
Toni sedikit tidak mengerti dengan apa yang kini dirinya hadapi. Seorang Tuan Mason, salah satu pimpinan dari Microboot datang kepada Alan untuk menawarkan suatu kerja sama.
Siapa Alan? Dia hanyalah seorang pemuda biasa, yang secara kebetulan mempunyai akun game di New World. Namun akun game miliknya itulah yang membuat Alan ada di posisinya saat ini. Sebuah akun yang bahkan memiliki kuasa tersendiri untuk suatu tempat bernama Abyss Colloseum.
"Maafkan saya Tuan Mason... Tapi saya tidak bisa menerima apa yang Anda tawarkan..." Alan mencoba menolak secara halus apa yang Tuan Mason tawarkan. Bukan karena dirinya tidak tertarik dengan penawaran dari Microboot, tapi karena dirinya memang belum tentu bisa melakukan apa yang Tuan Mason inginkan.
"Kenapa? Apa jumlah yang kami tawarkan itu kurang?" Mason mengerutkan dahi, mendengar Alan mencoba menolak permintaan dirinya untuk menyewa Abyss Colloseum sebagai tempat penyelenggara turnamen resmi New World.
Remi yang ikut duduk bersama dengan ketiga orang tersebut pun juga tidak kalah terkejut. Player manapun pasti akan langsung setuju dengan tawaran dari Mason. Bayangkan saja... Dua juta Dollar hanya untuk penyewaan lahan dan penggunaan fasilitas yang ada di Abyss Colloseum. Dan Alan masih menolaknya? Remi berpikir jika Alan adalah seorang yang serakah, mencoba menaikkan harga yang Tuan Mason tawarkan. Jika bukan karena adanya Tuan Mason di sampingnya. Mungkin gelas berisi jus di hadapannya sudah melayang ke kepala Alan.
Sementara itu, Toni yang duduk di samping Alan hanya menyodok nyodokkan sikutnya ke sikut Alan. Mencoba memberi tanda kepada Alan agar merubah keputusannya.
"Bukan begitu Tuan Mason... Untuk alasannya... Saya tidak bisa menjelaskan kepada Anda..." Alan mencoba mencari garis tengah. Dirinya tidak ingin menjelaskan posisi dirinya di Abyss Colloseum, namun dirinya juga tidak ingin membuat Mason tersinggung akan penolakannya.
"Jadi begitu... Apa ini ada kaitannya dengan nominal?" Mason memegang dagunya. Dirinya masih mencoba menelisik jalan pikiran Alan yang telah menolak tawarannya.
"Saya bisa pastikan 100% jika ini bukan masalah uang Tuan Mason. Tapi masalah lainnya..." Alan menatap mata Tuan Mason dengan tegasnya. Dirinya tahu jika Tuan Mason sedang menguji dirinya.
"Hem... Baiklah kalau begitu... Kamu bisa menghubungiku jika kamu berubah pikiran..." Mason pun berdiri dari duduknya. Tidak ada lagi urusan baginya untuk tetap berada di tempat ini setelah tawaran yang diberikannya ditolak secara halus oleh Alan.
"Tentu Tuan Mason... Maaf saya telah mengecewakan Anda..." Alan dan Toni pun ikut berdiri, memberi hormat kepada Kepala bagian Humas Microboot dan kepala bagian pemasaran Microboot tersebut.
Kedua pria tersebut langsung meninggalkan restoran tempat mereka bertemu setelah membalas salam hormat dari Alan dan Toni. Lima orang pengawal yang menjaga mereka pun ikut berjalan di belakang mereka. Memastikan kedua orang petinggi perusahaan Microboot tersebut tetap aman.
"Apa kamu gila?" Sekali lagi Toni menyikut Alan. Mencoba menanyakan kepada Alan kenapa dirinya menolak uang berjumlah fantastis tersebut. Dengan Dua juta Dollar, mungkin Alan belum bisa membeli kembali semua tanah di desanya yang direbut oleh Sun Flower Guild. Tapi paling tidak Alan sudah bisa membeli kembali sebagian tanah milik warga yang direbut paksa.
"Kamu tidak tahu masalah sebenarnya Ton..." Alan hanya bisa menjawab seperti itu kepada Toni. Dirinya masih sedikit terkejut darimana Mason dan Remi mengetahui dirinya lah yang berada di balik Abyss Colloseum. Memang dirinya yang mengatur Abyss Colloseum, tapi dirinya tidak memiliki kuasa sepenuhnya atas tempat tersebut. Abyss Colloseum tetaplah milik Kerajaan Bangsa Demon, dan Alan tentu tidak akan mau menjual barang yang bukan miliknya.
