New World

New World
Shadow Warrior dan Ken 2


__ADS_3

Semua penonton bersorak menyambut datangnya Ken ke atas arena pertarungan. Mereka semua benar benar sudah tidak sabar untuk melihat pertandingan terakhir pada acara peresmian Kerajaan Bangsa Demon.


Namun kemeriahan dan sorak sorak para penonton tiba tiba berhenti begitu saja. Aura gelap nan mencekam langsung memenuhi seisi Abyss Colloseum.


Semua penonton maupun para peserta turnamen yang berada di Abyss Colloseum langsung merasakan tekanan yang luar biasa hebat. Mereka bahkan kesulitan bernafas ketika merasakan perubahan tekanan udara di sekitar mereka.


"Ini..." Fire Blade tentu tahu aura gelap apa ini. Dirinya pernah merasakan bertarung dengan pemilik aura gelap ini.


Sementara Poska hanya terdiam. Dirinya tidak menduga sama sekali jika dari auranya saja sudah membuat dirinya kesulitan untuk bergerak dan bernafas. Apa lagi jika harus berhadapan dengan Shadow Warrior?


Poska pun semakin mengerti dan mulai mengikhlaskan jika Kuil Cahaya tidak akan mampu berkembang di Kerajaan Bangsa Demon. Light Guardian tidak memiliki cukup kekuatan untuk bisa mempertahankan Kuil Cahaya dari serangan Bangsa Demon. Satu orang bernama Shadow Warrior ini saja sudah lebih dari cukup untuk mengatasi pasukan Light Guardian yang berjumlah ribuan orang.


Begitu pula dengan XXX... Dirinya yang baru saja dibangkitkan kembali dari Crystal jiwa tertegun dengan aura gelap yang menyelimuti seluruh Abyss Colloseum. Dirinya bahkan tidak bisa membayangkan, akan seperti apa jadinya jika dirinya harus berhadapan dengan pemilik aura ini dalam sebuah pertarungan.


Bayangan hitam tiba tiba naik ke atas arena pertarungan. Merambat dengan cepat hingga berada beberapa meter di hadapan Ken. Seorang laki laki dengan jubah hitam muncul secara perlahan dari dalam bayangan tersebut. Setelah keseluruhan tubuh laki laki berjubah hitam tersebut muncul, barulah aura gelap yang menyelubungi Abyss Colloseum perlahan menghilang.


"Kita bertemu lagi Ken..." Sapa Alan yang kini sudah berhadap hadapan dengan Ken.


"Kemunculanmu memang selalu menghebohkan..." Ken hanya tersenyum kecil, meskipun dirinya juga ikut terpengaruh aura kegelapan tadi. Namun dirinya masih berusaha menepis keraguan hatinya, keraguan di dalam hati yang mengatakan dirinya tidak akan bisa menang melawan Shadow Warrior.


"Hahaha... Maaf kalau begitu... Aku sedikit terbawa suasana..." Alan hanya tersenyum kecil di balik jubahnya.


Dirinya memang sengaja melakukan hal tersebut. Alan ingin menunjukkan jika di Kerajaan Bangsa Demon ada seseorang yang memiliki kekuatan di luar bayangan orang orang. Memberi peringatan keras bagi siapapun yang mencoba mengganggu keutuhan Kerajaan Bangsa Demon.


"Meskipun aku tidak yakin bisa menang melawanmu... Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja..." Ken menggigit giginya sendiri. Mengambil kuda kuda untuk bertarung. Dirinya akan langsung siap bertarung ketika pembawa acara menyatakan pertandingan di mulai.


"Tolong berikan yang terbaik yang kamu punya..." Alan juga bersiap untuk bertarung, meskipun dirinya tidak mengambil kuda kuda seperti Ken. Namun dirinya sudah mengaktifkan Shadow Zone dalam jarak lingkup kecil di sekitar tubuhnya. Membuat dirinya bisa setiap saat melebarkan Shadow Zone jika pertarungan di mulai.


"Pertarungan antara Shadow Warrior, perwakilan dari Kerajaan Bangsa Demon. Melawan Ken... Juara turnamen Abyss Colloseum yang pertama. Di mulai..."


Dengan aba aba dari pembawa acara, Sorak sorak penonton bergemuruh mengisi seisi Abyss Colloseum. Tepuk tangan dan teriakan penyemangat menjadi pengiring gerakan antara kedua petarung yang kini mulai melancarkan serangan.


