
"Lapor yang mulia... Pasukan revolusi tengah datang menyerang." Seorang prajurit memberi laporan pada raja Robert yang masih tertidur di atas ranjangnya.
Mendengar adanya prajurit yang tiba tiba masuk ke dalam kamar pribadi raja Robert. Dua orang wanita yang ikut tidur di samping raja Robert langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Siapa suruh kamu masuk?" Bentak raja Robert pada prajurit yang sembrono tersebut.
"Maafkan saya yang mulia... Tapi..." Prajurit tersebut terbata bata dalam memberikan alasan. Dirinya yakin jika raja Robert akan marah besar kepadanya.
"Panggil Sander... Biarkan dia yang urus!" Raja Robert mencoba menahan kesabarannya, untung saja dirinya sedang dalam mood yang bagus setelah melewati malam yang indah dengan dua orang wanita di sampingnya. Kalau tidak prajurit satu itu pasti sudah terkena hukuman yang berat.
"Baik yang mulia." Tanpa pikir panjang prajurit tersebut meninggalkan kamar pribadi raja Robert sebelum raja Robert berubah pikiran.
Raja Robert pun bangun dari tempat tidurnya untuk bersiap siap untuk menjalani hari yang besar bagi sejarah kerajaan South mountain.
Sementara itu di dalam penjara bawah tanah istana kerajaan South Mountain. Putri Leoni keluar dari ruang tahanannya dengan dikawal Sander dan lima orang prajuritnya. Putri Leoni sempat curiga, karena Sander tidak membawa pasukan kerajaan yang biasanya. Pasukan yang dibawa Sander untuk mengawalnya ke tempat eksekusi merupakan player seperti Alan. Namun tetap saja, puteri Leoni hanya bisa mengungkapkan hal tersebut di dalam hatinya. Dirinya hanya bisa pasrah untuk dibawa ke tempat eksekusi.
Eksekusi puteri Leoni akan dilakukan di kawasan taman tengah ibukota. Raja Robert memang sengaja menjadikan eksekusi putrinya tersebut sebagai tontonan para rakyat. Raja Robert ingin mendeklarasikan jika siapapun yang mencoba untuk memberontak, hukuman mati adalah wajib baginya. Tidak terkecuali putrinya sendiri.
Bagaikan membawa seekor binatang buas, puteri Leoni dibawa ke tempat eksekusi menggunakan jeruji besi yang ditarik dengan kereta kuda. Membuat para warga bisa melihat wajah sendu dari puteri Leoni. Jalanan ibukota di pagi hari yang biasanya sepi pun kini tengah ramai dengan para warga yang melihat puteri Leoni yang di arak ke tempat eksekusi.
"Puteri..."
"Puteri Leoni..." Warga ibukota yang melihat puteri Leoni memberikan semangat kepada puteri Leoni. Walaupun bunyi ledakan dan pertarungan di luar ibukota terdengar sampai ke dalam ibukota, tidak menyurutkan nyali para warga untuk melihat puteri Leoni.
"Kalian semua... Tolong sembunyilah..." Puteri leoni berkata dengan pelan. Dirinya juga mendengar adanya pertarungan di luar ibukota. Puteri Leoni takut jika para warga yang melihat dirinya menjadi korban pertarungan.
"Sepertinya mereka sangat mencintaimu puteri." Sander yang menaiki sebuah kuda menempatkan kudanya agar sejajar dengan jeruji besi yang membawa puteri Leoni.
"Sander... Jangan libatkan para warga. Mereka semua tidak bersalah." Puteri Leoni menatap Sander dengan tajam.
"Hahaha... Aku tidak melibatkan mereka. Mereka sendirilah yang ingin ikut campur."
###
Egner, Zein, Wislock dan 27 orang prajurit terbaik pasukan revolusi menelusuri saluran pembuangan air limbah ibukota. Bau limbah yang menyengat memenuhi pipa pipa berdiameter 3 meter tersebut. Tata kota ibukota South Mountain terbilang sangat bagus, dengan saluran limbah yang besar seperti ini. Ibukota South Mountain belum pernah sekalipun mendapatkan musibah banjir.
