
"Srup..." Secangkir kopi menjadi pembuka hari yang langsung bisa membangkitkan semangat Toni. Walaupun matanya masih mengantuk, namun kandungan caffein yang ada di dalam kopi memaksa saraf saraf otaknya untuk langsung bekerja. Melawan rasa kantuk yang menghinggapinya di pagi hari. Mungkin untuk sebagian orang hal tersebut adalah mitos, namun Toni adalah salah satu orang yang percaya akan mitos tersebut. Kopi selalu bisa dirinya andalkan untuk menghilangkan rasa kantuk di pagi hari.
[Morning my sun shine...] Ketik Toni pada salah satu aplikasi yang biasa dirinya gunakan untuk chating dengan kekasihnya, May.
[Hem...] Sebuah balasan singkat nan padat tertera di layar handphone Toni. Yang terpaksa harus membuat Toni menghela nafas. Sudah beberapa hari ini Toni merasa ada yang berbeda dengan May, terutama semenjak dirinya dan May bergabung dengan Light Guardian. Toni tidak tahu kenapa sikap May jadi berubah dingin kepadanya.
[Kamu marah?] Ketik lagi Toni yang merasa dirinya sedikit diacuhkan.
[Bodo...]
"Hah..." Toni hanya bisa menghela nafas panjang. Akan percuma bagi dirinya mencoba membujuk May untuk tidak marah hanya melalui pesan pesan singkat. Akan lebih baik jika dirinya langsung menemui May.
[Hari ini aku akan menengok Alan. Kamu mau ikut?] Toni mencoba membuat janji dengan May. Tentu itu hanya alasannya semata, dirinya hanya menginginkan waktu berdua untuk bicara empat mata dengan May. Tanpa gangguan Guardian yang selalu siaga di kediaman May, Andre ayahnya May.
[Boleh... Jam berapa?]
[Jam 12 aku jemput. how?]
[Tidak usah... Aku bisa sendiri ke rumah sakit.]
"Hah... Sepertinya susah untuk membujuknya kali ini..." Toni sudah hafal dengan sikap May. Jika May tidak ingin dirinya jemput seperti ini pasti memang ada hal yang tidak baik nanti saat mereka berdua bertemu. Entah itu hanya pertengkaran kecil atau pertengkaran besar, yang pasti Toni harus siap untuk apapun yang terjadi nantinya.
[Baiklah... Jam 12 di rumah sakit ya... See U My Sun Shine... :*]
Toni melihat jam di dinding kamarnya, dan waktu masih menunjukkan jam 8 pagi. Dirinya pun memilih untuk membuka channel informasi New World di salah satu media sosial sebelum dirinya bersiap siap.
Memang saat ini penggunaan televisi sudah sangat jarang, hampir semua berita dan informasi bisa di dapatkan dari handphone. Dan lagipula pendapatan para pengembang channel lebih besar jika mereka menyiarkannya melalui media sosial dari pada hanya melalui televisi. Bayangkan saja... Jika melalui televisi pihak pengembang hanya mendapatkan uang dari iklan yang masuk di sela sela acara, sedangkan melalui channel media sosial? Bukan hanya iklan saja yang menjadi sumber penghasilan... Setiap orang yang menonton pun memberikan pundi pundi keuntungan bagi pihak pengembang. Membuat keuntungan mereka tentu berlipat.
Sebuah postingan terbaru dari channel informasi New World tentu langsung menarik perhatian Toni. Postingan tersebut berjudul
__ADS_1
[Sepuluh pertarungan terbaik selama enam bulan New World berjalan.]
Toni tentu penasaran dengan sepuluh pertarungan terbaik yang terpilih oleh pihak Microboot yang menjadi dalang di balik channel informasi New World tersebut. Walaupun Toni tidak tahu kriteria penilaian apa yang digunakan oleh Microboot, tapi pasti sepuluh pertarungan terbaik ini bisa menjadi acuan bagi para player lain untuk bisa lebih hebat dalam bermain New World.
