New World

New World
semangat baru


__ADS_3

Belum genap seminggu Alan pergi ketempat pemakaman untuk memakamkan ayahnya. Dan kini, Alan datang lagi. Kali ini satu satunya keluarganya yang tersisa harus Alan relakan untuk dikubur disamping makam ayahnya.


Alan hanya berdiri termenung memandangi wajah ibunya di dalam peti mati untuk yang terakhir kalinya. Wajah Liliyana tampak damai, tenang, secercah senyum terpapar di bibir Liliyana. Senyum yang mengisyaratkan dirinya sedang akan bertemu dengan kekasih hatinya.


"Ibu... Ayah... kalian berdua memang tak terpisahkan. Semoga kalian semua bahagia di alam sana." Alan sambil menutup peti jenazah.


Alan merasakan sedikit ketenangan melihat peti jenazah ibunya mulai dikubur.


Sedih? Itu pasti! Tapi di dalam hatinya ada setitik perasaan tenang setelah melihat senyum ibunya. Alan pernah mendengar kalau cinta sejati itu tak akan pernah terpisahkan oleh apapun. Alan kira itu hanyalah sebuah karangan orang belaka. Tapi kini Alan melihat sendiri cinta sejati antara kedua orang tuanya.


"Ayah, Ibu... Semoga kalian bahagia disana. Kini tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kalian berdua." Tak kuasa air mata Alan menetes di pipinya, tapi dengan cepat Alan menghapusnya.


Ivan dan Toni pun mendekati Alan. Mencoba untuk ada di saat Alan terpuruk.


"Kau baik baik saja Lan?" Tanya Ivan yang bingung mau menghibur dengan cara apa melihat sahabatnya mematung memandangi makam yang sedang ditimbun tanah.


"Ya... Ayah dan Ibuku sudah bahagia disana. Aku pun tidak boleh terus terusan bersedih disini. Aku tidak mau merusak kebahagian mereka karena kesedihanku." Alan mencoba tegar meskipun hatinya sedang teriris iris.


"Kau benar Lan. Tidak perlu meratapi kesedihan terlalu panjang. Yang penting kita harus tetap berjuang untuk masa depan."


Toni hanya terdiam melihat Alan dan Ivan yang bisa tetap terlihat tenang dalam keadaan seperti ini. Jika dirinya di posisi Alan pasti sudah mencoba menyusul kedua orang tuanya.


Rombongan pengantar jenazah pun pergi satu persatu. Alan, Ivan dan Toni pun akhirnya pergi juga. Alan sekali menoleh ke makam kedua orang tuanya sebelum keluar dari area makam.


"Ayah, Ibu... Kalian berdua berbahagialah disana. Anak kalian sudah besar, tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Aku pasti bisa menjaga diriku. Aku tidak akan merusak kebahagian kalian berdua." Ucap Alan dalam hati.


Alan pun meninggalkan makam dengan perasaan lega dan kembali kerumahnya.


Tiga hari telah berlalu


Alan sedang duduk di dalam kamar ibunya. Di atas pangkuannya ada sebuah kotak hitam yang Alan temukan di samping jenazah ibunya.


Dari persiapan yang dilakukan ibunya. Seakan ibunya tahu kalau dirinya akan menyusul Julian ke alam kematian.


Alan membuka kotak hitam itu. Ada 4 buah benda , 1 kalung berliontin hati di dalam bandul itu terdapat foto kedua orang tua Alan.


Satu pisau hitam yang terbuat dari baja kualitas terbaik. Di pisau itu tertulis nama Scraft, yang berarti nama keluarga Alan.


Kemungkinan ini adalah pisau ayahnya yang sering ayahnya gunakan sewaktu muda dulu.


Dua buah benda lainnya adalah dua potong kertas. Alan tidak berani membuka kedua surat tersebut, hatinya baru saja bisa merasa lega. Jika dia membaca kedua surat itu tentu dirinya akan mendapatkan kekacauan hati lagi. Alan pun menyimpan kedua surat itu.

__ADS_1


"Alan... Aku akan kembali ke Middlemist. Kamu tidak akan kembali bersamaku? " Kata Toni yang sedang berdiri di depan pintu kamar.


"Maaf Ton... Tapi aku masih harus mengurus banyak urusan di desa. Kamu kembalilah dulu. Setelah urusanku selesai mungkin aku akan ke Middlemist lagi."


"Mungkin? Apa kamu tidak berniat melanjutkan studi mu?"


Julian sudah membayar semua keperluan Alan untuk kuliah sampai dengan Alan lulus nanti. Alan hanya perlu mencari uang untuk bertahan hidup di kota. Tentu saja itu tidak akan sulit bagi orang pekerja keras seperti Alan.


"Entahlah Ton. Semua alasanku untuk melanjutkan studiku sudah hilang. Warga desa sudah kehilangan tanah mereka. Orang tua yang ingin kubuat bangga juga sudah tidak ada."


"Terus apa yang akan kamu lakukan? Ikut bekerja di Sunflower Grup?"


"Mungkin Ton..."