"Kamu yakin kita menuju ke arah yang benar?" Egner bertanya kepada Wislock yang memimpin jalan. Dirinya mencoba menahan diri untuk tidak mengumpat karena harus menelusuri pipa pipa yang bau.
"Jika kamu tidak percaya kepadaku. Kamu bisa memimpin jalannya. Aku tidak akan keberatan."
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Wislock yang ketus, Egner pun langsung terdiam. Bukan karena takut kepada Wislock, semua karena Egner sadar diri jika dirinya tidak paham dengan jalur jalur pipa bawah tanah ini.
Satu jam lebih rombongan tersebut menelusuri pipa pipa berbau menyengat tersebut. Setelah satu jam menahan bau menyengat, Wislock memberi tanda jika mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju.
"Di atas sini adalah Taman tengah ibukota. Apa rencana kita?" Wislock memang yang menunjukkan jalan. Namun pimpinan dari rombongan ini adalah Egner. Wislock tentu tidak ingin gegabah dengan mengambil keputusan sendiri.
"Kita tunggu sinyal dari Olsen. Akan berbahaya jika kita langsung menyerang sekarang." Egner menjelaskan. Egner sadar jika dirinya membawa pasukannya untuk langsung menyerang hanya akan menjadikan pasukannya bulan bulanan musuh. Rencana yang sudah tersusun rapi pun akan menjadi berantakan.
Rencananya adalah Olsen akan menarik perhatian seluruh pasukan kerajaan. Sedangkan Egner dan pasukannya bertugas untuk menyelinap dan menyelamatkan puteri Leoni.
###
Olsen memandang kesepuluh player yang baru saja datang dengan waspada. Dirinya sadar jika kesepuluh player tersebut sangat berbahaya, terlihat jelas dari aura kegelapan yang menyelimuti mereka.
Belum lagi naga hitam yang terbang di atas mereka, naga hitam tersebut berulang kali menyemburkan api dari mulutnya. Membakar apapun yang terkena api dari mulut naga tersebut. Tidak peduli itu pasukan revolusi ataupun pasukan kerajaan.
"Hati hati dengan mereka... Jangan mencoba menghadapi mereka seorang diri!" Olsen memperingatkan pasukannya.
Kesepuluh player tersebut langsung bergerak menyerang pasukan revolusi yang mengepung mereka. Bagaikan seekor macan, gerakan masing masing dari kesepuluh player tersebut sangatlah cepat. Kerjasama antara satu orang dengan yang lainnya pun begitu kompak. Dengan cepat grup sepuluh orang tersebut menghabisi sebagian pasukan revolusi.
"Pisahkan mereka! Manfaatkan jumlah kita!" Olsen yang melihat anak buahnya menjadi sasaran empuk grup sepuluh player tersebut langsung ikut bergerak.
thang...
thang...
Rencana Olsen nampak berjalan dengan mulus. Walaupun harus mengorbankan lebih dari 30 orang prajurit untuk membunuh sepuluh player tersebut, namun mereka akhirnya berhasil membunuh kesepuluh player tersebut.
Olsen pun kini mengalihkan pandangannya ke arah naga hitam yang masih terbang sambil sesekali menyemburkan api di atasnya.
"Igor... Bagaimana? Sudah bisa kamu gunakan?" Olsen menghubungi Igor yang berada di belakang pasukan melalui crystal linknya.
"Sudah komandan. Tinggal menunggu aba aba dari komandan." Igor menjawab.
"Bagus... Arahkan ke naga itu!" Perintah Olsen yang sudah semakin geram melihat naga hitam tersebut membakar sebagian area peperangan.
Jika Deathmark melihat apa yang Igor siapkan, dirinya pasti akan marah besar. Igor sedang menyiapkan meriam sihir yang dulu digunakan oleh Deathmark untuk menyerang pabrik senjata. Meriam sihir tersebut memang rusak setelah peperangan di pabrik senjata. Namun bagi Igor yang seorang master pandai besi, memperbaiki meriam sihir bukanlah masalah yang sulit.
ciu....
__ADS_1
duar...
Serangan sihir berwarna merah yang begitu dahsyat tepat mengenai naga hitam tersebut. Kepulan asap hitam langsung mengepul di area naga hitam tadi terbang. Anehnya... Baik Olsen maupun siapapun yang ada di area peperangan tidak melihat tubuh naga tersebut yang jatuh setelah terkena serangan dari meriam sihir.
