New World

New World
Hadiah Juara Turnamen


__ADS_3

Di saat Toni disibukkan dengan para calon investor, Alan juga tidak berdiam diri. Kini dirinya tengah bersama dengan kedua juara Turnamen Abyss Colloseum. Ken sebagai juara pertama, dan XXX sebagai juara kedua.


Kerajaan Bangsa Demon telah sesumbar akan memberikan apapun yang diminta oleh Ken, selama Ken bisa menang melawan Shadow Warrior. Namun nyatanya Ken tetap tidak bisa menang. Tapi sebagai juara pertama dan kedua, kedua player tersebut tetap berhak untuk mendapatkan suatu hadiah dari Abyss Colloseum. Untuk itulah kali ini Alan membawa kedua player tersebut untuk ikut bersama dirinya.


Langkah ketiga orang tersebut terhenti pada sebuah ruangan yang kosong seluas 25 meter persegi. Ken dan XXX tentu bingung sendiri, mendapati mereka berdua kini dibawa pada sebuah ruangan kosong. Pikiran buruk jika mereka berdua akan di sekap pun sempat tersirat di dalam pikiran mereka berdua.


"Sebagai juara pertama dan kedua, kalian berdua berhak untuk memilih hadiah yang akan kalian dapatkan..." Alan memecah keheningan di antara mereka bertiga.


Ken dan XXX pun saling bertatap muka. Mereka berhak memilih hadiah, namun di hadapan mereka tidak ada apa apa yang bisa dipilih, alias kosong. Lalu apa yang harus mereka pilih?


"Aku tahu apa yang kalian pikirkan... Silahkan dipilih..." Alan mengibaskan tangan kanannya, seketika kedua dimensional ring yang tersemat di jarinya bersinar. Satu memancarkan warna hijau terang, satu lagi memancarkan warna ungu tua.


Dan bagaikan sebuah pertunjukan sulap. Setelah Alan mengibaskan tangan kanannya, muncullah barang barang yang terbang perlahan untuk menuju rak rak yang kosong. Masing masing barang langsung dengan sendirinya memposisikan diri pada tempat yang teesedia dengan rapi.


"Waw..."


"Ini..."


Reaksi kedua player tersebut jauh di atas normal. Berkali kali mereka mengusap mata mereka, untuk memastikan kebenaran akan apa yang mereka saksikan saat ini.


Ratusan barang bernilai tinggi kini berada di hadapan XXX dan Ken. Masing masing dari mereka terlihat seakan sedang melambaikan tangan ke arah XXX dan Ken untuk segera mengambilnya.


"Silahkan dipilih... Pastikan kalian memilih dengan cermat... Ingat! Kalian hanya diijinkan memilih satu barang..." Alan berusaha menahan tawanya setelah melihat reaksi dari XXX dan Ken. Mungkin jika dirinya berada pada posisi mereka, Alan juga akan melakukan hal yang sama.


Tanpa menunggu perintah Alan yang kedua kalinya, kedua juara Turnamen Abyss Colloseum tersebut langsung menghampiri rak rak yang kini terisi barang barang bernilai tinggi. Mereka berdua berusaha mencari item yang cocok untuk dirinya pakai nantinya.


"Tidak usah terburu buru... Kita memiliki banyak waktu... Pastikan apa yang kalian pilih benar benar item yang kalian butuhkan..."


XXX dan Ken tidak menghiraukan himbauan dari Alan. Mereka terlalu sibuk memandangi item yang ingin mereka pilih. Ingin sekali rasanya mereka berdua mengambil semua yang ada di rak tersebut. Sekali melihat tanpa memeriksa atributnya pun, XXX dan Ken bisa tahu jika item item yang ada di rak tersebut paling tidak berkelas Epic.


Setelah memilih selama lebih dari setengah jam, akhirnya Ken memutuskan untuk mengambil sebuah item. Sebuah tombak berwarna coklat tua, dengan sebuah ukiran rune hitam tersemat di gagang tombak.

__ADS_1


Berbeda dengan tombak biasa yang hanya memiliki satu mata tombak di bagian atas. Tombak yang dipilih oleh Ken memiliki mata tombak di bagian atas dan bawah tombak tersebut. Dan juga... Tombak tersebut bisa dibagi menjadi dua. Dengan sebuah rantai yang menghubungkan masing masing bagian setengah tombak.


