
"Lightning arrow!"
"fire ball!"
Lesatan serangan dari penyihir maupun archer para player anak buah Deathmark menghujani monster monster serigala yang Jonta kendalikan. Tubuh monster monster serigala tersebut langsung terbakar, ataupun ada yang terpotong beberapa bagian. Namun tubuh monster monster serigala tersebut kembali beregenerasi seiring dengan mana yang dialirkan Jonta.
"Kalian tidak akan bisa membunuh monster monsterku dengan serangan seperti itu!" Jonta tersenyum mendapati wajah para pemain yang begitu frustasi menghadapi monster monsternya yang tidak bisa mati.
"Sial... Kita tidak bisa terus begini! Monster monster itu terus saja hidup kembali."
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Monster monster itu... Pasti ada yang mengendalikan mereka." Salah satu archer yang merupakan ketua dari kelompok anak buah Deathmark menjelaskan kepada anak buahnya.
"Tapi dimana?" Mereka tidak melihat adanya player lain yang ada di dekat mereka. Mereka berpikir jika tidak mungkin pasukan revolusi yang mengendalikannya.
"Kalian tahan monster monster itu dulu. Aku akan mencoba memeriksa sekitar." Perintah Archer tersebut kepada anak buahnya yang berjumlah 25 orang tersebut. Archer tersebut langsung memisahkan diri untuk mencari keberadaan player yang mengendalikan monster monster serigala tersebut.
Langkah archer tersebut terhenti di satu atap bangunan, pandangannya terarah kepada satu monster gagak yang terbang di ketinggian. "Jadi begitu..." Archer tersebut tersenyum puas. Dirinya yakin jika ada yang tidak beres dengan monster gagak tersebut.
Archer tersebut menarik busurnya, mencoba untuk melepaskan anak panahnya ke arah monster gagak tersebut. Mencoba mencari tahu lebih jauh tentang monster gagak misterius.
ciu...
jleb...
Lima anak panah dilesatkan hampir bersamaan ke arah monster gagak tersebut. Atribut yang tinggi membuat kelima anak panah tersebut bisa menjangkau monster gagak yang terbang di ketinggian, menyanyat sayap monster gagak tersebut. Monster gagak yang terkena panah langsung menukik tajam, terjatuh dari ketinggian.
"Sial... Sial..." Jonta panik mendapati monster gagak yang dirinya tunggangi kehilangan keseimbangan akibat panah yang dilepaskan anak buah Deathmark. Jonta pun terlepas dari punggung monster gagak yang dirinya tunggangi dan melesat lurus ke arah tanah.
Merasa dirinya akan jatuh, Jonta mengalirkan mananya dengan cepat untuk memulihkan monster gagaknya. Setelah monster gagaknya pulih, Jonta segera mengarahkan monster gagaknya untuk menjemput dirinya yang sedang meluncur bebas ke arah tanah.
Siu....
Stab...
Monster gagak berhasil menangkap tubuh Jonta tepat waktunya. Membuat Jonta bisa bernafas lega.
"Disitu kamu rupanya..." Walaupun gagal mengakhiri nyawa Jonta, archer tersebut tetap puas. Bisa mengetahui dimana posisi si pemanggil monster. Dirinya langsung memanggil beberapa teman temannya untuk membantu dirinya menyerang monster gagak yang kembali terbang ke ketinggian.
__ADS_1
Jonta semakin waspada dengan area di bawahnya setelah mendapat serangan tadi. Dirinya yakin jika posisinya sudah diketahui oleh para player anak buah Deathmark. Jonta memanggil lagi dua ekor monster gagak untuk mengecoh para player anak buah Deathmark.
"Monster mana yang ditunggangi si pemanggil monster itu?" Salah satu penyihir dari dua belas penyihir anak buah Deathmark yang baru saja datang bertanya kepada archer yang masih mengawasi monster gagak yang terbang di atasnya. Walaupun dirinya dari tadi mengawasi, namun kemunculan dua monster gagak baru membuat dirinya bingung harus menjawab apa kepada pertanyaan temannya.