Nomer sepuluh dihuni oleh pertarungan antara dua guild besar di kerajaan West Dragon Empire. Pertarungan tersebut melibatkan antara guild Phoenix Crown dan Nirvana. Yang akhirnya dimenangkan oleh guild Nirvana.
Toni menganggap pertarungan tersebut wajar jika dimasukkan dalam sepuluh pertarungan terbaik, mengingat jumlah player yang ikut berpartisipasi di dalam perang tersebut lebih dari 2000 player.
Nomer sembilan dihuni oleh seorang Assassin bernama Kenzo. Kenzo seorang diri menyusup ke dalam sebuah guild dan membunuh guild master guild tersebut. Dan yang paling mengejutkan adalah, Kenzo bisa keluar dengan selamat dari markas guild tersebut tanpa bantuan orang lain.
"Gila... Ada player yang senekat itu?" Gumam Toni setelah melihat apa yang Kenzo lakukan.
Nomer delapan dihuni oleh Trio gadis cantik dari sebuah kelompok. Trio gadis cantik tersebut berhasil membantai habis seratus pemain yang ada di hadapan mereka.
Nomer tujuh ditempati oleh seorang swordman pria bernama Hidden Blade. Hidden Blade hanya membunuh sepuluh orang di dalam video tersebut. Namun yang Hidden Blade tunjukkan adalah suatu kualitas yang luar biasa. Entah skill apa yang digunakan oleh Hidden Blade, tapi Hidden Blade membunuh sepuluh player dalam hitungan 2 detik.
Nomer enam kembali ditempati oleh pertarungan guild. Namun berbeda dengan nomer sepuluh yang sama sama perang antara guild besar, kali ini pertarungan antara guild kecil bernama Rock n Play (RnP)dengan sebuah guild besar bernama Triangle Death. Dan di luar dugaan, RnP keluar sebagai pemenangnya. Dari video yang Toni lihat, keberadaan guild master mereka lah yang menjadi penentu kemenangan RnP guild.
Nomer lima kali ini bukan pertarungan antara player, melainkan seorang elementalist api bernama Hellman sedang bertarung dengan seorang Great Wizard di Kerajaan North Castle. Walaupun player tersebut akhirnya kalah dari sang Great Wizard, namun Toni bisa melihat jika Great Wizard tersebut juga sempat terpojok. Great Wizard bisa menang pun karena lingkungan yang tidak mendukung sang elementalist api.
Nomer empat adalah pertarungan duel antara seorang Knight bernama Brush dengan seorang Swordman bernama Luke. Bisa terlihat dengan jelas jika kedua player tersebut sama sama memiliki special class. Pertarungan yang mereka perlihatkan pun benar benar berkelas. Brush keluar sebagai pemenangnya setelah bertarung dengan Luke lebih dari 2 jam.
Nomer Tiga adalah perang perebutan kekuasaan yang terjadi di Kerajaan South Mountain. Toni bisa melihat seperti apa kekacauan yang terjadi pada perang saudara tersebut. Nama guild Seven Guardian pun ikut tersebut dalam video tersebut. Namun yang paling membuat Toni ingin selalu mengulang ngulang video peperangan tersebut adalah sosok Alan yang begitu perkasanya.
Toni bisa melihat bagaimana Alan membunuh para player Seven Guardian yang telah diperkuat dengan aura kegelapan. Cara Alan memberi komando kepada pasukan revolusi pun juga tidak luput dari pengawasan Toni di dalam video tersebut. Namun tentu yang membuat Toni begitu heran adalah, betapa efektifnya racun yang digunakan oleh Alan untuk membunuh para pasukan Kerajaan dan anggota Seven Guardian.
"Gila..." Satu kata dari Toni untuk mendiskripsikan video pertarungan yang lebih banyak memperlihatkan pertarungan Alan seorang diri.
Nomer dua di duduki oleh sebuah guild bernama Dargonizer yang menduduki sebuah kerajaan kecil bernama Highland Castle. Menjadikan Dragonizer satu satunya guild yang memiliki wilayah kekuasaan sendiri saat ini.
