
duduk sendiri di atas batu besar, hanya kepulan asap dari sebatang rokoknya yang menemaninya. duduk termenung, orang lain jika melihat mungkin dia sedang berpikir keras. namun nyatanya, kesepian lah yang sebenarnya dirinya rasakan.
jonta... itulah namanya, umurnya baru 12 tahun. anak dari sebuah keluarga yang berkecukupan. ayahnya adalah seorang walikota di tempat tinggalnya, sedangkan ibunya adalah seorang dosen di suatu univertsitas.
mungkin sekilas mendengar cerita tentang dirinya, orang akan berpikir jika hidupnya sangatlah nyaman. namun tidak kenyataannya. kekurangan fisik menjadi penghambat dirinya.
jonta lahir dengan kekurangan di kedua kakinya, membuatnya tidak bisa berjalan sama sekali. hal itulah yang membuat jonta merasa kurang percaya diri dengan dirinya sendiri. seharusnya orang tuanya lah yang membantu jonta untuk bisa beradaptasi dengan keadaannya, sehingga jonta bisa hidup dengan normal.
naas bagi jonta, kasih sayang serta dukungan dari orang tua yang seharusnya dirinya dapatkan nyatanya hanyalah sekedar mimpi indah dalam tidurnya. orang tuanya yang merasa memiliki kedudukan tinggi malu memiliki anak seperti jonta. alhasil jonta hidup dalam keterasingan, walaupun dirinya tinggal di rumahnya. yang kedua orang tuanya tahu hanyalah memberi jonta uang untuk memenuhi kebutuhannya.
namun... berbeda dengan disini. di sebuah dunia yang bernama new world. di dalam new world ini jonta bisa merasakan yang namanya berjalan dengan kedua kakinya. perasaan yang tidak bisa dirinya rasakan sejak dirinya dilahirkan.
hanya saja, jonta tidak terbiasa untuk berinteraksi dengan kebanyakan orang. kehidupannya selama ini yang selalu terasingkan membuatnya tidak bisa berhubungan baik dengan orang orang di sekitarnya. sekali lagi... jonta merasakan yang namanya terbuang dari lingkungannya. kali ini bukan karena kekurangan fisiknya, namun karena kurang piawainya dirinya dalam berinteraksi.
kesepian jonta bisa sedikit terobati dengan teman teman yang dirinya buat. mungkin orang lain tidak bisa mengatakan teman teman jonta tersebut sebagai teman. karena teman yang jonta ciptakan sangatlah tabu.
ya... teman jonta adalah monster undead yang dirinya ciptakan dari sihirnya. sebuah skill langka yang dirinya beli dari pasar gelap new world.
"uargh..."
suara seorang monster undead mengejutkan jonta. mungkin kalau orang biasa hanya akan mendengar raungan dari monster, namun berbeda dengan jonta. dirinya yang telah menciptakan monster tersebut, dan kebiasaan dirinya berinteraksi dengan monster monsternya membuat dirinya mengerti bahasa yang mereka gunakan.
"apa?" jonta tentu langsung bangkit dari atas batu dan segera meninggalkan tempatnya duduk tadi. bersembunyilah jonta di sebuah pohon tidak jauh dari tempatnya duduk tadi.
"siapa mereka?" jonta melihat segerombolan orang yang lewat di tanah lapang.
"mereka pasti yang telah membunuh warga warga desa!" jonta tidak berpikir panjang setelah melihat segerombolan orang yang lewat. dirinya langsung mengaktifkan skill andalannya.
jonta tersenyum senang mendapati segerombolan orang tersebut telah terkepung oleh monster monsternya.
senyum dari jonta menghilang setelah melihat segerombolan orang tersebut menerobos kepungan monster undeadnya. "dasar pengecut... beraninya cuma lari!"
tidak ingin menghabiskan mana terlalu banyak, jonta langsung menonaktifkan skillnya. salah satu kelemahan dari skill summoner undead yang dirinya miliki adalah penggunaan mana yang sangat besar. sampai sampai jonta memakai perlengkapan pelindung diri yang memfokuskan diri pada penguatan jumlah mana.
jonta kembali menyalakan rokoknya lagi. menikmati salah satu racun dunia yang tidak bisa dirinya tinggalkan.
setelah menghabiskan beberapa batang rokok jonta kembali melihat salah satu orang yang berada di kelompok tadi keluar dari hutan. "kenapa dia kembali?"
jonta langsung memeriksa sekelilingnya, takut jika dirinya akan disergap secara dadakan. "apa dia sendirian?" jonta keheranan setelah memeriksa area sekitarnya yang tidak menemukan adanya orang lain.
__ADS_1
"bodoh... cari mati dia!" jonta tersenyum bahagia, dirinya kembali mengaktifkan skill summoner undeadnya untuk membunuh orang tersebut.
"gila... orang macam apa dia?" jonta mengerutkan dahi melihat orang tersebut menghabisi monster monster undeadnya dengan mudahnya. jonta pun harus berulang ulang memanggil kembali monster yang telah terbunuh.
jonta semakin geram karena monster yang dirinya panggil terus dibunuh dengan mudahnya. sementara orang tersebut nampak tidak mendapatkan cidera sedikitpun. mana yang jonta miliki pun tinggal sedikit, karena harus memanggil monster summonernya secara berulang ulang.
