New World

New World
Catatan Andre


__ADS_3

"Bagaimana? Apa Joker memuaskan?" Tanya Alan ketika menerima Master Chip dari Toni.


"Ah... Aku jawab memuaskan pun sama saja... Aku tidak bisa memilikinya..." Dengan berat hati Toni harus mengembalikan Joker pada pemiliknya. Keberadaan Joker benar benar bisa membantu dirinya di New World.


"Hahaha... Paling tidak kamu sudah mencoba memakainya..." Hibur Alan pada sahabatnya tersebut.


"Kalau aku ada kesempatan lagi untuk merebutnya darimu... Aku pastikan tidak akan kalah..." Canda Toni sembari memasang chip standartnya pada helm VR miliknya.


"Hahaha... Kamu bisa mencobanya kapan pun jika masih penasaran..."


"Hah... Kamu benar... Mustahil mengalahkanmu di New World." Hela nafas Toni mengakhiri perdebatan mereka tentang Joker.


Matahari pun mulai beranjak dari tempat munculnya, berpindah ke atas melintasi lintasan tidak kasat mata yang setiap hari dilaluinya. Setelah beberapa hari fokus di New World, hari ini Alan memilih untuk mengembalikan kondisi tubuhnya.


Tubuh Alan sudah tidak seperti dulu lagi. Setahun lebih terbaring di rumah sakit memaksa otot otot yang tadinya menghiasi tubuhnya menghilang begitu saja. Menyisakan tulang dan sedikit daging yang terbungkus kulit.


Kegiatan belajar mengajar di Universitas juga sedang memasuki masa libur semester dan baru akan dimulai bulan depan. Satu bulan... Dirasa bagi Alan sebagai waktu yang cukup bagi dirinya untuk memulihkan kondisi tubuhnya seperti dulu lagi. Hanya saja dirinya perlu berusaha keras untuk mengembalikan otot otot tubuh yang menjadi idaman para pria dulu.


"Alan..." Sapa hangat selalu menyambut Alan ketika dirinya menginjakkan kaki di Dojo yang ada di atas bukit tersebut. Sebuah Dojo yang mengajari Alan begitu banyak hal tentang gaya bertarung.


"Siang Pak Andre... Apa bapak sibuk?" Basa basi Alan pada instrukturnya tersebut.


"Sibuk pun aku pasti akan menyempatkan waktu untukmu... Mari masuk..." Ajak Andre pada salah satu murid kesayangannya tersebut.


Kesayangan? Ya... Kesayangan... Bukan hanya karena Alan bisa memahami gaya bertarung White Eagle Dojo dengan cepat dan mudah. Alan dan Toni adalah dua sosok yang begitu berpengaruh membangkitkan White Eagle Dojo dari keterpurukan dulu. Dan Andre tentu menaruh respect yang begitu besar pada usaha Alan dan Toni dulu.


"Saya tidak enak hati jika harus mengganggu waktu bapak..."


"Tenang... Jadwal latihan baru di mulai nanti sore... Ada perlu apa kamu datang tanpa kabar terlebih dahulu?" Andre mempersilahkan Alan duduk di teras dojonya. Suasana teduhnya pepohonan dan angin sepoi sepoi membuat suasana menjadi terasa begitu santai.

__ADS_1


"Bapak lihat kan seperti apa tubuh saya sekarang? Saya ingin mengembalikan tubuh saya seperti dulu lagi..." Ucap Alan dengan malu malu. Meratapi akan nasib tubuhnya yang kini menyisakan tulang dan kulit.


"Hahaha... Aku tahu... Kamu pasti malu kan dengan kondisimu saat ini?"


"Lagipula... Wanita mana yang mau melirik seorang pria kering kerontang seperti dirimu saat ini?"


"Pak..." Alan merasa sedikit kesal dengan ejekan Andre. Bukannya memberikan semangat pada dirinya, Andre justru malah semakin menjatuhkan mentalnya yang sedang down.


"Tenang... Tenang... Jangan emosi... Melatih tubuh perlu kesabaran... Semua tidak bisa instan. Tapi aku yakin kamu pasti bisa melakukannya..."


"Saya mohon bantuan Pak Andre..." Alan berdiri dan membungkuk memberi hormat pada Andre. Dirinya benar benar tulus meminta bantuan pada Andre untuk bisa mengembalikan kondisi tubuhnya seperti dulu.


"Baiklah... Akan aku buatkan daftar latihan dan daftar makanan yang harus kamu konsumsi setiap harinya. Kamu perlu banyak protein untuk mengembalikan otot otot tubuhmu yang hilang." Andre berdiri dan masuk ke dalam rumahnya.


"Terima kasih Pak Andre..." Hormat Alan sekali lagi pada instruktur bela diri kepercayaannya tersebut.


