New World

New World
Hutang pada Shadow Blood


__ADS_3

'Jadi akhirnya kamu menyerah?' Suara Shadow Blood di dalam pikiran Alan. Dari nada suaranya saja Alan bisa membayangkan jika Shadow Blood memandang hina Alan.


'Aku tidak menyerah... Hanya saja...' Perkataan Alan terhenti di tengah jalan. Tidak sanggup mengungkapkan jika dirinya tidak mampu untuk melawan Asmodias.


'Lalu apa bedanya? Kini kamu datang kepadaku untuk menyelesaikan masalah yang kamu buat.' Jawab Shadow Blood dengan angkuhnya.


Alan hanya bisa menahan geramnya. Kalau saja kondisinya tidak sedang begitu terdesak, dirinya tentu tidak ingin repot repot meminta bantuan kepada sosok Demon angkuh yang ada di dalam dirinya.


'Jadi kamu mau membantu tidak?' Alan langsung kepada topik permasalahan. Dirinya tentu tidak ingin terus terusan dihina oleh Shadow Blood.


"Hah... Baiklah... Lagipula aku ingin mencoba menggunakan senjata Raja para bangsa Demon terdahulu. Tapi ingat..." Shadow Blood menjeda perkataannya. Dirinya mencoba menekankan perkataan selanjutnya yang akan dirinya katakan. "Kamu berhutang satu hal padaku. Dan aku pasti akan menuntutnya di kemudian hari."


Tanpa mendapat jawaban dari Alan, Shadow Blood langsung mengambil alih tubuh Alan. Pandangan Alan pun langsung menghitam dengan sendirinya. Dan kini dirinya kembali memasuki ruangan gelap yang ada di pikirannya. Hanya ada satu layar datar yang menemani Alan, menampilkan apa yang Shadow Blood lihat melalui mata Alan.


"Dasar... Aku belum juga bilang setuju untuk hutang itu..." Alan sedikit menyesal telah meminta bantuan kepada Shadow Blood. Berhutang pada Demon tentu tidak akan pernah berujung baik. Namun bagaimana lagi? Hanya Shadow Blood yang mungkin bisa mengalahkan Asmodias.


Tubuh Alan yang diambil alih Shadow Blood langsung mengeluarkan aura gelap yang begitu pekat. Berkali kali lipat lebih pekat daripada yang pernah Alan keluarkan.


Sosok tubuh Alan yang masih terbaring pun berubah dengan secara perlahan. Kuku jari jari tangannya memanjang, seakan berubah menjadi sebuah cakar yang tajam. Mata Alan berubah menjadi hitam pekat, dengan sebuah titik merah seukuran bola kelereng di bagian tengahnya. Sepasang tanduk kecil pun mencuat dari kepala Alan, menjadikan jubah yang Alan kenakan harus terkesiap.


"Ah... Lumayan juga itu bocah..." Tubuh Alan kini melayang satu meter di atas benteng Istana. Wajah Shadow Blood menanampakkan kepuasan akan apa yang telah Alan hasilkan. Belum genap satu bulan dan Alan sudah berhasil mengumpulkan kekuatan penunjang Shadow Zone yang cukup banyak, jiwa Demon.. Meskipun Shadow Blood tahu jika jiwa demon yang Alan kumpulkan masih belum cukup untuk menampilkan kekuatan penuh Shadow Zone, tapi melihat pertumbuhan Shadow Zone dari pertama kali dirinya menggunakan sudah membuat Shadow Blood cukup puas.


"Tu... Tuan..." Flyin yang melihat perubahan wujud Alan hanya bisa terperangah. Dirinya tidak menduga sosok Shadow Blood yang sesungguhnya begitu mengerikan. Tatapan dari kedua mata hitamya, menunjukkan akan satu hal, Kematian. Pantas saja Alan begitu enggan mengeluarkan Shadow Blood untuk mengendalikan tubuhnya.


"Hai Flyin... Ini pertama kalinya kita bertemu. Kamu ternyata jauh lebih manis jika dilihat secara langsung. Tidak seperti yang selama ini aku lihat dari layar datar. Hahaha..." Shadow Blood yang mengendalikan tubuh Alan memandang Flyin dengan senyuman nakalnya. Membuat bulu kuduk flyin berdiri setelah melihat senyum nakal dari Shadow Blood.


