New World

New World
Sampai jumpa lagi... End of Arc 2


__ADS_3

Meskipun tidak bisa menggerakkan tubuhnya, Naga Yin bisa merasakan jika Naga Yang telah tiada. Naga Yang telah mengorbankan nyawanya untuk bisa menahan kekuatan Marry yang akan diledakkan.


"Yang..." Tidak kuasa... Air mata menetes dengan sendirinya dari mata Naga Yin. Naga yang terkesan angkuh dan kuat, kini berlinangan air mata karena hilangnya sahabat terbaiknya.


Naga Yin memaksakan tubuhnya. Kesedihan yang mendalam memaksa Naga Yim untuk melihat tubuh Naga Yang. Tubuh yang sudah tidak memiliki nyawa.


"Yang..." Teriak dan raungan Naga Yin langsung pecah, begitu melihat tubuh Naga Yang tergelatak di atas tanah. Tidak akan lagi dirinya dengar ocehan Naga Yang, tidak akan ada lagi pertengkaran kecil dengan Naga Yang ketika berebut makanan. Naga Yang telah meninggalkan Naga Yin sendiri.


"Biarkan saja dulu..." Flyin mencegah Rendemiz yang terlihat akan mencoba mendekati Naga Yin. Flyin bisa tahu betapa sedihnya Naga Yin. Membiarkan Naga Yin melepaskan kesedihannya adalah langkah yang paling bijak.


"Tunggu..." Naga Yin menolehkan pandangannya pada sosok Alan yang juga tergeletak di atas tanah. Dirinya bisa merasakan adanya kekuatan Naga Yang di dalam tubuh Alan.


"Apa yang akan dia lakukan?" Selene yang melihat Naga Yin mendekati mereka berempat tentu langsung bertanya, dirinya sudah bersiap siap jika Naga Yin ingin meluapkan emosinya kepada mereka berempat.


"Dia tidak berniat jahat." Flyin memberitahu Selene dan Rendemiz.


"Kalian semua... Bisa membantuku?" Naga Yin meminta dengan penuh hormat kepada keempat orang yang ada di hadapannya.


"Apa kamu yakin?" Flyin tentu tahu apa yang menjadi tujuan Naga Yin. Dirinya hanya tidak percaya Naga Yin ingin melakukan hal tersebut.


"Ya... Aku sudah melakukan kesalahan fatal, dengan membiarkan segel itu lepas dari tangan kami. Itulah satu satunya cara bagiku untuk menebus kesalahanku."


"Baiklah... Silahkan kalau begitu..." Flyin meletakkan tubuh Alan di hadapan Naga Yin. Dirinya langsung mundur beberapa langkah setelah melakukan hal tersebut.


"Terima kasih banyak..." Naga Yin memberi hormat yang sangat kepada Flyin, telah memberinya kesempatan untuk melakukan hal yang dirinya inginkan.


"Apa yang kamu lakukan?" Rendemiz berbisik pada Flyin. Dirinya masih belum paham dengan apa yang akan Naga Yin lakukan.


"Diam dan lihatlah!" Bentak Flyin dalam bisikan.


Naga Yin mulai melakukan apa yang dirinya inginkan. Dengan mengembangkan sayap lebarnya, sebuah lingkaran sihir tercipta di bawah kakinya dan di bawah tubuh Alan.


"Der Drache von Yin und Yang ist eine Form des Gleichgewichts. Wir sind eine Einheit, die nicht getrennt wird. Wenn einer abwesend ist, wird einer auch verschwunden sein. Wenn einer existiert, wird einer auch bleiben. Zeigen Sie die perfekte Form des Gleichgewichts!"


Tubuh Naga Yin bersinar setelah membacakan mantra. Aura hitam menyelimuti tubuhnya yang penuh luka.


Begitu juga dengan tubuh Alan yang masih pingsan, aura putih keluar dari dalam tubuh Alan. Namun tidak sebesar aura hitam yang dikeluarkan oleh Naga Yin. Aura putih yang keluar dari dalam tubuh Alan adalah sisa sisa kekuatan Naga Yang, kekuatan yang digunakan untuk mengikat Shadow Blood.


"Dengan mengorbankan jiwaku... Kembalilah!"


Aura hitam yang menyelimuti Naga Yin pun terangkat dari tubuh Naga Yin, seakan aura hitam tersebut terpisah dari tubuhnya. Begitu juga dengan aura putih keluar dari dalam tubuh Alan. Terbang ke atas, bersatu padu dengan aura hitam.


Pada mulanya aura hitam menelan aura putih seutuhnya, namun lambat laun. Aura hitam pun mengecil dengan sendirinya, menyeimbangkan dengan jumlah aura putih yang ada. Kedua aura tersebut pun membentuk sebuah simbol Yin dan Yang.


"Hebat..." Gumam Flyin pelan, melihat apa yang tersaji di hadapannya. Baru kali ini dirinya melihat sebuah proses pemaduan dua kekuatan yang saling berlawanan sifat.


"Dengan ini..." Naga Yin tidak sanggup menyelesaikan kata katanya. Tubuhnya yang sudah kehilangan semua kekuatannya pun tergeletak tak bernyawa.