"Pilihanmu jatuh ke senjata? Alan sedikit terkejut, mendapati Ken memilih sebuah senjata dari pada item item yang lainnya. Padahal ada begitu banyak item yang lebih bisa berguna bagi Ken, daripada hanya sebuah senjata Epic Class. Bukannya Alan menyalahkan pilihan Ken, hanya saja Alan tahu jika Ken ahli bertarung tangan kosong. Sangat disayangkan jika Ken memilih sebuah senjata daripada item item lainnya yang mungkin bisa berguna untuknya.


"Ya... Bertarung denganmu mengajarkan diriku satu hal... Aku tidak boleh terpaku pada kekuatan tubuhku ini. Aku harus memiliki rencana cadangan jika aku tidak bisa menggunakan kekuatan tubuhku..." Jawab Ken yang masih memainkan tombak yang dirinya pilih.


"Hem begitu... Pilihan yang bijak..." Alan mengapresiasi apa yang dipilih oleh Ken. Tidak dirinya sangka, pertarungan antara dirinya dan Ken bisa membuka satu pola sudut pandang baru untuk Ken.


Sementara Ken sudah menemukan apa yang dirinya inginkan, XXX masih saja berkutik dengan item item yang terpajang di rak rak yang kosong. XXX benar benar dibuat bingung, semua item yang ada di ruangan ini begitu bernilai. Dirinya sampai pusing sendiri karena terus membandingkan atribut dari satu item dengan item lainnya.


"Masih belum menemukan apa yang kamu inginkan?" Ken bertanya pada XXX. Jika memang XXX masih bimbang dan memerlukan waktu lebih lama, Ken berencana untuk meninggalkan XXX terlebih dahulu. Sudah tidak ada lagi urusan bagi dirinya untuk terus berlama lama di Abyss Colloseum.


"Aku bukanlah orang seperti dirimu... Yang tidak teelalu mempertimbangkan kegunaan dan kehebatan item yang aku pilih..." XXX menjawab pertanyaan Ken dengan sedikit nada sewot. Pertanyaan Ken justru mengaburkan semua pemikirannya yang sedang membandingkan atribut item di hadapannya.


"Terserah kamu... Kalau begitu aku akan pergi dulu..." Ken pun memilih untuk berpamitan. Menunggu XXX memilih barang hampir sama dengan menunggu seorang wanita berbelanja, kamu bisa menyelamatkan dunia atau merebus daging naga ketika kamu sedang menunggu hal tersebut.


"Aku pergi dulu... Hubungi aku jika kamu sudah menentukan waktu yang tepat untuk taruhan kita..." Ken berpamitan kepada Alan. Sebagai tamu yang baik, tentu dirinya harus berpamitan pada sang empunya rumah.


"Hem..." Ken langsung meninggalkan ruangan tempat Alan dan XXX berada.


"Ken..." Alan melemparkan sebuah kotak kecil kepada Ken yang baru saja keluar dari ruangan. Ken yang kembali menoleh ke arah Alan, langsung dengan sigap menangkap apa yang Alan lemparkan.


"Terima kasih untuk pertarungannya, aku harap itu bisa memuaskanmu..." Senyum terkembang di wajah Alan yang melihat Ken menangkap kotak yang dirinya lemparkan.


"Sama sama..." Ken kembali melanjutkan langkah kakinya, tanpa membuka isi kotak tersebut. Sangat tidak sopan melihat isi kotak pemberian orang, di hadapan orang yang memberikan. Barulah setelah dirinya cukup jauh dari ruangan tempat Alan berada, Ken membuka isi kotak sembari terus berjalan.


"Dasar... Benar benar player yang menarik..." Ken tersenyum kecil melihat isi kotak tersebut. Ada sepuluh botol Absolute Regeneration Potion berjajar dengan rapi di dalam kotak berwarna hitam yang dirinya pegang. Ken pun benar benar menaruh hormat pada Alan, yang telah memberikan Absolute Regeneration Potion meskipun dirinya telah kalah dalam taruhan.


###


"Jadi... Masih mau berapa lama?" Alan semulanya masih sabar menunggu XXX memilih barang. Namun setelah dua jam dan XXX terus menerus berputar putar tanpa kejelasan, Alan pun hilang kesabaran.

