New World

New World
supenova guild


__ADS_3

Di dalam mobil setelah Toni dan Milton meninggalkan stasiun.


"Milton... Ada apa tiba tiba keluarga besar berkumpul? Apakah ada hal yang penting?" Tanya Toni yang penasaran. Keluarga Wellington adalah keluarga besar yang memiliki berbagai bisnis di beberapa negara. Anggota keluarganya pun juga tersebar di beberapa negara untuk mengurus bisnis keluarga. Sangat jarang bagi keluarga besarnya untuk berkumpul kecuali ada masalah yang penting.


"Saya juga tidak mengetahuinya secara pasti Tuan Muda. Saya hanya diminta untuk membawa Anda kembali ke kediaman utama."


"Hah.... Ini pasti akan merepotkan. " Gumam Toni.


Milton yang mendengarnya pun hanya bisa melongo. Toni sangat berbakat dalam manajemen bisnis. Tapi dia sama sekali tidak tertarik untuk ikut campur dengan bisnis keluarga.


Keesokan paginya. Toni terbangun karena ketukan pintu kamarnya.


"Tuan Kuda... Sarapan sudah siap."


"Ya.... Aku sudah bangun." Toni pun bangkit dari ranjang dan ke kamar mandi untuk membersihkan muka. Dengan lemas dia berjalan menuruni tangga untuk menuju ke ruang makan.


Terlihat sekitar 17 orang sudah berkumpul di meja makan yang panjang. Masing masing dari mereka sudah berpakaian dengan rapi. Berbagai hidangan juga sudah tertata rapi di atas meja. Meskipun ini hanya sarapan, akan tetapi makanan yang tersedia pun selayaknya ada jamuan pernikahan.


"Pagi semua..." Sapa Toni kepada keluarga besarnya.


"Ya ampun Toni. Kamu belum siap siap?" Tanya seorang wanita yang telah berdandan sangat cantik. Wanita ini adalah Lusiana Wellington. Ibu dari Toni Wellington dan istri dari Chriss Wellington.


"Belum... Setelah sarapan aku langsung siap siap." Ucap Toni dengan datar.


"Dasar pemalas... Mau sampai kapan kamu akan seperti itu?" Salah seorang pemuda yang tampak berumur 20an tahun yang duduk di samping Lusiana menyahut. Pemuda ini adalah Steven Wellington. Kakak kandung dari Toni Wellington.


"Ah... Siap siap cuma 5 menit juga." Toni sambil menarik kursi dan langsung mengambil roti.


"Toni... Yang dikatakan kakakmu benar. Paling tidak, ubah lah kebiasaan jelek mu itu. Apakah kamu tidak malu dengan keluarga besarmu?" Chriss menambahkan.


"Baik Ayah..."


Paman, Bibi dan Sepupu Toni pun hanya menahan tawa karena melihat Toni pagi pagi sudah mendapat ceramah.


Milton memberitahu Toni semalam kalau Toni diminta untuk berdandan yang rapi besok pagi. Karena pertemuan keluarga besar akan diadakan di luar rumah.


Selesai sarapan Toni kembali ke kamar untuk bersiap siap. Tidak sampai 10 menit Toni kembali menuruni tangga. Dengan setelan jas mewah berwarna hitam Toni sudah siap untuk acara keluarga.


"Sebenarnya kita mau kemana Bu?" Tanya Toni yang berada satu mobil dengan Ibunya.


"Nanti kamu juga tahu. Yang pasti kamu pasti akan suka dengan tempatnya."

__ADS_1


"Aku akan suka? Jangan jangan keluarga besarku sudah tahu hubunganku dengan May. Dan mereka ingin melamar May?" Batin Toni sambil hatinya sumringah.


Rentetan mobil keluarga Toni pun masuk ke sebuah gedung yang menjulang lebih dari 20 lantai. Toni merasa kecewa karena ternyata keluarga besarnya tidak ke bukit tempat May tinggal.


Rombongan keluarga Wellington pun masuk ke gedung tersebut. Bodyguard bodyguard berjaga dari pintu masuk sampai ke lift. Rombongan Keluarga Wellington langsung menuju ke lantai 17.


Thing...


Pintu lift terbuka, di lantai 17 gedung ini ruangannya begitu luas. Tidak ada sekat atau dinding yang digunakan untuk membagi ruangan menjadi ruangan ruangan kecil. Hanya sebuah layar monitor besar terpampang di ujung ruangan.


"Selamat datang Keluarga Wellington." Sapa salah seorang pria paruh baya dengan pakaian jas berwarna coklat.


"Silahkan... Mari masuk Tuan Chriss... Bagaimana kabar Anda?" Pria itu menyalami Chriss dan mengajaknya masuk.


"Baik pak Winston. Apakah ini yang akan menjadi tempatnya?" Jawab Chriss.


"Hahaha.... Anda memang tidak suka berbasa basi Tuan Chriss. Yang Anda lihat saat ini barulah sebagian saja. Kedepannya ini akan menjadi tempat pelatihan. Untuk tempat operasional dan perawatan ada di lantai atas semua. Mari sebelah sini Tuan-tuan dan nyonya-nyonya."


"Sebenarnya tempat apa ini?" Bisik Toni pada Steven.


"kamu tidak tahu?" Steven memasang wajah terheran heran.


Toni pun hanya menggelengkan kepala.


"New World?" Toni pun terkejut. Seluruh anggota keluarga sampai menoleh ke arahnya. Toni yang mendapati dirinya jadi pusat perhatian keluarganya langsung memerah wajahnya.