__ADS_1


"Mati?" Rendemiz terkejut, melihat tubuh Naga Yin tiba tiba ambruk tak bernyawa. Tadinya dirinya mengira jika Naga Yin ingin membangkitkan Naga Yang. Namun rupa rupanya semua berlawanan dengan apa yang dirinya pikirkan.


Simbol Yin dan Yang pun perlahan mengecil, memadat hingga membentuk sebuah telur berwarna hitam dan putih. Telur tersebut perlahan turun, hingga akhirnya tergeletak di atas dada Alan. Cahaya hitam dan putih pun keluar dari dalam telur tersebut, menyelubungi tubuh Alan yang masih tidak sadarkan diri. Hingga akhirnya cahaya hitam dan putih tersebut meresap ke dalam tubuh Alan secara perlahan.


"Ah..." Alan merasakan sebuah hawa dingin merasuki tubuhnya, sebuah sensasi nyaman yang belum pernah dirinya rasakan sebelumnya. Karena hawa dingin tersebutlah Alan bisa kembali membuka matanya.


"Apa yang terjadi?" Alan mencoba untuk bangun, namun pandangannya langsung terarah pada telur yang ada di dadanya.


"Apa ini?" Alan memegang telur tersebut, bisa dirinya rasakan sebuah hawa dingin yang keluar dari dalam telur tersebut. Dan ada rasa hangat yang keluar dari dalam tubuh Alan.


'Joker... Apa ini?'


[Scanning objek. Identifikasi. Telur Naga Yin dan Yang. Telur ini akan menetas setelah kamu memberikan kekuatan yang cukup pada telur tersebut.]


'Telur Naga Yin dan Yang?'


Alan memeriksa sekitarnya, mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dirinya merasa lega melihat jasad Marry yang tergeletak tak bernyawa. Namun dirinya juga terheran, melihat kedua Naga hitam dan putih ikut tergeletak di atas tanah.


"Apa mereka berdua telah mengorbankan diri?" Alan tidak bisa menjawab sendiri pertanyaan tersebut, dirinya tidak tahu berapa lama dirinya tidak sadarkan diri. Hanya dengan bertanya pada saksi mata sajalah Alan bisa tahu apa yang terjadi.


"Anda tidak apa Tuan?" Flyin mengulurkan tangannya, mencoba membantu Alan berdiri.


"Ya... Apa yang sebenarnya terjadi?" Alan menerima uluran tangan Flyin, dirinya bangkit perlahan. Karena seluruh badannya masih terasa lemas.


"Kita berhasil mengalahkan Marry, namun kedua ekor Naga itu mengorbankan diri untuk melindungi kita." Jawab Flyin singkat.


"Ya Tuan... Tapi kita harus segera pergi. Tuan Azazel sedang membutuhkan bantuan kita." Flyin mengajak Alan untuk segera membantu Azazel yang tengah terluka. Dirinya sudah membaca isi pikiran Selene, dan mengetahui seperti apa kondisi Azazel saat ini.


"Baiklah..." Alan yang dibantu oleh Flyin untuk berjalan mulai melangkahkan kaki untuk meninggalkan Istana Marry.


"Tunggu..." Rendemiz mencegah Alan yang terlihat akan pergi begitu saja.


"Terima kasih banyak atas bantuan kalian. Aku tidak tahu harus membalas bantuan kalian dengan apa." Rendemiz langsung membungkukkan badannya. Memberi hormat pada sosok Alan dan Flyin yang telah membantu dirinya mendapatkan kembali Timeless Blade.


"Hem... Sudahlah... Jangan dipikirkan..." Alan tersenyum kecil. Dirinya tidak berharap mendapatkan apa apa dari Rendemiz, karena dirinya sudah mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari sekedar balas jasa Rendemiz, Kekuatan Asmodias yang bisa membuat benda benda.


Dengan kekuatan Asmodias tersebut, dirinya bisa mendapatkan apa yang dirinya inginkan hanya dengan memintanya pada Asmodias. Memang Asmodias belum tentu mau, tapi setelah Asmodias melihat apa yang telah Alan lakukan pada anak anaknya, tentu Asmodias akan merasa berhutang budi pada Alan. Sekali dayung, dua pulau terlewati. Itulah maksud terselubung dari apa yang Alan lakukan.


Alan dan Flyin tetap melanjutkan langkah mereka, meninggalkan kedua kakak beradik yang kini telah kembali bersama.


"Kamu beruntung memiliki teman sepertinya." Selene menepuk pundak Rendemiz.


"Ya... Aku sudah tidak sabar menceritakan tentang dia pada ayah nantinya."


"Ya... Kamu harus bercerita banyak... Ayah pasti akan suka..." Selene tersenyum kecil. memikirkan keluarganya akan kembali bisa bersama seperti dulu.


"Anda bisa mendapat masalah lagi jika sampai mereka tahu Tuan..." Flyin berbisik pada Alan.

__ADS_1


"Biarkan saja... Mereka tidak akan tahu jika alu yang telah melakukannya." Alan hanya tersenyum kecil. Dirinya bisa menebak kebingungan Selene dan Rendemiz yang tidak bisa mendapati Ayahnya di Istananya nanti.


