan kepada Gereja Satanisme.


Alan merasa dirinya bisa menggunakan hancurnya Gereja Satanisme sebagai jembatan penghubung yang tepat. Hancurnya Gereja Satanisme, bisa Alan manfaatkan sebagai salah satu bentuk penghinaan kepada Bangsa Demon. Dan tentu saja... Jika ada bangsa Demon yang keluar saat ini, maka itu akan menjadi sebuah hal yang wajar. Kerajaan Demon God tentu tidak akan mengambil nama Demon God tanpa suatu alasan.


"Kita akan mulai bergerak..." Ucap Alan pada Rendemiz dan Selene yang tengah meminum darah dari para player yang baru saja mereka bunuh. Nampak sekali jika kedua Demon tersebut begitu menikmati rada darah yang baru saja mereka minum. Seakan akan mereka telah menghilangkan rasa dahaga selama lebih dari ratusan tahun.


"Kemana?" Selene menjawab dengan wajah yang masih berlumuran darah.


"Kita akan pergi ke Ibukota. Ada satu peran yang perlu kalian jalankan." Jawab Alan sembari memalingkan wajahnya, tidak kuat melihat wajah Selene yang penuh dengan lumuran darah.


"Terserah kamu saja... Asalkan di sana ada darah segar lagi yang bisa kita minum." Selene tidak terlalu keberatan dengan keputusan Alan. Mengingat dirinya tahu jika tujuan Alan adalah membangunkan sebuah tempat tinggal yang layak untuk Bangsa Demon.


"Tenang saja... Akan ada banyak darah yang busa kalian minum disana." Alan tersenyum kecil, mendengar permintaan sederhana dari Selene. Asalkan Selene dan Rendemiz tidak meminum darah dari para NPC yang tidak berdosa, Alan tidak akan mempermasalahkannya. Jika mereka hanya membunuh para player, itu merupakan suatu hal yang wajar bagi Alan. Player akan hidup lagi setelah mereka dibunuh, namun berbeda jika NPC. NPC akan langsung mati seutuhnya jika mereka terbunuh.


Dan Alan tentu tidak ingin kejadian pembunuhan NPC secara besar besaran seperti itu terjadi karena kemunculan Bangsa Demon. Jika sampai hal seperti itu terjadi, maka bukanlah tempat yang nyaman yang bisa Alan berikan. Namun hanya perpindahan Dunia Abyss yang berantakan. Alan sedang mencoba untuk membuat suatu Kerajaan yang bisa dihuni oleh semua ras dengan damai. Bukan Kerajaan yang penuh dengan kekacauan.


"Chiro..." Alan memberi tanda kepada Naga kecilnya untuk berubah wujud. Dengan keluarnya aura kegelapan dari dalam tubuh Alan. Tubuh Chiro semakin membesar seiring dengan semakin banyaknya aura kegelapan yang diserap dari Alan.


"Uargh..." Raungan Chiro yang begitu perkasa kini terdengar ke seluruh penjuru hutan tempat Alan dan yang lainnya berada. Membuat burung burung kecil yang tadinya bertengger di pepohonan langsung memilih untuk terbang, menghindari sosok Chiro yang mungkin akan menjadikan mereka mangsa.


"Ayo berangkat!" Perintah Alan sembari naik ke atas punggung Chiro.


Flyin pun langsung ikut Alan untuk naik ke atas punggung Chiro. Sedangkan Rendemiz dan Selene, masih terperangah sejenak melihat perubahan dari Naga kecil yang tadinya hanya bertengger di pundak Alan.


Perlu setengah hari sendiri bagi mereka berempat untuk sampai pada Ibukota Kerajaan Demon God. Meskipun mereka telah menaiki Chiro yang terbang begitu cepat, namun jauhnya jarak yang harus mereka tempuh memang tidak bisa dibohongi.


Tidak sedikit player maupun NPC yang melihat Chiro terbang di langit. Mereka semua tentu terkejut akan kemunculan seekor Naga hitam dan putih yang terbang bebas di angkasa Kerajaan Demon God. Banyak juga player yang merekam terbangnya Chiro di udara. Mempostingnya di forum New World, agar memberitahu semua orang jika ada seekor Naga yang terbang bebas di Kerajaan Demon God.


