New World

New World
Wislock?


__ADS_3

Sander tersenyum puas melihat Deathmark dan anak buahnya berlutut memberi hormat di hadapannya. Salah satu rencananya berhasil dengan sempurna. Kini tinggal menunggu waktu yang tepat saja bagi Sander untuk melakukan pengambil alihan kekuasan Kerajaan South Mountain. Waktu dimana pasukan kerajaan dan pasukan revolusi sibuk berperang sendiri sendiri. Dan disaat kedua pihak telah melemah, Sander akan menghabisi mereka semua dengan kekuatan dirinya dan pasukannya.


Sebenarnya bisa saja Sander menghabisi kedua belah pihak targetnya dengan kekuatan bola kristal rugbi hitam. Sander sangat percaya diri jika tidak ada sosok di Kerajaan South Mountain yang mampu mengalahkan dirinya setelah dirinya mendapatkan kekuatan dari bola kristal rugbi hitam. Hanya saja Sander juga perlu untuk membangun pasukan untuk eranya setelah dirinya naik tahta nantinya. Pasukan para player... Di pikiran Sander para player adalah pasukan yang cocok untuk dirinya kendalikan. Para player selalu haus akan kekuatan, dan uang. Sangat mudah bagi Sander untuk mengendalikan mereka setelah Sander naik tahta nanti. Lagipula... Para player memiliki keunggulan tersendiri dari pada pasukan NPC biasa. Mereka akan bangkit lagi setelah kematian mereka, dengan kata lain... Sander akan memiliki pasukan yang tidak pernah mati.


"Hahaha... Sebentar lagi... Sebentar lagi..." Sander tertawa di dalam hatinya. Membayangkan dirinya naik tahta dan mengendalikan pasukan player yang dirinya buat.


###


Pasukan Revolusi tengah berkumpul di hutan sebelah selatan tidak jauh dari ibukota South Mountain. Seluruh pasukan revolusi yang ada di kerajaan South Mountain tengah berkumpul di hutan tersebut. Jumlah pasukan revolusi yang ada di hutan tersebut bahkan lebih dari 5000 orang. Mereka semua adalah Pasukan yang siap untuk mati demi menyelematkan pimpinan mereka, Puteri Leoni.


"Tuan... Pasukan dari utara dan timur sudah ikut berkumpul." Salah satu prajurit memberi laporan kepada Olsen yang tengah berdiri di depan sebuah meja. Olsen tidak sendirian di tempat tersebut, ada Zein dan juga Elman yang menemani Olsen. Mereka bertiga tengah membahas strategi apa yang akan mereka terapkan dalam peperangan besok, demi bisa menyelamatkan Puteri Leoni yang akan di eksekusi.


"Bagus... Suruh Gurgen dan Egner untuk kesini." Suruh Olsen kepada prajuritnya yang memberikan laporan.


Tidak berselang lama, 2 orang pria memasuki tenda tempat Olsen dan yang lainnya berada. Salah satunya memiliki perawakan tubuh yang kekar dengan rambut yang dipotong pendek. Wajahnya pun nampak garang, dengan adanya bekas luka sayatan di pipi kanannya. Kampak besar yang dipegang pria tersebut menambah kesan garang bagi orang yang melihatnya. Pria tersebut adalah Gurgen, pemimpin pasukan revolusi bagian utara. Pria yang satunya memiliki perawakan yang lebih kecil, dengan badan yang bisa dibilang mungil. Pria yang satunya adalah Egner, pemimpin pasukan revolusi bagian timur. Berbeda dengan Gurgen yang memiliki wajah garang. Wajah Egner mencerminkan seorang pria yang cantik, rambut panjang pirang yang diikat kucir kuda menambah kesan Egner sebagai pria cantik. Namun tentu tidak ada yang berani mengatakan hal tersebut di hadapan Egner. Panah Egner pasti langsung akan menancap di kepala orang yang berani memanggil Egner dengan sebutan pria cantik.


"Hormat kami komandan." Kedua pria tersebut memberi hormat kepada Olsen. Yang hanya dibalas Olsen dengan anggukan kepala.


"Bagaimana kondisinya komandan?" Egner bertanya kepada Olsen.


"Tidak terlalu baik... Raja Robert seakan akan ingin menjadikan peperangan besok adalah peperangan terkahir." Olsen menjelaskan kepada Gurgen dan Egner hasil pemantauan pasukan pengintainya.


Pasukan pengintainya memberi laporan jika lebih dari 6000 pasukan kerajaan tengah berjaga di luar ibukota. Bersiap untuk mengamankan eksekusi Puteri Leoni bisa berjalan lancar.


"Kenapa kalian cemas? Kita serang saja langsung! Kita pasti bisa mengalahkan mereka." Gurgen berkata dengan nada angkuhnya. Seperti biasanya... Gurgen memang terkenal sebagai salah satu komandan pasukan revolusi yang selalu bertindak tanpa pikir panjang.


"Bodoh... Hal bodoh seperti itulah yang membuat pasukanmu tidak pernah berkembang." Zein menyela perkataan Gurgen.

__ADS_1


"Apa katamu bocah?" Gurgen tidak terima dikatakan bodoh oleh seorang pemuda yang bahkan usianya baru setengah usia dirinya.


"Bodoh... Kenapa?" Zein beo.


"Mau cari mati kamu bocah?" Gurgen bersiap untuk menggunakan kapak besarnya.


"Cukup... Kita tidak sedang dalam kondisi untuk saling bertarung satu sama lain." Olsen membentak kedua anak buahnya tersebut. Yang membuat Kedua anak buahnya tersebut langsung terdiam.


