
"Ratu..." Varta memberikan laporan kepada Marry yang tengah sibuk di depan cermin hias. Tangan Mary begitu terampil mengolah sebuah pensil alis untuk memberikan gesturan sempurna di atas kedua matanya. Dengan perlahan Mary mengoleskan ujung pensil di atas kedua matanya, berhati hati... Penuh ketelitian. Marry harus berusaha ekstra keras untuk bisa menyeimbangkan bagian kiri dengan kanan alisnya.
"Ada apa Varta?" Mary tetap tidak berpaling... Dirinya terlalu sibuk mengurusi dua buah garis yang akan memperindah dua bola matanya yang sudah indah.
"Saya membawa laporan tentang Asmodias, Ratu..." Varta mencoba berhati hati dalam berucap. Jika sampai Marry salah menggoreskan pensil alisnya karena mendengar ucapannya, dirinya pasti akan menjadi korban kemarahan Marry.
"Kenapa dengan si brengsek itu?" Marry masih menyibukkan diri dengan alis bagian kiri yang sedang dirinya gambar, kurang satu lekukan lagi. Dan kedua alisnya akan menjadi satu kata, perfect.
"Asmodias telah menghilang ratu..." Varta berkata dengan pelan. Takut jika perkataannya akan mengganggu konsentrasi Marry.
"Apa?" Marry langsung mengalihkan pandangannya ke arah Varta. Membuat pensil alis yang dirinya genggam harus meninggalkan bekas goresan pada tempat yang tidak semestinya.
Varta langsung terdiam mematung, meskipun yang ada di hadapan Marry hanyalah belahan jiwanya. Namun kemarahan Marry masih bisa dirinya rasakan dengan jelas.
"Apa maksudmu?" Marry menanyakan laporan yang Varta berikan. Konsentrasinya kini sudah tidak lagi pada kedua garis alis di atas matanya melainkan berganti pada laporan yang Varta berikan.
"Ya Ratu... Saya baru saja memeriksanya, dan terakhir kali jejak Asmodias terdeteksi adalah di Istana Chigaza." Varta cepat cepat memberikan laporan. Takut jika Mary menyadari bahwa kedua alisnya sudah tidak bisa diselamatkan.
"Bagaimana bisa? Tidak mungkin dia mati..." Marry memegang dagunya yang lancip. Berpikir keras akan segala kemungkinan yang terjadi.
"Saya tidak bisa mengetahui secara pasti Ratu. Begitu saya sampai di Istana Chigaza, Tempat tersebut sudah kosong. Namun saya menemukan dua hal yang berhubungan dengan menghilangnya Asmodias."
"Jelaskan!"
"Istana Chigaza nampak berantakan, seperti telah tejadi pertempuran yang besar di tempat tersebut. Dan juga..." Varta menjeda perkataannya. Memberikan waktu kepada Marry untuk mencerna perkataannya barusan.
"Saya menemukan jejak empat Demon di tempat tersebut. Satu milik Asmodias, dua lainnya milik Demon yang saya tidak ketahui. Dan satu lagi adalah milik Azazel." Lanjut Varta setelah melihat Marry bisa menerima apa yang dirinya katakan.
"Azazel?" Marry mengerutkan dahi begitu mendengar nama Azazel disebut oleh Varta. "Si pria pemurung itu sampai datang ke Istana Chigaza?" Marry nampak berpikir keras. Mencoba membuat persepsi dan gambaran mengenai apa yang telah terjadi di Istana Chigaza.
"Sudah kamu lihat cristal jiwa mereka semua?" Marry mencoba menelisik lebih dalam. Satu satunya cara mengetahui apakah Asmodias telah mati atau tidak adalah dengan melihat cristal jiwa yang ada di The Eye. Mengingat Varta yang memiliki kemampuan pelacakan begitu hebat saja tidak bisa mendeteksi keberadaan Asmodias.
"Sudah Ratu... Cristal merah dan crystal kuning terlihat masih utuh." Jawab Varta dengan sigap. Tidak ingin membuat Ratunya menunggu akan jawaban dari pertanyaannya.
"Masih utuh? Lalu kemana dia?" Marry tentu semakin bingung mendengar jawaban Varta. Cristal merah menandakan pecahan jiwa dari Asmodias, sedangkan cristal kuning merupakan pecahan jiwa dari Azazel.
Marry tadinya berasumsi jika kedua Jenderal Demon tersebut telah bertarung, hingga Azazel mati. Lalu Asmodias memilih mengasingkan diri karena terluka parah. Tapi mengetahui kedua Cristal jiwa mereka masih utuh. Tentu membuat Mary berpikir jika dugaannya salah besar.