"Aku tidak tahu... Kita serang saja mereka bertiga terus."
"Apa kamu gila?" Penyihir tersebut meragukan rencana ketua kelompoknya. Dirinya sudah melihat sendiri bagaimana monster monster yang dikendalikan si pemanggil tersebut mampu memulihkan diri.
"Aku tidak tahu pasti... Tapi aku yakin jika pemulihan monster itu pasti didasari dari mana si pemanggil. Kita lihat... Seberapa besar mana yang dia punya?"
Merasa tidak punya pilihan lain, para penyihir tersebut melancarkan serangan serangan sihir jarak jauh mereka ke arah monster gagak.
Duar...
Duar...
Rentetan ledakan beruntun akibat serangan dari para penyihir yang mengenai tubuh monster gagak. Jonta benar benar kerepotan di atas punggung monster gagak tersebut.
Dirinya masih harus mengendalikan monster serigala yang ada di bawah untuk membantu pasukan revolusi bertarung dengan para player, sedangkan dirinya kini juga masih harus mengendalikan ketiga monster gagak untuk menghindari serangan sihir yang mengarah kepadanya. Alhasil berkali kali Jonta gagal menghindari serangan sihir yang mengarah kepadanya. Untung saja Jonta telah bersiap untuk menerima serangan yang datang, sehingga dirinya tidak lagi terpental dari punggung monster gagak.
Jonta hanya perlu mengalirkan mananya untuk memulihkan kondisi monster gagak yang mendapat bombardir serangan dari para penyihir. Mana regeneration potion pun menjadi cemilan wajib Jonta setiap beberapa menit.
"Sial... Berapa banyak mana yang dia punyai?" Penyihir penyihir dari kelompok anak buah Deathmark mulai mengerutkan dahi melihat monster gagak yang sedari tadi mereka serang terus memulihkan diri. Padahal mana mereka sudah berkurang hampir setengah akibat terus melancarkan serangan ke arah monster gagak. Namun belum sedikitpun terlihat jika regeneration dari monster gagak menurun ataupun berkurang.
"Aku tidak bisa seperti ini terus." Walaupun mana yang dimilikinya baru saja terisi dan stock mana regeneration potionnya masih banyak. Jonta tentu tidak ingin terus terusan menjadi sasaran tembak para penyihir yang ada di bawahnya.
"Hem... Saatnya mengetahui seberapa hebat kamu." Jonta memandang ke arah Thunder wand yang baru saja dirinya keluarkan dari tas sistemnya.
"Thunder one!"
Cethar...
Sebuah serangan petir berukuran besar langsung menyambar dari langit ke arah para penyihir yang berada di bawah Jonta. Para penyihir tersebut tentu tidak siap jika akan mendapatkan serangan dadakan berupa sambaran petir. Apalagi mereka sama sekali tidak melihat adanya perubahan awan atau apapun yang sekiranya akan memunculkan petir berukuran besar.
Kedua belas penyihir beserta archer yang berada di bawah Jonta pun hanya bisa menerima nasib mereka untuk menjadi daging manusia panggang akibat terkena petir dari Jonta.
Jonta menelan ludahnya sendiri melihat efek dari serangannya barusan. Tidak dirinya duga jika serangannya akan langsung bisa membunuh semua sasarannya. Jonta pun bisa memfokuskan diri lagi untuk membantu pasukan revolusi yang sedang bertarung di bawah.
###
__ADS_1
"Manusia fana..." Suara serak terdengar samar samar di telinga Alan. Alan berusaha membuka matanya yang terpejam untuk mencari tahu si pemilik suara. Namun... Hanya kegelapan yang dirinya dapati di sekelilingnya ketika Alan membuka mata.
"Dimana aku?" Alan tidak bisa menggerakkan tangan maupun kakinya, seluruh tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Satu satunya yang dirinya ingat adalah terkahir kali dirinya masih sadar, ketika dirinya melompati satu bangunan ke bangunan lain untuk menuju ke arah taman tengah ibu kota.
