
Seperti dugaan Alan, pihak Microboot langsung mendatangi rumah sakit tempat Alan dirawat di pagi harinya. Dan tidak tanggung tanggung, yang datang menjenguk Alan adalah Mason sendiri, Kepala bagian Humas dari perusahaan Microboot. Mason datang dengan membawa beberapa pegawai bagian tekhnik Microboot.
"Saya senang Anda sudah bisa kembali sadar." Mason membuka percakapan di sela sela anak buahnya memeriksa helm VR milik Alan.
"Ya Tuan Mason. Kalau ada yang begitu senang dengan kembalinya kesadaran saya, tentu itu adalah saya sendiri... Terjebak lebih dari satu tahun di dalam game benar benar bukan pengalaman yang menyenangkan." Alan sedikit berbohong dengan kata katanya tersebut, namun tentu saja... Alan tidak menunjukkan ekspresi kebohongan sama sekali. Dirinya menunjukkan ekspresi yang nampak begitu menyesal.
Alan tentu ingin melihat, sejauh mana pihak Microboot akan memperlakukan dirinya. Pemain yang dalam pandangan Perusahaan Microboot menjadi korban kelalaian perusahaan dalam menyediakan fasilitas keamanan bagi para player.
"Maafkan kami atas kelalaian yang telah kami lakukan? Kami berjanji jika hal seperti ini tidak akan terjadi lagi pada Anda dan player lainnya." Mason membungkukkan badannya. Menunjukkan permintaan maafnya benar benar tulus mewakili perasaannya.
Jujur saja Mason merasa begitu prihatin pada Alan. Alan telah hidup seorang diri, tanpa adanya kedua orang tua yang harusnya memberi dukungan pada Alan. Namun Alan malah terjebak di dalam suatu game lebih dari satu tahun. Meminta maaf pun sepertinya tidak akan cukup bagi Mason untuk bisa menghilangkan rasa bersalah dan empati pada Alan.
"Tidak... Tidak Tuan Mason... Tolong jangan seperti itu..." Alan mencoba untuk menggerakkan badannya, mencegah Mason untuk membungkuk lebih rendah. Namun apalah daya... Tubuh Alan masih terlampau lemah untuk sekedar bisa mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ah..." Alan pun harus menahan sedikit rasa sakit di pergelangan tangannya akibat selang infus yang menempel di tangannya sedikit tertarik.
"Anda tidak apa?" Mendengar rintihan Alan, Mason langsung kembali berdiri tegap. Reflek dirinya segera membantu Alan untuk membenarkan posisi tidurnya.
"Tuan..." Salah satu pegawai bagian tekhnik yang Mason bawa menyela apa yang sedang Mason lakukan. Namun penyelaan yang pegawai tersebut lakukan, segera terhenti karena lirikan tajam dari Mason.
"Baik Tuan..." Pegawai tekhnik tersebut tentu sadar jika dirinya telah melakukan suatu kesalahan. Dirinya lebih memilih memundurkan diri untuk menunggu Mason selesai dengan urusannya.
"Maafkan kami... Tapi kami juga tidak bisa berlama lama disini. Kami harus segera kembali ke kantor..."
"Tentu Tuan Mason... Terima kasih telah datang menjenguk saya..."
"Ini kartu nama saya... Tolong jangan segan segan untuk menghubungi saya jika Anda memerlukan bantuan. Tapi saya mohon dengan sangat pada Anda... Tolong jangan sampai apa yang menimpa Anda tidak Anda sebar luaskan." Tidak ada nada ancaman sama sekali dari perkataan Mason barusan. Semua murni permintaan Mason yang tidak ingin reputasi perusahaan tempatnya bekerja hancur hanya karena satu masalah dengan Alan.
