
"Teganya kalian..." Satu kalimat keluar dari mulut Rendemiz yang memasang wajah begitu sedih. Alan dan Flyin yang melihat wajah Rendemiz pun merasa begitu bersalah telah melupakan keberadaan Rendemiz sehingga meninggalkannya sendirian.
"Sudah... Sudah... Jangan cengeng..." Alan menepuk pundak Rendemiz, mencoba menghiburnya. Bagaimanapun juga Alan dan Flyin telah keliru karena telah meninggalkan Rendemiz, Alan juga tidak mempungkiri hal tersebut. Tapi paling tidak ada sisi baiknya karena Alan dan Flyin telah meninggalkan Rendemiz. Alan bisa menjadi lebih kuat, dan Rendemiz juga bisa belajar mempertahankan diri tanpa mengandalkan bantuan orang lain.
"Aku tidak cengeng..." Rendemiz memasang wajah sebalnya. Tidak terima dikatakan cengeng oleh ras selain Demon. Mulanya Rendemiz terkejut mendapati wajah Alan yang kini sudah tidak tertutup oleh topeng smilenya. Memperlihatkan wajah elf dan kulit putih yang begitu asing ditemui di Dunia Abyss.
"Ya... Ya... Aku tahu itu..." Alan tidak memperdulikan rengekan Rendemiz yang terkesan terlalu kekanak kanakan. Ada hal yang lebih penting bagi Alan daripada hanya sekedar menanggapi rengekan Rendemiz.
"Kita harus sampai ke Mischurine dengan segera." Alan memotong perkataan yang akan keluar dari mulut Rendemiz. Tujuan utamanya sekarang adalah sampai ke Mischurine sesegera mungkin.
Tadinya Alan belum mengetahui rahasia yang tersembunyi dari terlarangnya daerah Mischurine untuk dimasuki. Namun setelah Azazel memberi tahu Alan akan pintu keluar dari dunia Abyss berada di Mischurine, Alan seakan mendapatkan semangat tambahan untuk segera mencapai daerah bernama Mischurine tersebut.
Apalagi keberadaan Zepar juga masih terdeteksi di daerah Mischurine. Alan tentu tidak akan membiarkan pintu keluar menuju dunia Abyss direbut oleh Zepar. Sudah terlalu lama dirinya berada di dunia Abyss. Membuat dirinya tidak bisa merasakan menghirup oksigen yang sesungguhnya.
"Tapi bagaimana kita kesana dengan cepat? Jarak kita dengan perbatasan Mischurine paling tidak masih dua hari perjalanan." Rengekan Rendemiz berganti dengan pertanyaan yang membanjiri pikirannya.
Sementara Flyin yang membaca isi pikiran Alan telah bersiap siap dengan apa yang akan Alan lakukan.
"Cukup diam dan ikuti saja..." Alan tidak mau repot repot menjelaskan isi rencananya kepada Rendemiz. Bagi dirinya lebih baik menunjukkan tindakan nyata daripada hanya berbasa basi dengan segala perkataan.
Alan mengaktifkan Shadow Zonenya sampai tahap menengah. Membuat Shadow Zone menyelubungi dirinya beserta Rendemiz dan Flyin. Alan menghilangkan gravitasi yang ada di dalam Shadow Zone, hingga tubuh ketiga orang tersebut melayang tidak beraturan di atas tanah.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Rendemiz panik mendapati dirinya tidak lagi berpijak di atas tanah.
"Sudah aku bilang... Cukup diam dan ikuti!" Alan membuka sayap di bajunya. Mengatur arah angin agar mendorong tubuhnya melayang ke arah yang diinginkan.
"Pegang kakiku!" Perintah Alan ketika posisi tubuhnya sudah bisa terseimbangkan.
Flyin dan Rendemiz pun menuruti perkataan Alan. Karena mereka juga tidak tahu harus berbuat apa di tengah kondisi melayang di udara.
"Bersiaplah!"
