
Munculnya Alan yang secara tiba tiba di atas punggung Naga Yang membuat terkejut Rendemiz dan Flyin. Bahkan Rendemiz langsung melompat dan hampir terjatuh dari ketinggian. Untung saja Alan bereaksi cepat dengan mengerahkan Shadow Zone. Membuat tubuh Rendemiz bisa kembali ke atas punggung Naga Yang.
"Tidak bisa kah kalian duduk dan diam di atas punggungku?" Naga Yang sekali lagi mengumpat atas perilaku para penunggangnya. Dirinya sudah berbaik hati membiarkan ketiga orang tersebut naik ke atas punggungnya, namun malah berbuat sesukanya.
"Maafkan kami? Tidak akan terulang lagi... Aku janji." Alan menenangkan Naga Yang.
"Hah... Dasar..." Keluh Naga Yang, dirinya tidak akan mau repot repot menangkap siapapun yang terlempar dari atas punggungnya.
"Bagaimana Tuan?" Flyin tahu kepergian Alan yang secara tiba tiba adalah untuk menemui Asmodias yang Alan tahan di dalam Dunia lain.
"Dia pun tidak bisa membantu... Sepertinya kita harus bertarung dengan Marry." Jawab Alan dengan wajah yang pasrah.
"Sudah kuduga..." Flyin memegang dagunya, memikirkan akan seperti apa nantinya ketika bertarung dengan Marry dan pasukannya.
Sedangkan Rendemiz hanya terdiam bagaikan orang bodoh. Dirinya masih belum tahu kemana Alan barusan pergi, dan dengan siapa Alan bertemu tadi. Kalau saja dirinya tahu Alan menahan ayahnya di dalam belati Alan, dirinya pasti sudah melarikan diri jauh jauh dari Alan. Takut jika ayahnya tiba tiba keluar dan menghukum dirinya.
"Apa rencana Anda Tuan?" Lanjut Flyin, Flyin begitu hafal dengan Alan yang tidak pernah gegabah dalam mengambil setiap langkah.
"Aku perlu membagi tugas ketika nanti kita sampai di Morelia. Flyin dan Naga Yang akan mengalihkan perhatian pasukan Marry. Buat kekacauan sebesar mungkin untuk menarik semua Demon yang ada di Kota Morelia. Sementara aku dan Rendemiz menyusup secara diam diam."
"Apa Anda yakin Tuan?" Flyin merasa rencana Alan begitu berbahaya, dirinya bisa saja kabur dengan cepat bersama Naga Yang jika kondisi benar benar diluar kendali. Tapi bagaimana dengan Alan dan Rendemiz, mereka tentu akan kesulitan untuk keluar dari Kota Morelia.
"Tentu... Serahkan Marry kepadaku."
"Hah... Baiklah Tuan..." Flyin tahu dirinya tidak akan bisa merubah keputusan yang sudah dibuat oleh Alan. Dirinya hanya bisa menuruti semua rencana yang Alan buat.
###
Alan dan Rendemiz turun sebelum Naga Yang memasuki Kota Morelia, Alan dan Rendemiz akan memasuki Kota Morelia dengan berjalan kaki, sementara Flyin dan Naga Yang akan berusaha sebisa mungkin mengecoh semua Demon yang ada di Kota Morelia.
"Bagaimana selanjutnya?" Rendemiz tidak tahu harus berbuat apa, seumur umur baru kali ini dirinya berusaha menyerang sebuah Kota yang dikuasai oleh Jenderal Besar para Demon.
"Kita ambil dulu Timeless Blade yang kamu inginkan dari tangan Zepar, baru kita urus segelnya."
__ADS_1
"Kalau begitu kita harus cepat..." Mendengar Timeless Blade akan direbut terlebih dahulu membuat Rendemiz begitu bersemangat. Dirinya segera berlari menuju bagian dalam Kota Morelia.