__ADS_1
"Hanya saja... Cristal milik Chigaza telah tiada Ratu..." Varta sangat berhati hati dalam menyampaikan berita yang satu ini. Chigaza merupakan salah satu bagian rencana Marry untuk bisa membalas perbuatan Asmodias. Menyampaikan berita tersebut kepada Marry, tentu Varta harus sangat berhati hati.
"Apa katamu? Bagaimana bisa?" Mary tahu pasti kekuatan special yang dimiliki oleh Chigaza. Tidak mungkin bagi Chigaza untuk mati. Bahkan jika Chigaza dibunuh oleh para dewa sekalipun.
"Maafkan saya Ratu... Tapi saya benar benar tidak mengetahui kejadiannya. Saya juga baru menyadari hal tersebut ketika saya memeriksa cristal jiwa milik Asmodias." Varta memperhalus perkataannya. Takut jika Marry meluapkan kemarahannya kepada dirinya.
"Siapa sebenarnya pelakunya?" Marry tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Chigaza terbunuh... Asmodias menghilang... Azazel datang ke Istana Chigaza... Dirinya mencoba menyangkut pautkan ketiga kejadian tersebut.
"Apapun itu yang telah terjadi... Rencana kita tidak boleh sampai gagal. Cari tahu sosok dua Demon yang ikut bersama dengan Asmodias dan Azazel. Aku yakin mereka berdua akan memberikan kita petunjuk."
"Baik Ratu..."
"Satu hal lagi... Cari tahu dimana Selene... Kita lanjutkan rencana selanjutnya." Marry memberikan tugas tugas yang harus segera dilakukan oleh Varta.
Meskipun Asmodias telah menghilang, rasa ingin membalas Asmodias tidak hilang. Marry yakin jika Asmodias akan muncul lagi suatu saat nanti. Dan begitu muncul, Asmodias akan merasakan apa yang Marry rasakan dulu, Ditinggalkan! Bedanya Marry ditinggalkan oleh Asmodias, sedangakan Asmodias ditinggalkan oleh semua yang ada di sekitarnya. Termasuk Selene, anaknya sendiri.
"Segera saya laksanakan Ratu... " Sosok jiwa Varta langsung menghilang setelah mendengar perintah dari Ratunya. Tidak ingin Ratunya sampai memberikan perintah dua kali kepadanya.
Marry tersenyum puas memikirkan segala rencananya. Hilangnya Asmodias justru malah membuat segala rencananya menjadi lebih mudah. Marry pun kembali mengalihkan pandangannya pada cermin hiasnya. Mencoba melanjutkan goresan alis yang sempat tertunda.
"Varta...." Teriak Marry begitu melihat alis kirinya telah tercoreng sampai ke bagian tengah dahinya. Membuat kedua alisnya sama sekali tidak sedap dipandang mata. Marry mengutuk Varta yang memberikan laporan di waktu yang sangat tidak tepat.
"Semoga saja dia akan lupa..." Jiwa Varta menghela nafas panjang. Membayangkan akan seperti apa marahnya Marry kepada dirinya saat dirinya memberikan laporan mengenai tugas tugasnya.
###
"Dimana aku?" Asmodias mendapati dirinya berada di dalam sebuah tempat yang sangat gelap. Hanya ada kegelapan dan barang barang yang ikut terhisap ke dalam tempat tersebut saja yang bisa Asmodias jumpai.
"Apa yang akan kamu lakukan kepadanya?" Shadow Blood yang dari kejauhan memperhatikan Asmodias, yang sepertinya belum menyadari keberadaannya.
"Jadi seperti ini The Forgotten World." Alan berbicara di dalam pikiran Shadow Blood. Melihat The Forgotten World yang berbeda jauh dengan labirin yang dirinya temui ketika menjalani tes kelayakan menggunakan The Forgotten Dagger dulu.
"Hey... Kamu tidak menjawab pertanyaanku!" Shadow Blood merasa geram karena diacuhkan oleh Alan. Padahal dirinya sudah menuruti kemauan Alan untuk ikut masuk ke dalam The Forgotten World.
"Ah... Bisa kau tanyakan pada Joker, kenapa tempat ini berbeda dengan tempat yang dulu aku lihat?"
"Apa?" Shadow Blood semakin geram... Alan tidak langsung menjawab pertanyaannya malah meminta dirinya melakukan hal hal lainnya.
__ADS_1
"Dengar bocah... Aku sudah berbaik hati membantumu dan menuruti permintaan terakhirmu. Jangan kamu suruh suruh aku lagi... Aku bukan pelayanmu!"