"Gagal kah?" Olsen menyipitkan matanya, mencoba untuk mencari tahu keberadaan naga hitam tersebut. Namun setelah kepulan asap hitam tersebut menghilang, tubuh naga hitam tersebut sudah tidak ada lagi. Seakan akan naga hitam tersebut menghilang begitu saja.
"Oh... Hebat juga mereka... Bisa mengalahkan naga itu." Sander yang masih menunggangi kuda untuk menuju ke tempat eksekusi puteri leoni tentu tahu jika monster naga yang dirinya panggil sudah dikalahkan.
Monster naga hitam tersebut adalah salah satu kekuatan dari bola kristal rugbi hitam yang dirinya miliki. Sander merubah bayangan menjadi monster untuk menjadi budaknya. Ketika monster yang dirinya panggil dikalahkan, monster tersebut akan kembali menjadi bayangan seperti asalnya.
"Bagaimana dengan ini." Sander menggenggam erat bola kristal rugbi hitam yang ada di tangannya. bola kristal tersebut langsung memancarkan sinar kemerahan.
"Apa yang kamu lakukan Sander?" Puteri Leoni tentu melihat apa yang Sander lakukan. Dirinya tidak bisa untuk tidak mencari tahu.
"Membersihkan tikus tikus kecil. Hahaha... Jangan buang buang tenagamu. cukup nikmati saja waktu waktu terakhirmu."
Mendengar jawaban Sander, puteri Leoni hanya bisa menahan geram sambil menggigit dirinya sendiri. Namun apa yang bisa dirinya lakukan? Dirinya terkurung, bahkan jika dirinya bebas pun belum tentu bisa dirinya berbuat banyak. Mengingat kekuatan Sander memang luar biasa.
Dua buah lingkaran sihir raksasa muncul di atas ibukota. Siapapun yang ada di ibukota tentu bisa melihat dua buah lingkaran sihir tersebut. Dari masing masing lingkaran sihir tersebut keluar seekor monster naga hitam yang sama persis.
"Naga... Naga..." kemunculan naga hitam di atas ibukota membuat suasana ibukota menjadi gaduh. Para warga tentu panik akan kemunculan dua ekor naga tersebut. Mereka takut jika naga tersebut akan menyerang ibukota.
Puteri Leoni memandang kedua ekor naga tersebut dengan tatapan hampa. Dirinya sudah pasrah akan nasibnya sejak tadi, tapi setelah melihat kemunculan dua ekor naga tersebut. Puteri Leoni seakan akan sudah tidak memiliki semangat lagi.
Kedua ekor naga tersebut langsung terbang ke arah selatan. Menuju ke tempat pertarungan berada.
###
Alan mendapati dirinya berada di dalam sebuah rumah ketika pandangan dirinya kembali. Alan bisa mengetahui jika dirinya berada di dalam sebuah rumah salah satu warga, setelah melihat perabot perabot yang ada di dalam rumah.
'joker...' Alan meminta joker untuk menampilkan peta ibukota untuk Memastikan secara pasti lokasinya.
Alan bisa melihat jika dirinya berada di area timur ibukota. Alan pun keluar dari ruangan tempat dirinya berada untuk melihat kondisi sekitar.
Alangkah terkejutnya Alan ketika dirinya baru saja keluar dari ruangan. Dua buah lingkaran sihir raksasa tengah melayang di atas ibukota. Alan bisa melihat adanya monster yang mencoba keluar dari lingkaran sihir tersebut.
"Na... Naga?" Alan terbata bata melihat dua ekor naga hitam keluar dari dua buah lingkaran sihir tersebut.
"Ada apa AS?" Shoote sun yang melihat ekspresi terkejut Alan tentu mencoba mencari tahu. Alan hanya menjawab pertanyaan Shoote sun dengan mengacungkan jarinya ke langit. Shoote sun pun mengikuti arah yang ditunjuk oleh tangan Alan.
__ADS_1
"Na... Naga..." Ekspresi Shoote sun tidak kalah terkejut dengan Alan.