New World

New World
Land of Death 2


__ADS_3

Thang...


Thang...


Setiap tebasan yang Alan lancarkan hanya bisa memberikan luka goresan kepada Litch Demon yang kini tengah mengepungnya. Lebih dari Ribuan Litch Demon berusaha untuk sebisa mungkin menjadi yang terdekat dengan Alan, mencoba mendapatkan jiwa Demon yang Alan miliki.


Sementara Flyin... Dirinya juga terus menerus memberikan pukulan dengan tangan kosongnya ke arah kepala Litch Demon yang mengepungnya. Setiap pukulan dari Flyin mampu menghancurkan kepala Litch Demon menjadi berkeping keping, menandakan Flyin tidak kesulitan sama sekali dalam menghadapi para Litch Demon yang mengepung dirinya. Tapi entah mengapa, Litch Demon yang mengepung Flyin tidak sebanyak Litch Demon yang mengepung Alan.


Alan juga tidak ingin membuang buang waktunya hanya untuk memikirkan penyebab Litch Demon lebih tertarik kepada dirinya dari pada Flyin. Alan lebih terlalu disibukkan menghindari tulang tulang tak berdaging yang sedari tadi mencoba merobek robek tubuhnya. Untung saja Alan memiliki skill Shadowing, kalau tidak... Mungkin dirinya sudah menjadi daging cincang oleh tangan tangan tak bertulang yang sedari tadi mengincarnya.


"Kenapa tulang mereka juga keras?" Alan tentu terkejut mendapati pedang dan belatinya tidak bisa menghancurkan kepala dari Litch Demon. Tadinya dirinya beranggapan jika pertarungan ini akan mudah, dan dirinya bisa mengumpulkan jiwa Demon dalam jumlah yang banyak.


[Litch Demon adalah Demon yang mati tapi dihidupkan kembali. Tubuh mereka sama kuatnya dengan Demon yang masih hidup.]


Penjelasan dari Joker membuat Alan mengerti semuanya. Kulit Demon yang masih hidup saja sudah sangat sulit untuk menembusnya, apa lagi tulangnya. Pasti butuh tenaga ekstra bagi Alan untuk bisa menghancurkan kepala Litch Demon.


"Ini akan berbahaya jika terus seperti ini." Alan yang sedari tadi menghindari serangan Litch Demon merasa sedikit frustasi. Akan sangat berbahaya jika Alan hanya bisa membunuh para Litch Demon dengan mengandalkan skill skillnya. Satu skill untuk satu Litch Demon? Lalu berapa lama pertarungan ini akan berlangsung? Itupun jika Alan belum kehabisan stamina atau mati terbunuh terlebih dahulu.


Flyin yang melihat Alan terdesak langsung mencoba menghampiri Alan. Dengan cepatnya Flyin membantai semua Litch Demon yang berada di jalurnya untuk sampai pada tempat Alan.


"Anda tidak apa apa Tuan?" Flyin berdiri membelakangi punggung Alan. Pandangannya tetap awas menatap seluruh Litch Demon yang kini mengepung dirinya dan Alan.


"Tidak ku kira akan sesulit ini Flyin..." Alan memberikan senyuman kecil. Menandakan apa yang terjadi saat ini benar benar di luar perkiraan Alan.


"Cobalah gunakan kekuatan special Anda Tuan... Itu pasti akan sangat membantu untuk menghadapi mereka." Sambil menangkis serangan Litch Demon yang datang Flyin memberikan saran kepada Alan.


Alan sependapat dengan Flyin, tapi dirinya harus berkonsentrasi penuh untuk bisa mengumpulkan Shadow Blood dalam satu titik lalu menyebarkannya. Di tengah tengah kepungan Litch Demon seperti ini, bagaimana mungkin Alan bisa duduk bermeditasi untuk mengumpulkan Shadow Blood? Cari mati namanya jika Alan sampai melakukan hal seperti itu.


