New World

New World
Satanisme


__ADS_3

Mencari keberadaan sosok player bertudung hitam yang telah membunuhnya, bukan merupakan hal yang sulit bagi Cleo. Selama dia bersama dengan Willi. Namun itulah yang menjadi masalah Cleo saat ini. Dirinya perlu menghidupkan Willi yang ikut mati bersamanya.


Memang untuk menghidupkan Willi, Cleo cukup datang ke Asosiasi Petualang. Dengan membayar 10 gold, dirinya sudah bisa menghidupkan Willi kembali seperti sedia kala, tentu dengan penalti penurunan level seperti dirinya juga.


Dan di situlah permasalahannya, Cleo sedang dilanda kekurangan uang koin saat ini. Koin yang dimilikinya sudah dirinya gunakan untuk mengupgrade cakar dari Willi beberapa hari yang lalu. Sedangkan untuk membeli Koin di World Bank, Cleo tentu harus berpikir seribu kali untuk melakukan hal itu. Keuangannya di Dunia nyata jauh lebih buruk dari pada keuangannya di New World.


Dengan terpaksa Cleo meminjam Koin pada salah satu anggota Death Mask, Zipper Bold. Zipper Bold merupakan salah satu anggota Death Mask yang tidak disukai oleh anggota lainnya. Bukan karena ketidakmampuan Zipper Bold dalam melakukan pembunuhan, atau karena sifat Zipper Bold yang kurang bersahabat. Namun Zipper Bold terkenal sebagai seorang rentenir, yang akan dengan senang hati meminjamkan koin koin yang dirinya miliki untuk mendapatkan bunga dari peminjamnya.


Jika bukan karena perintah Commandernya yang mengharuskan dirinya untuk segera membawa Alan ke markas Death Mask, dirinya tentu tidak ingin meminjam 6 Gold pada Zipper Bold dengan bunga 1 Silver per hari.


"Ah... Ini dia... Asosiasi Petualang. Asosiasi yang tidak memiliki sebuah organisasi seperti namanya." Cleo berhenti di depan sebuah toko kecil bernama Asosiasi petualang di salah satu desa terdekat dengan markas Death Hand. Sebuah Desa bernama Gorden, desa yang begitu terpencil di Kerajaan Demon God.


Cleo bukan tanpa alasan mengatakan hal seperti itu. Toko Asosiasi Petualang ada di seluruh Desa di New World, namun tidak seperti namanya yang terkesan seperti sebuah organisasi teratur yang memiliki cabang di seluruh New World. Asosiasi Petualang hanya merupakan toko toko kecil, mereka menyediakan Quest dan beberapa keperluan sederhana para player. Bahkan Potion yang notabene kebutuhan dasar para player pun tidak tersedia di Asosiasi Petualang. Menandakan Asosiasi Petualang memang hanya sebuah sistem toko kecil yang digunakan untuk memberikan Quest pada para player.


"Selamat Siang..." Sapa seorang NPC wanita berpakaian maid yang berjaga di belakang kasir. "Ada yang bisa saya bantu?"


"Aku ingin menghidupkan partnerku kembali." Cleo tanpa basa basi.


"Baiklah... Biaya untuk menghidupkan kembali partner Ranger sebesar 10 Gold." Jawab wanita NPC dengan datarnya. Terlihat jelas jika kecerdasan wanita penjaga kasir tersebut memang dibuat sederhana.


"Hah..." Cleo menyerahkan sekantong kulit berisi 10 Gold dengan berat hati. Uang yang dirinya pinjam dari Zipper Bold langsung lenyap seketika dalam satu kesempatan.


Memang berat, tapi mau bagaimana lagi? Ini merupakan konsekuensi yang harus dirinya terima ketika memilih class Ranger.


"Baiklah... Tolong ikuti saya..." NPC wanita membimbing Cleo untuk masuk ke satu ruangan tersendiri. Di dalam ruangan tersebut terdapat lima pilar bertuliskan rune setinggi 1 meter yang berdiri membentuk sebuah segi lima. Di lantai antara masing masing pilar tersebut tertulis sebuah segi lima dengan berbagai aksara rune yang Cleo tidak mengerti artinya.


"Silahkan teteskan setetes darah Anda disini." NPC wanita memberikan sebuah wadah kecil pada Cleo sebagai tempat menaruh setetes darahnya. Cleo tentu tahu apa yang harus dirinya lakukan, ini bukan pertama kali dirinya menghidupkan partnernya. Namun sudah begitu lama dirinya tidak melakukan hal tersebut. Sudah begitu lama dirinya dan Willi tidak merasakan yang namanya kematian di New World.


Setelah diberikan setetes darah Cleo, NPC wanita tersebut meletakkannya di tengah tengah segi lima yang ada di antara pilar. Dan dengan ditariknya salah satu tuas yang ada di dinding ruangan. Kelima pilar bertuliskan Rune tersebut langsung bersinar dengan sendirinya. Cahaya putih langsung menyembul di tengah tengah segi lima. Dengan perlahan cahaya putih tersebut membentuk sebuah wujud, wujud Winged Lion.