Alan bukanlah seseorang yang seperti Pamannya sendiri. Menjual barang milik orang lain untuk bisa mendapatkan uang maupun kedudukan. Itulah prinsip Alan. Prinsip yang Ayahnya selalu ajarkan kepada dirinya dulu.
"Hah... Terserah kamu Lan..." Toni masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Alan. Jalan pikiran Alan memang selalu sulit untuk ditebak, tapi dari jalan pikirannya itulah Alan selalu bisa menghasilkan suatu pikiran yang luar biasa besar.
###
"Apa yang harus saya lakukan pada anak itu Tuan Mason?" Remi langsung bertanya kepada Tuan Mason begitu dirinya dan Tuan Mason memasuki sebuah limo hitam yang menjadi tumpangan mereka berdua.
"Jangan bercanda kamu Remi... Ingat... Dia memiliki kerabat Keluarga Wellington..." Mason hanya terkekeh mendengar pertanyaan bodoh dari Remi. Dari pertanyaannya barusan, terlihat jelas jika Remi benar benar orang yang tidak memikirkan jangka panjang akan perbuatannya.
"Tapi Tuan... Apa yang dia lakukan..." Remi mencoba mengingatkan Tuan Mason akan penolakan yang dilakukan oleh Alan. Bagi dirinya, hal seperti itu bagaikan sebuah penghinaan pada perusahaan Microboot.
Jika bukan karena keberadaan Crystal Jiwa yang bisa membangkitkan nyawa pemain, pihak Microboot tentu tidak akan mau mencoba mengajak Alan bekerja sama. Keberadaan Crystal Jiwa benar benar bisa membuat sebuah turnamen terasa begitu hidup, sebuah pertarungan hidup dan mati tanpa takut kehilangan level. Turnamen seperti itulah yang belum bisa Microboot buat saat ini.
Pihak Microboot sempat mencurigai jika Crystal Jiwa adalah sebuah bug, karena Crystal Jiwa bukan sebuah item yang dibuat oleh White Brain, sistem pembuat Tuhan. Namun divisi tekhnik tidak menemukan adanya tanda tanda bug. Crystal Jiwa adalah resmi sebuah item di New World. Hanya saja memang tidak dibuat oleh White Brain.
Bayangkan saja... Sebuah item yang bisa merusak tatanan sistem New World. Jika item seperti itu sampai menyebar luas, maka tatanan game New World akan kacau. Tidak akan ada lagi sistem penurunan level karena satu item bernama Crystal Jiwa. Jika sampai hal seperti itu terjadi, maka pamor New World sebagai Game VR paling realistis akan lenyap.
"Cukup Remi... Dia pasti punya alasan yang kuat untuk melakukan hal itu..." Cegah Mason sebelum Remi berkata lebih jauh.
"Alasan?"
"Apapun itu, yang pasti bukanlah soal uang..."
"Apa Anda yakin Tuan Mason?"
"Aku bisa melihat dari matanya... Jika dia tidak berbohong..."
__ADS_1
Remi pun memilih diam daripada alasannya harus terus terbantahkan. Bagaimanapun juga Tuan Mason memiliki kedudukan sedikit lebih tinggi daripada dirinya. Dirinya tentu tidak ingin di depak dari perusahaan Microboot hanya karena satu masalah seperti ini.
###
"Lan... Coba pikirkan lah lagi..." Toni masih tetap saja membujuk Alan untuk merubah keputusannya, meskipun kini mereka berdua telah sampai di asrama mereka.
"Sudah aku bilang berapa kali Ton? Aku tidak bisa melakukannya..." Alan mulai merasa kesal sendiri kepada Toni. Jika sudah menyangkut bisnis yang menguntungkan, Toni akan lebih cerewet daripada seorang wanita yang sedang datang bulan.
"Tapi kenapa Lan?" Toni yang tidak mendapat penjelasan yang jelas dari Alan, terus berusaha mencari alasan sebenarnya.
"Kamu ingin tahu alasannya? Datanglah ke Kerajaan Bangsa Demon. Akan aku perlihatkan semuanya kepadamu..." Alan tidak tahu lagi harus berkata apa. Memperlihatkan yang sebenarnya kepada Toni adalah jalan tercepat untuk membungkam mulut Toni yang begitu cerewet.
Alan tidak terlalu menggubris respond dari Toni. Dirinya masih harus mengurus acara pengangkatan Raja Kerajaan Bangsa Demon yang baru, Rendemiz. Dengan memasang helm VR miliknya, pergilah pikiran Alan menuju dunia yang menjadi dunia keduanya. Meninggalkan tubuhnya terbaring di atas kasur di dalam kamar asrama miliknya.
