
Poska benar benar terkejut mendapat laporan dari Toni yang berisi akan adanya serangan pada Kuil Cahaya di Kerajaan Demon God. Dirinya benar benar tidak habis pikir, ada suatu kelompok yang cukup gila untuk menyerang tempat suci para Angel tersebut.
Ya.. Angel... Sebuah Ras yang diyakini berada satu level di atas ras lainnya. Memiliki sayap dan anugerah cahaya, membuat setiap Angel selalu lebih kuat dari pada rad biasa lainnya. Tapi bukan berarti semua Angel bisa mengalahkan semua orang selain ras Angel. Begitu banyak orang maupun player yang kekuatannya berada di atas Angel. Tidak terkecuali Commander dari Light Guardian tersebut, Poska.
Poska tahu betul seperti apa para kekuatan dari Angel, meskipun dirinya jauh lebih kuat dari seorang Angel biasa. Namun tetap saja... Melawan ratusan Angel bukan lah suatu hal yang diinginkan siapapun.
Dan dirinya tidak menyangka, akan ada satu pihak yang sedang menantang kekuatan pasukan Angel yang Kuil Cahaya miliki. Padahal Kuil Cahaya tidak hanya memiliki pasukan Angel, namun juga ada Light Guardian yang selama ini menjadi kaki tangan Kuil Cahaya.
"Apa kita juga akan ikut mengirim bala bantuan Commander?" Tanya Sienta, seorang Elf wanita yang merupakan salah satu Kapten di Light Guardian.
"Meskipun yang akan menyerang Kuil Cahaya adalah Bangsa Demon, aku yakin Kuil Cahaya akan bisa mengatasinya. Lagipula disana sudah ada batalyon ketiga yang dipimpin Toni." Jawab Poska dengan tenangnya.
"Kita masih belum tahu kekuatan Bangsa Demon saat ini Commander. Aku takut..." Sienta mengerutkan dahinya, membuat kedua kelopak mata yang berirish hijau muda miliknya mengecil.
"Sudahlah... Bangsa Demon selama ini hidup di Dunia Abyss yang begitu minim sumber daya. Aku yakin perkembangan kekuatan mereka tidak akan begitu besar. Para Angel pernah mengalahkan mereka dalam perang besar seribu tahun yang lalu. Aku yakin mereka akan bisa memenangkan perang itu lagi."
"Tapi Commander..." Sienta tetap bersikeras tidak setuju dengan keputusan Commandernya. Bagaimana pun juga mereka masih belum tahu kekuatan bangsa Demon saat ini. Meremehkan kekuatan musuh bisa menjadi suatu kesalahan terbesar di dalam taktik berperang.
"Lebih baik kamu pergi ke Kerajaan Black Dessert. Bantu para Priest yang ada disana untuk menenangkan situasi disana." Poska tidak ingin berdebat terlalu panjang. Bagi dirinya Bangsa Demon bukan suatu ancaman yang terbesar saat ini. Kekuatan Bangsa Titan yang sedang berkembang di Kerajaan Black Dessert lebih menarik perhatiannya.
Sudah satu tahun lebih Kuil Cahaya mencoba mengembangkan pengaruh mereka di Kerajaan Black Dessert, namun Kuil Cahaya belum juga berhasil menyebarkan ajaran dengan leluasa. Semua karena Bangsa Titan yang hidup di Kerajaan Black Dessert begitu keras hati menolak ajaran Kuil Cahaya yang diberikan.
"Hah... Baiklah Commander..." Sienta tidak mau berdebat juga dengan Commandernya. Bagaimanapun juga Poska adalah pimpinannya, dirinya harus menuruti perintah yang Poska berikan. Meskipun dirinya tidak sependapat dengan perintah yang diberikan.
Sienta pun segera membalikkan badannya dan melangkah pergi dari ruangan Poska. Membuat rambut hijau muda yang dimilikinya bergoyang mengikuti gerakan badannya. Wangi khas dari rambut indahnya pun langsung menyebar ke arah Poska, menusuk ke dalam hidung Poska dan membuat Poska terbuai untuk sesaat.
"Ah... Benar benar gadis yang begitu sempurna..." Gumam Poska pelan sembari menikmati wewangian efek kibasan rambut Sienta.
