
"Dimana ini?" Pertanyaan itu yang langsung terujar dari bibir Grestal. Mendapati dirinya berada di suatu tempat yang terasa asing baginya. Setahu dirinya, tidak ada tempat seperti ini di Kerajaan Black Dessert tempatnya tinggal.
"Sudah sadar?" Suara seorang pria menginvasi indera pendengaran Grestal. Membuat sang Titan tersebut menoleh ke arah sumber suara.
"Siapa kamu?" Grestal mencoba untuk bangkit, melihat sosok di hadapannya yang dirinya yakini sangat berbahaya. Aura yang terpancar dari sosok tersebut benar benar membuat dirinya harus ekstra waspada.
"Apa aku terlalu menyeramkan?" Lirik sosok pria yang memakai jubah hitam dan pakaian khas kerajaan berwarna hitam dengan corak merah di bagian tengah.
"Ya... Kalau ada satu hal yang lebih dari dirimu, itu adalah kengerianmu..." Suara orang lain ikut bergeming di telinga Grestal, membuat Grestal kembali menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
Kini dirinya bisa melihat seorang Elf yang memakai baju zirah berwarna hitam dengan motif biru tua di bagian dada dan punggungnya. Meskipun terlihat biasa saja, namun Grestal juga tahu, sosok Elf tersebut tidak kalah berbahaya dengan pria yang memakai jubah hitam.
"Dasar bocah kurang ajar..."
"Sudahlah Asmodias... Ada hal lain yang lebih penting..." Ucap Elf tersebut yang ternyata adalah Alan.
"Jadi... Dimana teman temanmu?" Satu pertanyaan itu tentu membuat Grestal langsung menggigit giginya sendiri. Bayangan akan mayat mayat Bangsa Titan yang telah dihabisi kembali mencuat di dalam pikirannya.
Mendengar pertanyaan Alan, Grestal bisa menyimpulkan jika bukan Alan yang telah menghabisi Bangsa Titan. "Mereka semua sudah mati..." Jawab Grestal dengan menundukkan kepalanya, merasa begitu menyesal telah menjadi satu satunya Bangsa Titan yang selamat.
"Ah... Sudah aku duga..." Alan tidak berekspektasi terlalu banyak, seharusnya Joker bisa menemukan keberadaan Bangsa Titan dimana pun mereka berada. Alan hanya mencoba memastikan, apakah Bangsa Titan bernama Grestal ini memiliki item yang perpindahan dimensi untuk menyembunyikan Bangsa Titan yang lainnya.
"Kalau begitu aku serahkan dia kepadamu..." Alan berpaling ke arah Asmodias.
"Aku? Kenapa aku?" Keluh Asmodias, dirinya tahu apa yang dimaksud oleh Alan. Alan ingin menjadikan Bangsa Titan ini sebagai salah satu prajurit terkuatnya.
"Bukankah kamu punya banyak waktu di sini? Aku tidak punya banyak waktu di luar sana.."
"Dasar..." Keluh Asmodias, tidak bisa lagi mengelak perkataan Alan.
"Baiklah... Aku pergi... Pastikan dia bisa berguna..." Alan membuka gerbang dimensi untuk keluar dari The Forgotten World. Dan seketika tubuhnya langsung menghilang begitu saja.
__ADS_1
"Menghilang?" Grestal begitu terkejut, melihat ada seseorang yang bisa menghilang begitu saja di hadapannya.
"Tidak usah khawatirkan dia... Lebih baik kamu khawatirkan dirimu sekarang..." Senyum kecil Asmodias terpancar di wajah Demonnya. Grestal yang melihat senyum tersebut langsung bergidik ngeri, dirinya tidak tahu apa yang akan dilakukan Asmodias kepada dirinya.
###
Malam pertama peluncuran diskon 50% jasa pelayanan di Heaven Throne nyatanya tidak terlalu berhasil. Jumlah pelanggan yang datang tidaklah seperti yang Heaven Sins prediksikan.
Jack Wilshere pun mulai mempertanyakan keputusan Heaven Sins untuk memberikan diskon 50% tersebut. Bagi dirinya, hal itu justru akan menurunkan image dan pendapatan ya g Heaven Throne dapatkan.
Para wanita penghibur pada mulanya juga ikut mengeluh. Dengan pemberian diskon 50%, maka pendapatan mereka juga akan ikut turun. Mengingat Heaven Throne menerapkan sistem bagi hasil untuk setiap pelayanan yang diberikan oleh para wanita penghibur kepada para pelanggan.
Namun setelah Heaven Sins menjelaskan lebih jauh tentang rencananya, para wanita pun akhirnya setuju. Heaven Sins tahu betul, jika tempat hiburan dan bar milik Sun Flower Guild bisa begitu berkembang karena adanya Violet Wine. Sebuah Wine yang konon adalah Wine ternikmat yang ada di New World.
Untuk itulah, Heaven Sins berencana mengganti komoditas utama Heaven Throne. Yang tadinya hanya mengandalkan jasa pelayan kenikmatan, kini akan lebih mengandalkan penjualan minuman untuk memberikan pemasukan yang lebih besar.
"Rencanamu sepertinya tidak berjalan dengan lanacar..." Jack Wilshere menyindir langkah yang diambil oleh Heaven Sins. Sebagian besar pelanggan yang datang ke Heaven Throne malam ini hanya tertarik dengan jasa pelayanan kenikmatan yang murah. Hanya satu dua orang player saja yang mau membeli Abyssall Wine ketika mereka datang.
