
Satu tahun telah berlalu.
Hari hari Alan selama 1 tahun ini sedikit berwarna setelah adanya kelas beladiri. Begitupun juga Toni, yang tadinya berniat ikut kelas bela diri untuk titip nama saja. Sekarang malah jadi yang paling bersemangat untuk latihan.
Mungkin karena adanya May, hubungan mereka juga semakin dekat. Tapi entah mengapa mereka belum juga resmi berpacaran. Mungkin May masih berpikir ulang karena status keluarga Toni. May merasa tidak percaya diri jika suatu hari nanti, dirinya harus di pertemukan dengan keluarga toni.
Kelas beladiri dalam setahun ini juga mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Dari tadinya anggota utamanya hanya Alan dan Toni. Sekarang anggotanya sudah mencapai 300 orang lebih. Bahkan dojo sudah tidak cukup untuk menampung semua anggota. Jadi pelatihan beladiri dibuat berjadwal pagi dan sore hari.
Hal ini tentu tidak berarti bagi Alan dan Toni. Karena mereka berdua adalah ketua dan wakil ketua kelas beladiri. Mereka bisa memilih waktu berlatih sesuka mereka.
Pak Andre merasa sangat berterima kasih kepada Alan dan Toni karena telah mengembalikan ketenaran dojonya. Dojonya sekarang diberi nama White Eagle Dojo. Pak Andre berharap dengan nama ini, dojonya bisa seperti elang yang terbang mengudara dan menjadi penguasa langit.
Setiap anggota kelas beladiri dibebankan iuran 2 dollar perbulan. Satu dollar untuk menjadi bayaran Pak Andre, satu dollar lagi untuk biaya perawatan dojo. Para anggota pun merasa iuran itu tidak membebankan. Mengingat fasilitas di dojo White Eagle benar benar lengkap.
Bahkan ada murid beladiri yang tidak berasal dari Universitas Mediteran yang ikut berlatih di White Eagle dojo. Tentu saja murid yang tidak berasal dari Universitas Mediteran tidak tergabung dalam kelas beladiri. Iuran perbulan yang mesti dibayarkan pun berbeda dengan anggota kelas beladiri.
Setiap murid yang dari luar universitas dikenakan iuran perbulan 20 dollar. Sepuluh dollar untuk Pak Andre yang menjadi instruktur, sepuluh dollar sisanya untuk perawatan dojo dan fasilitas.
Pencapaian White Eagle dojo yang luar biasa seperti itu tentu saja semua itu karena jasa Toni dan alan. Mereka beberapa kali membuat rekaman video pertarungan Alan di dalam Gun in Fire dan White Eagle dojo. Hasil rekaman video yang mereka buat mereka upload ke media sosial.
Hasilnya... Dalam satu bulan penuh video mereka menjadi trending topik di semua media sosial. Bahkan Alan sampai mendapat julukan God Hunter. Karena kehebatannya dalam berburu, kejelian meracik strategi, dan kemampuan bertarung satu lawan satu atau pun bertarung dalam kelompok.
Karena video video itulah nama White Eagle dojo menjadi terkenal seperti sekarang. Banyak petarung dari dojo lain yang mencoba untuk menantang murid dari White Eagle dojo, terutama Alan. Tapi Alan selalu berhasil mengalahkan penantangnya.
Dengan bimbingan Pak Andre kemampuan bertarung Alan meningkat secara pesat. Mulai dari kemampuan bertarung tangan kosong sampai penggunaan senjata, Alan bisa dengan mudah memahami petunjuk petunjuk yang Pak Andre berikan.
Toni pun juga begitu. Hanya saja karena fokusnya selalu teralihkan oleh May. Perkembangannya tidak bisa secepat Alan. padahal Pak Andre sendiri bilang kepada Toni kalau saja Toni mau serius dalam berlatih mungkin Toni bisa saja melampaui Alan.
Toni bukannya tidak ingin fokus ke pelatihan. Tapi karena para anggota kelas beladiri maupun murid Pak Andre yang sering menggoda May. Tentu saja karena kecantikan May yang bisa membuat malaikat pun jatuh hati pada May. Dari hal itulah Toni selalu melindungi May dari semua orang yang mencoba menggodanya. Seakan melabeli May dengan cap di dahinya "Milik Toni ".
Fasilitas di dojo benar benar lengkap. Bahkan di dojo ini terdapat alat simulasi untuk bertarung. Seperti helm VR untuk gun in fire. Hanya saja alat ini dalam versi kecil. Hanya menampilkan arena sebesar dojo.
Tentu saja semua alat itu di sponsori oleh keluarga Toni. Keluarga Wellington tentu tidak ingin melihat anaknya terluka ketika berlatih. Jadi mereka menyiapkan alat simulasi untuk bertarung tanpa terluka. Tentu saja untuk rasa sakit yang diderita saat bertarung masih dirasakan pengguna. Jadi pengguna tetap harus bertarung dengan serius meski hanya dalam simulasi.
