
"baiklah... satu kunci lagi... dan kita akan segera bisa mendapatkan harta karun." alan mengambil kunci keempat yang mereka dapatkan dari monster berlevel 49 bernama tiger flame. seekor macan yang diselubungi oleh api biru di sekujur tubuhnya.
mencari treasure screet key nyatanya tidak semudah yang alan pikirkan. walaupun dirinya sudah tahu pasti keberadaan treasure screet key tersebut, kenyataannya langkah yang harus mereka ambil untuk bisa mendapatkannya penuh rintangan. lokasi dari setiap kunci tersebut tersebar di beberapa lokasi. alan dan pasukannya mesti menghadapi monster monster penghuni hutan untuk bisa mencapai lokasi treasure screet key.
perlu waktu satu 3 hari tersendiri bagi alan dan prajuritnya untuk mendapatkan 2 treasure screet key lainnya. dan kini tinggal kurang satu treasure screet key lagi bagi mereka untuk bisa mengetahui dan membuka screet treasure temple.
shoote sun yang tiga hari belakangan merajuk kepada alan pun mulai menyadari jika alan tidak sembarangan berkata akan kemampuannya dalam mencari treasure screet key. alan tahu dengan pasti monster mana yang akan menjatuhkan treasure screet key. shoote sun tidak tahu pasti cara, alat maupun metode yang alan gunakan. tapi yang pasti itu adalah rahasia terbesar alan sendiri. shoote sun pun yakin jika dirinya bertanya kepada alan, alan belum tentu akan memberitahukan rahasianya.
berbeda halnya dengan jonta. dirinya yang melihat alan bisa melacak keberadaan treasure screet key dengan pasti merasa sangat kagum akan kemampuan alan. alan pun menjadi orang nomer 1 yang dirinya idolakan untuk menjadi panutan dirinya di new world.
"kemana kita akan pergi kali ini kak AS? tanya jonta yang sudah tidak sabar untuk berburu monster lagi. dirinya merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan alan, bagaimana tidak?
levelling dengan cepat, tanpa usaha yang susah payah, disokong sumber daya potion yang seakan tidak ada habisnya dari alan. pemain mana yang tidak akan iri dengan posisi jonta saat ini? 3 hari mengikuti alan levelling, dirinya sudah melesat jauh menaikkan levelnya dari yang semula 22 menjadi 46. bahkan kini jonta sudah bisa memanggil monster monster berlevel 36 dari bangkai monster yang dibunuh pasukan revolusi. monster monsternya pun bisa digunakan untuk ikut membantu pasukan revolusi dalam bertarung.
sementara alan sekarang telah mencapai level 62, dan shoote sun 70. exp yang mereka butuhkan untuk naik level jauh lebih banyak daripada jonta. semakin tinggi level, semakin banyak pula exp yang diperlukan untuk naik level. sebenarnya alan telah mencapai level 67, hanya saja dirinya memilih untuk menaikkan level senjatanya dengan mengorbankan expnya.
"kita akan kesana!" tunjuk alan pada puncak gunung south mountain.
freya yang melihat alan menunjuk puncak gunung tentu langsung menelan ludah dalam dalam. dirinya adalah penghuni asli hutan ini, walaupun dirinya belum pernah naik ke puncak gunung tersebut. tapi dirinya tahu betul jika puncak gunung tersebut adalah tempat yang berbahaya. kepala suku sebelum ayahnya pasti tidak akan sembarangan menjadikan puncak gunung tersebut sebagai tempat keramat yang tidak boleh untuk didatangi tanpa alasan.
"AS... tempat itu..." freya mencoba menjelaskan tentang bahaya puncak gunung tersebut.
"tenang... aku tahu apa yang aku lakukan..." alan mencoba menenangkan freya yang nampak gusar.
freya pun merasa percuma untuk memperingatkan alan setelah alan mengambil keputusan. dirinya sudah hafal jika alan adalah orang yang akan selalu menyelesaikan apa yang dirinya kerjakan sampai tuntas.
"kita berangkat besok pagi! persiapkan diri kalian!" alan melihat jika hari sudah menjelang sore, tidak baik jika dirinya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan di malam hari. lagipula alan perlu membuat potion dan poitonnya yang hampir habis. untung saja hutan ini dipenuhi dengan bahan bahan yang bisa dirinya gunakan untuk membuat potion penyembuh dan mana regeneration.
di malam hari, shoote sun melakukan hal kesukaannya selama bersama alan. melihat alan meracik potion. walaupun bagi orang lain terlihat membosankan, bagi shoote sun melihat alan mempermainkan tabung, api dan cairan dalam pembuatan potion memiliki daya tarik tersendiri. shoote sun bisa melihat ketelitian dan ketekunan yang alan miliki ketika alan membuat potion.
__ADS_1
"kamu tidak log out?" disela pembuatan potion alan memecah keheningan di antara mereka berdua. tangannya tetap tidak berhenti meracik potion walaupun mulutnya berkata.
"tidak... tidak ada yang special di dunia nyata... jadi aku malas ada disana."
alan tentu mengerutkan dahi ketika mendengar perkataan shoote sun. tidak ada yang special di dunia nyata? bagaimana dengan waktu berkumpul dengan keluarga? apa hal seperti itu tidak bisa disebut hal special bagi shoote sun? jika saja alan bisa bersama dengan kedua orang tuanya sekarang di dunia nyata, alan pasti lebih memilih hal tersebut dari pada hanya sekedar berada di dalam dunia virtual.