Alan mengatur Shadow Zone agar bisa memperkuat hembusan angin yang mendorong tubuhnya. Membuat Alan bisa terbang dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
"Mati aku... Mati aku..." Rendemiz berteriak sejadinya. Baru kali ini dirinya merasakan hal yang namanya terbang. Ketakutan akan jatuh dari ketinggian pun terus membayangi dirinya.
Alan yang melihat Rendemiz berpegangan sangat erat pada salah satu kakinya pun hanya bisa menahan tawa. Dirinya teringat akan Shoote Sun yang begitu takut ketika pertama kali terbang bersamanya.
"Ah... Kenapa aku jadi kepikiran dia?" Alan mencoba menghilangkan pikirannya tentang Shoote Sun. Belum saatnya dirinya memikirkan yang namanya CINTA. Baginya saat ini yang terpenting adalah bisa keluar dari dunia Abyss dan kembali melanjutkan apa yang telah dirinya mulai selama ini.
Terbang membuat kecepatan ketiga orang tersebut lebih cepat daripada hanya berjalan kaki. Nyatanya... Baru setengah hari mereka terbang, hutan hitam nan kelam sudah bisa terlihat di ujung cakrawala. Menandakan tidak lama lagi mereka bertiga akan sampai di daerah bernama Mischurine.
"Inikah Mischurine?" Alan memilih mendarat sebelum mereka sampai di perbatasan. Alan perlu memeriksa daerah sekitar Mischurine yang konon dipenuhi dengan bahaya. Tentu sangat ceroboh namanya jika memasuki daerah yang berbahaya tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Dan Alan bukan termasuk tipe orang yang seperti itu.
__ADS_1
Sekali lihat saja Alan bisa merasakan bahaya yang ada di dalam hutan Mischurine, walaupun belum memasukinya. Pepohonan yang serba berwarna hitam seakan mengatakan jika tidak ada yang boleh memasuki wilayah tersebut.
"Apa kamu yakin kita akan memasuki hutan itu?" Kaki Rendemiz bergetar dengan sendirinya. Melihat pohon pohon hitam yang membentang sepanjang cakrawala.
Alan dan Flyin hanya melirik ke arah Rendemiz. Tujuan pertama mereka bertiga kesini adalah untuk membantu Rendemiz merebut Timeless Blade. Namun kini Rendemiz malah seakan ragu untuk melakukannya.
"Terserah kamu mau ikut atau tetap tinggal disini." Setelah meminta Joker menampilkan peta daerah Mischurine, Alan mulai melangkahkan kakinya memasuki hutan yang serba berwarna hitam di hadapannya. Menuju ke tempat dimana Zepar berada. Alan tidak begitu peduli jika Rendemiz tidak ingin ikut bersamanya, karena dirinya kini memiliki tujuan lain untuk memasuki hutan Mischurine.
Joker menunjukkan jika Zepar berada di bagian paling tengah dari Mischurine. Yang Alan yakini bagian tersebutlah yang menjadi pintu keluar dari Dunia Abyss.
Baru saja Alan dan yang lainnya ingin memasuki hutan, sebuah cahaya putih terang nampak terbang ke udara. Cahaya putih terang tersebut berasal dari bagian tengah Mischurine. Meskipun jarak mereka bertiga masih terlampau jauh dari sumber cahaya. Namun mereka bertiga bisa melihat dengan jelas jika cahaya putih tersebut terbang hingga hampir menyentuh langit dan akhirnya menghilang begitu saja.
'Joker... Apa itu?' Alan takut jika cahaya putih terang tersebut adalah Zepar yang telah menggunakan pintu keluar dari Dunia Abyss. Jika itu memang benar Zepar, Alan tidak tahu apakah pintu keluar dari Dunia Abyss masih bisa dirinya gunakan atau tidak.
[Scanning objek... Identifikasi...]
[Naga Yang... Naga Yang mengaktifkan kondisi darurat, membuat dirinya bisa berpindah tempat dengan cepat.]