"Kalau kamu tidak mau kembalikan kontrol tubuhku. Aku juga tidak mau hanya diam di tempat gelap seperti ini." Alan tidak kalah sewot. Kalau saja dirinya tidak sedang terdesak tadi, dirinya tentu tidak mau meminta bantuan kepada Shadow Blood.
"Lakukan saja sendiri... Aku juga sudah bosan dengan tubuh lemahmu!" Shadow Blood langsung mengembalikan kontrol tubuh Alan. Membiarkan Alan mengambil sepenuhnya hak yang memang miliknya.
"Nah... Begini lebih baik..." Walaupun tubuhnya terasa lemas... Alan masih menganggap kondisinya sekarang lebih baik daripada harus berdiam di tempat gelap sambil ditemani satu layar datar.
"Aku akan tidur... Tapi ingat... Kamu berhutang satu hal padaku! Dan aku akan menagihnya suatu saat nanti!" Suara Shadow Blood langsung menghilang setelah dirinya selesai berucap. Nampaknya Shadow Blood benar benar kelelahan secara mental setelah bertarung dengan Asmodias. Namun tentu Shadow Blood tidak mau mengakuinya. Shadow Blood terlalu angkuh untuk sekedar mengakui hal kecil seperti itu.
'Joker... Kenapa tempat ini berbeda dengan yang ku lihat sewaktu tes?' Tadinya Alan berpikir jika dunia labirin yang dimaksud adalah dunia labirin yang dirinya jumpai sewaktu tes kelayakan. Namun setelah melihat The Forgotten World secara langsung, dirinya berpikir ulang.
[Dunia ini baru pertama kali kamu datangi AS. Kamu perlu membentuk dunia seperti keinginanmu sendiri. Mengingat kamu memiliki kendali kuasa penuh atas dunia ini.]
'Jadi begitu... Aku perlu membentuknya ya...'
Alan pun memikirkan bentuk apa sebaiknya The Forgotten World seharusnya. Apakah dirinya ingin membentuk pantai, gunung, ataupun lautan, Alan bisa membentuk semuanya tanpa harus bersusah payah. Cukup memikirkannya dan semua akan langsung tercipta begitu saja.
'Ah... Merepotkan... Joker... Bentuk dunia ini seperti labirin yang kemarin. Buat detailnya sama persis!' Alan tidak ingin repot repot memikirkan bentuk dunia The Forgotten World. Biarlah Joker yang melakukan semua urusan yang membutuhkan ketelitian tersebut.
Cring...
Sebuah cahaya putih langsung terpancar di tengah tengah kegelapan. Membuat Asmodias yang berada di dekat cahaya tersebut harus menutup kedua matanya.
The Forgotten World langsung seketika berubah menjadi labirin labirin yang begitu rumit. Bebatuan andesit menjadi penutup lantai dan dinding dinding labirin.
"Apa yang terjadi"? Asmodias semakin bingung mendapati tempatnya berada langsung berubah total dalam sekejap mata. Kegelapan yang mengelilinginya tadi telah berubah menjadi labirin labirin yang memusingkan untuk sekedar dilihat.
"Tidak usah mencoba untuk kabur... Tidak ada jalan keluar dari tempat ini. Kecuali aku menginginkan kamu untuk keluar dari tempat ini."
Suara Alan langsung bisa didengar oleh Asmodias yang telah bersiap untuk terbang dan keluar dari labirin yang rumit. Sosok pria berjubah blue azure bisa Asmodias lihat sedang terbang di atasnya.
"Sepertinya kamu sudah kembali ke bentuk semula?" Asmodias nampak tidak kehilangan ketenangannya. Melihat sosok Alan telah kembali seperti sedia kala membuat dirinya jemawa bisa membunuh Alan dengan cepat dan keluar dari labirin yang merepotkan.
"Memang... Tapi itu sama saja... Sudah tidak ada harapan bagimu di tempat ini.. Kecuali kamu mau menuruti semua perintahku!" Alan memandang Asmodias selayaknya semut kecil di bawah kakinya.
"Jangan besar mulut bocah!" Asmodias menuliskan beberapa huruf Rune untuk memanggil Abysal Spear ke dalam genggamannya kembali. Walaupun terpisahkan oleh dunia, Asmodias bisa memanggil Abysal Spear kapan pun dan di manapun, asalkan dirinya masih hidup dan Abysal Spear masih utuh. Lagipula jika Abysal Spear telah hancur, Asmodias bisa membuatnya lagi dengan kemampuan specialnya.
__ADS_1
"Silent Wave!" Asmodias yang sudah mendapatkan Abysal Spear langsung mengaktifkan skill terkuat yang dimiliki oleh Abysal Spear. Membuat Alan akan sekali lagi berada dalam kondisi tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.