New World

New World
Keluarnya Shadow Blood


__ADS_3

Gelap... Kegelapan di sekelilingnya... Hanya itu yang Alan lihat sejauh mata memandang. Tidak ada bebatuan maupun tanah kering nan tandus yang tadi dirinya jumpai tadi.


"Apa aku mati?" Alan mencoba memeriksa perutnya yang tadi terluka. Namun tidak ada luka sama sekali di perutnya. Bahkan rasa sakit yang tadi dirinya rasakan pun seakan sirna. Hilang seperti tidak ada luka sama sekali.


"Apa seperti ini rasanya kematian di dalam New World?"


'Joker...'


Alan mencoba bertanya tanya... Namun tidak ada siapapun yang menjawabnya. Bahkan Joker sekalipun. Padahal selama ini Joker selalu bersama dengan Alan dimanapun dirinya berada.


Beberapa detik kemudian muncul sebuah layar di depan Alan. Layar tersebut menampilkan bebatuan dan tanah tandus nan kering tempat Alan berada tadi. Di layar tersebut terlihat semacam aura kegelapan yang tipis.


Gambar di dalam layar Alan pun bergerak dengan sendirinya. Seakan akan layar tersebut adalah sebuah siaran langsung yang ditampilkan dari sebuah kamera.


"Apa ini?" Alan mencoba menyentuh layar tersebut, namun ternyata tangannya hanya melewatinya begitu saja. Menandakan layar tersebut tidak bisa disentuh sama sekali.


Alan pun lebih memilih diam dan menyaksikan apa yang akan ditampilkan oleh layar tersebut.


Dari layar tersebut Alan bisa melihat sosok Dirda. Demon yang menjadi lawannya tadi. Alan bisa melihat jelas wajah Dirda yang begitu ketakutan. Seakan akan Dirda sedang menghadapai sosok yang sangat menakutkan.


Dirda pun membalikkan tubuhnya, mencoba untuk kabur dari tempatnya berada tadi.


"Apa ini? Apa yang terjadi?"


Alan hanya bisa mengira ngira. Apa mungkin Flyin telah bangun dan datang membantunya? Tapi jika itu Flyin, bagaimana dirinya bisa melihat apa yang terjadi?


Aura kegelapan yang tadinya begitu tipis di layar pun kini semakin tebal, bahkan hampir seluruh layar di hadapan Alan berubah gelap. Aura tersebut menyebar sampai menutupi tempat Dirda berdiri.


Dirda yang sedang berusaha lari langsung terhenti, Tidak bergerak sedikitpun. Gambar layar pun kini menunjukkan seperti sang pemegang kamera sedang berlari kencang menuju ke arah Dirda.


Slash...


Sebuah pedang langsung menebas leher Dirda. Memisahkan kepala Dirda dari tubuhnya. Darah hijau langsung menyembur dari tubuh Dirda yang perlahan lahan ambruk.


"Itu kan..." Alan tentu hafal dengan pedang yang baru saja menebas leher Dirda. Pedang itu adalah Wind Short Blade yang selama ini dirinya gunakan.


"Tapi... Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa tubuhku bergerak dengan sendirinya?" Alan mencoba meneliti serangkaian kejadian satu persatu. Mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Satu satunya kemungkinan adalah tubuh Alan bergerak dengan sendirinya atau ada yang menggerakkan. Tapi siapa? Pertanyaan itu langsung muncul di kepala Alan jika memang benar tubuh Alan ada yang menggerakkan.


Tampilan di layar pun kini berubah lagi. Tampilan itu sekarang menunjukkan langit kemerahan, seakan akan sang pemegang kamera sedang tidur dan merekam gambar langit.


"Seperti itu seharusnya yang kamu lakukan sedari tadi!"


Sebuah suara tiba tiba terdengar dari area gelap di sekitar Alan. Alan hanya menengok ke kanan dan ke kiri. Mencoba mencari sosok yang berbicara barusan.


Sebuah bayangan hitam tanpa bentuk tiba tiba mendekati Alan. Bayangan tersebut terbang, tidak memiliki kaki maupun tangan, hanya saja bayangan tersebut memiliki sepasang mata merah yang menyala dalam gelap.