"Jangan terlalu terpaku pada satu rencana Tuan... Coba Anda lakukan dalam cara lain." Flyin mencoba memberi saran di sela sela waktu dirinya menghancurkan kepala Litch Demon yang tidak ada habisnya.


"Cara lain? Mudah untuk dikatakan Flyin..." Alan hanya bisa tersenyum kecut menanggapi perkataan Flyin. Dirinya terlalu sibuk menghindari para Litch Demon yang mencoba mencabik cabik dirinya. Jangankan untuk memikirkan cara lain mengeluarkan Shadow Blood, untuk bisa keluar dari kepungan para Litch Demon ini saja Alan tidak bisa memikirkan caranya.


Sementara Alan dan Flyin dikepung oleh ribuan Litch Demon, Rendemiz tetap berdiam diri. Dirinya menggunakan kekuatan specialnya agar para Litch Demon tidak bisa mendeteksi keberadaanya.

__ADS_1


"Bodoh... Apa yang dia lakukan?" Rendemiz begitu kesal melihat Alan seakan bermain main dengan para Litch Demon. Padahal seharusnya Alan bisa mengalahkan para Litch Demon yang mengepungnya dengan mudah jika Alan menggunakan kekuatan specialnya.


"Apa benar dia belum mampu mengendalikan kekuatan specialnya?" Rendemiz bergumam sendiri. Tadinya dirinya masih tidak percaya jika Alan belum mampu menggunakan kekuatan specialnya. Tapi setelah melihat Alan begitu tersudut dan tetap tidak menggunakan kekuatan specialnya, Rendemiz baru bisa percaya.


Rendemiz ingin sekali membantu Alan, namun dirinya juga tidak yakin akan berguna bagi Alan dan Flyin. Yang ada nanti dirinya malah menjadi beban tambahan bagi mereka berdua. Diam... Hanya itulah pilihan terbijak yang bisa Rendemiz ambil saat ini.


'Bagaimana bocah? Sudah menyerah?'


Sebuah suara kembali terngiang di dalam kepala Alan. Alan tentu masih ingat dengan sosok pemilik suara tersebut.


'Shadow Blood?'


'Hahaha... Tidurlah! Dan biarkan aku melahap semua jiwa mereka...'


'Jangan harap!'


'Semangat yang bagus bocah... Tapi sampai kapan kamu akan bisa bertahan seperti ini?'


'Diam kamu!!! Aku tidak punya waktu untuk meladeni semua ucapanmu!'


'Hahaha... Menarik... Menarik... Baiklah bocah... Kali ini aku akan berbaik hati mengajarimu menggunakan kekuatanku. Tapi kamu harus melahap seluruh jiwa Demon yang ada di tempat ini tanpa sisa!'


'Mengajariku?' Satu pernyataan dari Shadow Blood cukup membuat Alan tertarik. Meskipun Alan masih belum mengerti maksud dan tujuan Shadow Blood yang sebenarnya. Tidak mungkin Shadow Blood akan dengan senang hati mengajarinya menggunakan Shadow Zone tanpa ada maksud tersembunyi.


'Yang harus kamu lakukan sebenarnya sangat sederhana! Cukup alirkan rasa hangat yang ada di dalam tubuhmu ke arah bayanganmu! Shadow Zone akan otomatis keluar dengan sendirinya.'


'Ke dalam bayangan?' Jujur saja cara tersebut tidak pernah terpikirkan oleh Alan. Selama ini Alan selalu mencoba mengalirkan sensasi hangat yang ada di dalam tubuhnya ke beberapa bagian tubuh. Namun sangat sulit untuk bisa mengeluarkan Shadow Zone dengan sempurna.


"Aku harus menciptakan momen yang tepat!" Walaupun sudah mengetahui cara untuk mengaktifkan Shadow Zone, Alan tentu tidak bisa langsung melakukannya. Alan masih perlu waktu untuk bisa mengalirkan sensasi hangat di dalam darahnya ke bayangannya.


"Tornado Dance!"


