New World

New World
Istana Chigaza 3


__ADS_3

Mata Alan berbinar binar. Jika saja mata itu bisa berbicara, pastinya mata Alan akan langsung berteriak sekuat tenaga. Bagaimana tidak? Setelah Alan membuka salah satu pintu ruangan yang ada di istana Azazel, dirinya mendapati ruangan yang penuh dengan harta.


"Flyin... Tampar aku!" Ucap Alan pelan kepada Flyin. Dirinya masih tidak bisa mengembalikan kesadarannya secara total melihat tumpukan harta di hadapannya.


Bruk...


Sekali tamparan dari Flyin cukup membuat Alan terlempar sampai mendarat ke dinding ruangan. "Kenapa kamu menamparku?" Ucap Alan yang terkejut setelah mendapat tamparan dari Flyin.


"Anda yang memintanya Tuan." Flyin menjawab dengan muka polosnya.


"Itu hanya kiasan Flyin..." Alan merasa geram sendiri mendengar jawaban dari Flyin. Tidak dirinya duga Flyin akan melakukan apa yang dirinya katakan tanpa membaca isi pikirannya.


"Maaf Tuan? Tapi pikiran Anda kosong tadi. Saya kira Anda benar benar serius minta ditampar." Flyin berusaha membela diri.


"Tak apalah..." Alan terpaksa harus mengeluarkan satu botol potion penyembuhnya. Padahal dirinya sedang berhemat hemat dengan potion penyembuhnya. Mengingat dirinya tidak bisa mendapatkan bahan yang diperlukan untuk membuatnya di dunia Abyss ini.


Mata Alan kembali menjajaki satu persatu harta yang ada di ruangan tersebut. Meskipun Alan tidak bisa mendapati satu pun koin emas atau perak di ruangan harta tersebut, tetapi tumpukan senjata yang ada di hadapannya sudah cukup bagi Alan untuk merasakan kegembiraan yang berlebih.


"Senjata senjata ini pasti milik Demon Demon yang mati dan menjadi pengikut Chigaza." Alan bergumam sendiri, melihat tumpukan senjata yang membentuk dua gunung di sisi kiri dan kanan. Terdapat satu jalan kecil di tengah tengah dua gunung tumpukan senjata tersebut. Alan bisa melihat senjata senjata yang tertumpuk merupakan senjata kelas biasa. Tapi tetap saja... Senjata milik bangsa Demon paling tidak berkelas Silver ke atas. Mengingat Demon akan sangat sulit terluka jika hanya diserang dengan senjata silver ke bawah.


Alan terus berjalan menelusuri jalan di tengah dua gunung tumpukan senjata tersebut. Matanya terus mengawasi kiri dan kanan, barangkali dirinya bisa mendapatkan suatu senjata yang cukup menarik baginya.


Mata Alan semakin melebar setelah dirinya melihat apa yang ada di balik tumpukan senjata. Berbagai macam senjata yang berkilauan terpajang di dalam kotak kotak kaca. Sekali melihat Alan bisa membedakan, jika senjata senjata yang ada di dalam kotak kaca tersebut memiliki kualitas yang berbeda dengan tumpukan senjata yang ada di depan.


"Ini..." Alan begitu terpukau dengan apa yang dirinya lihat. Lebih dari 100 kotak kaca terpampang di hadapannya. Dan di dalam setiap kotak kaca tersemat satu macam senjata.


Apalagi setelah dirinya membaca atribut atribut yang dimiliki oleh senjata senjata tersebut. Benar benar membuat Alan ingin meneteskan air liurnya.


Begitu juga Flyin. Flyin yang telah hidup lebih dari seribu tahun pun terperangah melihat senjata senjata berkualitas tinggi yang ada di hadapannya. Jujur saja... Koleksi senjata Tuan Azazel di Istananya pun tidak bisa dibandingkan dengan setengah dari senjata senjata yang ada di ruangan tersebut. Padahal Azazel telah membunuh begitu banyak Demon untuk bisa membentuk Shadow Blood.


Flyin tidak bisa membayangkan, berapa banyak Demon yang sudah Chigaza bunuh selama ini.


"Bagaimana caraku membawa semua senjata senjata ini?" Gumam Alan pelan. Dirinya tentu tidak ingin meninggalkan satu barang pun di ruangan ini. Namun tas penyimpanan sistemnya begitu terbatas, lagipula tas penyimpanan sistemnya juga sudah terisi oleh potion dan poiton yang dirinya buat. Hanya menyisakan sekitar 7 slot kosong untuk bisa di isi.


"Andai saja aku punya tas seperti milik Freya..." Alan berandai andai sendiri. Jika saja dirinya memiliki Dimensional Bag seperti milik Freya. Dirinya sudah pasti akan memborong habis seluruh senjata yang ada di ruangan ini.

__ADS_1


"Sepertinya tidak ada cara lain. Aku harus bijak memilih senjata yang ada."


Alan meneliti satu persatu senjata yang ada di dalam kotak kaca tersebut. Memeriksa setiap atributnya, menilai senjata mana yang sekiranya akan cocok jika dirinya gunakan.


Pandangan Alan terhenti pada sebuah belati hitam yang tersimpan di salah satu sudut ruangan. Sekali melihat saja Alan bisa menilai kualitas dari belati tersebut lebih baik dari Black Poiton Dagger miliknya.


[The Forgotten Dagger, No class.


No atribut.]


Alan langsung mengerutkan dahi melihat atribut dari The Forgotten Dagger yang hanya menampilkan namanya tanpa atribut lengkapnya. Dagger dengan hiasan merah darah bergambar demon tersebut sama sekali tidak memiliki informasi, bahkan classnya pun tidak muncul sama sekali.