__ADS_1


"Siapa kamu?" Alan tentu terkejut melihat sosok bayangan yang tiba tiba muncul di dekatnya.


"Aku? Hahaha..."


"Aku adalah kamu... Dan kamu adalah aku."


"Maksudmu?" Alan tidak mengerti akan apa yang dimaksud oleh bayangan hitam tersebut. Aku adalah kamu? Tidak mungkin jika ada hal seperti itu.


"Percuma aku bilang... Sekarang kembalilah... Tubuhmu masih terlalu lemah untuk aku pakai!"


"Apa?" Alan semakin tidak mengerti akan apa yang bayangan hitam terebut bicarakan. Tubuhnya terlalu lemah? Bahkan Alan termasuk golongan player terkuat saat ini. Bagaimana bisa bayangan hitam tersebut mengatakan jika tubuhnya terlalu lemah?


Namun bayangan hitam itu tidak menjawab Alan. Bayangan hitam itu langsung menghilang begitu saja.


"Salam untuk temanmu yang ada di dalam pikiranmu itu. Katakan padanya aku hanya bercanda... Hahaha..."


Dengan suara tawa dari bayangan hitam tersebut, pandangan Alan kembali pada langit merah yang ada di atasnya. Alan mendapati dirinya tengah terbaring di atas tanah. Rasa sakit di perutnya kini kembali dirinya rasakan.


Alan mencoba untuk bangkit, mengambil potion penyembuh dari tas sistemnya.


"Ah... Sepertinya aku harus mulai membuat potion lagi." Alan meratapi stock potionnya yang tinggal beberapa puluh botol. Kini Alan harus benar benar bijak dalam penggunaan potion penyembuh. Jika dirinya tidak ingin kehabisan potion penyembuh sebelum dirinya bisa kembali ke dunia tengah.


Alan terpaksa harus menenggak 5 botol potion untuk memulihkan luka lukanya dan mengembalikan Hpnya yang tersisa kurang dari 10%. Luka luka yang dirinya rasakan pun berangsur angsur menghilang, menutup dengan sendirinya.


'Joker...'


Suara Joker nampak gemetaran. Seakan akan Joker sedang ketakutan.


'Ada apa? Kenapa suaramu seperti itu?'


[Ti... Tidak apa apa AS...]


'Ah... Sudahlah... Apa kamu tahu siapa yang tadi ada di dalam tubuhku?'


[De... Demon... De... Demon yang sangat jahat.]


'Demon?'


Alan tidak tahu persis apa yang telah terjadi antara Joker dan Demon tersebut, tapi sepertinya itu sesuatu yang buruk. Sampai sampai Joker harus terbata bata ketika berbicara.


"Demon ya..." Satu satunya kemungkinan jika yang mengendalikan tubuh Alan adalah Demon, pasti Demon tersebut berhubungan dengan Shadow Blood yang ada di dalam tubuhnya.


"Apa mungkin Shadow Blood ini memiliki nyawa sendiri?" Masih tergambar jelas di kepala Alan bagaimana tubuhnya bisa menghabisi Dirda dengan mudahnya. Akan sangat berbahaya jika nantinya tubuhnya dikendalikan oleh Demon tersebut seutuhnya. Usahanya selama ini akan menjadi sia sia belaka.


Dan tentu saja... Tujuannya selama ini bermain game New World akan langsung sirna. "Aku benar benar harus menjadi kuat seutuhnya..." Bukan hanya kekuatan fisik yang Alan maksudkan. Tapi juga kuat secara mental di dalam hati. Jika benar Shadow Blood di dalam tubuhnya hidup, mau tidak mau Alan harus menghadapinya suatu saat nanti.

__ADS_1


Alan memilih untuk mengkesampingkan pemikirannya tentang Shadow Blood terlebih dahulu. Masih ada satu Demon yang harus dirinya tangani, Legart.