"Tentu Tuan... Saya juga tidak ingin hal itu terjadi... Biarlah apa yang menimpa saya hanya kita saja yang tahu. Tapi saya harap... Kejadian seperti ini tidak menimpa pemain lainnya." Alan menerima kartu nama Mason. Menyimpannya di bawah bantal rumah sakit. Hanya itu satu satunya tempat yang bisa Alan gunakan saat ini untuk menyimpan suatu benda berharga. Tangannya masih terlalu lemas untuk sekedar membuka laci meja di samping ranjang.
"Terima kasih banyak Tuan Alan... Anda benar benar bijak..." Mason sekali lagi membungkukkan badan, berterima kasih lagi pada Alan.
"Sudah Tuan... Saya jadi sungkan jika Anda tetap memperlakukan saya seperti ini." Alan sedikit merasa risih. Dirinya belum pernah diperlakukan begitu hormat oleh seseorang. Apalagi orang itu memiliki kedudukan yang cukup tinggi.
Jujur saja Alan merasa salut pada Mason, yang tetap merendahkan diri di hadapan Alan. Meskipun Mason tahu jika Alan bukan dari keluarga bangsawan. Mason benar benar tahu cara bersikap, terutama jika memang dirinya sedang mewakili pihak yang terkesan bersalah.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pamit Tuan Alan... Semoga kondisi Anda lekas membaik..."
"Baik Tuan Mason... Maaf saya tidak bisa mengantarkan kepergian Anda."
"Tidak perlu dipikirkan Tuan... Mari..." Mason membalikkan badannya, dan pegawai bagian tekhnik pun mengikuti Mason di belakangnya. Dengan tertutupnya pintu ruangan, Alan kembali sendiri di ruang perawatannya. Rasa lega pun memenuhi dadanya.
"Untung saja..." Alan bersyukur pihak Microboot tidak mencurigai dirinya. Dan yang terpenting, keberadaan Joker tetap aman di tangan Alan dan Toni.
Rombongan Mason tidak berhenti sama sekali, mereka terus melangkah sampai mereka semua telah masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana?" Begitu pintu mobil tertutup, Mason langsung menanyakan hasil penelusuran tim Tekhnik dari helm VR milik Alan.
"Sedikit aneh Tuan. Dari penelusuran kami... Kami mengindikasikan jika akun anak itu tidak pernah mencapai Dunia Abyss."
"Maksudmu?"
"Ya... Tidak ada jejak Dunia Abyss yang tersimpan di chip helm VR anak tersebut."
"Jadi?" Mason tentu tidak terlalu paham dengan masalah tekhnik, spesialisasi dirinya adalah untuk bernegosiasi dengan pihak luar. Bukan tentang sistem data dan code code di dalam jaringan perangkat lunak.
"Ada dua kemungkinan. Satu... Anak tersebut telah mengganti chip helm VRnya. Dan yang kedua... Jejak Dunia Abyss di dalam chip anak tersebut memang telah terhapus."
"Ya... Mungkin ada satu rahasia yang dia tidak ingin kita ketahui. Tapi apapun itu tidak masalah... Paling tidak nama baik perusahaan kita tetap terjaga."
Mason tentu tidak terlalu mempermasalahkan masalah tersebut. Dirinya hanya berpendapat jika Alan memang ingin merahasiakan apa yang dirinya lakukan di Dunia Abyss. Merupakan hal wajar jika player profesional di New World memiliki satu atau dua rahasia. Rahasia yang menjadikan player tersebut memiliki kekuatan di atas player player lainnya.
###
"Baiklah... Kita lihat... Apa specialnya chip ini..." Toni sedang bersiap untuk memakai helm VRnya. Helm yang chipnya sudah diganti dengan chip milik Alan. Meskipun kini Di New World sedang malam hari, rasa penasaran akan master chip milik Alan memaksa Toni untuk segera mencobanya.
[Welcome to New World. Sistem baru telah ditemukan. Mohon tunggu sebentar untuk melakukan upgrade sistem. Tolong jangan matikan Helm VR Anda.]
Toni tentu menuruti perkataan sistem, dirinya tidak ingin otaknya mengalami luka karena melepas helm VR secara paksa.