Bangunan bangunan tinggi Ibukota mulai bisa terlihat dari atas punggung Chiro. Alan tidak memerintahkan Chiro untuk berubah wujud ke ukuran normal. Maksud kedatangan dirinya ke Ibukota Kerajaan Demon God adalah untuk menarik perhatian. Dan dengan Chiro, tentu semua itu akan menjadi lebih mudah.

__ADS_1


"Lompatlah! Buat kesan yang mendalam bagi mereka!" Alan memerintahkan kedua Demon kakak beradik tersebut untuk turun dengan cara yang sensasional. Dirinya sudah menjelaskan apa saja yang harus mereka berdua lakukan. Tinggal bagaimana kedua Demon tersebut menjalankan peran yang diberikan.


"Tidak usah berisik... Cukup diam dan lihat!" Selene mengeluarkan aura keunguan yang begitu pekat. Dirinya langsung melompat turun ke arah reruntuhan Gereja Satanisme.


"Kenapa dia selalu sewot kepadaku?" Alan hanya melongo mendengar perkataan Selene. Sedari dulu Selene selalu saja tidak pernah memberikan kesan yang menyenangkan kepada dirinya.


"Hahaha... Maafkanlah adikku AS... Percayakan saja pada kami..." Rendemiz tidak ketinggalan, dengan aura yang tidak kalah pekat dari milik Selene, dirinya melompat dari atas punggung Chiro.


Boom...


Boom...


Suara hentakan kaki kedua Demon tersebut terdengar hampir ke sepertiga penjuru Ibukota. Menandakan betapa kerasnya benturan antara tanah dan kaki kedua Demon tersebut.


"Siapa yang berani beraninya menghancurkan tempat pemujaan untuk bangsa kami?" Selene memandang ke arah sekeliling. Nampak di sekitarnya para Player maupun NPC yang masih sibuk mengurusi reruntuhan Gereja Satanisme.


"I... Itu..." Salah satu player begitu tercengang melihat apa yang dirinya lihat. Dua orang tengah berdiri dengan tegap di sekitar debu hasil benturan. Sepasang tanduk di masing masing kepala mereka menjelaskan jika kedua sosok tersebut bukanlah ras yang pernah ditemui di New World.


"Ka... Kami tidak tahu..." Salah satu NPC mencoba menjawab, namun dirinya segera menutup mulutnya rapat rapat. Takut jika dirinya telah salah berbuat.


Para player yang ada di tempat tersebut pun tidak jauh berbeda. Melihat aura keunguan yang memancar dari tubuh Selene dan Rendemiz, sudah menjadi bukti yang cukup jika mereka bukanlah tandingan kedua sosok yang begitu asing di New World tersebut.


"Dengar... Aku Selene... Anak dari Asmodias. Penghancuran gereja ini merupakan suatu bentuk penghinaan bagi ayahku. Aku ditugaskan oleh ayahku untuk menghancurkan siapapun yang berani menghancurkan tempat pemujaan untuk kami." Selene menatap ke sekeliling dengan tajam. Memberi peringatan kepada semua orang yang ada di tempat tersebut jika dirinya tidak bermain main dalam ucapannya.


Slash...


Sebuah serangan berbentuk sihir cahaya tiba tiba mengarah ke arah Selene dan Rendemiz. Selene dan Rendemiz tentu tahu jika mereka berdua sedang diincar. Mereka berdua dengan cepat menghindari lesatan sihir cahaya tersebut.


Semua orang yang ada di tempat tersebut tentu langsung mencari sosok yang berani menyerang kedua Demon tersebut. Pandangan mereka pun terhenti pada lima orang Angel yang tengah terbang sembari membawa tombak emas di masing masing tangan mereka.

