New World

New World
Kebosanan melanda


__ADS_3

Terus terbaring di atas ranjang rumah sakit selama tiga hari tanpa bisa melakukan apa apa, tentu membuat Alan begitu bosan. Alan sadar jika memang itu yang harus dirinya jalani untuk memulihkan tubuhnya. Namun tetap saja... Alan yang sudah terbiasa bergerak secara aktif setiap harinya, merasa begitu tersiksa harus terus berbaring di rumah sakit sendirian. Apalagi dirinya harus sendirian di dalam ruangan berukuran 4x6 yang dirinya tempati tersebut.


Hanya sesekali perawat dan dokter yang datang untuk melihat kondisi Alan. Perawat akan datang 3 kali sehari, untuk membantu membersihkan tubuh Alan dan menyuntikkan vitamin yang akan mempercepat pemulihan tubuh Alan. Sedangkan dokter? Dokter hanya datang sekali dalam sehari, itupun jika memang dokternya sempat dan memiliki waktu luang.


Toni yang biasanya datang setiap hari ketika Alan masih belum sadar pun, kini belum lagi terlihat sampai saat ini. Bahkan sampai perawat yang biasanya melihat kedatangan Toni, menanyakan kepada Alan perihal Toni yang tidak pernah terlihat.


Alan tentu tahu dengan apa yang sedang Toni lakukan. Seperti dirinya dulu sewaktu pertama kali mendapatkan Joker, Toni pasti juga sedang mencoba coba semua fungsi yang Joker miliki. Sampai sampai lupa waktu akan dunia nyata yang sebenarnya. Dan Alan memahami sahabatnya tersebut. Dirinya sudah cukup berterima kasih pada Toni karena telah menyelamatkan tubuhnya di dunia nyata.


Tiga hati setelah sadar, Alan sudah bisa mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Vitamin dan asupan gizi yang diberikan oleh para perawat benar benar mempercepat proses pemulihannya. Wajar... Alan tidak lah sakit atau menderita suatu penyakit. Tubuh Alan hanya lemas karena kekurangan asupan gizi dan kurangnya gerakan selama setahun lebih.


"Lebih baik aku log in saja..." Alan meraih helm VRnya yang ada di samping meja. Dirinya benar benar suntuk, harus terus melihat dinding putih yang mengelilingi ruangan tempatnya dirawat.


[Scanning retina.]


[Welcome to New World.]


Pandangan Alan langsung kembali ke tempat terakhir dirinya log out. Sebuah gua yang menjadi tempat persembunyian dirinya, Chiro dan Flyin setelah keluar dari Dunia Abyss.


Alan masih tidak tahu dirinya berada di mana. Mengingat dirinya, Chiro dan Flyin mendapati sebuah gua yang gelap setelah keluar dari Dunia Abyss.


"Kiaak..."


Suara Chiro membuat Alan menelisik seisi ruang gua. Terlihat jika Flyin tengah duduk di depan sebuah api unggun yang digunakannya sebagai penerangan. Chiro langsung terbang ke pundak Alan, bagaikan seekor anak kucing yang sedang meminta makanan. Chiro langsung mengusap usapkan kepalanya pada kepala Alan.


"Ya... Ya... Aku tahu kamu lapar..." Alan mengeluarkan sedikit aura kegelapan untuk dimakan oleh Chiro. Chiro yang sudah tiga hari tidak bertemu Alan, tentu dengan lahapnya menghisap aura kegelapan yang dikeluarkan oleh Alan.

__ADS_1


Makanan Chiro ada dua jenis, yang pertama tentu daging. Mengingat Chiro adalah jenis Naga, yang sejatinya adalah bangsa karnivora. Yang kedua adalah kekuatan kegelapan. Chiro terbentuk dari sisa kekuatan Naga Yang; yang ada di dalam tubuh Alan. Naga Yin mengorbankan jiwanya agar sisa kekuatan Naga Yang di dalam tubuh Alan tersebut memiliki jiwa sendiri.