'Naga Yang?'
[Benar AS... Naga Yang adalah salah satu naga dari dua Naga yang menjaga pintu keluar dari Dunia Abyss.]
'Ini gawat... Joker... Identifikasi lokasi Naga Yang...'
Joker langsung menampilkan Peta Mischurine yang menunjukkan lokasi Naga Yang. Alan tidak berlama lama langsung berlari ke arah titik merah yang ditunjukkan Joker di dalam peta. Tidak memperdulikan apakah Flyin dan Rendemiz mengikutinya atau tidak. Baginya sekarang yang terpenting adalah bisa keluar dari Dunia Abyss, dan Naga Yang adalah salah satu petunjuknya.
Alan melompati satu pohon ke pohon yang lain. Membuat langkahnya jauh lebih cepat daripada harus berlari di tengah hutan. Flyin yang mengikuti Alan pun juga melakukan hal yang sama, nampak sekali jika Flyin tidak begitu kerepotan dalam mengimbangi kecepatan Alan.
Namun Rendemiz... Rendemiz harus berjuang ekstra keras untuk sekedar bisa melihat punggung Alan dan Flyin dari kejauhan. Baginya yang terpenting saat ini adalah tidak kehilangan jejak dari kedua orang yang telah memaksa dirinya memasuki Mischurine.
Setelah 3 jam menelusuri Mischurine, sampailah Alan pada daerah yang ditunjukkan oleh Joker. Tempat Naga Yang seharusnya berada. Tidak sedikit monster yang Alan dan Flyin harus temui, namun Alan lebih memilih untuk tidak meladeninya. Menggunakan Shadow Zone untuk sekedar menerbangkan monster yang menghadang menjauh dari dirinya.
"Seharusnya disini..." Alan memeriksa peta yang Joker tampilkan sekali lagi. Titik merah yang menunjukkan lokasi Naga Yang tepat berada di dekatnya. Namun Alan sama sekali tidak bisa melihat adanya Naga Yang.
Alan mencoba memeriksa panas di sekitarnya dengan bajunya, memastikan apakah Naga Yang menggunakan suatu skill untuk menghilangkan diri dari pandangan mata. Suatu panas berukuran kecil bisa Alan rasakan dari balik semak semak yang berwarna hitam. Alan memeriksa semak semak tersebut untuk melihat apakah benar Naga Yang berada di tempat tersebut.
Satu sosok Naga putih berukuran kecil sedang tidur melingkar. Di seluruh tubuhnya terdapat bekas sayatan yang tidak sedikit jumlahnya.
"Uarghh..." Raungan Naga putih kecil tersebut pun langsung keluar dari mulutnya begitu melihat sosok Alan mendekatinya.
"Tenang... Aku tidak berniat jahat..." Alan perlahan mendekati Naga Yang, memeriksa apakah luka yang dideritanya bisa disembuhkan dengan potion yang dirinya miliki.
Alan meminumkan potion penyembuh kepada Naga Yang. Walaupun sedikit melawan, kondisi tubuhnya yang kecil dan penuh luka membuat Naga Yang hanya bisa pasrah meminum potion yang Alan berikan.
__ADS_1
Empat botol potion sendiri Alan berikan kepada Naga Yang. Membuat luka luka yang diderita Naga Yang bisa sembuh hampir setengahnya.
"Siapa kamu?" Suara serak keluar dari Naga Yang. Kondisi tubuhnya yang sudah membaik membuat dirinya bisa berdiri dan bertanya kepada Alan.
"Dasar Naga tak tahu diri... Bukannya terima kasih sudah ditolong malah langsung menggertak..." Alan mencoba mengelus kepala Naga putih di hadapannya yang nampak menggemaskan sekarang. Tidak lagi menunjukkan rasa kesakitan seperti tadi ketika meringkuk.
"Aku merasakan kegelapan yang begitu pekat di dalam tubuhmu... Siapa kamu?" Suara serak kembali keluar dari Naga Yang. Menandakan tidak suka akan kedatangan Alan di hadapannya.