__ADS_1
Suasana sore ini di halaman White Eagle dojo begitu menenangkan hati. Sinar matahari sore yang hangat tapi tidak panas, angin bertiup dengan lembutnya. Daun daun yang gugur di halaman menambah indahnya sore ini.
Dua orang muda mudi sedang duduk di halaman dojo. mereka adalah Toni dan May. Layaknya sepasang kekasih mereka berdua bersenda gurau, tertawa bersama menghiraukan siapapun yang lewat dan melihatnya.
"Duh... Duh... Asyik sekali sepasang burung dara ini." Cibir Alan sambil mendekati Toni dan May.
"Ahh... Setan datang." ketus Toni.
"Setan? Maksudmu?"
"Kalau orang ketiga di antara sepasang kekasih apa namanya?" Tanya Toni.
"Setan" Jawab Alan polos.
"Na... Kan... Kamu sendiri yang bilang." Jawab Toni sambil mengangkat bahunya. May hanya cekikikan melihat kedua sahabat ini beradu argumen.
"Ok...Ok... Aku setannya. Kalian malaikatnya. Puas? Kalian mau latihan tidak?" Tanya Alan.
Alan pun mengangguk dan ikut duduk dengan mereka berdua. Mereka bertiga bersenda gurau bersama selayaknya sahabat tak terpisahkan.
"May... Kamu sudah menentukan akan kuliah dimana?" Tanya Alan tiba tiba.
"Hem... Mungkin di Mediteran sini saja Lan. Aku tidak bisa meninggalkan ayahku sendirian disini." Jawab May.
"Tidak bisa meninggalkan ayahmu... Atau tidak bisa meninggalkan Tuan Muda Toni?" Goda Alan.
Muka Toni dan May langsung berubah merah seketika. Mereka berdua sama sama tahu kalau masing masing dari mereka menyimpan rasa. Tapi tidak ada yang berani mengungkapkannya. Alan pun yang tahu tentang mereka berdua mencoba membantu mereka dengan pertanyaan tersebut.
"Apa apaan sih kamu Lan?" Kata Toni
"Halah... Aku heran sama kamu Ton. Jelas jelas May juga suka sama kamu. Kenapa kamu gak nembak dia ja sih buat jadi pacar kamu?" Goda Alan lagi.
__ADS_1
Tapi belum sempat Toni menjawab, handphone Toni berdering. Toni pun bisa berdalih untuk menghindari pertanyaan Alan dengan mengangkat telepon.
"Ahh... Sialan... Selamat lagi dia." Gumam Alan pelan. May yang mendengar gumaman Alan melongo. tidak may sangka alan sengaja menjahili Toni dan dirinya.
Selang 10 menitan Toni kembali ke tempat alan dan may duduk. Wajahnya tampak sumringah, seakan mendapatkan undian berhadiah mobil.
"Kenapa kamu senyum senyum?" Tanya Alan.
"Hahaha... Coba tebak..."
"Ya terserah sih kamu mau kasih tahu atau tidak. Paling paling kamu di anggap gila kalau senyum senyum tanpa alasan." Alan sambil mengangkat bahu.
Toni geram dengan Alan yang tidak pernah mau mengalah dalam beragumen. Sementara May hanya cekikikan sendiri.
"Aku dapat undangan peluncuran sebuah game baru." Jawab Toni agar tidak dikira orang gila.
"Halah cuma undangan game juga." Alan menjawab.
"Kali ini beda Lan. Game ini diproyeksikan bakal menjadi sebuah dunia baru seperti namanya."
"Emang game apa?"
"New World!"
"New World?"
Alan dan Toni menghadiri undangan peluncuran game New World. Peluncuran game dilakukan di sebuah hotel bintang 5 di kota Paris.
Alan dan Toni mesti terbang dengan pesawat untuk sampai di kota Paris. Sebenarnya Alan sempat menolak untuk datang ke Paris mengingat jarak dan biaya yang diperlukan. Tapi Toni memaksa Alan untuk menemaninya dan bersedia menanggung semua biayanya. Alan pun tidak enak hati menolak, karena Toni sudah menyiapkan semua keperluannya.
Sesampainya di hall lokasi peluncuran New World. Alan tercengang, baru kali ini dia menghadiri acara berkelas international. Tamu tamu yang hadir semuanya berpakaian dengan mewah dan rapi. Tidak seperti alan dan toni yang hanya memakai kaos, celana jeans dan sepatu olahraga. Alhasil mereka berdua pun menjadi sorotan pengunjung.
__ADS_1
"Selamat datang kepada para hadirin yang terhormat. Terima kasih banyak telah memenuhi undangan kami dalam peluncuran sebuah game yang akan membuka dunia baru untuk kita semua. Marilah kita mulai acara malam hari ini." Pembawa acara membuka acara.
Pengunjung bertepuk tangan setelah acara resmi dimulai.