New World

New World
south hill 1


__ADS_3

"Freya... Berhati hatilah..." Bisik Arwen sambil memeluk putri satu satunya sebelum keberangkatannya.


"Ya Ayah... Putrimu ini sudah besar dan bisa menjaga diri. Lagipula aku bersama dengan pemuda yang tampaknya bisa diandalkan." Balas Freya sambil melepas pelukan ayahnya dan menatap ke Alan.


Alan pun hanya melongo mendengar perkataan Freya. Dirinya tidak pernah berjanji akan melindungi Freya, tapi Freya berkata kalau Freya mengandalkan dirinya.


"Tuan Puteri... Ijinkan aku untuk ikut bersamamu." Sora menyahut dari belakang.


Freya hanya tersenyum melihat semangat Sora. "Sora... Desa ini membutuhkan pemimpin untuk menjaga keamanan. Keahlianmu lebih dibutuhkan disini daripada ikut bersamaku."


"Tapi Tuan Puteri...." Kata sora terhenti setelah Arwen mengangkat tangannya.


"Freya betul Sora. Percayakan semuanya pada Freya." Timpal Arwen.


"Terima kasih ayah..." Freya memeluk lagi ayahnya.


"Bawalah ini untuk berjaga jaga." Arwen menyerahkan tongkat kayu dengan sebuah batu berwarna hijau di atasnya dan sebuah tas kecil.


[Green Wood Wand, ???? ]


[Dimensional Bag, ???? ]


Alan langsung memeriksa barang yang diberikan oleh Arwen. Karena Alan tidak memiliki kuasa atas bendanya, Alan hanya bisa membaca namanya.


"Sepertinya barang yang menarik." Batin Alan.


'Joker... Kamu tahu kedua benda itu?'


[ Green wood wand adalah sebuah item Epic Class yang hanya bisa dipakai oleh Elementalist yang menguasai elemen kayu.


Dimensional Bag adalah tas yang bisa menampung beberapa barang dalam jumlah dan ukuran yang besar.]


'Wow... Item Epic Class... Sepertinya frea tidak membual kalau dirinya orang terkuat didesa ini.'


Alan sudah merasakan sendiri kemampuan dari item Epic Class. Jadi dia sangat yakin kalau Freya pasti punya kemampuan yang mumpuni dengan item tersebut.


" terima kasih banyak ayah... " Freya menerima kedua barang tersebut.


Mereka bertiga pun meninggalkan desa Wood Elf. Arwen, Sora dan warga lainnya hanya memandangi punggung mereka bertiga yang terus berjalan sampai menghilang tertutup pepohonan.


"Kembalilah dengan selamat puteri kecilku..." Gumam Arwen pelan. Matanya berkaca kaca menandakan kesedihan yang mendalam.

__ADS_1


Menurut cerita dari Freya, untuk sampai ke Ibukota Kerajaan South Mountain perlu waktu 4 hari perjalanan. Itu pun jika tidak mendapat hambatan, dan hambatan pertama yang harus mereka bertiga hadapi adalah barisan pegunungan yang membentang dari timur ke barat.


Jalan satu satunya adalah dengan melewati pegunungan tersebut. Di dalam pegunungan tersebut juga terdapat banyak monster. Hanya saja Alan, Clara dan Freya bisa dengan mudah mengalahkan monster monster yang mereka temui.


Dengan adanya Freya memang membuat segalanya lebih mudah dalam berurusan dengan monster. Clara yang berfungsi sebagai perisai dan memancing pergerakan monster. Freya yang menyerang dari jarak jauh dan menghambat pergerakan monster dengan sihir kayunya.


Dan Alan yang terus mobile dengan semua skillnya. Sesekali dia menggantikan Clara untuk menangkis serangan monster ketika Clara meminum potion untuk memulihkan Hp. Dan terus memborbardir monster dengan panahnya jika Clara sedang menarik perhatian monster.


Level Alan pun melonjak drastis ke level 31. Mengingat Exp yang didapat dari membunuh monster hanya masuk ke Alan. Karena Clara dan Freya tidak membutuhkan exp untuk berkembang.


Item item yang mereka dapatkan pun berlimpah, lebih dari 50 item berlevel 20 ke atas, tapi hanya sedikit yang menarik perhatian Alan. Alan hanya memilih pelindung dada dan pelindung tangan untuk menyesuaikan dengan levelnya. Clara juga tidak luput memilih beberapa item untuk meningkatkan atributnya. Alan pun menyimpan item item yang tersisa untuk Alan jual. naasnya... tidak ada item yang cocok untuk Freya gunakan.


Ketika malam hari mereka memilih beristirahat. Karena Alan harus log out dan mengerjakan aktifitasnya di dunia nyata. Clara dan Freya pun tidak merasa keberatan, mengingat perjalanan akan terasa sangat berat tanpa Alan.


Alan yang sebagai pusat komando selalu memberikan strategi tak terduga yang jitu dan efektif dalam menghadapi monster. Freya pun sampai mengakui bahwa ayahnya atau pun sora tidak bisa sebaik Alan dalam menentukan strategi pertarungan.


Barulah di hari berikutnya mereka bertiga bisa keluar dari hutan di seberang gunung.


"Tunggu..." Cegah Alan pada Clara dan Freya yang masih terus berjalan.