__ADS_1


"Kuil Cahaya lah yang menghancurkan tempat ini. Kami ingin membersihkan aliran sesat yang sedari dulu bernaung di bangunan tersebut." Bentak salah satu Angel yang menjadi pemimpin rombongan kelima Angel tersebut. Nampak jelas dari wajah Angel tersebut, jika dirinya sama sekali tidak takut untuk berurusan dengan Selene dan Rendemiz.


"Hem... Kuil Cahaya... Kalau begitu..." Selene mengeluarkan aura keunguan untuk bertarung dengan para Angel tersebut.


Wuing...


Namun belum sempat dirinya bertindak, sebuah gelombang tak kasat mata tiba tiba menerpa tubuhnya. Tanah dan bebatuan yang menjadi pijakan dirinya bergetar dengan hebat. Udara di sekitar yang tadinya begitu lembut terasa kini berubah menjadi berat. Seakan akan dirinya kini sedang dihimpit oleh ratusan batu tak kasat mata.


Wuing...


Gelombang yang kedua sekali lagi menerpa tubuhnya. Kali ini bukan tanah dan udara yang terimbas. Melainkan tubuh semua orang yang ada di tempat tersebut langsung jatuh ke atas tanah.


Bukan hanya Selene dan Rendemiz, para Angel yang tadinya terbang di udara pun ikut terjatuh di atas tanah. Tubuh mereka kini bagaikan seekor cicak yang sedang menempel di atas tanah, tidak mampu untuk bergerak. Meskipun itu hanya satu bulu di sayapnya.


"Jadi... Kuil Cahaya..." Sebuah suara serak terdengar dari udara. Seorang pria berjubah hitam bisa dilihat sedang berdiri di atas kepala Naga hitam putih yang terbang dengan bebas. Arogansi maupun keangkuhan bisa terlihat dengan jelas dari sosok berjubah hitam tersebut.


"Kalau begitu... Sampaikan pada Kuil Cahaya... Kami akan datang untuk menghancurkan Kuil Cahaya kalian!" Bentak pria tersebut. Sembari dirinya melemparkan sesuatu ke arah empat Angel yang terbaring di atas tanah.


Keempat Angel tersebut pun langsung mati begitu saja. Tubuh mereka langsung berubah menjadi partikel cahaya secara perlahan. Menyisakan tanda tanya, dengan apa pria berjubah hitam tersebut membunuh keempat Angel tersebut.


Sosok berjubah hitam tersebut langsung melepaskan tekanan yang dirinya berikan pada lingkungan sekitar. Membuat semua orang yang ada di tempat tersebut bisa berdiri dengan normal.


Tidak ada yang berani bertindak, meskipun itu hanya mengedipkan mata. Sosok Naga hitam putih yang terbang di atas mereka saja sudah begitu mencekam, apalagi sosok yang menjadi penunggang di atas kepalanya. Tentu membuat semua orang yang ada di tempat tersebut terdiam mematung.


"Kamu masih tidak ingin pergi?" Tanya sosok berjubah hitam kepada pimpinan dari kelima Angel tersebut.


Pimpinan Angel masih mencoba untuk mengembalikan kesadarannya, baru setelah beberapa detik dirinya menyadari jika dirinya masih diberi kesempatan untuk hidup. Pimpinan Angel tersebut pun langsung terbang menjauh, segera meninggalkan tempqt reruntuhan gereja sebelum tempat tersebut menjadi tempat terakhirnya hidup.


"Kenapa kamu melepaskannya?" Tanya Selene sembari dirinya melompat ke atas punggung Chiro, bukan hal yang sulit bagi dirinya untuk membunuh kelima Angel tersebut. Alan justru nampak mengacaukan segalanya.

__ADS_1


"Dia hanya umpan... Umpan yang akan membawakan kepada kita ikan yang lebih besar..." Jawab Alan dengan santainya. Pandangannya kini beralih ke arah semua orang yang ada di sekitar reruntuhan Gereja.


Para NPC langsung bersujud memberi hormat, sedangkan para player yang ada di tempat tersebut langsung lari secepat kilat. Mencoba menjadi yang pertama meninggalkan tempat tersebut sebelum menjadi korban kekejaman para bangsa Demon.


__ADS_2