Toni langsung berjalan mendekat ke arah Alan dan berdiri di depan Alan.


Plaaakkkk.....


Toni langsung menampar muka Alan,bdengan erat dia mencengkram kerah baju Alan.


"Dengar Lan... Ini bukan lah Alan yang ku kenal... "


"Alan yang ku kenal tidak akan rela dirinya berada di bawah naungan orang lain."


"Lihat lah warga desa disini. Apa mereka rela tanah mereka di ambil? Apa mereka rela harus bekerja di Sunflower?"


"Mereka terpaksa Lan... Karena untuk mencukupi kebutuhan mereka harus bekerja di Sunflower."


"Kalau warga desa ini bisa memilih. Mereka pasti memilih yang lain Lan."


"Sedangkan kamu... Kamu punya pilihan Lan!"


Alan hanya terdiam mendengar bentakan demi bentakan Toni. Semua yang dikatakan toni memang benar.


"Dengar Lan... Warga desa ini perlu pemimpin yang hebat. Kalau kamu tetap seperti ini. Apa yang bisa kamu lakukan?"


"Beda kalau kamu melanjutkan studimu. Entah kamu akan jadi apa nantinya, paling tidak kamu mungkin akan menemukan cara lainnya untuk merebut tanah desa ini lagi."


"Itu yang bisa kukatakan. Semua terserah kepadamu tapi satu hal. Aku kecewa kepadamu Lan. Aku kira kamu lebih dari ini." Toni melepaskan genggamannya dan pergi keluar dari kamar.


"Tunggu..." Alan mencegah Toni yang akan keluar dari kamar.

__ADS_1


"Kamu benar Ton. Aku tidak bisa trus seperti ini." Alan berdiri dan mendekat ke Toni.


"Terima kasih Ton... Kamu memang sahabatku yang paling luar biasa." Alan memeluk Toni.


"Kalian berdua... Ternyata..." Ivan yang baru saja datang kerumah Alan terkejut melihat adegan Alan dan Toni yang sedang berpelukan.


"Eh... Ivan... Sejak kapan? alan pun merasa kalau dirinya masih memeluk Toni, dan Ivan pasti berpikir yang tidak tidak tentang mereka berdua. Alan langsung melepaskan Toni.


"Aaa..... Ini bukan seperti yang kamu sangka Van... " Toni langsung menyahut.


Ivan hanya senyum senyum sendiri. "Kalau pun iya juga... Aku tidak masalah."


Alan yang merasa tak berdaya langsung menjitak kepala Ivan dan menjelaskan yang sebenarnya terjadi.


"Lan... Aku kesini untuk pamitan." Kata Ivan.


"Kamu mau kemana?" Tanya Alan.


"Aku akan pergi bekerja di kota Louis. Di tempat salah satu saudara ayahku."


"Kenapa kamu mau pergi Van? " Toni menimpali.


"Haaah... Keluargaku selama ini hidup pas pasan hanya dengan mengolah ladang kami. Kini ladang itu sudah bukan milik kami. Tentu saja hasil dari bekerja di Sunflower Grup tidak akan cukup untuk menyekolahkan adik adikku."


Toni dan Alan langsung tersentak hatinya. Tini merasa ingin sekali membantu Ivan dengan menggunakan bantuan keluarganya. Tapi melihat sifat Ivan tentu dia tidak akan setuju.


Alan merasa lebih terpukul lagi. Dia tadinya sudah akan menyerah dan ikut bekerja di Sunflower Grup. Tapi Ivan malah membuat keputusan yang lain. Dari sini semangat Alan untuk terus maju jadi semakin besar.


"Kapan kamu akan berangkat van?" Tanya Alan.


"Sore ini..."


"Berhati hatilah saudaraku. Aku juga akan kembali ke Mediteran City bersama Toni sore ini."


"Tentu Lan. Aku akan mengumpulkan uang yang cukup untuk menyekolahkan adik adikku. Aku tidak ingin adik adikku seperti diriku."


"Aku percaya kamu bisa Van. Kita akan bertemu lagi di keadaan yang berbeda dengan sekarang. Keadaan dimana kita bisa mengambil hak hak kita." Alan memeluk Ivan sebagai tanda perpisahan.


Ivan pun kembali ke rumahnya untuk bersiap siap. Alan pun juga berkemas kemas. Merapikan rumahnya karena akan di tinggal pergi lama, menata barang barang kenangan kedua orang tuanya yang bisa dibawa.


Alan berangkat membawa sebuah tas dan koper kecil hitam. Koper kecil hitam itu adalah barang milik ayahnya. Alan sengaja membawanya agar Alan bisa mendapatkan berkah dari orang tuanya jika dia akan melamar kerja nantinya.

__ADS_1


Alan dan Toni naik kereta terakhir dari Hanley town ke Mediteran City. Jadi... Jika tidak ada hambatan mereka akan sampai di Mediteran City tengah malam.


Sesampainya di stasiun Mediteran pas tengah malam. Alan benar benar teringat saat pertama kali datang ke Mediteran City. Bedanya adalah dia bersama toni sekarang.


__ADS_2