"Ada apa Commander?" Sienta sedikit mendengar gumaman Commandernya tersebut. Membuat dirinya kembali memandang Poska yang sedang terbuai.
"Ah... Tidak... Ini ada kecoa lewat..." Balas Poska yang malu akibat ketahuan sedang terbuai oleh wewangian rambut Sienta.
__ADS_1
"Oh... Baiklah... Lain kali bersihkan ruangan Anda... Agar tidak ada kecoa yang bersarang disini..." Balas Sienta yang kembali melanjutkan langkah kakinya untuk meninggalkan ruangan Poska.
"Eee..." Tanda seru langsung muncul di dahi Poska, mendengar nasihat dari salah satu Kaptennya tersebut. Dirinya pun melihat ke sekeliling ruangan, dan memang benar apa yang dikatakan oleh Sienta. Dirinya perlu merapikan ruangannya yang terlihat berantakan.
###
Tantangan secara langsung dari Bangsa Demon tentu membuat Kuil Cahaya begitu marah. Apalagi Bangsa Demon yang tiba tiba muncul di reruntuhan Gereja Satanisme telah membunuh tiga dari empat Angel yang datang kesana.
"Kurang ajar!!! Berani beraninya Bangsa Demon itu mempermalukan Kuil Cahaya!" Tara membanting cawan emas yang dipegangnya. Menimbulkan suatu bunyi keras akibat benturan cawan emas dengan lantai marmer Kuil.
"Lebih baik Anda tenang Nona Tara..." Toni mencoba menenangkan Biarawan yang ada di hadapannya tersebut. Dirinya tahu jika Tara yang menjadi pimpinan Kuil Cahaya di Kerajaan Demon God sangat tidak senang akan terbunuhnya tiga Angel yang dirinya kirim. Namun mau bagaimana lagi? Semua terjadi juga karena ulah Tara yang meminta anggota batalyon Toni untuk menyerang Gereja Satanisme.
"Mereka belum tahu siapa sebenarnya Kuil Cahaya. Akan aku buat mereka menyesal karena telah berani menghina ajaran dari Dewa Helios." Tara mengambil sebuah batu crystal berwarna putih dari balik jubahnya.
[Angel Summoner Crystal.]
Begitulah informasi yang Joker tampilkan akan batu crystal putih yang berbentuk bulat seukuran bola tenis tersebut. Dari namanya saja, Toni sudah tahu fungsi dari batu crystal tersebut adalah untuk memanggil para Angel dari dunia para Dewa.
Dari corak emas yang ada di dalam batu crystal putih itu saja Toni bisa menebak kualitas dan kuantitas Angel yang akan dipanggil oleh Tara nantinya tidak akan biasa biasa saja.
Tara pun tidak berbasa basi terlalu banyak. Dirinya segera membacakan mantra untuk mengaktifkan batu crystal yang dirinya pegang.
"O Beschützer des Lichts, die in der Welt der Götter sind. Wir singen Verse, die du hören kannst. Wir bieten euch allen besondere Verse an, um das Licht in der Welt zu halten."
Dengan diteteskannya setetes darah Tara keatas batu crystal putih tersebut. Batu crystal tersebut langsung bersinar dengan begitu terang. Seakan akan batu crystal tersebut telah berubah menjadi sebuah matahari kecil yang begitu menyilaukan mata. Hanya bedanya, tidak ada panas yang terpancar dari batu crystal tersebut.
Batu crystal putih tersebut pun terbang ke atas, menembus atap ruangan yang berhiaskan gambar gambar para Dewa dan Dewi. Hingga batu crystal tersebut tidak lagi terlihat oleh Toni maupun Tara akibat tertutup atap ruangan yang berbentuk kubah.
"Itu saja?" Gumam Toni pelan. Tidak melihat adanya perubahan apapun yang terjadi setelah proses pemanggilan yang dilakukan oleh Tara.
"Kamu bisa melihat keluar jika penasaran." Balas Tara dengan senyuman khasnya. Dirinya sudah sangat yakin jika semua orang di Ibukota Kerajaan Demon God kini sedang tercengang dengan dengan apa yang terjadi di langit Ibukota Kerajaan Demon God.
__ADS_1
Merasa begitu penasaran Toni pun melakukan apa yang Tara sarankan. Dirinya segera keluar dari bangunan Kuil Cahaya untuk melihat apa yang ada di langit Ibukota Kerajaan Demon God.
