
Alan tentu tidak ingin gegabah menerima ribuan pedang yang mengarah kepada dirinya secara lagsung. Apalagi kini dirinya berada di halaman depan tersebut bersama dengan Flyin. Alan bisa saja menghindari ribuan pedang tersebut hanya dengan menggunakan skill Shadowingnya untuk masuk ke dalam bayangan. Tapi bagaimana dengan Flyin?
Alan tidak yakin jika Flyin akan mampu untuk sekedar bisa keluar dari kepungan ribuan pedang yang kini menyasar mereka berdua.
"Shadow Zone..." Alan terpaksa harus menggunakan Shadow Zone untuk menangkis semua pedang yang mengarah kepada dirinya dan Flyin. Alan tidak perlu meneliti satu satu pedang yang mengarah kepadanya dan membalikkan arah pedang. Alan cukup membuat satu pengaturan di dalam Shadow Zone untuk menangkis ribuan pedang secara keseluruhan.
Alan cukup mengatur Shadow Zone agar membuat semua benda yang sedang bergerak menuju kepada dirinya langsung berubah arah 180°. Membuat tidak ada satupun pedang yang berhasil mendekati Alan dan Flyin.
"Jadi benar itu kekuatanmu!" Asmodias nampak tidak terkejut melihat Alan menangkis Thousand Blade dengan mudahnya. Dirinya sudah menyadari jika serangan dasar seperti Thousand Blade tidak akan bisa membunuh Alan.
Asmodias menghilangkan ribuan pedang yang melayang di udara. Dirinya tahu akan percuma menyerang Alan menggunakan jumlah pedang yang dirinya bisa buat.
Asmodias kembali menuliskan beberapa huruf rune di udara yang kosong. Membuat huruf hitam berborder merah tua muncul sesaat dan menghilang begitu saja.
"Hell Fire!"
Satu kata dari Asmodias dan halaman tempat mereka bertiga berdiri langsung dipenuhi dengan lautan api. Membakar habis apapun yang menyentuh api tersebut.
Alan tentu menyadari apa yang akan Asmodias lakukan. Untung saja dirinya sempat membuat pengaturan di dalam area Shadow Zone untuk menghilangkan gravitasi. Membuat tubuh Alan dan Flyin kini mengambang di udara. Terbebas dari api yang tiba tiba memenuhi halaman istana Chigaza.
"Flyin.. Menyingkirlah..." Alan mengatur Shadow Zone agar mendorong tubuh Flyin sekuat tenaga. Membuat tubuh Flyin terlontar hingga ke atas benteng yang menjadi batas Istana Chigaza.
Alan tidak ingin Flyin sampai terluka di saat dirinya bertarung dengan Asmodias. Untuk bisa mengimbangi Asmodias saja sudah begitu sulit. Apalagi harus disertai melindungi Flyin. Untuk itulah Alan melontarkan tubuh Flyin hingga ke tempat yang sekiranya aman bagi Alan.
"Sepertinya kamu memang bukan Demon biasa." Asmodias tertegun sejenak melihat Alan bisa membuat tubuhnya dan tubuh Flyin melayang di udara. Namun ketertegunan Asmodias hanya berlanjut sesaat. Asmodias yang bisa berdiri dengan tenang di tengah tengah lautan api kembali menuliskan beberapa huruf rune. Seakan akan api yang membakar habis seisi Istana tersebut tidak berpengaruh sama sekali pada Asmodias.
"Kita lihat seberapa hebat kekuatan yang kamu punya?"
"Fireball!"
Satu kata dari Asmodias sudah cukup untuk memunculkan bola bola api yang langsung menyerang Alan dari beberapa sisi. Membuat Alan harus berusaha ekstra keras untuk menghindarinya.
Alan menggunakan skill pasif yang dimilikinya untuk mengatur angin yang ada di sekitarnya. Dengan membuka sayap di bajunya, Alan bisa menghindari puluhan bola api yang mengincar tubuhnya.
