New World

New World
The Eye keluar


__ADS_3

Kabar mengenai akan di adakan mini turnamen di Abyss Colloseum pun langsung menyebar ke seluruh penjuru benua Midland. Tidak sedikit player solo maupun grup player kecil yang langsung mengalihkan tujuan utama mereka dan segera berangkat ke Kerajaan Demon God.


Meskipun tidak disebutkan apa yang menjadi hadiah utama sebagai pemenang turnamen. Namun tentu saja hal itu tidak mengurangi minat para player, item Epic Class saja dibagikan setiap minggu di Colloseum kepada para petarung yang berhasil menang 7 hari berturut turut. Apa lagi hadiah untuk pemenang turnamen?


Tentu pihak Abyss Colloseum tidak akan memberikan hadiah yang sembarangan. Mengingat hari final turnamen di selenggarakan pada hari pengangkatan Raja Kerajaan Bangsa Demon. Kerajaan yang akan mengambil alih Kerajaan Demon God.


Turnamen yang akan diadakan Abyss Colloseum tidak hanya menarik minat para player solo. Pihak Guild guild raksasa maupun kecil juga tidak ingin ketinggalan untuk bisa unjuk gigi.


Turnamen adalah suatu kesempatan emas untuk bisa menyebarkan nama guild mereka. Menunjukkan kepada seluruh player di New World jika Guild mereka di isi oleh player player yang kuat. Sehingga menarik perhatian para player lain untuk ikut bergabung dengan Guild mereka.


Tidak hanya itu... Perusahaan perusahaan besar di dunia nyata juga menaruh perhatian pada turnamen apapun yang diselenggarakan. Turnamen merupakan tempat berkumpulnya para player player terkuat. Di dalam turnamen tersebut, perusahaan perusahaan besar bisa memantau kondisi dan mencoba mencari suatu guild yang tepat untuk bisa mereka taruh investasi ke dalamnya.


Karena hal itulah... Para Guild guild besar menjadikan turnamen di Abyss Colloseum sebagai perhatian utama mereka. Kesempatan mendapatkan investasi dari perusahaan perusahaan besar kini terpampang di depan mata. Mereka tentu tidak akan melewatkan kesempatan emas tersebut.


"Lihat... Bukankah itu salah satu Wakil Guild Master dari Polar Guild." Bisik salah satu player yang berada di dalam kelompok player. Sama dengan player player lainnya, mereka serombongan baru saja tiba di gerbang teleportasi Ibukota Kerajaan Demon God.


"Benar... Gila... Item itemnya coi... Aku yakin itu Epic Class semua dari ujung kaki sampai ujung kepala..." Jawab teman player yang tadi bergumam.


"Wajarlah... Dia Wakil Guild Master dari Guild raksasa. Kalau aku menempati posisi itu juga pasti akan punya item item seperti itu..."


"Eh... Eh... Lihat... Itu... Player itu... Sepertinya wajahnya tidak asing..."


"Wei... Itu Burning Moon... Salah satu sepuluh besar pemain terkuat di New World. Dia juga mau ikut turnamen ini?"


"Gila... Men... Cantik bener... Jadi ngiler aku..."


"Hati hati kalau bicara... Kalau dia dengar apa yang kamu katakan... Bisa bisa kamu diburu sama dia sampai levelmu jatuh ke 0 lagi..."


"Ampun dah... Sadis amat jadi cewek..."


Suasana di Gerbang teleportasi Ibukota Kerajaan Demon God benar benar hidup saat ini. Lirikan lirikan tajam antar sesama player yang baru saja tiba saling mengisi setiap sudut wilayah gerbang teleportasi.


Jika saja bukan karena ada ratusan Bangsa Demon yang menjaga tempat tersebut, mungkin sudah ada pertarungan awal sebelum turnamen sebenarnya dimulai.


Alan sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi setelah pengumuman itu di sebar. Dirinya langsung bergerak cepat untuk meningkatkan keamanan Ibukota Kerajaan Demon God. Meskipun belum sepenuhnya rapi dan tertata, tapi paling tidak... Keberadaan Bangsa Demon penjaga di setiap sudut Ibukota akan membuat semua player berpikir ulang untuk membuat kekacauan di Ibukota Kerajaan Demon God.