"Ini..." Toni tidak bisa berkata apa apa. Di atas langit Ibukota Kerajaan Demon God kini terdapat dua matahari yang bersinar. Hanya bedanya yang satu sedikit lebih kecil daripada matahari yang aslinya.
Toni pun bisa melihat, jika semua orang yang ada di sekitar bangunan Kuil Cahaya juga sedang tercengang seperti dirinya. Melihat ke atas langit dan dengan wajah yang dipenuhi tanda tanya. Mencoba menerka nerka apa yang telah terjadi sampai sampai telah muncul dua matahari di Ibukota Kerajaan Demon God.
Namun sinar matahari yang lebih kecil itu mulai meredup secara perlahan. Cahayanya meredup namun ukurannya semakin besar, secara perlahan matahari tiruan tersebut membentuk sebuah lingkaran putih yang berdiameter lebih dari 100 meter.
Semua orang yang berada di bawah lingkaran putih tersebut langsung panik seketika. Mereka mengira jika ada seseorang yang sedang mencoba mengaktifkan sihir dengan skala yang begitu besar.
Namun apa yang ditakutkan oleh semua orang tidak pernah terjadi. Bukan sebuah serangan atau kekuatan sihir yang keluar dari lingkaran putih. Melainkan ratusan siluet bayangan bayangan hitam yang secara perlahan terbang menuju ke bawah.
Perlahan namun pasti, semua orang mulai bisa melihat dengan jelas sosok apa sebenarnya dari ratusan siluet bayangan hitam tersebut. Sayap sayap putih dan berbulu indah mulai bisa terlihat, baju zirah putih dengan corak emas dan silver pun mulai bisa dilihat dengan kasat mata.
Semua orang semakin tercengang, mereka tidak akan pernah menduga jika yang keluar dari lingkaran putih di atas kepala mereka adalah para Angel yang terlihat begitu perkasa.
"Luar biasa..." Gumam Toni setelah melihat ratusan, tidak, bahkan ribuan pasang sayap berbulu putih secara perlahan terbang turun dari atas langit. Jujur saja dirinya terpesona dengan keindahan ribuan pasang sayap yang terlihat begitu indah ketika terkena sinar matahari.
"Bagaimana?" Tara tersenyum puas melihat wajah Toni yang begitu terheran. Dengan ribuan Angel yang dirinya panggil ini, dirinya yakin menghadapi Bangsa Demon akan menjadi sebuah permainan anak anak.
Toni tidak bisa berkata kata. Dirinya terlalu sibuk memikirkan akan seperti apa pertempuran yang akan terjadi nantinya. Meskipun dirinya sudah melihat sekilas kekuatan Bangsa Demon yang akan menyerang Kuil Cahaya, dan mengakui kekuatan dari Bangsa Demon. Namun kekuatan para Angel yang dimiliki oleh Kuil Cahaya lebih membuat dirinya tercengang.
"Angel Prioda melapor untuk menerima tugas." Hormat salah satu Angel yang langsung turun ke hadapan Tara, sosok biarawan yang memanggil pasukan Angel tersebut.
"Bagus... Berapa pasukan yang kamu bawa?" Jawab Tara tanpa memperhatikan salam hormat yang diberikan oleh Prioda. Dirinya beranggapan jika statusnya jauh lebih tinggi daripada Angel yamg dipanggilnya. Merupakan hal yang wajar jika dirinya tidak menjawab salam hormat dari Angel di hadapannya.
"1600 Angel siap melayani Kuil Cahaya..." Jawab Prioda dengan lugasnya, tidak menghiraukan sedikit sikap kurang ajar yang Tara tunjukkan kepadanya.
"1600?" Bukan Tara yang menjawab, namun Toni. Dirinya tidak menduga jika batu crystal yang dipegang oleh Tara tadi mampu memanggil 1600 Angel. Jika saja dirinya tahu berapa jumlah Angel yang bisa dipanggil dari batu crystal tersebut, dirinya tentu ingin merebutnya untuk dirinya gunakan sendiri, atau paling tidak dirinya jual ke dalam pasar gelap New World.
Sementara Tara hanya tersenyum puas. Mendengar kata seribu enam ratus telah diucapkan oleh Prioda. Menandakan darah dirinya memang benar benar dihargai oleh para Dewa junjungannya.
__ADS_1