Setelah bar loading penuh, pandangan Toni pun beralih dari yang tadinya gelap menjadi terang. Dirinya kembali mendapati ruangan tempat terakhir kali dirinya log out.
__ADS_1
[Halo Toni...]
Sebuah suara tiba tiba di dalam pikiran Toni mengejutkan Toni.
"Siapa?" Toni menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan suara tersebut berasal darimana. Namun tidak ada orang lain selain dirinya di ruangan tempatnya berada.
[Namaku Joker... Nama pemberian AS. Kamu bisa mengganti namaku jika kamu mau.]
'Oh... Joker?' Toni sedikit tersenyum, mengetahui Alan memberi nama Joker pada sosok suara tersebut. Joker adalah kartu terkuat dalam jajaran kartu, karena Joker bisa menjadi apa saja untuk menutupi kebutuhan pengguna kartu. Benar benar pantas jika Alan menamakan sistem pendukung di master chip tersebut dengan nama Joker.
'Baiklah Joker... Apa saja yang kamu punya?' Toni sudah tidak sabar untuk mengetahui fungsi dari Joker. Sebuah sistem pendukung yang membuat Alan begitu kuat di New World.
Joker pun menjelaskan garis besar informasi yang dirinya punya di data basenya. Mulai dari informasi tempat, atribut monster, bahkan atribut pemain dan NPC bisa Joker tampilkan. Namun tentu saja Joker juga menjelaskan jika dirinya tidak memiliki data tentang hubungan antara sesama player dan player dengan NPC, seperti data rekaman percakapan, video pertarungan, dan yang lainnya.
"Pantas saja..." Toni sedikit terkejut dengan penjelasan yang Joker berikan. Tidak dirinya sangka sama sekali jika Joker berisi seluruh informasi tentang New World. Meskipun masih ada kelemahan dengan tidak adanya informasi tentang hubungan antara sesama player, namun paling tidak keberadaan Joker benar benar sangat membantu.
Terutama sistem pelacakan yang Joker miliki. Dengan sistem pelacakan itu, pengguna Joker bisa memetakan kekuatan musuh ketika dalam peperangan. Secara garis besar Toni paham betul, kenapa Alan bisa sampai menjadi Pahlawan Revolusi di Kerajaan South Mountain.
'Baiklah Joker... Ada satu hal yang ingin aku kamu lakukan.'
[Tentu Toni. Cukup sebutkan dan akan aku usahakan untuk mencarinya.]
'Tunjukkan tempat tempat terindah di New World yang bisa di jangkau saat ini.'
[Tentu Toni...]
[Menganalisis database. Meneliti data yang dibutuhkan. Memasukkan kategori.]
Joker langsung menampilkan ratusan gambar gambar kecil yang hampir memenuhi tampilan layar Toni. Toni pun sampai dibuat terkejut dengan apa yang Joker bisa tampilkan. Satu persatu Toni meneliti gambar yang Joker tampilkan, langsung menghapusnya ketika gambar tersebut tidak sesuai dengan kriteria yang Toni inginkan.
'Bisa kamu tampilkan lokasi tempat ini?' Pilihan Toni jatuh pada satu gambar yang menurutnya paling cocok untuk melakukan prosesi pelamaran pada May. Namun tentu dirinya juga harus mempertimbangkan bagaimana cara dirinya bisa membawa May ke tempat tersebut.
Toni tentu tidak mau membahayakan keselamatan May dan dirinya, jika tempat yang ingin dirinya datangi memang jauh dari jangkauan.
[Analisis tempat. Scanning lokasi.
__ADS_1
Hasil : Kerajaan Demon God.]
"Demon God?" Toni merasa sedikit lemas mendengar nama Kerajaan Demon God disebut oleh Joker. Meskipun WMC telah berhasil membangun satu gerbang teleportasi di Ibukota Kerajaan Demon God, namun kondisi Kerajaan Demon God yang sedang tidak kondusif tentu membuatnya sedikit berpikir ulang.