__ADS_1


"Bisa tunggu sebentar lagi? Aku benar benar bingung..." XXX benar benar bingung dalam memilih item yang akan dirinya pilih. Mau memilih senjata, dirinya sudah punya belati kembar. Mau memilih baju pelindung, Bathory Blood miliknya lebih efektif. Mau memilih item penunjang lainnya seperti sayap atau item lain, XXX sudah memiliki jubah hitamnya. XXX benar benar bingung dalam memilih item, semua yang dirinya butuhkan sudah dirinya miliki saat ini.


"Hah... Baiklah... Aku beri waktu lima belas menit lagi..."


Lima belas menit pun berlalu dengan cepat. Pada akhirnya XXX tidak mendapatkan apapun juga.


"Jadi?" Alan sedikit bingung, melihat XXX tidak membawa satu pun item yang terpajang di rak.


"Sepertinya aku tidak memerlukan item fisik lagi. Bolehkah aku meminta hal lainnya?" XXX sedikit malu malu dalam berujar. Dirinya merasa apa yang akan dirinya katakan tidak pantas bagi dirinya yang hanya seorang juara kedua.


"Cepat katakan!"


"Ehm... Bisakah kalau aku memilih posisi di Kerajaan Bangsa Demon saja... Sepertinya itu akan lebih berguna bagiku, dari pada item item yang terpajang di tempat ini.


"Apa?" Alan sedikit terkejut, bukan karena apa yang diminta oleh XXX sulit dipenuhi. Melainkan karena apa yang diminta oleh XXX justru tidak ada kaitannya dengan item item yang ada di ruangan ini. Dua jam lebih menunggu XXX memilih item, dan hasilnya permintaan XXX tidak ada hubungannya dengan item yang sedari tadi dipilih oleh XXX. Jika saja bukan karena suasana hati Alan yang sedang bagus, mungkin para Demon penjaga akan mendapatkan santapan sore kelelawar bakar.


"Tidak bisa ya? Maaf kalau begitu... Saya akan segera memilih item saja kalau begitu..." XXX membalikkan badannya untuk sekali lagi memilih item yang tersedia.


"Tunggu... Tunggu..." Alan langsung mencegah apa yang XXX ingin lakukan. Alan tidak tahu akan berapa lama lagi dirinya harus menunggu XXX jika XXX memilih item item yang ada. Time is money, dan Alan tidak ingin membuang waktu terlalu banyak hanya untuk menunggu XXX memilih item.


"Baiklah... Tapi aku harap kamu tidak menyesal dengan posisi yang aku berikan..." Alan sedikit mengancam XXX, jika sampai XXX mengkhianati Kerajaan Bangsa Demon, maka Alan tidak akan segan segan memobilisasi Bangsa Demon untuk terus membunuh XXX hingga XXX jatuh ke level 0.


"Tentu saja tidak... Saya akan menerima posisi apapun yang diberikan..." XXX menjawab dengan sumringah. Jika dirinya benar benar bisa mendapatkan posisi di Kerajaan Bangsa Demon, maka dirinya tidak perlu repot repot berburu para player atau NPC manusia untuk diambil darahnya. Pihak Kerajaan Bangsa Demon tentu akan menyediakan darah merah untuk dirinya.


"Bagus kalau begitu... Pakailah ini sebagai bukti kesetiaanmu pada Kerajaan Bangsa Demon..." Alan memberikan sebuah Bracelet Curse untuk XXX gunakan.


[Player telah memakai Bracelet Curse... Aktifitas dan lokasi player akan dipantau sepenuhnya oleh The Eye. Setiap pelanggaran peraturan yang dilakukan player akan langsung mendapat hukuman.]


"Sial... Apa ini?" XXX terkejut bukan main. Setelah dirinya memakai Bracelet Curse, sebuah notifikasi sistem tiba tiba bergema di telinganya. Sebuah notifikasi yang memperingatkan dirinya akan adanya peraturan peraturan yang berlaku bagi anggota Kerajaan Bangsa Demon.


"Selamat datang di Demon Familiy... Mulai sekarang kita semua adalah keluarga..." Sambut Alan setelah melihat XXX memakai Bracelet Curse yang dirinya berikan. Dengan memakai Bracelet Curse, maka XXX bersedia mengabdikan diri kepada Kerajaan Bangsa Demon.

__ADS_1


***Bonus tengah malem... Author insomnia.. Daripada gabut, mending nulis.. Ya gak? hahaha***


__ADS_2