"Hahaha... Aku hanya bercanda. Tentu kamu bukan seleraku Flyin..." Shadow Blood mengalihkan pandangannya ke arah The Forgotten Dagger yang ada di tangan kanannya. Diayunkannya beberapa kali belati tersebut untuk menebas ruang kosong.

__ADS_1


"Luar biasa..." Gumam Shadow Blood yang terkesan puas akan senjata yang dimiliki Alan.


"Itukah lawan yang harus ku hadapi?" Shadow Blood bertanya kepada Flyin sambil dirinya memandang Asmodias yang tengah bertarung dengan Azazel di udara. Terlihat jelas jika Azazel begitu kerepotan. Azazel harus menghindari serangan dari tombak Asmodias beserta lesatan petir yang terus menerus mengincar dirinya.


"Benar... Tolong bantu Tuan Azazel..." Flyin sedikit membungkukkan badannya, tanda meminta bantuan dengan tulus kepada Shadow Blood.


"Ah... Ini akan sedikit melelahkan..." Shadow Blood bergumam dan dirinya langsung memperbesar Shadow Zone. Shadow Blood pun melesat dengan cepat menuju ke arah Asmodias dan Azazel yang masih sibuk bertarung di udara.


"Apa? Bagaimana?" Asmodias tentu menyadari akan kedatangan Shadow Blood. Namun dirinya tidak menyadari jika yang datang kali ini bukanlah Alan, melainkan Shadow Blood. Asmodias terlalu di sibukkan dengan pemikirannya yang berisi, bagaimana Alan bisa lepas dari pengaruh Silent wavenya.


Thang...


Satu pertukaran serangan antara Asmodias dan Shadow Blood terjadi di udara. Benturan antara The Forgotten Dagger dengan Abysal Spear untuk yang kesekian kalinya ini berbeda dengan sebelumnya. Benturan tersebut menimbulkan angin kencang yang menyebar ke segala penjuru, membuat api yang masih membakar halaman Istana Chigaza bergoyang. Bahkan ada yang langsung padam sebagian karena kuatnya angin.


Asmodias terpental beberapa meter ke belakang setelah satu pertukaran serangan tersebut. Getaran di Abysal Spear akibat pertukaran serangan tersebut masih terasa di genggamannya. "Siapa kamu?" Asmodias tahu jika yang menyerang dirinya barusan bukanlah sosok Alan yang tadi. Perubahan wujud dan kenaikan kekuatan yang ekstrim memperjelas semua pemikiran Asmodias tentang Alan.


"Aku dewa kematianmu!" Shadow Blood kembali menyerang ke arah Asmodias, tidak memperdulikan raut wajah penuh pertanyaan dari Asmodias. Dirinya mengaktifkan fungsi Shadow Zone untuk memperlambat pergerakan Asmodias.


Thang...


Thang...


Namun setiap serangan yang diberikan oleh Shadow Blood nampak tidak berarti. The Forgotten Dagger yang terkenal begitu tajam pun bagaikan sebuah pisau kecil yang mencoba menusuk batu karang kuat ketika mengenai tubuh Asmodias. Setiap serangan tebasan maupun tusukan yang Shadow Blood berikan hanya akan berhenti dua centimeter sebelum mengenai tubuh Asmodias.


"Aku salut akan jubah yang kamu gunakan." Gumam Shadow Zone ketika The Forgotten Dagger masih menempel 2 centimeter di leher Asmodias. Jika saja tidak ada perisai pelindung yang melindungi Asmodias, tentu leher Asmodias sudah tertusuk dengan sempurna.


"Hebat... Harus ku akui kamu memang hebat. Bisa mengenali sumber pelindung yang kumiliki." Asmodias membalas serangan yang diberikan Shadow Blood dengan pangkal tombaknya. Memaksa Shadow Blood harus mundur beberapa meter.

__ADS_1


Sementara kedua Demon tersebut saling mengambil jarak, Azazel yang sedari tadi di sibukkan dengan 77 lesatan petir yang mengincar dirinya telah selesai dengan semua urusannya. Azazel berhasil memangkas 77 lesatan petir yang mengincar dirinya menjadi 16 lesatan petir yang tepat mengenai dirinya. Sisanya berhasil di tebas Azazel menggunakan pedang Coklat yang dirinya gunakan.


