
Srek srek srek srek
Suara gesekan sapu lidi dengan tanah. Seorang gadis sedang menyapu daun daun yang berguguran di depan dojo. Gadis itu berambut merah berkulit putih seputih salju, membuatnya terlihat kontras dengan rambutnya. Tapi siapapun yang memandang gadis itu pasti langsung akan terpana akan kecantikan alami. Mungkin inilah yang orang orang sebut dengan bidadari turun dari kahyangan.
Alan terbangun dari tidurnya karena mendengar suara itu. Kepalanya terasa sedikit pusing.
"Ahh... Dimana aku?" Alan terkejut melihat sekelilingnya. Seingatnya dirinya semalam mengantarkan seorang pria mabuk. Tapi Alan berada di dalam sebuah kamar sekarang.
Alan membuka pintu kamar. Matahari pagi yang hangat langsung menyilaukan matanya.
Alan menoleh ke arah suara gesekan sapu tersebut. Seketika alan terpaku melihat gadis itu. Kecantikan alami yang benar benar memabukkan Alan.
"Ahh... Sepertinya aku terbangun di surga." Alan yang masih terpesona pada gadis itu bergumam dengan pelan.
Gadis itu melihat alan duduk di teras dojo dan memandanginya. Dia pun menghentikan aktifitas menyapunya dan menghampiri Alan.
"Ahhh.... kamu sudah bangun. Bagaimana keadaanmu?" Tanya gadis itu.
Alan seketika sadar dari lamunan pesonanya. "Ahh... Maaf?" Alan tersipu malu karena ketahuan sedang memandangi gadis itu dengan semua khayalannya.
Gadis itu cekikikan melihat tingkah Alan. "Tidak apa apa. Bagaimana keadaanmu?" Tanya gadis itu sekali lagi.
__ADS_1
"Aku baik baik saja. Tapi kepalaku terasa sedikit pusing, seperti habis terbentur sesuatu." Kata Alan sambil memegangi dahinya.
Gadis itu langsung panik seketika mendengar perkataan aalan. Dia lah yang menjadi penyebab Alan pingsan semalam. Sebenarnya dia tidak sengaja melempar sandal kayu itu ke Alan, semuanya hanya karena refleknya saja yang terkejut melihat bayangan siluet Alan bertelanjang dada.
"Biar aku ambilkan teh hangat. Siapa tahu bisa membantu meringankan sakit kepalamu." Gadis itu langsung masuk ke dalam.
Gadis itu kembali lagi setelah 5 menit berselang dengan membawa secangkair teh hangat.
"Silahkan diminum, mungkin kamu akan merasa lebih baik setelahnya." Kata gadis itu.
Alan benar benar tersipu malu. Pikiranya langsung terbang, "Kalau saja dia jadi istriku kelak. Suasana seperti ini pasti akan ku dapatkan setiap hari." Batin Alan dalam hati.
Alan meminum teh itu. Mereka berdua mengobrol berdua di depan dojo itu cukup lama. Dari obrolan itu alan tahu kalau gadis itu bernama M**aylea Ascend**. Dia sering dipanggil dengan May. Umurnya 1 tahun di bawah Alan, yang berarti May kelas 3 sekolah menengah sekarang. Obrolan mereka berdua benar benar nyambung. Mungkin karena keduanya sama sama anak tunggal jadi mereka berdua bisa cepat akrab.
"Ahh... Itu ayahku... Sudah bangun juga si sialan itu." Gerutu May.
Alan tercengang dengan sikap May. Ada anak yang berani bersikap seperti itu kepada ayahnya. Kalau Alan bersikap seperti itu pada ayahnya. Ayahnya pasti marah besar, bisa bisa Alan habis dipukuli ayahnya.
Pintu terbuka setelahnya. Seorang pria berambut sebahu keluar dari dalam. Bau alkohol masih samar samar tercium dari tubuhnya.
"Ohh.... Ayah sudah bangun?" Tanya May.
__ADS_1
"Siapa dia may? Kenapa bertamu pagi pagi begini?" Pria itu balik bertanya dan pandangannya mengarah ke Alan.
"Ayah... Alan ini yang membantu ayah pulang semalam. Bukannya berterima kasih malah curiga curiga seperti itu." Alan pun hanya cengar cengir mendengar percakapan ayah dan anak ini.
"Ohh... Maaf sekali Alan? Aku kira kamu pacarnya May. Hahaha.... Terima kasih banyak kamu telah membantuku semalam. Perkenalkan namaku A**ndre Ascend** pemilik dan pengurus dojo ini."
"Tidak masalah Pak Andre. Aama saya Alan Scraft, senang berkenalan dengan anda."
Andre ikut duduk mengobrol dengan mereka. tapi May memilih masuk ke dalam, ingin menyiapkan sarapan katanya. Alan pun diajak untuk sarapan bersama dengan mereka.
Selesai sarapan Alan memilih berpamitan untuk mengurus pendaftaran ulang di Mediteran University. Andre memaksa untuk mengantar Alan, dengan alasan ingin bertemu dengan teman lamanya di Universitas tersebut.
Setelah seharian mengurus registrasi dan mendapatkan kunci kamar asrama alan menemui Andre di depan gerbang kampus.
"Pak Andre terima kasih banyak atas bantuannya hari ini. Saya pamit untuk langsung ke asrama saya." Kata Alan.
"Kamu mau langsung ke asrama? Tidak mau menginap di tempatku dulu lebih lama?" Balas andre.
"Terima kasih banyak Pak Andre. Saya takut merepotkan keluarga Pak Andre terlalu banyak." Tolak Alan dengan halus.
"Haiklah... Berhati hatilah kamu disana. Sering sering lah main ke tempatku."
__ADS_1
"Terima kasih banyak Pak Andre. Saya pasti akan mengunjungi Pak Andre dan May. Saya mohon pamit."