Setelah sampai di depan monitor besar. Winston pun menjelaskan tentang rencananya dan kenapa Wellington sangat tepat jika berinvestasi kepadanya.


Winston menjelaskan tentang sebuah guild bernama Supernova. Sebuah guild dengan anggota lebih dari 1000 orang. Anggota dari Supernova adalah para gamer gamer sejati yang telah berkecipung di dunia game.


Tidak luput pula Winston juga menjelaskan tentang kondisi New World sekarang. Dimana semua peluang bisnis masih tersedia. Mulai dari pasar jual beli, perbankan, industri militer dan lain lain. Chriss yang mendengarkan dengan seksama juga mulai tertarik dengan penjelasan Winston. Dia menilai peluang bisnis di New World sangat menjanjikan.


Di tengah penjelasan dari Winston. Seorang pria berpakaian rapi menghampiri Winston. pria tersebut membisikkan sesuatu ke Winston.


"Apa?" Winston memasang expresi sangat terkejut setelah mendengar bisikan dari pria tersebut.


"Tuan dan Nyonya sekalian. Saya pastikan sekarang adalah waktu yang sangat tepat untuk anda semua berinvestasi. Saya baru saja mendapat informasi bahwa pencipta dari New World telah dibunuh. Nicroboot tentu akan menggunakan kesempatan ini untuk menunjang pemasaran New World."


"Hiro Tamada terbunuh?" Toni dan Steven terkejut. Mereka mengetahui pencipta New World adalah Hiro Tamada karena mereka berdua bermain New World.


"Sepertinya kedua Tuan Muda sekalian sudah mengetahui tentang New World. Tentunya apa yang saya sampaikan tadi sangat menarik kan buat anda?" Winston tersenyum setelah Toni dan Steven terkejut. Tentu itu akan mempermudah dirinya untuk mendapatkan investasi dari keluarga Wellington.

__ADS_1


"Itu benar tuan Winston. Tapi untuk mendapatkan investasi dari kami tentunya anda juga harus membayar dengan harga yang tidak kecil." kata steven.


"Tentu Tuan Muda. Boleh saya tahu syarat dari anda?"


"Aku ingin jadi Guild Master, dan adikku menjadi wakilnya. "


"Hem... Itu sungguh harga yang sangat besar. kehilangan posisi Guild Master itu artinya kami kehilangan identitas Guild. Saya hanya bisa menawarkan posisi Wakil Guild Master kepada anda berdua." Winston menjawab dengan santai. Tandanya dia sudah bersiap siap dengan syarat tersebut.


"Aku tidak masalah. Asalkan keputusan tertinggi tentang perkembangan guild tetap ada pada Ayah saya. Untuk operasional, selama itu menguntungkan untuk Guild, Aku percayakan posisi Guild Master kepadamu."


"Tentu tidak masalah Tuan Muda." Winston tersenyum bahagia. Rencananya berhasil dengan sempurna. Kini dia bisa membangun pusat gamer untuk para anggota guildnya.


####


Toni akhirnya bisa terbebas dari keluarga besarnya dengan kembali ke asrama. Walaupun kebebasannya mungkin hanya bersifat sementara. Karena sekarang dia menjadi salah satu Wakil Guild Master dari Guild binaan keluarganya.


Toni sempat menolak untuk menjadi Wakil Guild Kaster. Tapi Ayahnya mengancam akan menghentikan seluruh aliran dananya ke Toni. Toni pun mau tidak mau harus menuruti keinginan Ayahnya. Dia belum siap untuk hidup tanpa aliran dana dari keluarganya.


Di dalam kamar Toni mendapati Alan sedang memakai helm VRnya. "Kenapa Alan tidak log out? Ini kan malam hari di new World."


Toni sebenarnya ingin bercerita kepada Alan tentang guild keluarganya dan kondisinya. Tapi mendapati Alan sedang di New World Toni pun mengurungkan niatnya. Akhirnya Toni memilih pergi ke dojo untuk bertemu May.


"Benar benar..." Di dojo Toni mendapati May sedang berlatih dengan pedang kayunya. Toni hanya berdiri memandangi May. Rambut merah yang kontras dengan warna kulitnya, keringat tipis yang membasahi dahinya.


"Mau 1 tahun kaya begini pun aku bakalan betah..." Gumam Toni.


"Ehem..." Andre yang sudah berada di belakang Toni pun batuk perlahan untuk membangunkan lamunan Toni.


Andre sudah mengetahui kalau Toni dan may memiliki hubungan selama ini. Hanya saja dirinya masih berpikir ulang karena status Tini yang merupakan anak bangsawan. Andre tidak mau dikira menjadi tukang panjat sosial dengan mengandalkan anaknya.


"Eh... Pak Andre... Sudah dari tadi Pak? Mari masuk Pak..." Toni bingung sendiri karena ketahuan memandangi anak orang.


"Apa maksudmu? Ini kan rumahku..." Andre memasang muka sangar...


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tambah Andre.


"A... a.. a...anu... Ini pak... Saya mau latihan pedang." Jawab Toni sekenanya.


"Bagus... Ayo latih tanding denganku... kebetulan aku sedang ingin menggerakkan badan." Andre menimpali. Dia ingin memberi Toni sedikit pelajaran karena memandangi anaknya.


Toni pun hanya bisa menelan ludah setelah mendengar ajakan Andre.

__ADS_1


"Mati aku..."


__ADS_2