New World

New World
kelas beladiri


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu sejak pertama kali Alan masuk kuliah. Kehidupannya di kampus bisa dikatakan sangat monoton. Kuliah di pagi hari sampai siang, jalan jalan atau bermain game VR dengan Toni di sore sampai malam.


Alan dengan mata yang sangat berat mendengarkan penjelasan dari dosen. Dia merasa bosan di semester awal ini.


"Ilmu pertanian dasar."


Semester awal mengajarkan semua tentang pertanian secara dasar. Alan merasa semua yang diajarkan sudah dia ketahui semuanya. Bahkan mungkin lebih baik, karena Alan tahu ilmu pertanian dasar dari praktek langsung, bukan dari sekedar membaca buku.


Seperti pepatah bilang "Pengalaman adalah guru yang paling bagus."


Alan berjalan di koridor, dia hendak melihat ke mading universitas. Melihat apakah ada pengumuman penting untuk dirinya.


"S**etiap mahasiswa wajib untuk ikut kelas kurikuler minimal satu kelas. Kelas kurikuler akan di gunakan sebagai salah satu pertimbangan kelulusan per semester**."


Pengumuman besar di mading membuat mata Alan terbelalak. "Wajib ya? Hem..."


Alan melihat lagi daftar daftar kelas kurikuler yang tersedia. Ada lebih dari 30 kelas, mulai dari kelas berbau olahraga, seni, sampai perkumpulan hobi menyusun batu yang terkesan aneh buat Alan.


"Hem... Kenapa tidak ada kelas beladiri ya?" Gumam Alan pelan.


"Kalau kelas beladiri dulu pernah ada. Tapi 2 tahun yang lalu di tutup karena berkurangnya minat dari mahasiswa." Kata salah seorang wanita di belakang Alan.


"Ahh... Maaf kak..." Alan menoleh ke arah suara wanita itu, takut jika dirinya menghalangi pandangan wanita tersebut. Terlihat seorang gadis berumur 20an tahun. wajahnya tampak seperti Alan pernah melihatnya.


"Maaf kak? Apakah kita pernah bertemu?" Tanya Alan dengan sopan.


"Hem... Sepertinya belum. Namaku Rosalina, Panggil saja aku Ros."


"Nama saya Alan Scraft, panggil saja dengan Alan. saya angkatan baru tahun ini." Jawab Alan dengan sopan


"Hahaha.... Tidak perlu terlalu formal. kita hampir seumuran. Apakah kamu mau membentuk kelas beladiri?"


Alan menganguk dengan perkataan Ros. "Apakah kakak tahu caranya?"


"Kamu mesti mengurus ke bagian kemahasiswaan, dan lagi... Setiap kelas harus memiliki minimal satu anggota."


Alan mengangguk atas penjelasan Ros. "Terima kasih banyak kak Ros. Kalau begitu aku langsung ke bagian kemahasiswaan."


Ros melongo melihat Alan yang langsung pergi meninggalkan dirinya seorang diri. "Aku pernah bertemu dimana ya dengan anak ini? semacam wajahnya pernah ku lihat." Gumam Ros.


###

__ADS_1


Alan membuka pintu kamarnya. Terlihat toni sedang tiduran di kasur dengan helm VR terpasang di kepalanya. Tanda dia sedang memainkan game VR.


Tiga bulan ini toni jarang sekali kuliah. Kehidupan sehari harinya hanya bermain game, jalan jalan, mencari cewek. Mungkin ini yang dia namakan kebebasan. Badan toni yang dulunya kekar, sekarang terlihat mengendur. Bahkan perutnya sudah mulai buncit.


"Ahh.... Sialan.... Kalah lagi." Keluh Toni sambil melepas helm VR nya.


Toni memainkan game yang sedang naik daun. Gun in Fire, itu lah nama gamenya. Sekelompok orang diterjunkan dalam satu wilayah. Mereka akan saling bunuh membunuh untuk merebut bendera musuh.


Alan sangat handal dalam game ini. Bahkan Toni mengira Alan adalah pemain gamer profesional. Toni saja yang tidak tahu kalau Alan ahli berburu. Dibandingkan dengan berburu di dunia nyata, berburu player di game bagaikan permainan anak anak buat alan.


"Ton... Aku mau bikin kelas beladiri kamu ikut jadi anggotanya ya?" Tawar Alan.


"Jelas beladiri? Males ah..." Toni sekenanya.


"Ya elah... Aku baca di mading setiap mahasiswa wajib ikut kelas kurikuler ton. kamu kalau gak mau ikut kelas beladiri mau ikut kelas apa? Kelas kecantikan?" Ketus Alan.