'Joker?'


[The Forgotten Dagger. Sama seperti namanya AS. Dagger ini adalah senjata yang terlupakan, hanya penggunanya seorang yang bisa mengetahui atribut yang ada di dalamnya.]


'Bahkan kamu juga tidak tahu?'


[Sistem menunjukkan jika data tentang Dagger terkunci. Hanya bisa dibuka jika senjata sudah diikat oleh penggunanya.]


[Benar AS. Mengikat senjata artinya pengguna tidak bisa melepaskan senjata tersebut untuk diganti dengan senjata lainnya. Namun masih bisa digunakan bersamaan dengan senjata lainnya.]


'Begitu...' Alan menimbang nimbang baik buruknya jika dirinya mengikat senjata yang ada di hadapannya. Sekali melihat memang The Forgotten Dagger nampak jauh lebih bagus dari Black Poiton Dagger, tapi Alan belum mengetahui skill yang dimiliki oleh The Forgotten Dagger. Jika saja skill yang dimiliki The Forgotten Dagger tidak terlalu berguna bagi dirinya, tentu Alan akan sangat menyesal. Mengingat dirinya tidak bisa membuang The Forgotten Dagger.


"Ah... Aku bisa menggunakannya bersamaan dengan Black Poiton Dagger jika memang senjata ini mengecewakan." Alan memilih untuk melakukan perjudian. Dirinya cukup yakin The Forgotten Dagger akan bisa berguna kelak. Jika saja tidak terlalu berguna, Alan cukup memakai Black Poiton Dagger bersamaan dengan The Forgotten Dagger. Hanya saja dirinya tidak bisa mengkombinasikan skill Tornado Dance dan Black Breath secara bersamaan. Seperti yang Alan biasa gunakan selama ini.


Alan memecahkan kotak kaca yang menjadi penutup The Forgotten Dagger. Alan kini bisa melihat dengan jelas jika The Forgotten Dagger mengeluarkan sedikit aura merah darah. Seakan akan sedang ada uap darah di sekitar Dagger tersebut.


"Ok... Kita coba..." Alan mencoba menyentuh Dagger tersebut. Namun aura merah darah yang sedari tadi hanya mengelilingi The Forgotten Dagger kini beralih melilit tangan Alan. Menjalar ke pangkal tangan hingga akhirnya melilit tubuh Alan seutuhnya.


[Player harus menjalani tes untuk bisa mengikat The Forgotten Dagger.


Terima?


Ya/Tidak.]

__ADS_1


"Sebuah tes?"


Alan tentu memilih Ya. Mengingat dirinya begitu penasaran dengan atribut yang dimiliki oleh The Forgotten Dagger.


Aura merah darah yang melilit tubuh Alan sepenuhnya membuat pandangan Alan berubah merah lalu perlahan menghitam hingga akhirnya menjadi gelap.


Flyin yang dari kejauhan melihat Alan terlilit aura merah darah langsung panik. Dirinya ingin segera menyelamatkan Tuannya agar bisa terlepas dari lilitan aura merah darah. Namun langkah yang diambil Flyin begitu terlambat. Tubuh Alan sudah terlanjur terselubungi aura merah darah sepenuhnya. Dan aura merah darah tersebut menolak Flyin untuk bisa sekedar menyentuh tubuh Alan.


"Ini gawat..." Flyin bergumam sendiri melihat tubuh Alan tertutup aura merah darah. Padahal dirinya baru meninggalkan Alan sebentar untuk melihat lihat senjata yang ada di ruangan ini. Namun kini Alan sudah terbungkus aura merah darah tanpa bisa didekati.


"Dimana aku? Apa aku ada di pikiranku lagi?" Alan terkejut mendapati dirinya kembali berada di dalam tempat yang gelap.


'Joker...'


[Ya AS...]


Mendengar suara balasan Joker itu artinya Alan tidak berada di dalam pikirannya. 'Dimana ini?'


[Ini tempat ujian yang harus kamu selesaikan AS.]


'Tempat ujian? Di tempat seperti ini?'


[Betul AS. Data sistem menunjukkan seperti itu.]


Belum sempat Alan membalas penjelasan Joker. Tiga buah pintu muncul di hadapan Alan. Setiap pintu tersebut memiliki warna, bentuk dan motif yang sama. Serasa ketiga pintu tersebut merupakan tiga pintu kembar identik.


[Pintu tersebut akan menentukan ujian apa yang akan kamu ambil. Mulai dari yang paling kiri sampai kanan adalah ujian termudah sampai yang tersulit.]


'Ada levelnya juga dalam ujian ini?' Alan memperjelas penjelasan Joker yang nampak begitu belibet.


[Benar AS. Data sistem menunjukkan jika semakin tinggi nilai dan level ujian yang diselesaikan, semakin besar pula kekuatan dari The Forgotten Dagger yang akan bisa digunakan oleh pengguna.]


"Jadi begitu... Aku paham sekarang."


Alan tentu tanpa ragu memilih pintu yang paling kanan. Pintu yang akan membawanya ke tempat ujian tersulit. Alan tidak akan memilih ujian yang setengah setengah dan mendapatkan hasil yang setengah setengah. Lebih baik dirinya berusaha mendapatkan yang terbaik, entah itu dirinya bisa mendapatkannya atau tidak. Alan tidak akan tahu, paling tidak dirinya sudah berusaha yang terbaik.

__ADS_1


__ADS_2