
Alan merasa sedikit frustasi dengan pangkal belati yang terbang di hadapannya. Berkali kali dirinya mencoba untuk menangkapnya, namun hasilnya selalu sama. Entah dari sudut manapun, posisi seperti apa pun Alan mencoba menangkap pangkal belati tersebut, pangkal belati tersebut selalu tidak bisa dirinya tangkap. Jangankan untuk ditangkap, disentuh pun tidak bisa.
Bahkan Alan telah mencoba menggunakan Shadow Zone untuk mengatur struktur pangkal belati terbang tersebut. Membuat struktur pangkal belati tersebut lebih keras, agar Alan bisa menyentuhnya. Namun hasilnya tetap sama saja. Pangkal belati tersebut seakan tidak mau hinggap dalam pelukan tangan Alan.
"Dasar barang sok jual mahal..." Alan menggerutu sendiri melihat pangkal belati yang masih tebang di hadapannya, seakan akan pangkal belati tersebut sedang mengejek dirinya.
'Joker... Kamu tahu cara menangkap benda itu?' Alan sudah lelah merasa dipermainkan oleh pangkal belati terbang tersebut. Tadinya dirinya berpikir bisa menangkap pangkal belati tersebut tanpa bantuan Joker.
[Kamu perlu menggunakan fragment pertama untuk menangkap fragment kedua AS.]
'Menggunakan Fragment yang pertama?' Jujur saja cara tersebut memang belum Alan coba. Tadinya dirinya berpikir jika dirinya bisa menggabungkan ketiga fragmet setelah dirinya mengumpulkan ketiga fragment seluruhnya.
Perkataan Joker memang sederhana. Alan perlu memasangkan gagang belati kepada pangkal belati yang terbang tidak beraturan. Namun sulit untuk merealisasikannya, bahkan terdengar mustahil untuk orang lain. Mengingat pangkal belati yang terbang tidak beraturan. Tapi tentu tidak dengan Alan, dirinya memiliki Shadow Zone untuk bisa dirinya gunakan.
Tanpa pikir panjang lagi Alan langsung mengarahkan Shadow Zone ke arah pangkal belati yang sedang terbang terbang manja di hadapannya. Memberi harapan palsu kepada siapapun yang mencoba mengambilnya.
"Cukup sudah kamu mempermainkanku!" Alan yang telah menurunkan kecepatan terbang pangkal belati tersebut sampai ke titik terendah langsung menancapkan gagang belati ke pangkal belati yang masih terbang.
Bagaikan sebuah lubang kunci yang bertemu dengan kuncinya. kedua benda di hadapan Alan tersebut langsung menjadi satu. Sebuah cahaya kemerahan langsung keluar dari tempat bertemunya kedua benda tersebut.
"Yosh... Tinggal satu lagi..." Alan tersenyum puas melihat kedua fragment yang sudah di dapatnya. Sudah bisa terlihat bentuk sebenarnya dari The Forgotten Dagger, hanya saja masih kurang bagian ujungnya yang belum lengkap. Namun gambar Demon merah darah yang tadi Alan lihat dari The Forgotten Dagger, sudah tergambar sempurna di kedua Fragment yang Alan kumpulkan.
Tanpa berlama lama... Alan memicu kakinya untuk meninggalkan tanah lapang di tengah labirin. Masuk kembali ke dalam rumitnya lika liku labirin untuk mencari fragment yang terakhir.
Dari peta yang Joker tampilkan Alan bisa melihat jika fragment yang terakhir bagaikan terletak di ujung labirin. Alan perlu menghadapi puluhan Common Demon yang menjaga labirin tersebut. Jumlah jebakan yang perlu Alan hindari pun sama sekali tidak berkurang, malah lebih banyak dari jebakan jebakan yang sebelumnya. Namun Alan tentu tidak mengalami hambatan yang berarti. Keberadaan Joker dan Shadow Zone benar benar memberikan kemudahan bagi Alan untuk mencapai tempat keberadaan fragment yang terakhir.
