
Alan terpaku tak bisa begerak karena ketakutan. Di malam pertamanya di Mediteran City dia langsung mengalami hal seperti ini. benar benar tak terbayangkan olehnya.
Pria itu semakin mendekati alan. Sinar lampu remang remang mulai memperlihatkan wajah dan badannya. Langkah pria itu begitu sempoyongan. Sangat jelas terlihat pria itu mabuk berat.
Gubrak...
Pria itu jatuh tepat di depan Alan. Alan yang masih terpaku, kaget melihat pria itu jatuh tengkurap. Untung saja pecahan botol itu tidak mengenai badan pria itu.
"Paman... Paman..." Alan langsung berusaha membangunkan pria itu. Namun tidak ada respon sama sekali dari pria tinggi berambut sebahu tersebut.
Alan begitu panik. Seumur hidupnya baru kali ini dirinya menghadapi orang mabuk.
Langit pun mulai menambah buruk suasana dengan Gerimis yang mulai turun. Alan yang mendapati orang pingsan di depannya tidak tega untuk meninggalkannya seorang diri di jalan. Akhirnya Alan pun menggendong pria itu ke depan salah satu ruko yang sudah tutup untuk berteduh.
Gerimis sudah bukan lagi gerimis lagi. Air hujan yang turun pun semakin lama semakin menggila. Membuat udara malam semakin menusuk rasa dinginnya. Alan berinisiatif untuk mengumpulkan air hujan dan menyiramkannya ke muka pria itu. Berharap pria itu mau sadar.
Byuuur...
"Uh... uh... uh..." Pria berambut sebahu itu gelagapan dan membersihkan mukanya dari air.
"Paman sudah sadar?" tanya Alan. Pria itu hanya memandangi alan, matanya masih sayu, tanda mabuk alkoholnya belum hilang.
"Paman baik baik saja? Paman tinggal dimana? Mau saya bantu antar pulang?" Tanya Alan lagi.
Pria itu hanya mengangguk dan menunjuk puncak bukit yang samar samar terlihat.
__ADS_1
Alan menelan ludahnya sendiri melihat ke puncak bukit. "Apa benar pria ini tinggal di puncak bukit itu?" batin Alan.
Alan menoleh lagi ke pria itu. Tapi pria itu sudah tidak sadarkan diri lagi.
"Hah... Mana mungkin aku tinggalkan dia disini sendiri." Alan menghela nafas panjang. Dia teringat dengan pesan ayahnya.
"Selama kita bisa membantu orang yang membutuhkan, kenapa tidak?"
Alan mengangkat pria itu, membantunya untuk berdiri. Untungnya pria itu masih sedikit sadar, jadi Alan hanya perlu menyangga pria itu agar tidak terjatuh.
Langkah mereka berdua tertatih tatih. Alan benar benar merasakan siksaan dunia di hari pertama di Mediteran City.
Kemalaman, kehujanan, barang bawaan berat, ditambah membantu orang mabuk berjalan kembali ke rumahnya.
"Astaga naga.... Mimpi apa aku semalam. Kenapa nasibku begitu buruk hari ini." Alan mengumpat sejadi jadinya melihat tangga ke atas bukit.
"Ahhh... Peduli setan, sudah tanggung juga."
Alan menggigit giginya sendiri memantapkan niat untuk berjalan ke atas menelusuri tangga itu.
Berjalan di hari biasa saja sudah pasti sangat melelahkan. Apalagi dengan kondisi alan yang sekarang ini. Kalau saja alan tidak memiliki stamina yang luar biasa pasti sudah ikut jatuh pingsan di tengah jalan.
Perlu waktu setengah jam lebih untuk bisa sampai ke puncak bukit itu. Di puncak bukit itu ternyata tanahnya lapang. Seluas lapangan sepak bola kira kira. Ada sebuah bangunan bernuansa cina di tengah tanah lapang itu.
"Hem... Tampak seperti dojo." Gumam Alan.
__ADS_1
Alan menidurkan pria itu di teras dojo itu. Membuatnya tidak terkena air hujan.
"Permisi..." Alan sambil mengetuk pintu karena tidak menemukan bel.
Satu kali
Dua kali
Tiga kali
Tetap tidak ada reaksi dari dalam dojo tersebut. Alan merasa tidak sopan kalau dia terus terusan mengetuk pintu, mengingat waktu sudah menunjukan lewat tengah malam.
Alan merasakan kedinginan karena bajunya basah kuyup oleh air hujan. Dia pun membuka tasnya dan mengambil baju ganti dari tasnya.
Saat Alan masih bertelanjang dada, pintu dojo itu terbuka dari dalam. Bertepatan dengan pintu itu terbuka petir menyambar dan menghasilkan kilatan cahaya.
Tubuh alan terpapar kilatan cahaya petir menghasilkan siluet bayangan pria bertelanjang dada.
Alan pun menoleh ke arah pintu yang terbuka. tapi....
Ciiiuuu... Cethak...
Sebuah benda keras menghantam kepala alan. Benda itu ternyata adalah sandal yang terbuat dari kayu.
Headshoot... Sandal kayu itu tepat sasaran mengenai kepala alan. Alan langsung jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1