Walaupun tidak mati, tapi tetap saja... 16 lesatan petir dari Abysal Spear yang mengenai dirinya cukup membuat Azazel terluka. Beberapa bagian baju zirahnya bahkan terdapat bekas terbakar, memberikan luka dalam yang akan sulit untuk disembuhkan.


"Apa apaan itu? Mungkinkah..." Azazel tidak bisa untuk tidak bertanya melihat sosok Shadow Blood. Melihat ciri fisik Shadow Blood yang begitu mirip dengan Alan, Azazel pun berasumsi jika eksperimennya kepada Alan telah berhasil. Pertanyaan Azazel pun terjawab sempurna setelah dirinya memandang ke arah Flyin, dan langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Flyin.


"Tapi..." Azazel menilai ada yang tidak wajar dengan Shadow Blood tersebut. Jika eksperimennya berhasil, seharusnya Shadow Blood akan menjadi satu Demon yang begitu menuruti perintahnya. Bahkan melebih Flyin dalam urusan ketaatan. Namun Melihat sosok Shadow Blood sekarang? Azazel ragu jika eksperimennya telah berhasil.


"Sampai kapan kamu akan diam? Ayo bantu aku untuk menghabisinya! Aku tidak punya banyak waktu..." Shadow Blood berteriak kepada Azazel yang terkesan melamunkan dirinya. Padahal Shadow Blood sedang bertarung dengan serius dengan Asmodias.


Suara Shadow Blood pun mengembalikan pikiran Azazel yang sempat terbang kepada eksperimen yang dirinya buat. Beralih kembali pada sosok Asmodias yang harus dirinya dan Shadow Blood hadapi. Azazel memperbesar aura kecoklatan yang menyelubungi dirinya, dan langsung menyerang Asmodias. Membantu Shadow Blood untuk bisa segera menghabisi Asmodias.


"Dua lawan satu? Mana keadilan kalian?" Asmodias tersenyum kecut melihat Demon dan Fallen Angel saling bekerja sama untuk membunuhnya. Asmodias pun mempertanyakan sikap keadilan yang mestinya ditunjukkan oleh kedua lawannya.


"Hahaha... Apa bangsa Demon mengerti akan keadilan?" Shadow Blood tentu merasa perkataan Asmodias merupakan lelucon garing. Tidak ada Demon yang mengerti akan makna dari kata keadilan.


"Baiklah kalau kalian tidak mau adil... Biar aku yang membuat pertarungan ini menjadi adil." Asmodias menuliskan beberapa huruf rune di udara menggunakan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya tetap menggenggam Abysal Spear yang terus menangkis serangan dari Azazel dan Shadow Blood.


"Shadow Puppet!"


Bisik Asmodias setelah dirinya selesai menuliskan tulisan Rune. Tubuh Asmodias pun bersinar kemerahan sebentar, lalu meredup perlahan.


"Apa yang kamu lakukan?" Shadow Blood tentu bingung dengan apa yang Asmodias lakukan. Tidak ada perubahan sama sekali setelah Asmodias selesai menuliskan huruf huruf rune.


"Membuat pertarungan ini menjadi adil..." Senyum licik Asmodias terpancar di ujung bibirnya. Bersamaan dengan selesainya perkataan Asmodias, muncul lebih dari 20 bayangan hitam yang terbang di belakang Asmodias.


Kesemua bayangan hitam tersebut memiliki satu kemiripan, yaitu memiliki postur tubuh yang sama persis dengan Asmodias. Hanya saja mereka semua tidak memiliki warna seperti Asmodias, semuanya murni gelap. Seakan bayangan Asmodias telah keluar dari dalam tanah dan membentuk duplikat dirinya.

__ADS_1


"Ini kamu bilang adil?" Shadow Blood merasa apa yang dikatakan oleh Asmodias salah besar. Dua puluh lebih boneka bayangan ditambah Asmodias harus menghadapi Azazel dan Shadow Blood. Bagian mana yang bisa disebut adil?


"Bukankah aku juga mempertanyakan hal yang sama? Aku rasa ini adil... Karena aku tidak tahu arti keadilan yang sebenarnya..." Asmodias melambaikan tangannya, membuat semua boneka bayangannya bergerak menyerang Azazel dan Shadow Blood.


__ADS_2