"Disini..." Alan sampai pada area yang sedikit lapang lagi. Bedanya dari tempat lapang yang sebelumnya, di tempatnya berdiri kali ini lebih sempit dan terdapat bebatuan andesit yang tertata rapi. Bebatuan andesit tersebut bagaikan membentuk sebuah gambar jika dilihat dari atas. Alan menelusuri bebatuan andesit yang tertata rapi tersebut, mencari keberadaan fragment terakhir yang terdapat di tempat tersebut.
Satu menit...
Dua menit...
__ADS_1
Tiga menit...
Sampai lebih dari 15 menit Alan terus berputar putar di antara bebatuan andesit yang berdiri kokoh di sekitarnya, namun dirinya sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan fragment yang terakhir. Padahal di dalam peta yang ditampilkan oleh Joker, fragment terakhir seharusnya berada di antara bebatuan andesit yang ada di sekitar Alan. Namun Alan sama sekali tidak bisa melihat keberadaan fragment yang terakhir.
"Ini aneh... Seharusnya ada di sini." Alan sekali memeriksa peta yang ditampilkan oleh Joker, seharusnya fragment terakhir berada persis di hadapannya. Namun hanya udara hampa yang dirinya lihat, bukan fragment terakhir dari The Forgotten Dagger.
'Joker... Apa petamu salah?' Alan berpikir mungkin joker telah menampilkan posisi yang salah dari fragment terakhir.
[Tidak AS. Data di sistem menunjukkan jika fragment terakhir berada persis di hadapanmu.]
Mendengar jawaban Joker tentu membuat Alan mengerutkan dahi, jika memang fragment terakhir ada di hadapannya. Seharusnya dirinya bisa melihatnya sekarang. Tapi dimana?
"Memang tes ini tidak akan bisa ku selesaikan dengan begitu mudah." Alan bergumam sendiri. Dirinya langsung memperlebar Shadow Zone untuk menutupi seluruh area tanah lapang. Mencoba memeriksa keberadaan fragment terakhir dengan Shadow Zonenya.
Dan benar saja... Alan bisa merasakan adanya sebuah benda tak kasat mata yang sedang melayang tepat di hadapannya. Aura gelap Shadow Zone seakan terbelah sedikit oleh benda tak kasat mata tersebut.
"Jadi begitu..." Alan menyadari tujuan dari tes terakhir ini. Dirinya harus melacak keberadaan suatu benda yang tidak kasat mata. Akan sangat sulit bagi siapapun selain Alan untuk bisa mendeteksi keberadaan fragment terakhir tersebut, mengingat tidak adanya aura atau tanda tanda sama sekali dari keberadaan fragment tersebut.
"Tapi kamu tidak bisa sembunyi dariku." Alan menggunakan kedua fragment yang sudah dirinya kumpulkan untuk menangkap fragment yang terakhir. Menjadikan ketiga fragment tersebut menjadi satu rangkaian fragment yang membentuk sebuah belati utuh.
Cahaya merah darah langsung bersinar terang ketika Alan menggabungkan ketiga fragment tersebut dengan sempurna. Cahaya merah darah tersebut begitu menyilaukan, sampai sampai Alan harus menutup matanya karena saking terangnya.
Cahaya merah darah pun pudar dengan sendirinya. Kini Alan bisa melihat sebuah belati yang begitu mempesona bagi dirinya. Belati hitam dengan hiasan gambar demon berwarna merah darah kini menari nari di tangan kanan Alan. mengkilapnya bagian ujung belati membuat Alan tahu seberapa tajamnya belati di genggamannya. Alan mencoba menebas nebaskan belati tersebut ke udara, mengkhayalkan dirinya sedang menebas lawan lawannya.
Bagaikan bisa menebas udara. Setiap Alan mengayunkan belatinya, seperti terdapat bekas potongan di udara, seakan akan belati Alan bisa menebas udara di hadapannya menjadi dua.
"Benar benar senjata yang sangat bagus..." Gumam Alan puas. Senyum kepuasan tercipta di bibir kecilnya yang tertutup topeng bergambar smile.