__ADS_1


"Kerajaan Bangsa Demon ya? Sepertinya Kerajaan ini akan menjadi Kerajaan yang menarik nantinya." Gumam seorang player pria bernama Dealova yang baru saja tiba di gerbang teleportasi Ibukota Kerajaan Demon God. Dirinya dan beberapa pengawal pribadinya sedikit terkejut, melihat ada ratusan Bangsa Demon yang menjaga setiap sudut wilayah gerbang teleportasi.


"Wakil Guild Master... Saya harap Anda tidak membuat onar di tempat ini..." Salah satu pengawal pribadinya memperingatkan Dealova untuk tidak berbuat macam macam, dan fokus pada tujuan utamanya.


"Ahh... Tenang saja Golden Boy... Lova tahu prioritas saat ini... Jika Lova sudah mendapat tugas dari Guild Master, maka Lova tidak akan melakukan hal yang tidak perlu dan fokus pada tugas Lova... Tapi sebelum itu..." Jawab Dealova dengan lemah gemulainya, sambil tangannya memberikan satu colekan pada dagu Golden Boy.


"Wakil Guild Master..." Golden Boy tentu merasa risih dengan apa yang dilakukan oleh Dealova kepada dirinya. Meskipun dirinya adalah pengawal pribadi Dealova, bukan berarti Dealova bisa bertindak seenaknya.


"Ah... Golden Boy... Tidak usah marah... Lova hanya minta secuil..." Goda Dealova sekali lagi, dirinya merasa geli sendiri melihat Golden Boy yang justru terlihat semakin menggemaskan ketika sedang kesal.


Merasa kesal dengan Wakil Guild Masternya, Golden Boy langsung melangkah pergi. Semakin lama dirinya diam di tempat tersebut, maka semakin besar pula siksaan yang harus dirinya rasakan.


"Kenapa aku harus mendapat tugas seperti ini..." Keluh Golden Boy yang merasa telah mendapat cobaan hidup yang begitu berat sebagai pengawal Dealova. Padahal Dealova bisa saja pergi sendiri tanpa pengawalan, Dealova yang seorang Wakil Guild Master dari Four Season Guild tentu memiliki kekuatan di atas dirinya.


Namun karena sikap Dealova yang sering menimbulkan masalah tidak penting, membuat Guild Master Four Season Guild memberikan pengawalan pada Dealova. Mencegah Dealova membuat masalah yang tidak diperlukan dari kepribadiannya yang terkesan menyimpang.


Menyimpang dalam tanda kutip, suka merayu pria pria yang terlihat gagah dan perkasa. Golden Boy tidak tahu, apakah kebiasaan Dealova itu memang benar benar dari kepribadiannya sendiri, atau memang sengaja dibuat buat selama bermain New World. Tapi yang pasti kebiasaan Dealova itu sering menimbulkan masalah bagi Four Season Guild.


Jika saja saja Dealova bukan anak dari investor utama Four Season Guild, tentu Dealova sudah ditendang sedari dulu dari Four Season Guild karena kepribadiannya.


###


"AS... Apa kamu bercanda?" Sebuah panggilan sistem yang baru saja Alan terima langsung berisi pertanyaan dari lawan bicaranya di seberang panggilan.


"Bercanda? Memang kenapa?" Alan sedikit bingung kenapa Atlantik tiba tiba menghubungi dirinya dan langsung memberikan pertanyaan dengan nada sedikit tinggi. Padahal terakhir kali dirinya bertemu dengan Atlantik, Atlantik berlaku begitu sopan pada dirinya.


"Ahh... Maaf... Tapi apakah benar kamu berniat membuat mini turnamen?"


"Tentu saja... Apakah ada masalah mengenai hal itu?"


"Apa kamu tidak memikirkan keamanan Ibukota? Bangsa Demon baru saja akan membangun Kerajaan... Jika kamu membuka Kerajaan Bangsa Demon begitu cepat... Aku takut..."


"Jangan khawatir... Semua sudah aku pikirkan... Yang terpenting kamu melakukan apa yang aku minta..." Jawab Alan yang sudah tahu maksud dari Atlantik menghubungi dirinya. Dirinya tahu Atlantik khawatir jika Kerajaan Bangsa Demon yang akan menjalin hubungan dengan Death Mask gagal terbentuk.