"Hah..." Toni hanya menghela nafas panjang. Dirinya juga mengikuti Alan untuk masuk ke dalam New World.
Sesampainya di New World, Toni langsung menuju ke gerbang teleportasi. Dirinya ingin menuju ke Kerajaan Bangsa Demon untuk mengetahui alasan dari Alan menolak tawaran dari Microboot.
Tidak perlu waktu lama bagi Toni untuk bisa sampai di Kerajaan Demon God, atau yang sebentar lagi akan menjadi Kerajaan Bangsa Demon. Dirinya langsung mengatur sistemnya untuk menghubungi Alan.
"Dimana kamu? Aku sudah datang..."
"Datanglah ke Abyss Colloseum... Bangunan tertinggi kedua setelah Istana Kerajaan."
Tanpa kesulitan yang berarti, Toni langsung menemukan apa yang Alan maksud. Meskipun New World masih malam hari saat ini, Toni tetap tidak akan menunggu matahari terbit. Rasa penasaran di dalam pikirannya terus memacu tubuhnya untuk segera mengetahui alasan Alan. Jika sampai alasan Alan hanya alasan konyol, dirinya akan langsung mencoba membujuk Alan untuk merubah pikirannya.
"Selamat datang Tuan Toni... Silahkan masuk..." Sapa Karolina yang sudah menunggu Toni di depan Abyss Colloseum.
"Darimana kamu tahu?" Toni sedikit terkejut, mendapati adanya seorang NPC yang mengetahui identitasnya...
"Tuan AS sudah menunggu Anda... Mari... Ikuti Saya..." Karolina langsung mengajak Toni untuk masuk ke dalam Abyss Colloseum. Meninggalkan lahan luas di depan Abyss Colloseum yang mulai di datangi beberapa Merchant.
"Terima kasih Karolina... Kamu boleh tinggalkan kami berdua..." Perintah Alan yang masih menata beberapa item di atas meja.
Karolina pun membungkuk memberi hormat dan langsung pergi meninggalkan kedua pemuda tersebut.
"Jadi?" Toni mengawali satu pertanyaan yang mengganjal di pikirannya.
"Kamu lihatlah ini..." Alan menunjuk item item yang ada di atas meja.
Toni pun mendekati Alan dan melihat apa yang ada di atas meja tersebut.
"Ini..."
"Benar... Inilah alasan kenapa mereka mencoba menyewa Abyss Colloseum. Mereka menginginkan item ini untuk mereka gunakan dalam turnamen mereka."
Toni jadi sedikit berpikir mengenai semua kemungkinan, setelah dirinya melihat ada puluhan Crystal Jiwa yang tergeletak di atas meja.
"Tapi kenapa?" Toni mencoba menelisik alasan Microboot menginginkan Crystal Jiwa. Jika memang Microboot menginginkannya, maka cukup Microboot membuatnya. Semudah itu... Tapi kenapa harus melewati Alan.
"Aku tidak tahu pasti... Tapi item ini akan merusak semua tatanan sistem permainan di New World jika sampai item seperti ini menyebar luas."
"Darimana kamu mendapatkan item ini?" Toni tidak habis pikir... Darimana Alan mendapatkan item yang bahkan Microboot sendiri sangat menginginkannya. Dan Alan punya begitu banyak kali ini.
"Itu yang akan aku jelaskan... Persiapkan dirimu..." Alan mengambil The Forgotten Dagger, dan membuka gerbang dimensi menuju The Forgotten World.
__ADS_1
Toni terkejut dengan apa yang Alan lakukan. Namun keterkejutannya berganti menjadi sebuah kekaguman setelah melihat isi The Forgotten World. Sebuah kota yang nampak begitu indah kini terpampang di hadapan Toni. Bahkan mungkin Ibukota Hidden Forrest yang yang terkenal akan keindahannya saja kalah dari Kota yang ada di hadapannya.
"Ayo..." Tanpa berlama lama. Alan mengajak Toni untuk menemui sang pembuat Crystal Jiwa, Asmodias.
###
"Ada apa kamu datang kesini? Apa masih kurang barang barang yang aku buatkan untukmu?" Asmodias langsung sewot setelah melihat kedatangan Alan.
Hal itu wajar... Setiap kali Alan datang menemui Asmodias, maka pasti Alan akan meminta Asmodias membuatkan sesuatu dengan kekuatan special Asmodias.
