New World

New World
End of Arc 3


__ADS_3

Tiga hari sudah turnamen Abyss Colloseum selesai di selenggarakan. Abyss Colloseum kini kembali menggelar pertandingan biasa. Namun karena efek turnamen yang pertama, para petarung yang ingin mencoba menantang jagoan jagoan Abyss Colloseum pun semakin banyak. Membuat Abyss Colloseum yang telah ramai, menjadi lebih ramai dari biasanya.


Bahkan tidak hanya peserta petarung saja yang melonjak. Jumlah penonton yang ingin menonton pertandingan di Abyss Colloseum juga ikut melonjak secara drastis. Abyss Colloseum benar benar bisa menjadi sebuah daya tarik tersendiri untuk menjadi destinasi tujuan para player.


Bagaimana tidak? Abyss Colloseum kini selalu menyajikan pertarungan hidup dan mati setelah turnamen Abyss Colloseum di selenggarakan. Keberadaan Crystal jiwa tentu menjadi faktor penentu perubahan peraturan pertarungan.


Tidak sedikit pula para petarung yang mencoba untuk mencuri Crystal jiwa setelah mereka bertarung di Abyss Colloseum. Mereka tentu sangat tertarik dengan fungsi Crystal Jiwa yang bisa menggagalkan penalti kematian.


Namun tentu saja... Tidak ada satupun yang bisa lolos dari ketatnya penjagaan Bangsa Demon. Alan sudah mewanti wanti kepada Flyin yang ditugaskan untuk mengurus Abyss Colloseum, jika Crystal Jiwa tidak boleh sampai keluar dari Abyss Colloseum. Mengingat fungsi Crystal Jiwa bisa merusak tatanan permainan New World.


Membludaknya para penonton dan petarung, membuat Alan harus berpikir keras untuk bisa mengatur kelancaran operasional Abyss Colloseum. Untung saja Toni dengan senang hati membantu Alan selama 3 hari belakangan. Membuat pekerjaaan Alan menjadi lebih mudah.


Dengan bantuan saran dan masukan dari Toni, Abyss Colloseum kini telah menjadi sebuah super blok yang khusus digunakan untuk destinasi wisata para player. Wisata bertarung, wisata belanja, dan wisata perjudian. Akan lebih lengkap lagi jika di Abyss Colloseum ada suatu tempat khusus untuk wisata hiburan.


Bukan karena tidak adanya investor yang tertarik untuk mengisi dana, hanya saja Alan memang masih menunda hak seperti itu. Rencana itu masuk ke dalam pengembangan Abyss Colloseum tahap 2. Abyss Colloseum harus bisa berkembang lagi ke depannya, dan Alan merasa perkembangan Abyss Colloseum saat ini sudah lebih dari cukup.


Barulah nanti setelah para player merasa bosan dengan semua fasilitas yang ada di Abyss Colloseum, rencana pengembangan tahap 2 akan Alan gencarkan. Agar Abyss Colloseum tetap bisa menarik perhatian para player di New World sampai beberapa tahun ke depan.


"Apa yang mengganjal pikiranmu?" Toni menghampiri Alan yang tampak sedang melamun di tepi ruangan. Pandangannya mengarah ke luar ruangan, dimana kaca besar tembus pandang di hadapannya menjadi pembatas antara Alan dan udara luar. Kelap kelip penerangan Ibukota Kerajaan Bangsa Demon nampak bisa Alan saksikan dari tempatnya berdiri.


Dari sekali melihat pantulan bayangan Alan di kaca tersebut, Toni bisa tahu jika Alan nampak sedang berpikir keras. Alan adalah tipikal orang yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi. Ketika dirinya sedang kalut atau banyak pikiran, maka wajahnya langsung akan menampilkan apa yang ada di pikirannya.


"Tidak..." Alan tidak berbalik ke arah Toni, pandangannya tetap lurus ke arah Ibukota Kerajaan Bangsa Demon yang masih tetap hidup, meskipun waktu di New World kini tengah memasuki malam hari.


"Ayolah... Kamu tidak akan bisa berbohong kepadaku... Aku bahkan ada ketika kamu jatuh terpuruk, jadi aku tahu orang seperti apa dirimu..."