"Aku orang yang menolongmu... Ucapkan terima kasih paling tidak..." Alan merasa mulai sedikit jengkel melihat sikap Naga Yang.
"Aku tidak butuh bantuanmu..." Naga Yang masih tetap bersikap angkuh.
"Baiklah kalau begitu... Akan aku kembalikan luka luka yang tadi kamu alami." Alan mengeluarkan The Forgotten Dagger. Bersiap untuk memperdalam luka luka yang baru saja mulai menutup di tubuh Naga Yang.
"Tidak... Tidak... Terima kasih..." Naga Yang langsung panik. Baru saja dirinya merasakan tubuhnya sudah membaik, tapi langsung akan diberi luka lagi oleh satu sosok yang bukan seorang Demon.
"Bagus... Jadilah Naga yang baik..." Akan mengelus kepala Naga Yang, memperlakukannya seakan Naga Yang adalah seekor kucing yang lucu.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tubuhmu penuh luka?" Walaupun Alan bisa menembak jika Naga Yang telah dilukai oleh Zepar, tapi tentu Alan perlu mengetahui kejadian yang sebenarnya. Sebelum dirinya menuju ke tempat Zepar berada.
"Dua orang Demon datang dan menyerbu kami..."
"Kedua Demon tersebut berhasil memisahkan kami, sehingga..."
Naga Yang pun menjelaskan tentang pertarunga yang terjadi antara Dirinya dan Naga Yin beserta Behemout dan Zepar. Memaksa Naga Yang untuk menggunakan skill penyelamat nyawa untuk bisa kabur dari Zepar. Namun skill penyelamat nyawa tersebut memaksa dirinya untuk memiliki kondisi tubuh yang seperti sekarang. Kecil dan lucu... Tidak nampak lagi kengerian yang biasanya dirinya tunjukkan.
"Aku sudah menjawab semua pertanyaan dirimu. Sekarang giliranku bertanya. Siapa kamu? Kenapa ada ras selain Demon disini? Dan kenapa kamu memiliki kegelapan yang lebih pekat dari ras Demon sekalipun?" Naga Yang langsung membombardir pertanyaan kepada Alan. Seakan akan Naga Yang sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk bertanya.
"Hah..." Alan menghela nafas... Memikirkan pertanyaan pertanyaan yang diajukan oleh Naga Yang.
"Namaku AS. Aku berasal dari dunia tengah. Karena suatu kondisi aku tidak bisa kembali ke dunia tengah. mengenai kekuatan kegelapan yang ada di dalam tubuhku ini..." Alan menjelaskan tentang Shadow Blood dan bagaiman dirinya bisa memiliki kekuatan kegelapan yang begitu pekat di dalam tubuhnya.
Naga Yang hanya bisa menelan ludah dalam dalam. Tidak membayangkan jika sosok di hdapannya telah membunuh ribuan Demon, bahkan sosok kegelapan di dalam tubuhnya pun merupakan jiwa ribuan demon yang dikumpulkan menjadi satu.
"Dengar anak muda... Ah... AS..."
"Satu satunya jalan keluar dari Dunia Abyss ini adalah melalui pohon spiral yang tadinya aku dan saudaraku jaga. Namun aku yakin... Saudaraku kini telah dihabisi oleh kedua Demon yang menyerang kami tadi."
"Lalu?"
"Mereka tidak akan bisa membuka pintu keluar dari Dunia Abyss saat ini. Mereka harus menunggu sampai segel pengunci dimensi berada dalam titik terlemah. Barulah mereka bisa membukanya. Lagipula..." Naga Yang menjelaskan lagi jika untuk membuka pintu keluar dari Dunia Abyss diperlukan persetujuan dari dirinya dan saudaranya. Atau dengan mengorbankan jantung Naga Yin dan Naga Yang.
"Berarti aku harus membunuh dirimu kan?"
__ADS_1