Namun tetap saja... Jumlah bola api yang datang tidak sebanding dengan kecepatan angin yang mendorong tubuh Alan. Memaksa Alan harus terkena beberapa serangan bola api Asmodias. Untung saja Alan masih sempat memperlemah bola api yang mengincar tubuhnya dengan Shadow Zone. Membuat dirinya tidak terluka cukup parah akibat serangan bola api dari Asmodias.
__ADS_1
Alan segera meminum sebotol heal potion untuk kembali memenuhi hp barnya yang berkurang lebih dari seperempat bar. Padahal Alan sudah mengganti baju zirah yang dirinya pakai dengan baju zirah Death king Armor yang dirinya dapatkan dulu. Membuat Hpnya meningkat tiga kali lipat dari awalnya.
Alan tidak bisa membayangkan akan seperti apa jika dirinya tidak mengganti baju zirahnya tadi sewaktu meninggalkan ruangan harta. Dirinya pasti kini sudah mati akibat serangan bola bola api dari Asmodias. Mengingat tiga kali lipat HP yang dimilikinya kini saja bisa berkurang lebih dari seperempat bar.
"Aku tidak bisa terus begini." Alan sadar dirinya hanya akan menjadi sasaran tembak jika terus menjaga jarak dan bertarung jarak jauh dengan Asmodias. Satu satunya pilihan Alan adalah menyerang Asmodias dari jarak dekat.
"Thousand Stab!"
Alan mencoba menggunakan skill terbarunya yang belum pernah Alan coba sama sekali. Menjadikan Asmodias sosok pertama yang akan merasakan keganasan dari The Forgotten Dagger.
Thang...
Thang...
Thang...
Lebih dari sepuluh kali bunyi nyaring terdengar ketika belati Alan hampir menembus tubuh Asmodias. Namun belasan tusukan yang Alan lesatkan sama sekali tidak memberikan luka goresan pada Asmodias. Seakan akan setiap tusukan yang Alan lakukan berhenti 2 centimeter di depan tubuh Asmodias.
"Kau ingin bertarung jarak dekat? Akan ku perjelas... Kamu memilih keputusan yang salah." Asmodias tertawa sendiri melihat wajah Alan yang begitu terkejut melihat belasan tusukannya tidak berhasil menembus pertahanan Asmodias.
"Sekuat apa perisai pelindungnya?" Alan tidak bisa lagi mengelak kini. Dirinya berada di atas udara dengan nol gravitasi masih menyelimuti Shadow Zone.
Bruk...
Satu pukulan keras menghantam kepala Alan. Membuat topeng wajah smile Alan terpecah menjadi beberapa bagian, sedangkan tubuh Alan meluncur bebas ke belakang hingga membentur dinding benteng Istana. The Forgotten Dagger yang tadinya berada di genggaman Alan pun terpaksa harus terlepas dan terjatuh beberapa meter di samping tubuh Asmodias.
"Darimana kamu mendapatkan senjata ini?" Asmodias tentu mengenali senjata yang baru saja digunakan oleh Alan untuk menyerangnya. Hanya kalangan Jenderal Demon sewaktu perang seribu tahun lalu sajalah yang mengetahui pemilik sebenarnya dari senjata yang tergeletak di atas tanah tersebut. Apalagi setelah melihat wajah Alan yang bukan bangsa Demon, kemarahan Asmodias semakin menjadi. Dirinya tidak menduga senjata Raja Neraka terdahulu akan di pegang oleh sesosok Elf yang kini masih tertanam di dinding.
Alan tentu tidak menjawab pertanyaan Asmodias. Dirinya masih berusaha keluar dari lubang di dinding benteng yang tercipta akibat benturan dengan tubuhnya. Alan mendapati satu pukulan dari Asmodias tadi berhasil menurunkan Sedikit bar hpnya.
Asmodias yang tidak mendapat jawaban dari Alan tentu langsung murka. Dirinya paling tidak suka mendapat acuhan ketika dirinya sedang bertanya sesuatu. Dengan cepat Asmodias melesat ke arah Alan yang masih berusaha keluar dari dalam lubang di dinding.
Api yang tadinya menutupi keseluruhan halaman depan Istana Chigaza pun seakan terbelah. Memberikan jalan kepada Asmodias untuk melenggang menuju ke tempat Alan berada.
