
"Wind Slash!"
"Tree Chop!"
"Tiger Smash!"
Berbagai serangan ultimate dikeluarkan oleh para player anak buah Deathmark. Mereka berusaha untuk membunuh Alan sesegera mungkin dengan skill skill mereka. Mereka tidak ingin gegabah di hadapan Alan dengan menyerang menggunakan skill yang biasa biasa saja.
duar...
Ledakan yang dahsyat langsung terjadi di tempat Alan berdiri. Asap debu beterbangan menutupi tempat Alan berdiri.
"Mati sudah!" Salah satu player yang memakai senjata tombak tersenyum puas mendapati tombaknya menancap kepada daging yang empuk. Walaupun belum bisa melihat daging apa yang dirinya tusuk karena tertutup debu terbang, namun player tersebut yakin jika dirinya telah menusuk tubuh Alan.
"Bagaimana mungkin?" Player tersebut terkejut melihat tubuh monster serigala di hadapannya setelah kepulan debu menghilang. Tubuh monster serigala tersebut sudah tidak berbentuk utuh lagi setelah mendapat serangan dari para player anak buah Deathmark secara bersamaan.
"Bagus sekali Jonta!" Alan keluar dari bayangan monster serigala yang melindunginya tadi. Alan memuji Jonta yang cepat tanggap menggerakkan monsternya untuk melindungi Alan.
"Kau selalu bisa mengandalkanku kakak!" Jonta memasang senyum penuh bangganya setelah mendapat pujian dari Alan.
"Kali ini giliranku!"
"Tornado Dance!"
Tornado langsung muncul di tengah tengah para player anak buah Deathmark. Mereka tentu tidak siap akan kemunculan tornado yang tiba tiba di tengah mereka. Para player anak buah Deathmark langsung terhempas ke udara, terbang melayang mengikuti arus angin tornado.
Alan tidak membuang buang waktu terlalu banyak. Alan mengakselerasikan Wind Bownya untuk terus menerus mengeluarkan Wind Arrow.
Jleb...
Jleb...
Panah panah angin Alan menjadi dewa kematian yang tidak bisa dihindari kedatangannya bagi para player anak buah Deathmark. Setiap panah anginnya selalu bisa menembus bagian vital setiap player anak buah Deathmark. Setelah skill Tornado Dance Alan berakhir, tubuh para player anak buah Deathmark berjatuhan dari langit. Pasukan revolusi elit yang berada di belakang Alan pun sampai terpana, melihat Alan bisa menghabisi 70 player dengan cepatnya.
__ADS_1
Alan langsung meminum mana regeneration potion untuk memulihkan mananya yang terkuras akibat terus menerus mengeluarkan Wind Arrow. Pandangan Alan kini tertuju kepada lima ekor monster ular yang masih berjibaku dengan lima monster golem boneka Clara.
"Cepat habisi kelima monster itu dan selamatkan puteri Leoni." Alan tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Tubuhnya masih terasa lelah akibat kelelahan yang terus menumpuk selama beberapa hari.
Mendapatkan bantuan komando dari Alan. Kerja sama serangan antara pasukan revolusi elit, monster panggilan Jonta dan monster golem Clara menjadi lebih tertata rapi. Alan bisa melihat bagian mana yang menjadi titik lemah monster ular. Membuat pasukan revolusi elit mengekploitasi titik lemah tersebut. Kelima monster ular pun tidak bisa berkutik terlalu banyak. Mereka pun akhirnya hanya bisa menerima luka luka dari sayatan pedang pasukan revolusi dan hantaman hantaman pukulan keras dari monster golem.
Setelah membunuh kelima monster ular tersebut, Alan segera mengajak rombongannya untuk membantu Shoote Sun dan yang lainnya yang sedang bertarung dengan Sander dan monster ular.
Alan bisa melihat jelas bagaimana pasukan revolusi yang sedang menghadapi monster ular di depan panggung eksekusi begitu kerepotan. 12 dari 30 orang telah tergeletak tak bernyawa di bawah tubuh monster ular. Api hitam yang Sander keluarkan juga tidak kalah menghiasi beberapa sudut taman tengah kota. Membakar setiap benda yang bisa terbakar.
"Jonta, Clara bantu pasukan revolusi itu!"
"Freya ikuti aku!" Alan membagi tugas kepada rombongannya, sedangkan dirinya dan Freya langsung menuju ke tempat Shoote Sun yang tengah sibuk menghindari serangan bola bola api dari Sander.
Ciu...
Jleb...
Sebuah panah angin langsung Alan lesatkan ke tangan kanan Sander. Sedangkan Freya langsung mengeluarkan sihir akarnya untuk melindungi Shoote Sun yang hampir terkena serangan bola api Sander.
Sander baru saja akan menyerang Shoote Sun yang sedang mati langkah dengan bola apinya. Namun nampaknya Sander perlu menunggu waktu yang lebih lama lagi untuk bisa menghabisi Shoote Sun.
"AS..." Puteri Leoni yang melihat sosok Alan langsung memanggil namanya. Dari sorot matanya terlihat sedikit adanya harapan baru yang timbul.
