New World

New World
pabrik senjata


__ADS_3

"tuan olsen... gawat..." salah satu pasukan revolusi anak buah olsen memasuki ruangan di dalam pabrik senjata dengan tergesa gesa.


"ada apa?" olsen yang sedang disibukkan dengan segudang pekerjaan administrasi pabrik senjata seakan akan biasa saja menanggapi anak buahnya yang buru buru memberikan laporan.


sikap olsen bukan tanpa alasan. hal itu dikarenakan anak buahnya sudah terbiasa memberikan laporan dengan cara tersebut tentang pembantaian penduduk lokal atau di serangnya pasukan revolusi oleh para player.


"gawat tuan olsen... pengintai kita mendapati adanya pasukan pemburu di sisi utara kota. kemungkinan besar mereka akan sampai disini besok tuan olsen."


"lalu?" olsen masih tetap merasa tenang, karena laporan seperti ini sudah sering dirinya dengar dari anak buahnya.


melihat ekspresi olsen yang masih tetap tenang tentu membuat prajurit tersebut sedikit geram. dirinya merasa olsen meremehkan informasi yang dirinya sampaikan. "tuan olsen... saya mohon... seriuslah sedikit..."


"kamu pikir aku tidak serius? kamu tidak lihat aku sedang bekerja?" olsen langsung marah karena dikritik oleh anak buahnya. pikirannya sedang penuh dengan masalah pabrik senjata dan pergerakan para player yang terus menerus.


"maaf tuan... tapi jumlah pasukan ini..."


"memangnya berapa?"


"lebih dari tiga ribuan player tuan."


olsen langsung tersedak nafasnya sendiri mendengar kata tiga ribu. dirinya sudah terbayang akan adanya peperangan skala besar yang terjadi. "kenapa tidak bilang dari tadi?" olsen langsung bergegas meninggalkan ruangannya untuk menemui igor. dirinya perlu menyiapkan senjata maupun pasukan untuk peperangan yang akan terjadi.


prajurit tersebut hanya bisa mengumpat dalam hati melihat sikap olsen. dirinya pun teringat akan peraturan tidak tertulis di pasukan revolusi.


peraturan pertama dalam organisasi. atasan selalu benar.


peraturan kedua kalau atasan salah, kembali ke peraturan pertama.


"igor..." olsen memasuki ruang pembuatan senjata di pabrik. igor yang baru meneliti hasil kerja anak buahnya langsung menemui olsen.


"ada apa tuan?"


"berapa banyak senjata yang kita miliki sekarang? siapkan semua!"


"tapu tuan..." igor tentu terkejut mendapati perintah tiba tiba dari olsen. itu karena stok senjata yang ada di pabrik tidaklah banyak. pertarungan yang terus terjadi, ditambah pembagian hasil pabrik dengan alan. membuat stok senjata di pabrik tidak terlalu banyak. saat ini saja paling banyak mereka hanya bisa mempersenjatai sekitar seribu orang secara lengkap.


"tidak ada tapi tapi... siapkan semuanya sekarang. dan usahakan secepatnya untuk membuat perlengkapan lengkap untuk seluruh pasukan kita!"

__ADS_1


igor langsung menelan ludahnya dalam dalam. membayangkan akan seperti apa dirinya dan anak buahnya akan banting tulang mempersiapkan senjata untuk 1000 orang lebih.


olsen langsung memberi perintah agar seluruh pasukan revolusi yang sedang bertugas menjaga kota untuk kembali ke pabrik senjata. dirinya perlu membuat strategi yang jitu agar bisa menang dalam pertempuran yang akan terjadi.


tidak berselang lama setelah perintah olsen keluar, semua pasukan revolusi yang tadinya menyebar di seluruh kota kini berada di dalam pabrik.


"tinggal segini?" wajah igor semakin pucat, melihat pasukan revolusi yang dirinya pimpin tidak lebih dari 2500 orang.


"ya tuan... semuanya telah berkumpul."


seakan tidak memberi ampun. masalah yang datang selalu saja membuat olsen pusing. terakhir kali dirinya mengumpulkan pasukannya, pasukannya masih berjumlah lebih dari 4000 orang. hanya satu minggu setelah pergerakan para player dan kini hampir setengahnya sudah menjadi korban buruan para player.


"sepertinya aku terlalu lama di belakang meja." olsen seakan menyalahkan dirinya sendiri atas jumlah pasukan revolusi yang berkurang drastis.


olsen pun memberikan pidato penyemangat dan memberikan gambaran strategi untuk peperangan besok. olsen memilih untuk tetao bertahan di dalam pabrik. mengingat tujuan utama para player adalah membunuh pasukan revolusi dan mendapatkan kepala mereka. olsen tentu tidak ingin pasukannya terus berkurang secara drastis dalam setiap pertempuran. untuk itulah dirinya memilih strategi bertahan di dalam pabrik. paling tidak dirinya bisa meminimalisir korban yang jatuh nantinya.


malam pun tiba terlalu cepat jika sedang diburu waktu seperti ini. biasanya malam hari aktifitas di pabrik senggang, paling hanya dua atau tiga orang penjaga yang lalu lalang mengitari pabrik. namun berbeda dengan kali ini. suasana di pabrik nampak sibuk untuk mempersiapkan peperangan yang akan terjadi besok. penjagaan pun di perketat, agar tidak adanya penyusup yang bisa masuk untuk mencari informasi tentang kekuatan yang dimiliki pasukan revolusi di dalam pabrik.