Alan mendapati tubuh Leigart masih tergeletak di atas bukit bebatuan. Luka di dada kiri Legart sangatlah jelas terpampang. Dari luka yang diderita oleh Legart, Alan bisa mengetahui jika tubuh Legart tidaklah sekuat tubuh tubuh Dirda. Meskipun tetap saja lebih kuat dari Common Demon. Seharusnya Critical Wind Spearnya bisa membunuh Legart jika Legart hanyalah Common Demon.


"Si...Siapa kamu?" Legart yang melihat Alan mendekatinya tentu terkejut. Dirinya tidak menduga jika Dirda akan kalah di tangan Alan.


"Siapa aku? Harusnya aku yang bertanya seperti itu." Alan menatap Legart dengan tajam.


"Kamu akan menyesal jika membunuhku!"


"Oh... Begitukah? Lalu apa kamu juga menyesal sekarang karena telah mencoba membunuhku?"


Legart tentu marah mendengar apa yang Alan katakan. Selama ini tidak ada yang berani merendahkan dirinya seperti itu, bahkan di dalam kelompoknya sekalipun.


"Dengar... Seluruh anggota Demon Raider akan memburumu jika kamu membunuhku." Legart tersenyum puas setelah berkata. Dirinya yakin Alan akan sangat ketakutan setelah mendengar dirinya merupakan salah satu anggota Demon Raider.


"Demon Raider?" Alan menyipitkan kedua matanya yang bisa terlihat jelas dari balik topengnya.


"Hahaha... Kamu takut kan sekarang? Serahkan harta hartamu dan pergilah..." Legart benar benar puas sekarang. Dirinya sangat yakin kebesaran nama Demon Raider kini telah menggetarkan jiwa Alan.


Namun tawa Legart terhenti di tengah jalan. Pedang Alan menebas leher Legart, menghentikan suara tawa Legart yang terasa bising di telinga Alan.


"Uargh..." Suara serak keluar dari mulut Legart. Yang menandakan Legart sedang sangat tersiksa saat ini. Suara tersebut tidak bertahan lama sampai akhirnya hilang dengan sendirinya, seiring dengan hilangnya nyawa Legart. Bayangan hitam pun keluar dari tubuh Legart dan masuk ke tubuh Alan. Memberikan sensasi hangat yang lebih dari biasanya.


"Advance Demon memang berbeda." Gumam Alan setelah mendapatkan jiwa Demon dari Legart.


"Apa yang terjadi Tuan?"


Suara Flyin memaksa Alan untuk mengalihkan pandangannya ke arah Flyin. Terlihat Flyin sudah berada di dekat Alan. Dari penampakannya sepertinya Flyin baru saja bangun dan langsung buru buru menuju ke tempat dirinya.


"Tidak apa apa... Hanya masalah kecil..." Alan lebih memilih membersihkan pedangnya dari darah hijau daripada menjawab pertanyaan Flyin. Bukan karena tidak ingin menjawab atau apa. Tapi Flyin nantinya juga akan tahu sendiri setelah Alan memikirkannya. Alan terlalu malas untuk menjelaskan pada Flyin jika ternyata Flyin bisa mengetahui dengan sendirinya.


"Sepertinya Anda mendapatkan masalah besar kali ini Tuan." Flyin yang membaca pikiran Alan tentu langsung memperingatkan Alan.


"Maksudmu Flyin?"


"Demon Raider bukanlah sembarangan kelompok perampok. Kelompok Mereka terorganisir dengan sangat baik."


"Lalu apa yang harus ditakutkan?"


"Kekuatan pemimpin mereka hampir sama dengan kekuatan Jenderal Demon. Anda benar benar dalam masalah kali ini."


"Benarkah? Baguslah kalau begitu." Alan tetap menanggapi perkataan Flyin dengan santai, meskipun Flyin sudah memperingatkan Alan akan kekuatan pemimpin Demon Raider.


"Hah..." Flyin hanya bisa menghela nafas panjang setelah mendengar perkataan Tuannya. Jujur saja dirinya terkejut setelah membaca isi pikiran Alan.

__ADS_1


"Sepertinya Tuan Azazel memang benar. Dia benar benar orang yang sangat tepat..." Flyin pun melangkahkan kakinya, mengikuti Alan yang lebih dahulu berjalan.


__ADS_2