__ADS_1
Nomer satu atau yang menjadi video terbaik adalah pertarungan seorang player yang berhasil membunuh seekor monster mistic, Naga. Leon, seorang player yang selalu bermain solo. Leon berhasil membunuh seekor Naga seorang diri tanpa bantuan siapapun. Meskipun Naga tersebut bukan Naga tingkat atas, tetap saja... Membunuh seekor naga seorang diri tetap merupakan prestasi yang sangat membanggakan bagi seorang player.
"Hah... Ternyata di luar sana banyak sekali pemain pemain yang kuat..." Toni meregangkan badannya yang terasa lelah karena telah menonton video pertarungan yang kurang lebih berdurasi 2 jam. Toni mematikan layar handphonenya dan menatap ke luar jendela kamarnya. Matahari hangat sudah mulai berganti panas saat ini.
"Sayang sekali kamu tidak bisa melihat video ini bersamaku..." Gumam Toni memikirkan tentang sahabatnya. Sempat terpikir di dalam pikirannya akan sebesar apa kepala Alan setelah melihat video dirinya masuk 3 besar pertarungan terbaik sepanjang 6 bulan New World.
Toni pun memilih untuk mengabaikan pikirannya tentang Alan. Dirinya bergegas mandi dan bersiap siap, akan sangat berbahaya bagi dirinya jika sampai dirinya terlambat datang ke rumah sakit. Toni tentu tidak ingin memberi makan singa lapar di dalam kandang singa.
###
"Hay Alan... Masih belum bangun?" Tanya Toni pada sosok pria berbaju hijau khas pasien rumah sakit yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Alat bantu pernafasan, Pendeteksi denyut jantung, dan selang infus menjadi pasangan yang tidak terpisahkan dari sosok pria berbaju hijau tersebut. Dan tentu saja... Helm VR yang menjadi penyebab hilangnya kesadaran Alan masih tetap mengedip ngedipkan lampu hijau di atasnya. Menandakan sang pemakai masih terkoneksi dengan helm tersebut.
May yang berada di samping Toni hanya bisa menepuk pundak Toni. May tahu seperti apa kekhawatiran Toni pada sahabatnya satu ini.
"Maaf Lan... Karena aku kamu jadi seperti ini..." Ucap Toni lirih.
"Jangan begitu... Kita pasti bisa membantunya." May mencoba menghibur Toni yang nampak begitu sedih menatap Alan yang terbaring lemas di atas ranjang. Pipi Alan nampak mulai menyusut, tanda Alan benar benar sudah terlalu lama terbaring di ranjang tersebut. Ya... Sudah hampir sebulan Alan tergelatak bagaikan seonggok boneka tak bernyawa di atas ranjang rumah sakit. Tanda tanda akan sadarnya Alan pun sama sekali belum terlihat.
"Kamu benar... Kita pasti bisa... Dan harus segera..." Toni menatap May dengan serius. Padahal di dalam hatinya Toni sedang merasa gembira sekali. Rencana dirinya menggunakan Alan sebagai obat penenang kemarahan May berjalan sempurna.
"Terima kasih Alan... Setelah kamu bangun aku pasti akan mentraktir dirimu..." Batin Toni dalam hati sambil mengajak May untuk keluar dari ruangan Alan dirawat.
Toni sangat bersyukur memiliki sahabat yang sangat berguna seperti Alan. Bahkan saat Alan tidak sadarkan diri pun Alan masih bisa berguna bagi Toni.
***Chapter ini seharusnya tidak liris sekarang. Tapi masih beberapa chapter ke depan... Tapi karena ada pembaca yang minta cerita yang sedikit nyleneh dari alur... Maka saya putuskan untuk memposting chapter ini terlebih dahulu...
Terima kasih telah setia membaca New World. Suatu dorongan semangat tersendiri mendengar masukan masukan yang masuk dari para pembaca sekalian.
Terus jaga kesehatan dan jangan lupa membaca New World di pagi hari dengan secangkir kopi menemani.***
__ADS_1