###


"tuan deathmark... pengintai kita telah dihabisi. tapi mereka mengirim kabar dari dunia nyata." seorang archer melapor kepada deathmark yang sedang bersantai di dalam tendanya.


deathmark tentu tersenyum dengan totalitas yang dimiliki oleh pasukan pengintainya. mereka rela terbunuh dan kehilangan level demi mendapatkan informasi. "bagaimana kondisi disana?"


"pasukan revolusi diperkirakan berjumlah 2000an orang tuan. jika kita menunggu kedatangan zegra dan yang lainnya, tentu akan mudah mengalahkan mereka."


senyum deathmark semakin melebar setelah mendengar informasi yang dirinya dapatkan. "2000an pasukan revolusi, 2000 gold ada di depan mata kita!" deathmark membayangkan dirinya mendapatkan 2000 gold dan menyerahkannya ke guild. posisinya di guild tentu langsung akan melonjak drastis.


"tapi bagaimana dengan player lain yang kita ajak tuan?" archer tersebut mengingatkan deathmark tentang player player yang mereka temui sepanjang perjalanan dan bersedia untuk ikut menyerang pasukan revolusi.


"masa bodoh dengan mereka. kita urus mereka setelah kita mengurus pasukan revolusi." deathmark tersenyum licik membayangkan apa yang akan dirinya lakukan pada player player lain yang tidak termasuk dalam guild seven guardian.


sebenarnya guild seven guardian hanya mengirim 1000 pasukan termasuk kelompok zegra. namun dengan tipu muslihat deathmark, deathmark berhasil membujuk player player maupun grup independen untuk ikut serta dalam penyerangan ke pabrik senjata.


mendengar perkataan dari deathmark tentu archer tersebut sedikit merinding. tidak dirinya sangka atasannya akan begitu licik.


"beritahu zegra agar datang lebih cepat! kita tidak bisa membiarkan pasukan revolusi itu melarikan diri."

__ADS_1


"baik tuan." archer tersebut langsung mundur dan meninggalkan deathmark sendirian.


"alex... masa kepemimpinanmu akan segera berakhir. hahaha..." deathmark sudah membayangkan jika dirinya berhasil mengurus urusan guild di kerajaan south mountain, posisi guild master akan segera berpindah ke tangannya.


###


"seeep.... ah..." suara isapan rokok dan disemburkannya asap asap rokok menandakan kenikmatan yang saat ini jonta rasakan.


"hei jonta... berapa batang yang sudah kamu habiskan malam ini?" alan terheran melihat jonta yang seakan akan menikmati rokok yang dirinya hisap. alan juga batu tahu jika di new world ini ada yang namanya rokok.


"baru 6. kamu mau?" jonta menawarkan rokoknya pada alan. dirinya mulai belajar berinteraksi dengan orang lain dengan cara membalas percakapan. hal itulah yang dirinya pelajari dari alan hari ini.


"tidak... aku tidak merokok. aku baru tahu kalau di new world juga ada rokok."


"iya... aku juga tadinya tidak tahu kalau ada rokok. aku dapat ini juga dari black market."


"black market?" alan tentu baru mendengar istilah black market dari jonta.


"kamu tidak tahu?" jonta langsung menjelaskan kepada alan apa itu black market dan bagaimana cara kerjanya.


"hem... jadi begitu..." alan langsung memikirkan progres bisnis yang bisa dirinya jalankan dari black market.


"mana teman temanmu? katanya kamu berpetualang dengan teman temanmu?"


"tenang... kita akan bertemu mereka besok. sekarang lebih baik kita beristirahat dulu disini."


"baiklah... tapi..." jonta nampak memikirkan sesuatu.


alan seakan mengerti apa yang menjadi beban pikiran jonta. "tenang... teman temanku orangnya terbuka. aku pastikan mereka tidak akan mengucilkanmu."


jonta tersenyum senang mendengar apa yang alan katakan. sepertinya kekhawatiran yang ada di pikirannya hanyalah karena kurang rasa percaya diri dari dirinya.


"apa yang kamu lakukan?" jonta tentu bingung melihat alan mengeluarkan alat alat untuk meracik potion.


"oh... aku akan membuat potion."


"potion?" jonta nampak terkejut.

__ADS_1


"ka... kamu alchemist?"


alan hanya mengangguk sambil tersenyum canggung. tidak dirinya sangka reaksi jonta akan begitu terkejut setelah mengetahui jika dirinya memiliki skill alchemist.


__ADS_2