Ken langsung melesat cepat ke arah Alan. Dengan tubuh kerasnya, Ken memberikan pukulan pukulan yang dipenuhi tenaga.

__ADS_1


"Kau yakin tidak akan mengaktifkan mode bertarung terkuatmu terlebih dahulu?" Alan yang menghindari serangan serangan Ken menyempatkan diri untuk bertanya kepada Ken. Shadow Zone yang telah aktif di sekitar tubuh Alan, membuat Alan dapat dengan mudah menghindari setiap pukulan yang Ken lesatkan.


"Kenapa terburu buru? Mari kita hibur penonton terlebih dahulu... Akan sangat merugikan bagi penonton jika pertarungan ini selesai dalam satu dua serangan bukan?"


"Hahaha... Menarik memang..." Alan hanya tersenyum, melihat Ken yang tidak terburu mengeluarkan Ultimate Mode miliknya. Meskipun Ken juga tahu, serangan biasa Ken tidak akan bisa melukai Alan.


Ken terus melayangkan serangannya ke arah Alan. Dari segi penonton yang melihat pertarungan, terlihat seakan Ken mendominasi pertarungan. Dan Shadow Warrior hanya terlihat bertahan saja. Tapi dari segi para peserta yang melihat pertarungan, terlihat jelas jika Shadow Warrior masih menahan diri. Seakan akan Shadow Warrior sedang mempermainkan Ken di atas arena pertarungan.


"Apa kamu tidak berniat memberikan serangan balasan?" Ken yang sedikit kesal karena pukulannya terus dihindari mencoba memprovokasi Alan. Jika Alan memberikan serangan balasan, Alan akan bisa membuka sebuah celah yang bisa dirinya manfaatkan. Ken sangat yakin jika tubuh emasnya akan sangat bisa dirinya andalkan untuk mengahalau serangan dari Alan.


"Aku kira kamu masih ingin menghibur penonton?" Jawab Alan sembari memiringkan kepalanya ke kanan, menghindari pukulan Ken yang mengincar kepalanya. "Baiklah kalau kamu minta aku serius."


Dengan satu ayunan tangan kanan, tiba tiba muncul sebuah belati di tangan Alan. Belati tersebut langsung mengikuti alur serangan tangan Alan yang mengarah ke tubuh Ken.


Slash...


Ken yang mencoba menghalau tebasan belati Alan dengan tangan kirinya langsung mundur beberapa langkah. Dirinya begitu terkejut, mendapati sesuatu yang tidak pernah dirinya rasakan selama hampir setahun di New World.


"Bagaimana bisa?" Tidak hanya Ken sendiri yang terkejut dengan luka di tangan kiri Ken. Semua orang di Abyss Colloseum tahu seperti apa kerasnya tubuh Ken.


"Senjata apa itu?" Semua orang langsung berpikir senjata apa yang digunakan oleh Shadow Warrior. Pastinya senjata yang bisa melukai tubuh Ken pastilah senjata Epic Class ke atas. Tidak... Bahkan mungkin Legendary Class saja yang bisa melukai tubuh Ken.


"Senjata itu?" Ken langsung melirik ke arah belati yang ada di tangan Alan. Dirinya merasakan firasat buruk dari senjata yang dipakai Alan.


"Ada apa? Apa kamu berpikir semua ini berhubungan dengan belatiku?" Alan seakan mengerti apa yang Ken pikirkan. Selama ini tidak ada yang bisa menembus pertahanan Ken, dan kini sebuah belati yang terlihat biasa saja dapat memberikan luka pada Ken.


Padahal Alan hanya menggunakan Black Poiton Dagger saat ini. Senjata Gold Class yang menemani dirinya hampir dua tahun bermain di New World. Jika saja Alan menggunakan The Forgotten Dagger, mungkin tangan Ken sudah tertebas seutuhnya saat ini.


"Percayalah... Ini tidak ada hubungannya dengan senjataku..." Alan kali ini berganti menyerang Ken. Dirinya ingin membuktikan kepada Ken jika bukan karena senjatanya Alan bisa melukai Ken. Melainkan karena kontrol Alan kepada Shadow Zone yang sudah hampir maksimal. Membuat Alan bisa merubah tubuh keras Ken menjadi selembut tahu yang baru matang.


Ken yang sudah merasakan luka di tubuhnya tidak ingin gegabah untuk menangkis tebasan belati Alan. Dirinya terus menghindari serangan yang Alan tujukan kepada dirinya.