"Benarkah? Orang seperti apa aku?" Kali ini Alan mengalihkan pandangannya ke arah Toni. Dirinya ingin tahu penilaian Toni terhadap dirinya selama ini.


"Ah... Kamu ingin jawaban jujur atau jawaban menyenangkan?"


"Apaan? Tentu jujur..." Alan justru merasa kesal, mendengar jawaban dari Toni yang seakan sedang menggoda dirinya.


"Ok... Kamu orang yang merepotkan..." Jawab Toni dengan acuhnya. Tidak peduli jika Alan akan marah dengan perkataannya.


"Hahaha..." Alan hanya tertawa, mendengar jawaban dari Toni. Dirinya tidak tersinggung atau apa dengan ucapan Toni tadi. Karena Alan tahu, seperti apa Toni itu.

__ADS_1


"Jadi... Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" Toni ikut berdiri di samping Alan. Memandangi kelap kelip pencahayaan yang menyinari Ibukota Kerajaan Bangsa Demon.


Jujur saja... Apa yang Toni lihat ini benar benar menenangkan hati, melihat kelap kelip pencahayaan di dalam gelapnya malam dari atas ketinggian. Seakan akan beban permasalahannya sedang terangkat semua dari pikirannya. Gelapnya malam yang bisa teratasi dengan lampu pencahayaan yang mengisi Ibukota. Seakan mengingatkan Toni pada dirinya, jika sebuah masalah pasti akan ada solusinya.


Tinggal bagaimananya kita akan melihat, apakah akan melihat ke arah langit yang gelap, atau melihat ke arah cahaya yang menjadi sumber penerangan. Semua tergantung pada pribadi yang menjalankan hidupnya.


"Entahlah... Mungkin aku akan langsung ke Kerajaan Black Dessert. Tapi aku akan melihat dulu beberapa hari... Apakah aku masih dibutuhkan atau tidak di Kerajaan ini..."


"Hem..." Toni hanya tersenyum mendengar jawaban dari Alan. Alan memang tidak pernah bermain main dalam satu urusan. Semua urusan yang dirinya kerjakan harus benar benar tuntas, sebelum dirinya melanjutkan urusan lainnya. "Sepertinya kamu akan terus dibutuhkan di Kerajaan ini..."


"Ya... Aku tahu tentang hal itu..." Alan tidak bisa mengelak perkataan Toni. Tidak mungkin Kuil Cahaya akan begitu saja membiarkan sebuah Kerajaan Bangsa Demon terus berdiri. Namun tetao saja... Alan juga tidak bisa terus berdiam diri di Kerajaan ini. Dirinya harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang Sun Flower Guild. Walaupun dirinya bisa mendapatkan informasi dari Death Mask, Alan tidak akan bisa mengatur rencana yang akan dirinya lakukan jika dirinya tidak melihat secara langsung kondisi Kerajaan Black Dessert.


"Lalu? Apa yang akan kamu lakukan?" Toni langsung menanyakan langkah lanjutan Alan. Sebuah pertanyaan yang tentu akan sulit untuk dijawab oleh Alan.


"Biarkan semua berjalan dengan semestinya... Aku akan selalu siap datang jika Kerajaan ini diserang nantinya." Jawab Alan dengan lugas. Pandangannya terarah ke luar ruangan yang kini mulai berangsur berkurang tingkat keramaiannya.


"Kalau kamu bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan jika Kuil Cahaya menyerang Kerajaan ini? Membantuku? Atau berpihak pada Kuil Cahaya?" Alan berganti memberikan pertanyaan yang sulit dijawab kepada Toni.


"Aku tidak bisa menjawabnya kali ini... Tapi yang pasti... Aku akan membela yang benar..." Toni tidak berani memandang kedua bola mata Alan yang menatap tajam dirinya. Jika dirinya melakukan hal itu, maka Alan akan tahu keraguan tersirat di dalam perkataannya barusan.


"Ya... Kamu benar..." Toni terdiam sesaat. Merenungkan apa yang Alan katakan barusan. "Apapun yang terjadi di antara kita di dunia ini... Aku tidak akan pernah meragukan persahabatan kita di dunia nyata..."


"Aku tahu hal itu... Kamu memang sahabat terbaikku..." Alan menepuk pundak Toni. Merasa bangga telah memiliki sahabat seperti dirinya.


