
Rhodes tidak akan pernah mengira jika rencana perampokan beberapa hari yang lalu akan diganggu oleh kemunculan dua orang sosok bertudung hitam. Jika saja dirinya bisa menyelesaikan tugas perampokan tersebut, mungkin dirinya kini bisa menjadi salah satu petinggi dari RnP Guild.
Kegagalan Rhodes tentu mendapat sindiran dari berbagai player anggota RnP Guild. Dirinya sudah terlanjur sesumbar akan bisa merampok paket Mana Stone dengan mudahnya. Namun hasil rupa-rupanya berkata lain. Dan kini dirinya perlu menjelaskan semua hal mengenai kegagalannya tersebut pada Guild Masternya.
"Bisa kamu jelaskan kejadiannya secara jelas?" Seorang pria berzirah hitam dengan corak merah menyala memandang sinis ke arah Rhodes yang tengah berdiri di hadapannya. Dirinya benar benar tidak suka mendengar laporan dari Rhodes yang setengah setengah.
"Mulanya kamu sudah mendapatkan paket Mana Stone tersebut Guild Master, tapi ada dua orang muncul dan tiba-tiba menyerang kami." Rhodes tertunduk malu, mengucapkan apa yang dirinya ucapkan barusan.
"Dua orang?" Swordman berzirah hitam tersebut ternganga mendengar apa yang Rhodes katakan. Mungkin suatu hal wajar jika yang menggagalkan Rhodes dan anak buahnya merupakan satu pasukan, tapi ini hanya dua orang. Dirinya tahu Rhodes dan anak buahnya cukup kuat untuk bisa mengimbangi top player, bahkan Rhodes sendiri pernah masuk 32 besar dalam turnamen New World.
"Itu artinya lawanmu memang benar benar kuat?" Senyum kecil terlihat di wajah Swordman bernama Fire Blade tersebut. Sudah lama dirinya tidak merasa tertarik akan kemampuan seseorang sejak dirinya mendapatkan Fire Elemental Stone.
Ya... Fire Elemental Stone, sebuah item yang dapat diserap kekuatannya oleh player. Player akan memiliki kemampuan Elemental sesuai dengan Elemental Stone yang diserap. Tidak hanya bisa mengendalikan Elemental seperti para Elementalist, player yang menyerap Elemental Stone bahkan bisa merubah tubuhnya menjadi Elemental Body. Sebuah tubuh yang tersusun dari Element yang dimiliki oleh player tersebut.
"Bisa saya asumsikan seperti itu Guild Master." Jawab Rhodes mengiyakan pertanyaan Fire Blade. Dirinya tahu betul jika Guild Masternya satu ini merupakan seorang maniak bertarung, Rhodes sangat yakin jika Guild Masternya tertarik untuk bertarung dengan kedua sosok berjubah hitam tersebut.
"Aku ingin informasi yang lebih tentang kedua orang itu... Jika sudah dapat... Pastikan laporkan kepadaku secepatnya..."
"Tentu Guild Master..." Rhodes memberi hormat sembari dirinya mundur dari hadapan Fire Blade. Dirinya bersyukur tidak mendapat makian dari Guild Masternya karena kesalahannya.
"Hem... Menarik... Aku jadi penasaran dengan kedua orang itu..." Gumam Fire Blade sembari menopang dagunya, dirinya berpikir seperti apa kekuatan yang dimiliki oleh kedua orang tersebut, sampai bisa menghabisi Rhodes dan anak buahnya dalam sekejap.
###
Alan kembali log in ke dalam New World setelah berolahraga ringan di White Eagle Dojo. Pikirannya terasa fresh, setelah seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat. Keringat yang dirinya pendam lebih dari satu tahun lebih.
"Anda sudah datang Tuan?" Flyin menyambut kedatangan Alan yang tiba tiba muncul di dalam kamar penginapan. Sudah seharian dirinya merasakan kebosanan karena harus terus menunggu Alan kembali ke dalam New World.
"Ya Flyin... Apa kamu sudah menyelesaikan apa yang aku minta?" Alan tanpa basa basi, dirinya sudah meminta kepada Flyin untuk memeriksa Desa tempat mereka menginap.
__ADS_1
"Ya Tuan... Desa ini bernama Gorden... Sama seperti desa yang kita temui sebelumnya, sebagian besar penduduk di desa ini menganut ajaran Satanisme."
"Hem... sepertinya ajaran itu sudah mendarah daging di Kerajaan ini..." Gumam Alan pelan... Dirinya sudah begitu gatal untuk meluruskan ajaran yang terkesan sesat...
Demon bukan untuk disembah atau dipuja, mereka juga merupakan ras biasa selayaknya manusia, elf, dwarf dan ras lainnya di dunia ini. Hanya manusia manusia terbelakang saja yang mau menyembah Demon sebagai pujaan mereka. Mereka terlalu mengagung-agungkan kekuatan bangsa Demon yang memang berada di atas rata rata ras lainnya.
"Apa yang akan Anda lakukan Tuan?" Flyin yang membaca pikiran Alan tentu tidak paham dengan istilah kepercayaan. Kepercayaan merupakan suatu istilah asing bagi dirinya yang seorang bangsa Demon.
"Akan sulit jika langsung meminta mereka berubah. Satu satunya cara adalah kita membuat peran Demon, dan membuat mereka perlahan merubah kepercayaan mereka." Alan tidak mempermasalahkan jika para warga Kerajaan Demon God menyembah bangsa Demon. Dirinya hanya tidak suka dengan cara mereka menyembahnya. Mengorbankan satu nyawa NPC hanya untuk mempersembahkan pada NPC lainnya. Tentu itu bukan suatu perbuatan yang terbilang bijak.