"Five Guardian!"
__ADS_1
Seketika muncul lima prajurit bayangan yang masing masing dari mereka membawa senjata berbeda. Lima prajurit bayangan tersebut langsung mencoba menghentikan Asmodias yang tengah berlari dengan cepat ke arah Alan.
Bruk...
Bruk...
Bruk...
Suara Asmodias berulang kali memukuli prajurit bayangan bisa Alan dengar. Asmodias nampak sama sekali tidak kesulitan menghadapi kelima prajurit bayangan yang menyerang dirinya secara bersamaan. Bahkan setiap pukulan dari Asmodias mampu mengurangi sepertiga hp yang dimiliki oleh prajurit bayangan Alan.
Alan tahu jika lima prajurit bayangan tersebut tidak akan bisa mengimbangi Asmodias. Tapi paling tidak kelima bayangan tersebut bisa memberikan waktu kepada Alan untuk bisa berdiri dengan tegak. Di angkatnya tangan kanan Alan ke depan, dan The Forgotten Dagger yang tadinya tergeletak di atas tanah langsung meluncur ke genggaman tangan kanan Alan. Seakan akan tangan kanan Alan adalah magnet bagi The Forgotten Dagger.
Alan melemparkan The Forgotten Dagger ke arah Asmodias. Diikuti dengan langkah kakinya yang mendekati Asmodias. Sambil berlari Alan memperlebar Shadow Zone hingga ke area Asmodias berdiri. Mencoba menekan pergerakan Asmodias yang terlihat sangat gesit.
"Kita lihat seperti apa Demon terkuat di dunia Abyss ini!" Alan berteriak sekuat tenaga, Black Poison Dagger tergenggam di tangan kirinya, sedangkan cakar gauntletnya telah terbuka sepenuhnya. Alan siap memberikan serangan bertubi tubi kepada Asmodias.
Dengan dibantu lima prajurit bayangan, dan The Forgotten Dagger yang terus terbang dan menyerang Asmodias, Alan yakin jika Asmodias akan bisa dikalahkan.
"Bocah ini merepotkan!" Asmodias menuliskan sesuatu di udara dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya berulang kali menangkis serangan serangan yang datang kepadanya. Walaupun hanya dengan tangan kosong, Asmodias nampak sama sekali tidak merasakan sakit ketika harus menangkis senjata senjata yang mengarah ke tubuhnya. Semua karena pelindung dua centimeter yang menyelimuti tubuh Asmodias.
"Kamu beruntung bisa melihatku menggunakan senjata ini!" Asmodias tersenyum puas setelah tulisan rune yang dirinya tulis menghilang di udara.
Jleb...
Sebuah tombak langsung tertancap di samping tubuh Asmodias. Tombak berwarna merah dengan garis hitam di tengahnya. Mata tombak tersebut tidaklah putih seperti tombak tombak biasanya. Namun mata tombak tersebut berwarna hitam legam, dengan sedikit corak berwarna kuning keemasan di setiap sisinya.
[Abysal Spear.]
Alan menghentikan langkah larinya. Satu kalimat muncul setelah Alan menanyakan kemunculan tombak yang tiba tiba tersebut. Alan bisa melihat jika tombak tersebut bukanlah tombak biasa, melihat listrik listrik kecil menyelimuti tombak tersebut.
Asmodias menarik paksa tombak tersebut dari atas tanah. Membuat aliran listrik yang tadinya hanya menyelimuti Abysal Spear kini ikut mengalir ke tubuh Asmodias. Membuat tubuh Asmodias berselimut sengatan sengatan listrik.
Dan anehnya... Api pembakar halaman Istana Chigaza yang tadinya hanya setinggi dua meter langsung mengembang setelah Asmodias menggenggam tombak tersebut. Menjadikan setiap luntaian api meninggi hingga lima meter. Hampir setengah dari tinggi benteng Istana Chigaza.
"Mati kau..." Asmodias mengayunkan tombaknya satu kali... Kelima prajurit bayangan yang sedari tadi mengepung dirinya langsung lenyap, kembali melebur menjadi bayangan.
__ADS_1