"Rencana hebat tidak akan berhasil disusun dalam satu malam Jack... Ingatlah selalu pepatah itu..." Balas Heaven Sins pada sindiran yang Jack Wilshere berikan.
"Aku yakin ini akan berhasil... Kita hanya perlu bersabar Jack..." Heaven Sins tidak berani menatap kedua mata bartender Heaven Throne tersebut. Menatap kedua bola mata Jack yang berirish coklat muda tersebut selalu membuat dirinya luluh lantah, dan Heaven Sins tidak ingin dirinya dalam kondisi seperti itu sekarang. Dirinya harus bisa menguatkan tekadnya, jika rencananya akan berhasil.
Satu persatu pelanggan bergantian keluar masuk. Kelima belas wanita penghibur yang tersisa pun berganti gantian melayani pelanggan yang silih berganti. Meskipun mereka lelah, tapi itu lebih baik, dari pada mereka tidak mendapatkan pelanggan sama sekali.
Klinthing...
Klinthing...
Suara pintu Heaven Throne yang terbuka, diiringi dengan kedatangan tiga orang laki laki bertubuh tegap.
"Selamat datang..." Heaven Sins langsung menyambut kedatangan ketiga orang tersebut. Satu kesamaan dari ketiga orang tersebut, mereka memiliki satu simbol yang sama di dada mereka. Sebuah simbol berbentuk burung merah yang sedang mengepakkan sayapnya.
__ADS_1
"Phoenix Crown?" Heaven Sins tentu langsung mengenali simbol di dada ketiga player tersebut. Phoenix Crown adalah salah satu guild raksasa yang berkembang di West Dragon Empire. Posisi Phoenix Crown sejajar dengan Nirvana Guild yang juga berkembang di Kekaisaran tersebut.
"Kita sedang mencari wanita penghibur, tempat lain sedang penuh, dan kami tidak mau menunggu!" Kata salah satu dari ketiga player tersebut.
"Maaf... Tapu semua wanita penghibur kami juga sedang melayani pelanggan, mungkin Anda semua berkenan duduk sebentar untuk menunggu giliran?" Heaven Sins mencoba bersikap seramah mungkin, dirinya tentu tidak akan membuang koin emas yang sudah siap di depan mata.
"Apa gunanya kita di sini jika tetao harus menunggu. Aku kira tempat ini memasang diskon karena tidak laku..." Ketus salah satu anggota Phoenix Crown.
Heaven Sins mencoba untuk tetap bersabar. Bagaimana pun juga, setiap pelanggan yang masuk ke dalam Heaven Throne saat ini begitu berharga. Dirinya tidak boleh menyia-nyiakan satu pun pelanggan yang ada.
"Maaf un..."
"Kalau tidak punya uang, jangan berlagak di tempat ini..." Belum sempat Heaven Sins menyelesaikan kata katanya, Ken yang duduk di ujung ruangan menyauti kata kata anggota Phoenix Crown.
Ketiga anggota Phoenix Crown langsung menoleh ke arah sumber suara. Mereka bisa melihat seorang player yang hanya memakai baju tanpa lengan. Tidak adanya baju zirah berkelas, membuat ketiga anggota Phoenix Crown berpikir jika Ken adalah seorang player baru, yang belum mampu untuk membeli baju zirah.
"Apa aku tidak salah dengar?" Salah satu anggota Phoenix Crown mendekati Ken.
"Tidak... Aku juga sudah mengantri sedari tadi disini.. . Jadi jangan berlagak kalau tidak punya uang di sini..." Jawab Ke sembari mengibaskan tangannya di depan muka anggota Phoenix Crown.
"Kurang ajar... Berani kamu berulah di depan..."
Anggota Phoenix Crown yang ada di hadapan Ken langsung menggestur tangannya, menyuruh temannya untuk tidak membongkar identitasnya.
"Aku tertarik... Bagaimana bila kita beradu kekuatan uang di sini?" Jawab anggota Phoenix Crown tersebut. Dirinya ingin membungkam mulut besar pria berbaju tanpa lengan di hadapannya dengan semua uang yang dimilikinya.
"Boleh... Kita lihat... Seberapa kayanya kamu..." Ken tentu tidak takut, Alan sudah berkata jika Alan akan menanggung semua biaya yang Ken keluarkan di tempat ini. Ken yang mengetahui Alan berada di belakang berdirinya Abyss Colloseum, berpikir jika Alan memiliki kekayaan yang tidak terbatas di New World.
"Bawakan minuman paling mahal kesini!" Ken tanpa basa basi memesan minuman paling mahal yang ada di Heaven Throne, yang tentunya adalah Abyssall Wine.
"Bawakan untukku juga..." Anggota Phoenix Crown ikut melakukan hal yang sama. Dirinya lalu mendudukkan diri di meja yang ada di sebelah meja Ken.
__ADS_1
"Sudah aku bilang kan? Kesempatan akan datang..." Heaven Sins tersenyum jahat pada Jack Wilshere di konter bar.
"Dasar licik..." Jack Wilshere tahu, jika Heaven Sins sudah berkoordinasi dengan Ken tadi siang. Berjanji kepada Ken akan menggratiskan jasa pelayan satu malam, jika berhasil membujuk pelanggan yang berpotensial. Dan Ken benar benar memanfaatkan hal itu dengan sangat benar.