Namun Alan tidak bisa tersenyum lama. bebatuan andesit di sekitar Alan bergetar dengan hebatnya. Getaran di bebatuan tersebut menyebar sampai ke batu batu yang menjadi lantai labirin. Alan yang terkejut akan getaran yang muncul tiba tiba sampai tidak bisa berdiri dengan normal.
Bruk...
__ADS_1
Bruk...
Satu demi satu bebatuan di sekitar Alan runtuh. Menjadi debu yang beterbangan dimana mana, begitu juga dengan dinding labirin yang mengelilingi tempat lapang tersebut. Semuanya ikut runtuh dan menjadi debu yang terbang. Dan yang terakhir Alan lihat adalah, batu yang menjadi pijakan kakinya juga seakan ikut runtuh. Satu persatu bebatuan tersebut jatuh ke dalam kegelapan yang ada di bawah labirin.
"Aku harus cepat pergi dari sini." Alan tentu tidak ingin ikut jatuh ke dalam kegelapan yang berada di bawah labirin. Tapi dirinya juga tidak tahu harus kemana. Seluruh lantai yang bisa dipijak jatuh ke dalam kegelapan yang ada di bawah labirin. Mau tidak mau Alan pun harus ikut terjatuh ke dalam kegelapan bersama bebatuan yang tadinya membentuk labirin.
[Player berhasil mengumpulkan ketiga Fragment dari The Forgotten Dagger dengan tingkat kesulitan hard mode.]
Di dalam kegelapan, suara sistem membuat Alan membuka matanya. Dirinya bisa melihat The Forgotten Dagger sedang melayang di hadapannya. Sebuah aura merah darah terpancar dari The Forgotten Dagger. Aura merah darah tersebut menyebar dan menuju kepada tubuh Alan. Menyelubungi tubuh Alan, hingga akhirnya masuk dan menghilang di dalam tubuh Alan.
[Proses pengikatan.]
[Meneliti Class Player.
Class Assassin tidak ditemukan.]
[Menambah class baru untuk player.]
[Second Class telah ditambahkan. Demon Assassins untuk player berhasil ditembahkan. Player kini bisa menggunakan item item untuk class Assassins.]
Alan terkejut mendengar pemberitahuan sistem barusan. Tidak menyangka sama sekali jika dirinya akan mendapatkan class baru dari ujian ini. Namun keterkejutan tersebut langsung berganti dengan kegembiraan setelah mendengar pemberitahuan sistem selanjutnya.
[Player berhasil mengikat The Forgotten Dagger untuk menjadi senjata utamanya. Tingkat penggunaan disesuaikan dengan level kesulitan tes. Player berhak menggunakan 100% kekuatan The Forgotten Dagger.]
Dengan berakhirnya suara pemberitahuan sistem, hilang sudah kegelapan yang sedari tadi mengelilingi Alan. Alan kembali ke dalam ruangan harta di dalam Istana Chigaza.
"Anda tidak apa apa Tuan?" Suara Flyin menyambut kembalinya Alan dari dalam ruang kegelapan.
Alan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Flyin yang berdiri di dekatnya. "Belum pernah sebaik ini Flyin." Senyum kemenangan terpancar di bibir kecilnya.
Walaupun tertutup oleh topeng berwajah smile, Flyin bisa tahu jika Alan sedang dalam kondisi yang sangat gembira. Flyin pun bisa bernafas lega setelah membaca isi pikiran Alan. Dirinya sudah dipusingkan dengan kata kata apa yang harus dirinya katakan kepada Tuan Azazel jika terjadi sesuatu kepada Alan.
__ADS_1
Alan menatap tajam The Forgotten Dagger yang kini di genggamnya. Diayunkannya beberapa kali The Forgotten Dagger tersebut di udara, dan hasilnya tetap sama seperti ketika dirinya mengayunkannya di dalam labirin. Udara seakan telah terpotong menjadi dua di tempat Alan mengayunkan belatinya.
"Mari kita lihat atribut apa yang kamu punya." Alan sudah tidak sabar untuk memeriksa atribut dari The Forgotten Dagger. Melihat akan seberguna apa The Forgotten Dagger bagi dirinya nanti.