"Apa yang dikatakan Zein benar... Kita tidak bisa menyerang ibukota secara langsung. Pasukan kerajaan pasti sudah menyiapkan rencana untuk menghadapi kita." Olsen menjelaskan yang langsung diikuti dengan senyuman menghina Zein ke arah Gurgen. Gurgen pun hanya bisa menggigit giginya sendiri, menahan kesalnya kepada Zein.


"Lalu apa yang akan kita lakukan komandan?" Egner bertanya kepada Olsen. Berbeda dengan Gurgen yang tidak pernah berpikir panjang, Egner selalu menerapkan rencana yang matang ketika dirinya akan bertindak. Hal ini lah yang membuat pasukan revolusi bagian timur selalu bisa mengungguli pasukan kerajaan.


"Cara terbaik adalah kita membagi tim. Satu untuk menghadapi pasukan kerajaan yang menghadang di depan ibukota. Dan satu lagi untuk membebaskan Puteri Leoni." Olsen memberikan gambaran rencana yang belum matang.


"Tapi bagaimana cara kita menyusup ke dalam ibukota? Sedangkan seluruh pintu masuk ke ibukota dijaga oleh pasukan kerajaan." Egner bisa tahu kekurangan dari rencana yang Olsen berikan. Semua orang di dalam tenda tersebut terdiam dengan pertanyaan Egner. Memang pertanyaan Egner barusan adalah permasalahan terbesar yang harus mereka hadapi.


"Kita bisa menggunakan jalan tikus." Seseorang tiba tiba memasuki tenda tempat para pimpinan pasukan revolusi sedang berdiskusi.


thang...


Pria tersebut berhasil menangkis serangan kapak Gurgen yang mengincar kepalanya. Kapak Gurgen pun hanya menancap di tanah.


"Hentikan Gurgen!" Olsen kembali berteriak sebelum Gurgen menyerang pria yang baru memasuki tenda tersebut lebih jauh.


"Tapi komandan... Dia adalah..." Perkataan Gurgen dihentikan oleh lambaian tangan Olsen.


"Dia di pihak kita sekarang." Olsen menjelaskan kepada Egner dan Gurgen jika pria yang baru saja masuk ke dalam tenda bukanlah musuh seperti dulu.

__ADS_1


"Dia? Di pihak kita?" Tidak hanya Gurgen yang tidak percaya. Egner pun juga tidak percaya akan perkataan Olsen. Semua karena pria tersebut adalah Wislock. Salah satu komandan dari pasukan kerajaan.


"Kalian mungkin tidak akan percaya. Tapi begitulah kenyataannya. Aku tidak tahu apa yang Zein lakukan kepada orang satu ini sehingga dia bisa berpihak kepada kita." Olsen menambahkan, yang diikuti dengan senyum bangga dari Zein. Zein merasa begitu bangga bisa merubah lawan menjadi kawan.


Merubah Wislock. Ya... Zein berhasil merubah Wislock menjadi salah satu orang kepercayaannya setelah melakukan apa yang Alan sarankan. Selama ini Zein selalu mengajak Wislock untuk melakukan aktifitas pasukan revolusi di bagian selatan. Wislock pun bisa menilai sendiri bagaimana kondisi rakyat kerajaan South Mountain di bawah kekuasaan Raja Robert.


Tertekan, menderita, takut, was was... Semua hal seperti itu bisa Wislock lihat dari rakyat Kerajaan South Mountain. Perlahan namun pasti Wislock pun mulai merubah arah pikirannya selama ini, hingga saat ini dirinya berada di pihak pasukan revolusi.


"Jalan tikus apa yang kamu maksud?" Olsen mengembalikan obrolan di dalam tenda ke topik permasalahan.


"Saluran pembuangan Limbah ibukota. Memang tidak bisa untuk lewat banyak orang. Tapi aku kira 30 orang akan cukup untuk lewat jalan itu.


"30 orang?" Gurgen memelototkan matanya mendengar kata 30 orang. "30 orang untuk menyelamatkan puteri Leoni? Apa kamu gila?"


"Mungkin sedikit gila. Tapi jika ke 30 orang tersebut memiliki kekuatan yang cukup, tentu rencana tersebut tidak akan begitu gila."


"Jadi maksudmu kita akan mengirim 30 orang terbaik kita bersamamu?" Egner membenarkan perkataan Wislock. Yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Wislock.


"Bagaimana kami bisa yakin jika kamu tidak menjebak kita?" Egner menajamkan tatapannya ke arah Wislock.


"Jika itu mauku. Aku tidak akan berdiri disini. Aku pasti sudah kabur ke ibukota untuk memberitahukan posisi kalian saat ini." Balas Wislock dengan senyum sinisnya.


"Baiklah... Tapi aku ikut denganmu... Akan kupastikan aku yang akan memenggal kepalamu jika kamu berkhianat." Egnar merasa tidak ada salahnya mencoba apa yang Wislock katakan. Lagipula Egnar yakin, selama dirinya ikut bersama rombongan ke 30 orang tersebut, Wislock tidak akan berani bertindak yang tidak tidak.


"Tidak masalah... Lagipula aku juga tidak berencana untuk berkhianat."


"Ok... Rencana untuk besok sudah ditetapkan. Pastikan pasukan kalian telah siap untuk peperangan besok. Kita akan tentukan nasib kerajaan ini besok pagi."

__ADS_1


"Untuk kesejahteraan rakyat South Mountain!" Olsen mengangkat pedangnya ke atas, yang diikuti oleh semua orang yang ada di dalam tenda tersebut. Mereka mengangkat senjata mereka semua agar ujung senjata mereka bisa bertemu di satu titik tengah.


"Untuk kesejahteraan rakyat South Mountain!" kelima orang lainnya serentak.


__ADS_2