Seketika tornado langsung muncul di dekat Alan berdiri. Hanya skill inilah yanh bisa memberikan waktu yang cukup bahi Alan untuk bisa mencoba mengaktifkan Shadow Zone. Tornado lagsung menghisap para Litch Demon yang berada di dekat Alan. Para Litch Demon yang tidak terhisap pun mencoba menjauhi tornado yang tiba tiba muncul di tengah tengah area pertempuran.

__ADS_1


Alan tentu tidak ingin membuang waktu terlalu lama. Dirinya langsung berdiri dengan tenang sambil menutup kedua matanya. Memfokuskan pikirannya agar bisa mengalirkan sensasi hangat yang ada di dalam tubuhnya ke dalam bayangannya.


Perlahan lahan sensasi hangat di dalam tubuh Alan mengalir ke bawah kakinya. Alan juga bisa merasakan sensasi hangat yang telah melewati telapak kakinya langsung hilang di ujung jari kakinya. Seakan akan sensasi hangat tersebut dengan sendirinya masuk ke dalam bayangannya.


Aura kegelapan perlahan naik dari bayangan Alan, Aura kegelapan yang muncul di sekitar Alan pun semakin banyak, seiring dengan semakin banyaknya sensasi hangat yang Alan alirkan ke dalam bayangannya.


"Akhirnya..." Flyin yang melihat adanya aura kegelapan yang muncul dari bayangan Alan pun hanya bisa tersenyum kecil. Dirinya sangat yakin jika Alan telah berhasil mengontrol kekuatan specialnya.


Setelah durasi Tornado Dance habis, Alan baru bisa mengalirkan setengah dari seluruh sensasi hangat yang ada di dalam tubuhnya. Suara tubuh Litch Demon yang berjatuhan dari udara memaksa Alan untuk membuka kedua matanya.


Alan mendapati tubuhnya kini diselimuti oleh aura kegelapan yang sangat pekat. Jauh lebih pekat dari aura kegelapan yang pernah Alan lihat dari Deathmark dan anak buahnya.


Thang...


Belum sempat Alan selesai mengamati aura kegelapan yang menyelimutinya, seorang Litch Demon telah menyerang Alan dari belakang. Namun serangan Litch Demon tersebut tidak berhasil menyentuh Alan.


Tangan tanpa daging Litch Demon terhenti ketika tangan tersebut menyentuh aura kegelapan yang menyelimuti Alan. Seakan akan aura kegelapan tersebut menjadi perisai pelindung bagi tubuh Alan.


Alan tentu merasakan adanya tangan yang menyentuh aura kegelapan di sekitarnya. Aura kegelapan di sekitar Alan ini seakan akan menjadi perpanjangan dari tubuh Alan. Semua yang menyentuh aura kegelapan ini akan langsung Alan rasakan.


"Jadi seperti ini cara kerjanya..." Alan masih mencoba mengamati cara kerja Shadow Zone. Setahu Alan, dirinya bisa mengontrol Shadow Zone sesuai kehendaknya.


"Mari jadikan kalian tikus percobaan." Alan tersenyum dengan liciknya. Sudah tidak sabar untuk mencoba coba apa saja yang bisa dilakukan oleh Shadow Zone.


###


Sementara di dalam tubuh Alan, sosok bayangan hitam tanpa kaki dan tangan tengah melihat suatu layar datar. Dari layar datar tersebut terlihat gambar yang sama persis dengan apa yang dilihat dari mata Alan.


Kepala bayangan hitam tersebut sedikit bergerak. Seakan membentuk sebuah senyuman kecil.


"Bagus bocah... Dapatkan jiwa jiwa mereka. Berikan kekuatan yang nyata kepadaku."


Bayangan hitam tersebut terlihat sangat menikmati pertarungan yang disajikan dari layar datar. Dirinya sudah tidak sabar untuk mendapatkan kekuatan dari jiwa jiwa para Litch Demon yang akan dibunuh Alan.

__ADS_1


__ADS_2