"sial... kenapa begini?" jonta baru kali ini kualahan menghadapi seseorang. biasanya dirinya akan dengan mudah menghabisi sekelompok player dengan skill summonernya.
jonta tersedak ludahnya saat melihat sebuah tornado muncul tiba tiba dan menerbangkan seluruh monster undeadnya. tidak dirinya sangka monster undeadnya akan berhasil dilumpuhkan dengan satu skill dari lawannya.
sadar jika dirinya tidak bisa menang, jonta bersiap untuk melarikan diri. takut jika posisinya akan diketahui oleh lawannya. baru saja dirinya akan bangkit berdiri, sebuah pedang terasa menempel di lehernya.
perasaan merinding langsung dirasakan jonta di sekujur tubuhnya. selama di new world, baru kali ini dirinya merasakan sensasi di ambang kematian.
"apa lagi yang bisa kamu lakukan sekarang?" pertanyaan si pemilik pedang menambah sensasi ketakutan jonta. jonta tentu tidak berani bereaksi. dirinya sadar diri jika salah bertindak, pedang yang menempel di lehernya pasti langsung melakukan tugas akhirnya.
"darimana kamu dapatkan monster monster undead itu?"
"i... i... itu..."
"cepat katakan!"
"apa kamu membunuh warga desa untuk bisa mengaktifkan skill itu?"
jonta tentu semakin panik. meskipun skillnya bisa diaktifkan tanpa perlu membunuh warga desa yang akan dirinya kendalikan, tentu pria yang sedang mengancamnya tidak akan percaya begitu saja.
"ti... tidak... aku hanya memanggil orang mati... bukan aku yang membunuhnya..." jonta menjawab dengan tatapan mata yang penuh dengan keteguhan hati.
"darimana aku tahu kalau kamu tidak berbohong?" pria tersebut sedikit menggerakkan pedangnya, membuat kepanikan jonta semakin menjadi.
"aku tidak berbohong!" jonta sekali lagi menjawab dengan tatapan mata yang penuh dengan keteguhan hati. dirinya berusaha sebisa mungkin meyakinkan pria tersebut agar tidak menebaskan pedangnya ke lehernya.
walaupun mati di new world hanya akan menjadikan levelnya turun. namun bagi jonta yang jarang berinteraksi dengan orang dan kurang mengerti dunia luar, hal seperti ini tentu membuatnya sangat ketakutan.
"ok... aku percaya padamu..." pria tersebut langsung melepaskan pedang yang ada di leher jonta dan membalikkan badan untuk pergi dari tempat tersebut.
jonta tentu terperangah melihat pria tersebut langsung percaya padanya. "hei... kamu langsung percaya begitu saja? bagaimana kalau aku berbohong?"
pria tersebut hanya melirik kembali ke arah jonta. "aku lihat kejujuran dari tatapanmu. lagipula kamu sudah lihat sendiri kalau tidak sulit untuk membunuhmu jika kamu berbohong."
__ADS_1
jonta pun langsung merinding lagi melihat tatapan tajam dari pria tersebut.
"dan satu lagi..." pria tersebut kembali menatap tajam ke arah jonta.
"a... apa itu?" perasaan merinding kembali menghampiri seluruh tubuhnya.
"celanamu basah... segeralah ganti baju!" pria tersebut menunjuk celana jonta dan pergi meninggalkannya.
jonta langsung melihat ke celananya, dan benar saja. tanpa sadar dirinya telah kencing di celana tadi. jonta pun sangat malu dengan kejadian itu.
"hei... tunggu... aku belum tahu siapa namamu?" jonta mencoba berkenalan dengan pria tersebut sebelum dia pergi. entah kenapa dirinya merasa tertarik dengan pria tersebut. bukan ketertarikan akan cinta, namun ketertarikan untuk bisa berteman.
ya... teman... hubungan yang dirinya sangat sulit untuk dapatkan. jonta merasa pria tersebut bisa berteman dengan dirinya.
"nama? apa yang kamu inginkan?"
jonta tentu langsung bingung dengan pertanyaan pria tersebut. namun jonta mencoba memberanikan diri bisa berteman dengan pria tersebut.
"aku hanya ingin berteman denganmu." jonta menatap pria tersebut dengan tatapan penuh harap.
"hah... namaku AS. siapa namamu?"
"jonta..."
"bagus jonta. satu saran untukmu."
"apa itu?"
"lain kali perkenalkan dirimu dulu sebelum mengajak berkenalan dengan orang lain."
"ah... maaf?" jonta semakin malu, dirinya telah melupakan tata cara dasar perkenalan.
"apa kamu sendirian?"
jonta tidak berani menjawab secara langsung pertanyaan tersebut. dirinya hanya menganggukkan kepala.
alan tentu merasa kasihan kepada jonta karena berpetualang sendiri di new world. "kamu mau ikut denganku?"
pertanyaan alan bagaikan bintang jatuh untuk jonta. seumur umur baru kali ini ada orang yang mengajak dirinya untuk berpetualang bersama. "tentu..." jonta menjawab dengan penuh semangat.
__ADS_1
"bagus... tapi gantilah celanamu dulu! itu bau!" alan menutup hidungnya untuk memberi tanda kepada jonta.