"Maksud Anda Tuan?" Flyin sedikit tidak mengerti, meskipun dirinya bisa membaca isi pikiran Alan, namun langkah yang akan diambil Alan tidak masuk ke dalam jangkauan pikirannya.
"Disinilah peran Rendemiz dan Selene bisa bekerja..." Alan mengambil The Forgotten Dagger untuk masuk ke dalam The Forgotten World. Sosok Alan pun menghilang begitu saja masuk ke dalam lubang dimensi yang dirinya buat sebelum Flyin kembali bertanya.
"Ah... Selalu saja..." Flyin menghela nafas panjang, melihat kepergian Alan begitu saja.
"Kuaaak..." Chiro yang tengah tertidur di atas ranjang menyahut perkataan Flyin.
###
The Forgotten World telah mengalami perubahan besar besaran setelah dijadikan tempat tinggal sementara oleh para bangsa Demon. Para bangsa Demon, di bawah kepemimpinan Asmodias tentu menjadi roda perubahan tersebut. Mereka saling bahu membahu untuk membangun The Forgotten World menjadi sebuah Kota yang begitu nyaman untuk ditinggali oleh para bangsa Demon.
Dari atas udara, Alan bisa melihat sebuah kota dengan berbagai macam bangunan yang kokoh berdiri. Pepohonan nan hijau pun tidak luput menghiasi sekeliling padatnya kota.
Berdasarkan acuan dari Alan, Asmodias membangun The Forgotten World menjadi tempat tingal sementara yang cukup nyaman bagi bangsa Demon. Area perkotaan untuk tempat tinggal para bangsa Demon, sedangkan area pepohonan untuk tempat beternak para monster.
Ya... Monster... Monster monster penghuni Dunia Abyss juga tidak luput Alan pindahkan ke dalam The Forgotten World. Para bangsa Demon tetap membutuhkan makanan selama tinggal di The Forgotten World. Dan dengan beternak monster adalah cara paling tepat untuk bisa memenuhi kebutuhan ribuan Demon yang ada di The Forgotten World.
Alan pun terbang menuju ke satu bangunan tertinggi yang ada di pusat Kota. Bangunan yang mirip istana tersebut digunakan untuk menjadi tempat tinggal para petinggi bangsa Demon. Total ada 3 Jenderal Besar Demon yang tinggal di Istana tersebut.
__ADS_1
Selain Asmodias, masih ada dua Jenderal Besar Demon lainnya, Vlad dan Erebos. Untung saja mereka berdua dengan senang hati mengikuti Alan untuk pindah ke The Forgotten World. Tentu saja semua itu karena bujukan dari Selene dan Rendemiz. Kedua anak Asmodias tersebut berhasil membujuk jika Alan akan menyediakan tempat tinggal yang jauh lebih layak daripada Dunia Abyss.
"Tuan AS..." Sapa Demon penjaga gerbang Istana. Semua bangsa Demon tentu tahu siapa Alan, tidak terkecuali penjaga gerbang Istana. Alan dianggap sebagai sosok Elf yang bisa mempersatukan semua Demon yang ada di Dunia Abyss. Mereka semua percaya jika Alan akan memberikan tempat yang lebih layak daripada tempat tinggal mereka dulu, Dunia Abyss.
"Rendemiz ada?" Tanya Alan tanpa basa basi.
"Ada Tuan... Berkenan saya panggilkan?" Penjaga gerbang Istana membukakan pintu gerbang.
"Tidak perlu... Lanjutkan saja tugasmu..." Cegah Alan. Walaupun tidak ada kemungkinan bahaya di The Forgotten World. Namun tetap saja, bangsa Demon terkenal akan sifat yang keras. Bisa sewaktu waktu terjadi kekacauan di The Forgotten World. Untuk itulah perlunya suatu penjagaan yang ketat di dalam Kota. Menjaga agar semua bangsa Demon tetap disiplin menjalani hidup mereka.
"Ada apa kamu tiba tiba datang?" Sapa Rendemiz yang melihat kedatangan Alan. Dirinya sudah sangat hafal, jika ada sebuah lingkaran dimensi terlihat di langit Kota, berarti pemilik dunia ini akan datang.
"Dimana Selene? Ada sesuatu yang aku inginkan dari kalian berdua."
"Sebentar lagi dia juga akan datang... Duduk saja dulu..." Tawar Rendemiz pada Alan. Sudah menjadi kebiasaan para petinggi bangsa Demon untuk menemui Alan jika Alan datang.
"Ada perlu apa kamu mencariku?" Seorang Demon berambut ungu masuk ke dalam ruangan tempat Rendemiz dan Alan berada.
"Ah... Seperti biasanya... Kamu tidak suka basa basi..."
"Katakan saja..." Acuh Selene lebih memilih ke topik permasalahan yang ingin disampaikan oleh Alan.
"Aku ingin kalian berdua ikut denganku keluar dari Dunia ini... Ada sesuatu hal yang hanya bisa kalian berdua yang melakukannya."
"Hanya kami?" Ulang Rendemiz, sedikit ragu dengan perkataan Alan.
"Ya... Karena hanya kalian berdua yang pantas dan bisa aku percaya."
"Memang apa maumu dari kami berdua?" Selene sedikit bingung dengan apa yang Alan sampaikan. Begitu banyak kandidat Demon di The Forgotten World, namun kenapa harus dirinya dan kakaknya? Memang tugas apa yang ingin Alan berikan pada mereka berdua?
__ADS_1
"Aku ingin menjadikan kalian berdua dewa yang disembah..." Jawab Alan dengan polosnya, yang membuat mulut Rendemiz dan Selene langsung menganga lebar. Menganggap Alan sedang bercanda pada mereka berdua.