"Kenapa kamu sewot sekali... Semua yang aku pinta juga untuk pembentukan Kerajaan Bangsa Demon..." Balas Alan yang merasa sedikit kesal dengan Asmodias. Dirinya tidak pernah meminta item untuk dirinya gunakan sendiri. Semua yang dirinya pinta bertujuan untuk membentuk Kerajaan Bangsa Demon yang nyaman untuk ditinggali Bangsa Demon.
"Hah... Baiklah..."
Sementara Toni yang berdiri di belakang Alan hanya mematung melihat Asmodias. Dirinya begitu yakin... Jika sosok di hadapannya kali ini bukanlah sosok sembarangan. Seribu prajurit Light Guardian seperti dirinya sekalipun, belum tentu bisa menang melawan sosok Demon di hadapannya tersebut.
"Siapa dia?" Tanya Asmodias yang menatap curiga pada Toni. Jarang jarang sekali Alan membawa orang lain untuk menemui dirinya.
"Dia temanku... Daripada mengurusi hal itu... Ada hal lain yang harus kamu lakukan..." Alan pun menjelaskan kepada Asmodias mengenai tujuannya datang kesini.
Asmodias sudah menduganya, jika Alan memang bermaksud meminta dirinya untuk membuatkan sesuatu. Namun dirinya juga tidak bisa menolaknya, dirinya tahu jika apa yang Alan pinta adalah untuk kebaikan Kerajaan Bangsa Demon.
"Kamu lihat siapa dia?"
"Hem..." Toni hanya mengangguk dengan pertanyaan Alan. Meskipun dirinya belum tahu siapa Asmodias, tapi dari tampangnya saja sudah terlihat jika Asmodias adalah Demon yang kuat.
"Dia adalah Asmodias... Pemimpin Bangsa Demon yang sebenarnya. Semua yang berkaitan dengan Abyss Colloseum dia lah yang membuatnya. Termasuk Abyss Colloseum itu sendiri..."
"Jadi?" Toni memiringkan kepalanya... Sedikit tidak mengerti dengan penjelasan Alan.
"Pakai otakmu bodoh... Mana mungkin aku menjual barang yang bukan milikku..." Alan memberikan satu sentilan ke kepala Toni. Mencoba menstimulus pemikiran Toni yang sedikit terhambat.
"Ooo..." Toni kini paham kenapa Alan tidak menjual Abyss Colloseum, walaupun sekedar menyewakan. Abyss Colloseum tetaplah milik Kerajaan Bangsa Demon, Alan tidak memiliki hak untuk mengambil keuntungan dari Abyss Colloseum.
"Jadi selama ini kamu mengurus Abyss Colloseum tanpa bayaran?" Toni melirik ke arah Alan.
"Anggap saja ini balas budi bagi mereka telah merawatku selama di Dunia Abyss..." Alan hanya tersenyum kecil menjawab pertanyaan Toni.
###
Hari yang di nanti semua orang telah tiba... Hari final Turnamen Abyss Colloseum yang pertama. Para penonton maupun Merchant sudah mulai berdatangan ke sekitar Abyss Colloseum. Mencoba menjadi yang pertama untuk bisa mendapatkan satu tempat di dalam Abyss Colloseum.
Namun ada yang sedikit berbeda... Area sekitar Abyss Colloseum kini di jaga ribuan Demon. Tidak ada satupun Merchant ataupun player yang boleh mendekati lahan kosong di sekitar Abyss Colloseum. Merchant Merchant yang tadinya sudah menata lapak mereka di tempat tersebut juga harus menerima jika mereka harus pindah terlebih dahulu. Daripada barang dagangan mereka malah disita seperti pedagang asongan yang disita para Satpol PP.
"Kenapa?"
"Apa Final Turnamennya batal?"
Pertanyaan pertanyaan terus keluar dari para player yang bersiap untuk memasuki Abyss Colloseum. Namun karena ketatnya penjagaan yang Bangsa Demon lakukan. Membuat tidak ada satupun player yang berani mendekat lebih jauh.
Pertanyaan tadi sedikit terjawab setelah munculnya satu lingkaran sihir besar di atas Abyss Colloseum.
"Apa itu?"
"Serangankah?"
__ADS_1
Semua orang langsung berpikiran akan adanya suatu serangan dadakan. Mengingat hari ini juga menjadi hari pengangkatan Raja Kerajaan Bangsa Demon. Kuil Cahaya pasti tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi.
Mata semua orang semakin terbelalak setelah melihat apa yang keluar dari lingkaran sihir hitam tersebut. Mereka tidak menyangka jika ada satu kekuatan yang bisa melakukan hal seperti itu.