"Kelas kecantikan kan banyak ceweknya Lan. boleh juga saran kamu." Toni tersenyum nakal


Alan melongo dengan perkataan Toni. Alan merasa Toni ini akan berpindah ke alam pecinta sejenis.


"Ahhh... Terserah kamu lah. Tapi dari pada ikut kelas orang lain aku lebih suka bikin kelas sendiri. Kelas orang lain, aku harus mengikuti peraturan yang sudah ada. Kalau kelas sendiri kan aku yang bikin peraturan." Alan berkata sambil mengangkat bahunya.


"Ehh... Benar juga kamu Lan. Kenapa aku tidak kepikiran ya. Jadinya kan kita bisa tetap santai ya." Toni seakan mendapatkan pencerahan dari dewa setelah mendengar perkataan Alan. Toni berniat untuk ikut kelas kurikuler tanpa sakalipun hadir. Dengan kata lain, titip nama di dalam kelas.


Toni benar benar malu dengan perutnya sekarang. Dulu perutnya selalu dia bangga banggakan karena bentuk sempurnanya. Sekarang malah jadi aib baginya.


"Isi dulu ini formulirnya. Setelah itu ikut aku keluar." Alan menyodorkan selembar kertas formulir pendaftaran.


"Kemana?"


"Sudah... Tidak usah banyak tanya. Nanti kamu juga tahu."


####


Hah... Hah... Hah...


Nafas toni seperti mau habis setelah menaiki tangga menuju ke dojo di puncak bukit.


"Kenapa sih ini dojo tidak di pasangi eskalator?"


Alan melongo dengan perkataan toni. Eskalator? Ke atas bukit? Kalau bukan ratu yang akan datang ke dojo ini tentu hal itu tidak akan pernah terjadi.

__ADS_1


Alan pun tidak menduga stamina Toni hanya segitu. Dibandingkan dengan Alan waktu pertama kali datang kesini, apa yang Toni alami barusan benar benar masih di bilang hal sepele.


"Permisi." Alan mengetuk pintu.


Setelah dua kali mengetuk, pintu terbuka. Dan yang membuka pintu adalah bidadari berambut merah. Berpakaian baju latihan putih yang sewarna dengan warna kulitnya. Keringat sedikit membasahi dahi dan lehernya. Membuat kecantikan gadis itu berlipat lipat. Gadis itu adalah May. Anak pemilik dojo yang Alan dan Toni datangi.


"Alan... Ayo sini masuk." Ajak May.


Alan sedikit terkesima dengan may daripada pertama kali bertemu, berbeda dengan Toni. Nyawanya seakan sedang terbang tinggi ke langit. Tatapan matanya menunjukkan dia sedang lumer dengan pesona kecantikan amay.


"Terima kasih May. Apakah ayahmu ada? Aku sedikit ada perlu dengannya." Alan dan Toni duduk di ruang tamu setelah dipersilahkan duduk oleh May. Toni masih lumer dengan lamunannya. Hal itu membuat alan sedikit sungkan kepada May. Untungnya May tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.


"Ah.... sebentar aku panggilkan. Mau minum apa? Aku ambilkan sekalian."


"Secangkir kasih sayang untuk kita berdua." Celetuk Toni yang masih lumer tatapannya.


Cethak...


Alan langsung menjitak kepala Toni. Dia benar benar malu akan tingkah Toni kali ini.


"Ahh... maaf Nay. Apa saja boleh." Alan langsung menyahut.


Tini hanya memegangi kepalanya yang habis dijitak Alan. Sedangkan May hanya tersenyum melihat kebodohan kedua orang ini.


Selang beberapa saat Andre pun datang menemui Alan dan Toni.


"Alan... Bagaimana kabarmu? Kenapa baru sekarang kamu datang?" Sapa Andre dengan senyum merekahnya.


"Ah... Pak Pndre. Saya baik baik saja. Maaf karena sibuknya kuliah saya baru sempat menengok Pak Andre. Pak Andre bagaimana kabarnya?" Balas Alan.


"Hahahaha.... Luar biasa... Keadaanku selalu luar biasa setiap harinya." Jawab andre dengan tawa dibuat buat. Andre pun ikut duduk di ruang tamu.


"Jadi... Ada perlu apa kalian datang kesini? Instingku bilang kalian datang kesini bukan hanya untuk berkunjung." Tatapan Andre langsung berubah tajam.


"Ingin melamar putri bapak." Celetuk Toni lagi.


Cethak....


Jitakan kepala sekali lagi mendarat di kepala Toni.


"Maaf Pak anllAbdre atas kelakuan teman saya? Saya ingin menawari Pak Andre untuk jadi instruktur di kelas kurikuler kami." Sahut Alan dengan cepat takut Toni salah bicara lagi.

__ADS_1


Instruktur?


__ADS_2