###


Di suatu taman yang ditanami begitu banyak bunga bungaan, duduklah seorang pria yang nampak ditemani beberapa orang wanita. Masing masing baik pria maupun wanita tersebut memiliki enam enam pasang sayap yang menjadi satu dengan punggung mereka. Menandakan semua orang yang ada di taman tersebut merupakan seorang Angel. Terdengar canda tawa dari Enam Angel yang sedang bersenda gurau di taman tersebut. Nampak sangat mereka menikmati waktu yang mereka habiskan di dalam taman nan indah dan mempesona.


"Tuan..."


Salah seorang pelayan yang juga mempunyai enam pasang sayap berjongkok memberi hormat di dekat enam Angel tersebut.


Tawa semua Angel tersebut langsung berhenti seketika. Satu satunya Angel pria yang ada di tempat tersebut langsung berdiri dari kursinya dan menghampiri pelayan yang masih jongkok sambil menundukkan kepala.


"Ada apa?" Nampak sekali Angel tersebut tidak senang waktunya telah diganggu oleh pelayannya.

__ADS_1


"Hamba membawa berita baik dan buruk..." Tidak ada keraguan dalam perkataan pelayan tersebut. Menandakan dirinya siap menerima semua konsekuensi untuk menyampaikan berita yang akan dirinya sampaikan.


"Apa berita buruknya?"


"Bangsa Demon telah kembali ke dunia tengah, mereka telah berhasil mendirikan sebuah kerajaan dalam beberapa hari..."


"Oooh... Lalu berita baiknya?"


"Pedang yang Anda cari selama ini terpantau di Kerajaan Bangsa Demon yang baru. Anda bisa memerintahkan pasukan untuk segera merebut pedang itu..."


"Hahahaha....." Angel pria tersebut langsung tertawa, mendengar pedang yang dirinya cari selama ini telah keluar dari persembunyiannya. Pedang yang seakan bisa menghentikan waktu, Timeless Blade. Begitulah kabar yang terdengar tentang pedang itu.


Namun jika pedang itu berada di tangan yang tepat, pedang itu bisa melakukan hal yang lebih dari sekedar menghentikan waktu. Dan dirinya tahu bagaimana cara menggunakan Timeless Blade secara maksimal.


"Bagus sekali Luganof... Kamu boleh pergi..." Perintah Angel pria tersebut pada pelayannya.


"Lalu bagaimana Tuan? Apa kita akan langsung bergerak?" Luganof nampak bingung, karena tidak mendapat perintah dari Tuannya. Seharusnya Tuannya tersebut langsung memerintahkan dirinya untuk membawa pasukan ke Dunia tengah dan merebut Timeless Blade.


"Kenapa terburu buru? Pedang itu tidak akan kemana mana... Lagipula masih banyak hal yang mesti kita persiapkan disini..."


"Baik Tuan..." Luganof langsung pergi meninggalkan taman indah tersebut. Dirinya tidak ingin mengganggu waktu Tuannya yang nampak sedang asyik dengan para Angel wanita. Terlalu lama di tempat tersebut justru akan membuat dirinya merasa iri pada Tuannya.


"Timeless Blade keluar, Kerajaan Bangsa Demon terbentuk... Perang besar akan tercipta sekali lagi... Aku benar benar harus mulai serius sekarang..." Senyum kecil terpancar di wajah Angel Pria tersebut. Sudah tersusun dengan rapi di dalam pikirannya, apa saja yang harus dirinya lakukan setelah ini.


Tapi yang pertama akan dirinya lakukan adalah, menikmati waktu bersama enam Angel wanita yang kini menemaninya di House of Eden ini.


***Chapter ini menjadi akhir dari Arc ke 3, Rise of Demon Kingdom. Semoga kalian semua terhibur selama membaca cerita sederhanaku ini...


Maaf kalau masih banyak kurang di dalam cerita ini... Semua karena Author hanyalah manusia biasa, bukan luar biasa. Karena Author sudah biasa di luar, makanya tidak mau luar biasa. hahaha...


Stay Safe for you all...


Sampai jumpa di Arc ke 4... Nantikan kemunculan Shoote Sun ya...


Thanks for your Like n Vote.***

__ADS_1


__ADS_2