"Apa kamu yakin?" Atlantik masih tidak percaya dengan apa yang Alan katakan. Menjamin keamanan di dalam sebuah turnamen bukanlah suatu hal yang begitu mudah. Mengingat akan ada begitu banyak player yang datang ke Ibukota Kerajaan Demon God.

__ADS_1


"Cukup kamu lakukan apa yang aku pinta... Dan aku akan menjamin Kerajaan Bangsa Demon akan terbentuk."


"Hah... Aku hanya takut..."


"Aku tahu kekhawatiran mu... Tapi kamu terlalu menganggap kecil kekuatan yang kami miliki..." Alan tidak tahu alasan kenapa Atlantik begitu gusar dengan maksud dirinya membuat sebuah turnamen. Namun apapun itu, semua pasti berhubungan dengan kerjasama antara Death Mask dengan Kerajaan Bangsa Demon nantinya.


"Baiklah... Aku harap kamu bisa menepati kata katamu..." Atlantik mematikan sambungan panggilan sistem bahkan sebelum Alan menjawab perkataannya lagi.


"Dasar wanita..." Gumam Alan setelah Atlantik mematikan panggilan.


Alan pun bangkit dari kursi penonton di ruang VIP, dan meninggalkan ruang VIP untuk mencari Vlad dan Erebus. Dirinya perlu membuktikan kepada Atlantik, jika semua yang dirinya rencanakan telah berada di dalam kendali dirinya.


"Ada apa kamu datang ke ruangan kami?" Tanya Vlad yang nampak sedang bersantai di atas sofa bersama Erebus. Di masing masing tangan mereka tersemat segelas darah yang sedang mereka nikmati bersama.


"Aku ingin kalian menjadi pengawas keamanan Kota ini selama turnamen berlangsung." Jawab Alan sembari ikut mendudukkan diri pada salah satu sofa yang masih kosong.


"Hah... Untuk masalah sekecil itu kamu meminta kami melakukannya?" Vlad memasang wajah malasnya. Menjaga keamanan Kota seharusnya cukup dilakukan oleh anak buahnya. Tidak harus Jenderal Demon seperti dirinya.


"Apa kalian keberatan?" Alan mengeluarkan aura gelap dari dalam tubuhnya. Darah merah yang tadinya mengisi gelas pun kini melayang dengan sendirinya. Tekanan yang berat langsung dirasakan oleh Vlad dan Erebus.


"Tidak... Tidak... Vlad tadi hanya bercanda..." Erebus langsung mencoba menenangkan Alan yang terlihat sudah sedikit marah. Akan sangat berbahaya jika Alan sampai marah dan memilih untuk menghabisi dirinya dan Vlad.


"Bagus kalau begitu... Aku percayakan Keamanan Kota ini pada kalian.." Alan bangkit dari kursinya sembari menghilangkan aura gelapnya. Darah merah yang tadinya melayang di udara pun kini langsung terjatuh ke atas lantai. Membuat darah merah tersebut tidak bisa lagi dinikmati kedua Jenderal Demon yang ada di ruangan tersebut.


Kedua Jenderal Demon tersebut langsung bernafas lega, setelah Alan menghilangkan aura kegelapannya. Hampir saja jiwa mereka berdua menjadi makanan bagi Shadow Blood yang ada di dalam tubuh Alan.


"Ini akan membantu kalian..." Alan mengibaskan tangan kanannya. Dan seketika keluarlah sebuah pilar setinggi 3 meter dengan tulisan rune di permukaannya.


"Ini... Bagaimana bisa?" Vlad terkejut melihat alat yang Alan berikan. Tidak dirinya sangka sama sekali jika Alan akan membawa alat tersebut dari Dunia Abyss.


"Tidak penting kenapa The Eye bisa ada disini... Yang penting aku bisa mempercayakan alat ini pada kalian... Ya kan?" Lirik Alan pada kedua Jenderal Demon yang masih terdiam.


"Tentu... Tentu..." Erebus langsung menjawab pertanyaan Alan. Takut jika Alan berubah pikiran dan membawa kembali The Eye.


"Bagus kalau begitu..." Alan pun pergi meninggalkan ruangan kedua Jenderal Demon tersebut.

__ADS_1


__ADS_2