Mendengar panggilan Puteri Leoni kepada Alan, pandangan Sander langsung terarah kepada Alan dan Freya yang tengah berlari menuju tempat Shoote Sun. "Ooo... Datang tikus tikus kecil lagi..."
Sembari memulihkan lukanya Sander mengawasi sekitarnya. Sander bisa melihat jika monster ular yang dirinya panggil sedang dikeroyok oleh beberapa monster serigala dan monster golem. Pasukan revolusi pun juga tidak tinggal diam saja di tempat, mereka juga membantu menyerang monster ular yang Sander panggil. Tinggal menunggu waktu saja sampai monster ular tersebut bisa bertahan.
"Satu lawan sekian banyaknya... Sungguh tidak adil..." Merasa kalah jumlah nyatanya tidak membuat Sander panik. Sander langsung menggerakan kedua tangannya. Menuliskan huruf huruf rune yang tidak bisa dimengerti artinya di udara yang kosong.
Setelah Sander selesai menuliskan huruf huruf rune, sebuah lingkaran sihir raksasa muncul di atas tanah taman ibukota. Lingkaran sihir tersebut begitu besar, sampai menutupi seluruh area taman tengah ibukota. Sebenarnya Sander tidak ingin melakukan hal ini. Karena sihir yang dilakukan Sander ini akan sangat menguras mananya. Namun Sander juga tidak punya pilihan lain. Lagipula dirinya yakin jika langkah yang dirinya ambil ini adalah langkah yang paling tepat.
Uargh...
__ADS_1
Uargh...
Raungan demi raungan terdengar dari dalam lingkaran sihir tersebut. Membuat siapapun yang berada di taman tengah ibukota tersebut panik. Kepanikan setiap orang di taman tengah ibukota semakin menjadi setelah dari dalam lingkaran sihir raksasa tersebut keluar beberapa ekor naga hitam.
Satu...
Dua...
Tiga...
Satu persatu naga hitam keluar dari dalam lingkaran sihir yang berada di bawah kaki setiap orang. Barulah setelah kemunculan naga yang ke sepuluh, tidak ada naga hitam lagi yang keluar.
"Apa dia gila?" Jonta yang melihat kemunculan 10 ekor monster naga hitam di hadapannya menelan ludahnya sendiri. Dirinya sudah mengetahui kekuatan dari satu ekor naga hitam tersebut, Dan kini? Sepuluh ekor naga hitam? Jonta berpikir jika Sander ingin menghancurkan ibukota South Mountain secara total.
"Jonta! Clara!" Alan berteriak untuk memperingatkan Jonta dan Clara agar terus waspada akan serangan dari monster naga hitam yang baru saja muncul. Dan benar saja...
Kesepuluh naga hitam tersebut langsung menyemburkan api secara bersamaan, membuat sebuah ombak api yang langsung menyasar ke pasukan revolusi.
Boom...
Peringatan dari Alan kepada Jonta dan Clara menjadi dewa penyelamat pasukan revolusi yang menjadi sasaran semburan api kesepuluh naga hitam. Jonta dan Clara bisa dengan tepat waktu menggerakkan monster monster mereka untuk menangkis semburan api dari naga hitam. Walaupun serangan dari kesepuluh naga hitam tersebut bisa diblokir oleh Jonta dan Clara, namun efek dari serangan dadakan tersebut langsung menciutkan nyali para pasukan revolusi. Mereka tidak yakin jika mereka akan bisa selamat dari pertarungan hari ini.
"Hahaha... Lihat... Lihatlah wajah putus asa mereka." Sander tertawa puas melihat wajah pasukan revolusi yang begitu pucat setelah melihat kemunculan naga yang dirinya panggil.
"Sander! Apa kamu ingin menghancurkan ibukota seutuhnya?" Puteri Leoni tidak bisa hanya diam melihat Sander mengeluarkan sepuluh ekor naga di tengah tengah ibukota.
"Hahaha... Aku bisa membangunnya lagi setelah aku berkuasa." Senyum penuh kemenangan terpancar jelas. Jelas jelas Sander tidak keberatan dengan menghancurkan satu kota selama dirinya bisa mendapatkan satu kerajaan.
"Habisi mereka!" Sander memerintahkan naga naganya untuk menyerang pasukan revolusi dan monster monster yang ada di depannya.
"AS?" Freya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Alan. Tanpa bicara lebih banyak lagi pun Alan tahu jika Freya mencari jawaban tentang apa yang harus mereka lakukan.
"Kita fokus pada naga naga itu dulu!" Alan menarik busurnya untuk menembakkan panah anginnya, mencoba menarik perhatian satu ekor naga. Namun belum sempat Alan melepaskan panahnya, sebuah pegangan tangan yang halus mendarat di tangan kiri Alan yang memegang busur. Alan langsung menoleh kepada si pemilik tangan halus tersebut.
__ADS_1
"Serahkan padaku!" Shoote sun tersenyum hangat kepada Alan, yang hanya bisa dibalas dengan memiringkan kepala dari Alan. Karena Alan tidak tahu apa yang akan Shoote Sun lakukan.