"Dasar... Padahal aku belum menjelaskan apa yang harus dia lakukan." Alan tidak bisa mencegah Rendemiz yang terlanjur berlari, dirinya pun mengikuti Rendemiz untuk memasuki Kota Morelia.
Flyin dan Naga Yang menjalankan tugasnya dengan sangat hebat, mereka berdua tidak lagi membuat kekacauan di Kota Morelia, lebih tepatnya mereka berdua merusak Kota Morelia. Semburan api Naga Yang tidak henti hentinya membakar setiap bangunan yang dilewati dikala Naga Yang terbang. Membuat Api putih bertebaran di seluruh penjuru Kota Morelia.
"Ini kesempatan kita... Ayo cepat..." Alan yang tengah bersembunyi di salah satu gang kecil mengajak Rendemiz untuk berlari sekencang kencangnya. Mencoba mendekati Istana Marry secepat cepatnya ketika perhatian para Demon yang ada di Kota Morelia sedang teralihkan oleh kedatangan Naga putih yang membakar habis sebagian Kota.
Perjalan Alan menuju Istana Marry bukan tanpa halangan. Beberapa Demon tetap melihat Alan yang tengah berlari terburu buru, melihat wajah dan postur tubuh Alan yang bukan seorang Demon, tentu membuat Demon yang melihat Alan berusaha menyerang Alan.
Jleb...
Jleb...
Alan menghabisi setiap Demon yang menyadari akan identitas dirinya dengan mudahnya. Dengan bantuan Shadow Zone yang mengurangi gravitasi di sekitar Alan, Alan bisa mempercepat langkahnya hingga dua kali lipat dari biasanya. Membuat dirinya bisa menghabisi setiap Demon yang menyadari keberadaannya sebelum para Demon tersebut bertindak.
"Apa ini?" Langkah Alan dan Rendemiz terhenti di salah satu gang kecil, di ujung gang tersebut dirinya bisa melihat Istana Marry yang dibangun begitu tinggi. Lebih tinggi daripada bangunan manapun yang ada di Kota Morelia.
Namun yang membuat Alan terkejut adalah... Para Demon yang seakan berjaga mengelilingi Istana tersebut. Jumlah mereka lebih dari 300an Demon... Dan mereka semua memandang ke arah Istana Marry, seakan sedang menunggu kemunculan Marry dari balkoni yang terletak di bagian atas Istana.
"Apa yang harus kita lakukan?" Rendemiz sama paniknya dengan Alan. Dirinya juga tidak menduga jumlah Demon yang menjaga Istana Marry begitu banyak.
"Tidak ada cara lain... Kita harus menerobos mereka untuk bisa masuk..."
"Apa kamu gila?" Rendemiz tidak menyangka, perkataan seperti itu akan keluar dari Alan. Tadinya dirinya berpikir Alan memiliki rencana yang sangat jitu.
"Gila... Itu mungkin sebagian sifat dasarku... Ingat! Tetap sembunyi! Dan cari celah untuk merebut segel itu." Alan berlari keluar gang kecil, mendekati ratusan demon yang mengelilingi Istana Marry.
###
"Ratu..." Varta memberi laporan kepada Marry yang tengah duduk di singgasananya.
"Ada apa Varta?" Marry tidak beranjak dari tempat duduknya, segelas darah merah masih menemani dirinya beserta Selene yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Ya... Selene seakan telah menjadi pengawal pribadi Marry. Kemanapun Marry pergi, Selene akan selalu berada di sampingnya. Bahkan ketika Marry mandi sekalipun. Marry tidak menduga, jika Absolute Love yang dirinya tanamkan di dalam tubuh Selene akan sebegitu kuatnya. Sampai sampai Selene hampir berubah menjadi budak setianya. Namun tentu saja... Apa yang didapat Marry bukan tanpa bayaran. Marry harus tetap memberikan Selene beberapa sentuhan, yang tentunya membuat Absolute Lovenya semakin kuat tertanam di dalam tubuh Selene.