Tidak berselang lama Andre keluar dengan secarik kertas di tangannya. Menyerahkannya kepada Alan untuk dibaca isinya.


Apa yang tertulis di dalam catatan tersebut bukanlah suatu jadwal latihan yang teratur bagi Alan. Lebih tepatnya adalah jadwal penyiksaan yang teratur.


"Ada apa?" Andre tertawa geli sendiri, melihat perubahan mimik pada wajah Alan.


"Apa benar aku harus melakukan ini semua Pak Andre?" Alan meragukan apa yang Andre tulis di dalam catatan tersebut. Dirinya pun sempat berpikir jika Andre sedang mengerjai dirinya.


"Kamu meragukan caraku? Aku sudah berpengalaman dalam melatih orang membentuk otot mereka. Jika kamu tidak mau... Kembalikan padaku..." Andre mencoba merebut kembali catatan yang diberikannya kepada Alan.


Set...


Dengan tangan cekatan Alan langsung menghindarkan kertas catatan dari rebutan tangan Andre.

__ADS_1


"Tidak Pak Andre... Saya hanya bercanda tadi..." Alan segera meminta maaf, takut jika Andre tersinggung atas perbuatannya. Akan merepotkan bagi dirinya jika dirinya tidak mendapat bimbingan dari Andre.


"Bagus lah kalau begitu... Besok kita bisa mulai pelatihannya. Ingat! Jangan terlambat!" Andre memasang muka sangarnya, memberi peringatan kepada Alan jika dirinya tidak suka dengan hal bernama keterlambatan.


"Baik Pak Andre... Kalau begitu saya permisi dulu.." Alan memilih untuk berpamitan. Mengingat tidak ada hal lain lagi yang bisa dirinya lakukan di dojo.


Sembari berjalan menuruni tangga lurus yang curam, Alan terus memandangi catatan yang Andre berikan. Dirinya masih tidak percaya akan hal hal yang tertulis di dalam catatan tersebut.


"100 kali push up, 100 kali sit up, 100 kali squad jump, lari 10 km. Apa benar ini harus aku lakukan setiap pagi selama satu bulan ke depan?" Gumam Alan yang sedikit menyesal telah meminta bantuan kepada Andre.


Namun yang lebih membuat beban pikiran Alan adalah daftar makanan yang harus Alan konsumsi selama pelatihan. Semua makanan yang tertera di dalam catatan tersebut berisikan protein protein kualitas tinggi yang terkandung di dalam daging dan sayur sayuran.


"Hah... Sepertinya aku harus mengeluarkan biaya ekstra untuk makanan selama satu bulan ke depan..." Sudah masuk ke dalam benak Alan, berapa banyak dollar yang harus dirinya habiskan untuk membeli bahan bahan yang ada di catatan Andre. Padahal dirinya saat ini masih belum mulai mendapatkan penghasilan dari item item yang akan dirinya jual.


"Apa aku harus menghubungi Gold Banker ya?" Terlintas di dalam benak Alan untuk menggunakan jasa Gold Banker dalam menjual item item yang dirinya dapatkan selama di Dunia Abyss.


"Ahh... Sudahlah... Itu bisa aku pikirkan nanti..." Alan menyimpan catatan yang diberikan oleh Andre ke dalam saku celananya. Memfokuskan pandangannya kepada ratusan anak tangga yang berjajar dengan rapi di hadapannya.


###


"Hahaha...." Melihat sosok Alan sudah tidak terlihat karena tertelan anak tangga, Andre tertawa sepuasnya. Dirinya sudah menahan tawa sedari tadi, dan kini setelah sosok Alan sudah tidak terlihat. Dirinya bisa melepaskan semua tawa yang dirinya tahan sedari tadi.


"Ada apa Ayah?" May yang mendengar tawa Andre begitu keras langsung berlari keluar rumah. Dirinya berpikir jika Ayahnya telah terkena suatu penyakit aneh yang membuat ayahnya sedikit gila.


"Dia... Dia... Dia percaya begitu saja..." Andre memegangi perutnya yang mulai terasa sakit.


"Dia? Maksud Ayah? Alan?"


"Ya... Ya... Dia percaya dengan isi catatan mengenai daftar pelatihan itu... Hahaha..." Tubuh Andre terbaring di lantai kayu dojo, saking menikmati tawanya.

__ADS_1


"Dasar Ayah ini... Tidak berperikemanusiaan..." May meninggalkan Ayahnya yang masih terbaring di atas lantai dengan tawanya. Namun dirinya juga sedikit tersenyum, mengetahui Alan akan mendapatkan suatu hal bernama penyiksaan dari Ayahnya.


"Malang sekali nasib mu Alan..."


__ADS_2