"kamu tidak rindu keluargamu pa?" alan tentu tidak berani langsung menghukum shoote sun dengan tuduhan yang tidak tidak. dirinya tidak tahu keadaan shoote sun di dunia nyata. melihat sifat shoote sun, alan yakin jika shoote sun tidak akan melakukan hal seperti itu tanpa adanya alasan yang kuat.
"keluarga? hah..." shoote sun menghela nafas panjang.
"aku tidak tahu apakah aku masih memiliki keluarga atau tidak..." ekspresi muka shoote sun langsung berubah murung. menandakan dirinya sedikit memaksakan untuk memberikan jawaban dari pertanyaan alan.
"ah... maaf kalau pertanyaanku mengingatkanmu akan hal yang buruk?" alan merasa bersalah telah bertanya kepada shoote sun.
"tidak apa apa... kamu tahu kenapa aku memilih nama shoote sun di game ini?" pandangan shoote sun kali ini mengarah ke langit yang penuh bintang. menggambarkan adanya kesedihan dari ekspresi yang dirinya tunjukkan.
"karena sihir cahayamu kan?" alan menjawab sekenanya.
"shoote sun artinya adalah cahaya yang berkilau. aku ingin menjadi cahaya yang berkilau disini agar keluargaku bisa melihat keberadaan diriku."
mendengar perkataan shoote sun, alan bisa sedikit menangkap kondisi shoote sun dan keluarganya. "aku yakin kamu bisa... paling tidak kamu masih bisa melihat keluargamu."
"apa gunanya bisa melihat tanpa adanya rasa? aku bisa menghabiskan waktu bersama mereka, namun itu hanyalah raga mereka. pikiran dan perasaan mereka entah kemana." pojokan mata shoote sun nampak basah, jelas sekali dirinya menahan air mata yang ingin keluar dari matanya.
"nikmatilah waktu bersama mereka. kamu tidak akan bisa menikmati waktu seperti itu jika kamu sudah tidak bisa melihat mereka lagi." alan mencoba menghibur shoote sun sebisa mungkin.
"yah... kita tidak akan tahu rasa kehilangan sebelum benar benar mengalaminya." shoote sun mencoba merelakan apa yang terjadi dengan dirinya di dunia nyata. shoote sun pun mengalihkan pandangannya kembali ke arah alan yang masih membuat potion.
"bisa kamu ajari aku membuat potion?"
__ADS_1
pertanyaan shoote sun simple, namun sulit untuk dijawab oleh alan. dirinya juga baru belajar dalam pembuatan potion, tidak mungkin dirinya akan mengajari shoote sun.
"maaf... bukannya aku tidak mau... tapi aku belum bisa..." alan merasa dirinya belum pantas untuk mengajari sesuatu yang dirinya juga belum kuasai.
"aku hanya bercanda... mana mungkin kamu akan menyerahkan skill andalanmu begitu saja kepadaku." goda shoote sun.
alan pun hanya mengerucutkan mulutnya mendengar godaan shoote sun. dirinya kembali memfokuskan perhatiannya kepada pembuatan potionnya.
mereka berdua kembali ke dalam keadaan diam. diam sambil kadang saling melirik satu sama lain. diam tapi ada niat dalam hati untuk hanya sekedar berkata dan membagikan tawa. diam pun berakhir dengan ajakan shoote sun untuk log out setelah alan selesai membuat potion.
###
"ada yang tertinggal?" alan mengingatkan kepada pasukannya sebelum berangkat.
gelengan kepala menjadi senam pagi serentak tanpa komando pasukan alan. alan hanya tertawa geli melihat pemandangan seragam yang bisa bersamaan.
menaiki gunung south mountain lebih sulit dari pada menelusuri hutan. jalanan yang miring, pohon yang tidak kalah lebat, tebing yang curam menjadi penghalang yang memacu adrenalin. monster yang ada di gunung juga tidak kalah banyak dari pada monster yang ada di hutan.
namun tentu saja, pasukan alan lebih terlatih dan lebih bisa terorganisasi daripada ketika pertama kali mereka memasuki hutan. ditambah bantuan monster undead yang di panggil oleh jonta. memberikan perlindungan tersendiri bagi pasukan alan.
sore hari baru mereka bisa sampai di puncak gunung. berbeda dengan kaki gunung, puncak gunung merupakan sebuah tanah lapang yang bisa di gunakan untuk berkumpul 300 orang. di tempat tersebut hanya ada bebatuan dan kerikil kecil.
"dimana monsternya?" shoote sun tentu langsung bertanya kepada alan karena tidak melihat adanya monster yang perlu mereka hadapi.
"seharusnya ada disini." alan memeriksa peta datar yang joker tunjukkan, dan memang titik merah yang menunjukkan lokasi monster tersebut ada di puncak gunung ini.
alan sekali lagi memeriksa peta yang joker tampilkan. kali ini alan meminta joker untuk menampilkan peta dalam bentuk 3 dimensi. alan bisa melihat jika monster yang harus mereka hadapi ternyata di atas mereka. alan pun melihat ke atas, untuk memastikan monster jenis apa yang harus mereka hadapi.
"menghindar!" alan berteriak ketika dirinya melihat ke atas dan mendapati adanya petir yang sedang melaju ke arah mereka.
__ADS_1
duar...