"Uargh..." Raung Willi setelah melihat Cleo.


"Kamu merindukanku?" Cleo langsung membelai bulu lembut yang menyelimuti leher Willi. Membelainya bagaikan Willi adalah seekor anak kucing kecil.


"Bagus... Ayo kita pergi... Ada hal yang mesti kita kerjakan." Cleo mengajak Willi untuk bergegas meninggalkan Asosiasi Petualang. Akan lebih baij jika dirinya semakin cepat bisa membawa sosok player yang membunuhnya ke Markas Death Mask.


###


Alan dan Flyin akhirnya menemukan sebuah desa setelah dua hari melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Sebuah desa kecil bernama Fortina. Namun Alan terheran, setelah dirinya disuguhi dengan suatu aktifitas warga desa yang nampak begitu aneh.

__ADS_1


"Apa yang mereka lakukan?" Alan terheran heran. Melihat segerombolan warga desa yang nampak sedang berkumpul di lapangan tengah desa. Segerombolan warga desa tersebut nampak semuanya memakai pakaian serba hitam. Mereka duduk berkumpul membentuk sebuah lingkaran, dengan satu orang yang memakai jubah hitam bercorak merah darah berdiri di tengah tengah lingkaran warga desa.


"Mereka sedang melakukan acara persembahan Tuan..." Flyin yang bisa membaca isi pikiran para warga desa tersebut langsung memberi tahu Alan.


"Persembahan?" Alan mengangkat kedua alisnya, tidak percaya dengan apa yang Flyin katakan.


"Anda bisa lihat sendiri kalau tidak percaya..."


Alan memilih untuk tetap diam dan mengamati apa yang akan dilakukan oleh para warga desa tersebut. Namun Alan sedikit mengerutkan dahi, melihat di akhir acara persembahan tersebut. Ada seorang gadis muda yang akan menjadi korban persembahan.


Gadis tersebut nampak mencoba untuk meronta, menolak jika dirinya akan dijadikan sebagai persembahan. Namun apa daya... Kedua tangan dan kakinya terikat, sedangkan dua orang berpakaian jubah hitam juga memegangi pundak gadis tersebut. Membuat gadis muda berpakaian merah muda tersebut tidak bisa menolak nasib yang harus dialaminya.


"Wahai Asmodias yang agung... Dengan darah gadis ini... Berikanlah kami perlindunganmu..." Orang yang berdiri di tengah tengah lingkaran menyiapkan sebuah pisau. Bersiap untuk menebas leher gadis muda tersebut, memberikan darahnya sebagai persembahan untuk Asmodias yang mereka junjung selama ini.


"Asmodias?" Alan tentu sedikit terkejut mendengar nama Asmodias disebut oleh salah satu warga desa tersebut. Dirinya tidak menduga jika upacara persembahan ini bertujuan untuk menyembah Asmodias.


Alan tentu tidak tinggal diam. Jelas jelas di depannya sedang terbentang sebuah kesalahan besar. Asmodias bukanlah sesuatu yang patut untuk disembah. Dan lagipula... Nyawa gadis NPC berpakaian merah muda tersebut terlalu berharga untuk menjadi persembahan yang tidak masuk di akal.


"Hentikan!"


Cegah Alan sebelum pemimpin upacara ritual menebaskan pisaunya pada leher gadis tersebut.


Seketika semua orang yang ada di lapangan tersebut menoleh pada sumber suara. Mereka mencoba memeriksa, siapa yang berani mencegah upacara persembahan untuk dewa yang mereka junjung.


"Dewa telah datang..." Teriak pemimpin upacara tersebut. Merasa persembahannya telah diterima, dan Dewa yang mereka junjung kebesarannya telah datang menemui mereka.


"Hentikan apa yang kalian lakukan ini. Aku tidak suka dengan apa yang kalian lakukan." Alan mengatur Shadow Zone agar membuat suara yang keluar dari mulutnya menjadi serak dan mengerikan. Membuat semua orang yang ada di lapangan tersebut merinding ketakutan.


"Dewa... Persembahan ini adalah untuk Anda..." Balas pemimpin upacara, sembari dirinya memberi hormat pada Alan. Dirinya merasa Alan adalah Asmodias, dewa kegelapan yang dirinya junjung selama ini.


"Persembahan konyol... Apanya yang persembahan?"


"Tapi..." Pemimpin upacara ritual mencoba mengelak, namun dirinya sadar jika mengelak perkataan Dewa yang dirinya junjung bukanlah sebuah pilihan yang bijak.


"Bubarkan acara ini... Aku tidak suka dengan hal hal seperti ini..." Suara serak Alan semakin lantang. Membuat semua orang yang ada di lapangan tersebut langsung pergi, menuruti perkataan Alan.