"Naga putih datang menyerang Kota kita Ratu..." Varta mencoba berbicara sesopan mungkin, takut jika Marry langsung akan marah mendengar seekor naga putih telah membakar sebagian Kota kekuasaannya.
"Sudah kuduga dia akan datang... Selene bisa kamu atasi Naga itu untukku? Aku tidak mau kotaku hancur... Itu akan membuatku begitu sedih melihat Kota yang aku bangun hancur..." Marry memasang wajah penuh memelas sambil memegang tangan kanan Selene. Mencoba merayu Selene untuk mengatasi Naga Putih yang datang.
"Tentu saja belahan jiwaku... Apapun ku lakukan agar kamu senang..." Setelah membelai wajah Marry sesaat, Selene segera bergegas meninggalkan ruangan tempat Marry berada.
"Sepertinya Anda benar benar telah merubahnya Ratu." Varta melihat kepergian Selene dengan sedikit terheran. Bahkan Behemout yang seorang pria pun tidak sepenurut Selene. Menandakan Marry benar benar telah berhasil merubah Selene menjadi budak cintanya.
"Haha..." Marry hanya tertawa mendengar perkataan Varta. Memang apa yang dikatakan oleh Varta benar semua. Selene telah benar benar jatuh di dalam perangkap cinta Marry.
Langkah kaki Selene berhenti di halaman depan Istana Marry. Dari halaman Istana tersebut dirinya bisa melihat kepulan asap yang membumbung tinggi dari bagian Kota yang diserang Naga putih.
Pandangan Selene pun beralih kepada satu sosok Naga hitam yang masih berbaring di halaman Istana Marry. Dengan setia Naga Hitam tersebut menunggu sosok Tuannya yang kini telah pergi entah kemana untuk membunuh dirinya sendiri. Tidak ada satupun Demon pelayan Marry yang ada di Istananya berani mendekati sosok Naga Hitam tersebut. Mereka tidak cukup bodoh untuk mendekat dan menjadi mangsa Naga Hitam.
Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Selene, Selene mendekati sosok Naga Hitam yang nampak masih terbaring, tidak memperdulikan suara suara kekacauan yang ada di sekitarnya.
"Bangun Naga pemalas!" Selene mengayunkan cambuk yang selama ini menjadi senjata andalannya.
"Uargh..." Satu hentakan cambuk Selene sudah cukup membuat Naga Hitam untuk meraung. Tidak suka akan perlakuan yang Selene berikan kepadanya.
"Aku... Selene... Mulai sekarang aku adalah Tuanmu yang sesungguhnya. Tidak ada satu katapun yang akan kamu bantah." Selene menatap mata Naga Yin sembari mengaktifkan The Commandnya. Mencoba membuat Naga Yin menjadi budak setianya.
"Uargh..." Naga Yin meronta sekali lagi. Seakan tidak menerima masuknya kekuatan The Command di dalam pikirannya.
"Dengan titahku... Aku akan menjadikanmu pengikut setiaku.!" Sekali lagi Selene memasukkan kekuatan The Command ke dalam pikiran Naga Yin. Membuat Naga Yin terpaksa harus menerima The Command menguasai pikirannya.
"Bagus... Jadilah Naga yang berbakti..." Selene mengelus kepala Naga Yin. Naga Yin pun membalas belaian tangan dari Selene, bagaikan seekor kucing yang senang menerima belaian dari majikannya.
"Ayo... Kita lihat seperti apa kemampuanmu!" Selene menaiki punggung Naga Yin.
"Uargh..."
__ADS_1
Naga Yin mulai mengepakkan sayapnya, dan dengan dua kali hentakan sayap. Naga Yin terbang meninggalkan Istana Marry, menuju ke bagian Kota yang tengah diserang oleh Naga putih.