"Hahaha... Kamu kembali lagi!" Suara serak yang Alan dengar semakin jelas. Nampak jelas jika si pemilik suara tersebut sedang mendekati Alan.
"Siapa kamu? Tunjukkan dirimu!" Alan membentak. Mencoba nampak kuat meskipun dirinya merasa takut.
"Hahaha... Sifat dasar manusia... Selalu saja tidak sabar." Sosok si pemilik suara menampilkan dirinya di hadapan Alan.
Alan langsung mematung mendapati apa yang dirinya lihat. Sosok setinggi 2 meter, dengan enam sayap hitam yang mengembang sempurna di punggungnya. Wajah sosok tersebut tidak terlihat karena tertutup oleh tudung jubah hitam yang dipakainya. Namun dari balik tudung jubah tersebut, Alan bisa melihat mata merah menyala. Mata merah yang memberikan perasaan mematikan bagi yang melihatnya, tidak terkecuali Alan.
"Si... Siapa?"
"Namaku Azazel."
"Azazel? Lalu dimana aku?"
"Hahaha... Selalu saja tidak sabar. Kamu berada di alam bawah sadarmu. Demon Necklet yang kamu simpan itulah yang bisa menghubungkanmu denganku."
"Alam bawah sadarku? Lalu untuk apa kamu kemari?" Alan sedikit bersyukur dirinya masih dalam alam bawah sadarnya, yang berarti dirinya belum mati.
"Hahaha... Menarik... Menarik..."
"Manusia fana biasanya langsung akan menyembahku untuk meminta kekuatan dariku jika bertemu denganku. Tapi sepertinya kamu berbeda. Hahaha..."
"Menyembahmu?" Alan semakin tidak habis pikir. Bisa bisanya di New World ada sistem penyembahan kepada demon. Memang dirinya sudah mengetahui tentang adanya penyembahan kepada Gaia, namun kepada demon? Hiro Tamada nampaknya sangat totalitas dalam mendesain game satu ini.
"Hahaha... Aku tahu kamu tidak akan percaya. Dan juga... Jangan bawa bawa nama Gaia... Dia salah satu musuh kami!"
Alan terdiam terpaku, bagaimana bisa sosok yang ada di hadapannya bisa membaca pikirannya. Dan... Kami? itu berarti ada lebih dari satu demon yang ada, tidak hanya sosok yang ada di hadapannya saja.
"Percuma aku menjelaskannya kepadamu kali ini. Datanglah ke tempatku jika kamu ingin kekuatan dan tahu lebih banyak."
"Ke tempatmu? Bagaimana caranya?" Alan semakin bingung, dirinya baru saja melihat sosok Azazel mengerikan yang ada di hadapannya. Bagaimana dirinya bisa tahu tempat tinggal sosok tersebut.
"Dasar bodoh! Demon necklet yang kamu simpan itu bisa membantumu untuk pergi ke tempatku."
Alan baru sadar setelah mendengar perkataan dari Azazel. Dirinya baru teringat jika dirinya bisa membuka demon gate setelah berhasil mengumpulkan seribu jiwa abadi.
__ADS_1
"Aku suka dengan jiwamu! Datanglah kepadaku... Aku menunggumu!" Sosok Azazel langsung menghilang di kegelapan. Besertaan dengan menghilangnya sosok Azazel, Alan tersadar dari pingsannya. Seperti dulu ketika kehilangan kesadaran di dalam game, keringat dingin membasahi seluruh tubuh Alan.
"Berapa lama aku pingsan?" Alan tidak memperdulikan keringat dingin yang ada di tubuhnya. Dirinya langsung teringat akan tugas utamanya, menyelamatkan puteri Leoni. Alan segera bangkit untuk menuju taman tengah, takut jika dirinya sudah pingsan terlalu lama sehingga dirinya terlambat menyelamatkan puteri Leoni.