"Kau tetao disini... Aku ada perlu denganmu..." Tunjuk Alan pada pemimpin upacara ritual. Alan perlu mendapatkan informasi lebih jauh tentang acara penyembahan Dewa Kegelapan ini. Siapa tahu dirinya bisa memanfaatkan situasi yang ada untuk memuluskan rencananya. Rencana untuk menepati janji yang dirinya buat pada bangsa Demon, memberikan tempat hidup yang lebih baik dari Dunia Abyss.


"Ba... Baik..." Sujud pemimpin upacara tersebut. Walaupun dirinya merasa takut, namun suatu kehormatan baginya ditunjuk langsung oleh sosok yang dirinya yakini sebagai Dewa untuk melayaninya.

__ADS_1


###


"Apa kamu sadar jika apa yang kamu lakukan itu salah?" Alan langsung bertanya pada pemimpin upacara ritual yang ternyata adalah seorang pria paruh baya bernama, Basiel.


"Maafkan saya Tuan... Tapi ritual itu sudah menjadi tradisi turun temurun bagi kepercayaan kami." Basiel memberikan minuman pada Alan dan Flyin. Sebagai Tuan rumah.. Tentu Basiel harus memperlakukan tamunya dengan layak, apalagi setelah mengetahui jika sosok yang menjadi tamu di rumahnya tersebut memiliki kekuatan kegelapan. Kekuatan yang diyakini sebagai kekuatan Dewa Kegelapan yang menjadi junjungannya.


Meskipun dirinya sedikit kecewa, setelah mengetahui jika sosok yang dirinya anggap sebagai Dewa tersebut bukanlah Dewa junjungannya, namun dirinya tetap menganggap kedua tamunya tersebut spesial. Mengingat kekuatan kegelapan dimiliki salah satu dari kedua orang tersebut tunjukkan.


"Hah..." Alan tidak menduga sama sekali, ada juga NPC penyembah kegelapan di New World ini. Dirinya sudah membayangkan, akan seperti apa sombongnya Asmodias jika melihat banyak NPC manusia yang menyembah keberadaannya.


"Apa kamu mau bertemu dengan Asmodias?" Alan mencoba menawarkan suatu penawaran berharga tinggi untuk bisa mendapatkan informasi dari Basiel.


"Apakah saya bisa?" Basiel tentu sumringah, bertemu dengan Dewa junjungannya merupakan sebuah impian sedari dulu.


"Tentu... Tapu kamu harus menceritakan kepadaku... Asal muasal kepercayaan dirimu itu, perkembangan kepercayaan itu, dan kondisi saat ini kepercayaan yang kamu percayai itu."


"Tentu Tuan..." Basiel langsung menceritakan semua yang dirinya tahu. Dirinya adalah seorang pemimpin kepercayaan Satanisme di desa Fortina. Dirinya tentu paham dengan segala sejarah dan perkembangan Satanisme.


"Hem... Jadi begitu..." Alan hanya mengangguk angguk, mendengar apa yang Basiel jelaskan. Bisa dirinya simpulkan, jika Satanisme merupakan sebuah ajaran yang menyembah para Demon.


Namun Alan sedikit tertarik dengan cerita Basiel yang menjelaskan kondisi kepercayaan Satanisme sedang tertekan sekarang. Kepercayaan Satanisme di Kerajaan Demon God sedang tertekan oleh sebuah kepercayaan baru yang menyembah Dewa Helios, sang Dewa Matahari.


Persaingan kedua kepercayaan yang saling bertolak belakang tersebut tentu membuat suasana politik Kerajaan Demon God benar benar tidak nyaman, perang antar kedua kepercayaan tersebut bisa pecah sewaktu waktu. Jika ada salah satu dari kedua belah pihak menyiramkan minyak pada api api kecil yang sudah mulai ada.


"Baiklah... Terima kasih atas informasinya... Apa kamu tetap akan menemui Asmodias?" Tanya Alan sekali lagi pada Basiel.


"Tentu Tuan..." Jawab Basiel dengan mantapnya.


"Tapi ingat... Apapun yang terjadi... Jangan pernah menyalahkanku..."


"Anda bisa pegang kata kata saya..."


"Bersiaplah kalau begitu..." Alan menebaskan The Forgotten Dagger di udara, membuat sebuah lubang dimensi kecil terbentuk di samping tubuh Basiel.


"Ini..."


"Masuklah... Lubang ini akan membawamu ke tempat Asmodias..." Jawab Alan.


Tanpa menunggu jawaban dari Basiel, lubang dimensi yang Alan buat sudah menghisap tubuh Basiel dengan sendirinya. Membuat Basiel menghilang dari keberadaan rumahnya. Alan pun segera menutup lubang dimensi tersebut, tidak ingin membuat benda lainnya ikut terhisap ke dalam The Forgotten Dagger.

__ADS_1


"Apa Anda tidak kasihan padanya Tuan?" Tanya Flyin pada Alan, setelah dirinya melihat apa yang Alan lakukan pada Basiel.


"Untuk apa aku kasihan pada orang seperti dia..." Alan menjawab dengan santainya, tidak mempermasalahkan kondisi Basiel yang mungkin saat ini sedang dihisap darahnya oleh para bangsa Demon.


__ADS_2