"Anda benar benar orang yang jahat Tuan..." Flyin ikut tersenyum kecil. Mendengar apa yang Alan katakan. Meskipun berkata demikian, tapi tidak ada satupun rasa kebencian yang ikut tertanam di dalam perkataan Flyin.


"Sudahlah... Tidak ada gunanya memikirkan mereka berdua... Banyak hal yang mesti kita lakukan sekarang." Alan mengalihkan pandangannya pada telur hitam dan putih yang dirinya bawa. Dirinya masih tidak tahu makhluk apa nantinya yang akan menetas dari telur tersebut.


Jangankan untuk menerka makhluk yang akan menetas, untuk menetaskan telur tersebut pun dirinya masih belum tahu caranya. Alan tentu tidak mau jika dirinya harus terus mengerami telur tersebut sampai menetas.


###


"Dasar bocah..." Asmodias tersenyum kecil di dalam The Forgotten World. Sedari tadi dirinya menyaksikan apa yang semua terjadi melalui layar datar yang tertera di atas langit.


Ya... Alan telah memberikan akses di The Forgotten World untuk bisa melihat apa yang dilihat oleh mata Alan. Dan Asmodias tentu menggunakan semua itu dengan sangat baik. Dirinya bisa melihat dengan jelas semua yang Alan lakukan dan pertempuran yang terjadi. Hanya saja Asmodias tidak mendapat akses suara. Dirinya hanya bisa melihat semua kejadian, tanpa bisa mendengar satupun suara dari dunia luar.


Jujur saja.. Asmodias terkagum pada kemajuan Rendemiz. Dirinya tidak menduga sama sekali, jika Rendemiz bisa memiliki nyali untuk bertarung melawan Marry. Padahal dirinya tahu betul, sepengecut apa anak laki lakinya tersebut.


Terima kasih yang besar dirinya sematkan pada sosok Alan, sosok yang telah membantu Rendemiz untuk berkembang. Dirinya pun berencana untuk memenuhi permintaan permintaan Alan, selama Alan bisa menepati janjinya nanti.


###


Satu setengah tahun kemudian. Lebih tepatnya hari dimana hari ini adalah 1000 tahun setelah perang besar antara para Dewa dan Bangsa Demon dulu.


"Berhati hatilah..." Azazel memeluk Alan dengan erat. Satu setengah tahun sudah dirinya menghabiskan waktu bersama Alan, membuat hubungan antara Elf dan Fallen Angel tersebut begitu akrab. Bahkan dirinya sudah menganggap Alan seperti anaknya sendiri.


"Tentu... Aku pasti akan menepati janjiku padamu!" Alan membalas pelukan Azazel, rasa rasanya dirinya bernostalgia dengan sebuah acara perpisahan yang pernah dirinya lakukan dulu. Acara perpisahan dimana dirinya terakhir kali melihat senyum Julian, ayahnya tercinta.


"Kamu harus menjaganya Flyin!" Lirik Azazel pada Flyin.


"Tentu Tuan... Tapu nanti yang ada adalah Tuan AS yang akan menjaga saya." Flyin memberi sedikit canda, untuk mencairkan suasana haru.


"Sayang sekalu aku tidak bisa ikut dengan kalian. Para Dewa pasti akan langsung bisa mengetahui keberadaan diriku jika aku keluar dari dunia ini."


"Tidak apa... Percayakan padaku! Aku pasti akan membawakan apa yang kamu inginkan." Alan mencoba menghibur Azazel, yang akan dirinya tinggalkan sendirian di Dunia Abyss.


Sendiri... Ya... Sendirian, tanpa ada satu Demon pun yang menemani Azazel. Semua Demon yang ada di Dunia Abyss akan ikut bersama Alan untuk keluar dari Dunia Abyss.


"Kamu Siap Cirro?" Tanya Alan pada sosok Naga kecil berwarna separuh hitam dan separuh putih yang bertengger di pundaknya.


"Kiak..." Cirro membalas pertanyaan Alan dengan satu raungan kecil. Raungan seekor naga yang belum terlihat kengeriannya. Malah sebaliknya, raungan tersebut terdengar menggemaskan.


Alan dan Flyin masuk ke dalam pohon spiral. Dengan mengeluarkan jam pasir dari Dimensional Ring, Alan bersiap untuk mengakhiri petualangannya di Dunia Abyss.


"Lakukan bagianmu Cirro!"


"Kiak..." Tubuh Cirro langsung diselimuti aura hitam dan putih secara bersamaan. Aura hitam dan putih tersebut langsung membesar dengan sendirinya, jam pasir yang Alan pegang langsung melayang. Cahaya hitam dan putih langsung menembus ke atas. Ke bagian atas pohon spiral yang tidak terlihat ujungnya.


"Sampai jumpa lagi Azazel..." Alan melambaikan tangannya, sebelum dirinya dan Flyin menghilang di dalam pohon spiral.

__ADS_1


"Ya... Sampai juga lagi..." Senyum kecil Azazel melepas kepergian Alan dan Flyin.


__ADS_2