"Ada apa kak?" Apakah ada bahaya di sekitar sini? " Clara langsung bersiaga. Karena Alan selalu memperingatkan ketika ada bahaya mendekat.


Freya adalah NPC Wood Elf. Dengan baju mini dress berwarna hijau, rok pendek berwarna hijau, apalagi telinga runcing dan hidung mancung yang menjadi ciri khas elf. Siapapun yang melihat Freya pasti akan langsung tahu kalau Freya adalah seorang Wood Elf.


Wood Elf sedang menjadi buronan di Kerajaan South Mountain. Tentu saja Alan tidak ingin menarik masalah yang seharusnya bisa dihindari.


"Tenang... Serahkan padaku... " Kata Clara dengan sedikit sombong.


"Kamu? Bisa apa kamu?" Tanya Alan dengan meremehkan.


"Hih... Kakak... Sini kulit Shadow Panter yang kakak bawa." Pinta clara sambil sedikit merajuk.


Alan pun bingung kenapa Clara meminta kulit Shadow Panter yang alan simpan di tasnya. Tapi akhirnya memberikannya juga, takut kalau Clara tambah merajuk. Alan tidak ingin kejadian sebelum Clara diculik Wood Elf terulang lagi.


Clara yang menerima kulit Shadow Panter pun langsung sumringah. Dia langsung mengeluarkan jarum dan benang dari tasnya.


Selang 30 menitan Clara pun selesai. Sebuah baju, celana dan penutup kepala berwarna hitam Clara pamerkan kepada Alan dan Freya.


[Panter mask, ??? ]


[Shadow clothes, ???]

__ADS_1


"I... aini..." Alan benar benar terpana. Dia tidak mengetahui sejak kapan Clara bisa menjahit pakaian.


"Sejak kapan kamu bisa menjahit pakaian?" tanya Alan.


"Sejak mengantarkan kakak ke tukang jahit. Aku terus belajar darinya setiap hari sampai aku bisa." Balas Clara sambil menggosok hidungnya.


"Ini Freya... Pakailah ini... Pasti cocok buat kamu." Clara menyodorkan baju dan topengnya ke Freya.


Freya yang menerimanya pun langsung masuk ke semak semak untuk berganti baju.


Alan langsung tercengang melihat Freya yang memakai Shadow clothes. Freya sudah cantik dengan pakaian hijaunya tadi. Tapi dengan Shadow clothes ini, kesan Alan kepada freya adalah wanita yang feminim tapi garang.


Shadow clothes begitu ketat di badan Freya, sehingga menampilkan bentuk tubuh freya yang sempurna. Panter mask yang menutupi hampir stengah kepala Freya mengesankan kepribadian yang misterius, sehingga orang yang melihatnya akan penasaran dan berusaha mendekatinya. Rambut pirangnya yang diikat ke belakang, kulit putihnya benar benar membuat freya menjadi satu kata.


"Sempurna..." Gumam Alan pelan yang masih tercengang.


Cethak....


Clara langsung menjitak kepala Alan yang melongo melihati si Freya. Alan pun merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya, Hpnya langsung turun 100 poin.


Freya merasa sedikit risih dengan pakaian yang dia pakai. Namun dirinya tidak ada pilihan lain. Jika tetap memakai baju hijaunya, pasukan kerajaan akan dengan mudah mengenali freya sebagai Wood Elf. Dengan Shadow clothes dan Panter masknya, Freya seakan menjadi pribadi yang baru.


"Good... Jita berangkat sekarang." Perintah Alan yang tidak ingin terlalu larut dalam pesona Freya.


Alan pun sedikit terkejut dengan sensasi yang dia rasakan. Dia tidak menduga kalau di New World juga akan muncul unsur birahi seperti ini.


Ketika waktu sudah sore hari. Mereka sampai pada sebuah desa. Desa ini kecil, tapi lebih besar dari Middlemist village.


Alan pun mengajak Clara dan Freya untuk mencari penginapan mengingat dirinya harus log out ketika malam hari.


Di desa ini ada pasukan kerajaan yang berjaga. Alan, Clara dan Freya sempat panik menghadapi pemeriksaan penjaga. Takut kalau identitas Freya akan terbongkar. Tapi untung saja pakaian yang Freya pakai menyelesaikan semua masalah. Penjaga terlihat takjub pada Freya, tidak henti hentinya penjaga itu mencuri pandang pada Freya ditengah pemeriksaan.


Freya yang merasa risih karena dilihati penjaga pun membentak penjaga tersebut. Dan akhirnya penjaga tersebut membiarkan mereka bertiga masuk ke desa karena takut Freya akan marah padanya.


Begitu masuk ke desa mereka disuguhi pemandangan yang mengherankan. Waktu sudah sore hari. Biasanya warga desa akan pulang kerumah dari tempat mereka bekerja, sehingga warga memenuhi jalanan.


Tapi di desa ini, jalanan tampak sangat lenggang. Hanya ada beberapa orang yang berjalan di jalanan. Alan juga sempat bertemu beberapa player lain di desa. Tapi jumlahnya pun tidak banyak. Tidak sampai 10 orang, dan semuanya pemain solo.


"Apakah semua desa di South Mountain sesepi ini? Bahkan Middlemist village lebih ramai dari desa ini." Gumam Alan pelan.


Alan pun tidak ambil pusing terlalu lama, dan memilih mencari penginapan untuk Clara dan Freya.

__ADS_1


__ADS_2