Thang...

__ADS_1


Thang...


Seberapa cepat Ken bisa menghindar, tetap tidak akan berkutik ketika Alan menggunakan Shadow Zone. Alan bisa memperlambat reaksi Ken yang alan menghindari tebasannya. Namun Alan sengaja tidak memperlunak tubuh Ken. Dirinya ingin membuktikan kepada Ken, jika senjatanya hanyalah senjata biasa. Bukan senjata Legendary Class seperti yang Ken pikirkan.


"Bagaimana bisa? Apa tadi hanya kebetulan belaka?" Ken tentu terkejut, mendapati belati Alan kini terpental ketika berbenturan dengan kulitnya.


Penonton pun juga terkejut, mereka sudah berpikir nyawa Ken akan melayang. Pasalnya belati Alan tepat mengenai leher Ken. Namun itu hanya pikiran mereka. Mereka tetap saja masih dibuat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi di atas arena pertarungan.


"Sudah aku bilang... Ini tidak ada hubungannya dengan senjata yang aku pakai... Aku sarankan kamu serius sekarang jika tidak ingin pertarungan ini menjadi membosankan..."


"Kamu benar benar mempermainkanku..." Amarah Ken melonjak seketika. Seumur umur dirinya bermain New World, baru kali ini ada seorang player yang mempermainkan dirinya selayaknya kucing peliharaan. Padahal jika dilihat, Alan bisa membunuhnya tadi dengan mudah. Tapi Alan justru melakukan hal sebaliknya, membuat harga diri Ken sebagai seorang petarung benar benar terinjak.


"Jangan menyesal telah mempermainkan diriku..." Ken mengeluarkan aura keemasan yang begitu kuat. Dengan membakar hampir separuh mana miliknya, Ken mengaktifkan Ultimate Mode miliknya.


"Ultimate Mode!"


"Battle of Budha!"


Tubuh Ken langsung melayang dengan sendirinya. Kini dirinya duduk bersila dengan kedua telapak tangan yang menyatu di depan dadanya. Ken bagaikan seorang Budha yang agung, yang tengah bermeditasi dengan tenang. Aura keemasan memancar dari sekujur tubuhnya.


Semua penonton dan peserta pun terkejut, melihat Ken kembali mengaktifkan Battle of Budha. Seharusnya skill terkuat milik Ken tersebut masih dalam waktu cooldown, dan Ken tidak akan bisa menggunakannya. Mereka pun bertanya tanya, sekuat apa Ken itu sebenarnya. Atau mungkinkah ada faktor lain yang membuat Ken bisa menggunakan Ultimate Mode miliknya dua kali berturut turut dalam satu hari.


"Ini baru menarik..." XXX ingin melihat, bagaimana Shadow Warrior menghadapi Ultimate Mode milik Ken. Dirinya sudah merasakan sendiri seperti apa kuatnya Ken ketika dalam Ultimate Mode.


"Begitu lebih baik..." Alan tersenyum puas melihat Ken mengaktifkan Battle of Budha. Dengan begini... Akan semakin mudah bagi dirinya untuk mewujudkan rencananya.


Alan berencana membangun persepsi kepada semua orang di New World. Jika Di Kerajaan Bangsa Demon ada seorang NPC yang mustahil untuk dikalahkan. Mencegah agar tidak ada Kerajaan lain atau Guild yang mencoba memanfaatkan situasi perpindahan tangan kekuasaan dan mencoba mengambil alih Kerajaan Bangsa Demon.


Alan tidak tinggal diam. Dirinya sudah melihat seperti apa berbahayanya Ken ketika dalam Ultimate Mode. Telapak tangan Ken bisa menjadi sebuah magnet yang begitu kuat. Mampu menarik apapun atau menghempaskan apapun yang Ken kehendaki. Tentu saja ditambah dengan kekuatan yang Ken miliki. Membuat tarikan atau hempasan dari telapak tangan Ken menjadi sangat berbahaya untuk dihadapi.


"Shadow Zone, Full Option!"


Aura hitam nan pekat keluar dari tubuh Alan. Menyelubungi seluruh arena pertarungan dimana Alan dan Ken berdiri. Seluruh arena pertarungan langsung terlihat gelap, penonton dan peserta hanya bisa melihat tubuh Ken yang memancarkan cahaya keemasan.

__ADS_1


"Hand of Budha!"


__ADS_2