Struktur tubuh Chiro didominasi oleh kekuatan cahaya, yang tadinya adalah kekuatan milik Naga Yang. Sedangkan jiwa Chiro terbentuk dari kekuatan kegelapan, yang tadinya adalah jiwa Naga Yin. Tubuh Chiro akan selalu berkembang, membuat kekuatan cahayanya juga ikut berkembang. Sedangkan jiwa Chiro tidak ikut berkembang, membuat kekuatan kegelapan di dalam jiwa Chiro tidak berkembang. Untuk itulah Chiro membutuhkan asupan kekuatan kegelapan dari Alan, untuk menyeimbangkan kekuatan kegelapan di jiwanya dengan kekuatan cahaya di tubuhnya.


Alan masih belum tahu apa yang akan terjadi jika Chiro tidak mendapatkan asupan kekuatan kegelapan dari dirinya, entah apapun itu... Alan tentu tidak ingin Chiro sampai kenapa kenapa. Dirinya sendiri yang menetaskan Chiro dari telurnya, membuat Alan menganggap Chiro sebagai teman terdekatnya. Dan Alan tentu akan melakukan yang terbaik untuk teman terdekatnya.


"Anda sudah selesai Tuan?" Flyin bangkit dari duduknya. Dan berjalan ke arah Alan. Seperti Alan yang bosan di rumah sakit. Flyin juga begitu bosan harus menunggu Alan selama tiga hari di dalam gua.


Dirinya sudah ingin sekali untuk pergi keluar dan menjelajahi dunia tengah. Pengalaman dirinya dulu ketika menyelinap di dunia tengah belum banyak, Flyin ingin melihat dunia tengah lebih luas dari yang pernah dirinya lihat. Jika bukan karena pesan Alan yang harus menunggu dirinya kembali, mungkin Flyin sudah pergi melalang buana untuk menelusuri benua tengah.


"Baiklah... Kita berangkat sekarang..." Alan mengajak Flyin untuk keluar dari gua persembunyiannya. Dengan menutupkan tudung kepala dari jubah mereka, mereka berdua mulai melangkahkan kaki untuk meninggalkan gua mereka. Sementara Chiro, Chiro tetap bertengger di pundak Alan setelah kenyang. Kedua sayapnya terlipat ke depan, ekornya masuk ke dalam lipatan sayap, dan kepalanya dirinya tekuk ke bawah hingga moncong Naganya masuk ke dalam lipatan sayap. Membuat Naga Hitam Putih itu terlihat seperti burung hantu yang sedang bertengger. Seperti itulah kebiasaan Chiro jika sudah kenyang, Chiro akan tertidur sampai dirinya terbangun karena rasa lapar.


"Hah... Udara yang segar..." Alan menghirup udara dalam dalam begitu keluar dari gua. Walaupun di dalam game, sensasi udara segar bisa dirinya rasakan dengan begitu jelas. Sudah terlalu lama dirinya tidak merasakan sensasi oksigen yang baru saja keluar dari pepohonan. Udara Dunia Abyss dan udara ruangan rumah sakit benar benar jauh berbeda kualitasnya dengan udara di tengah tengah pepohonan.


"Anda benar Tuan... Ini benar benar segar..." Flyin membeo perkataan Alan. Walaupun dirinya bangsa Demon, namun tidak bisa dirinya pungkiri, udara di tempat dirinya berada jauh lebih nyaman dirasakan daripada udara di Dunia Abyss.


"Kemana kita akan pergi Tuan?"


"Entahlah... Kita harus mencari tahu dulu posisi kita berada. Baru kita bisa melanjutkan rencana selanjutnya." Alan mulai melangkahkan kaki untuk memasuki area pepohonan yang lebat. Mencari adanya suatu peradaban yang terdekat untuk bisa bertanya kepada seseorang dimana lokasi dirinya berada.


'Ahh... Joker... Di saat seperti ini... Kamu justru tidak ada...' Pikir Alan di dalam hati, menyayangkan Joker yang saat ini sedang dipakai oleh Toni. Jika saja ada Joker, dirinya bisa dengan mudah mengetahui lokasi dirinya berada dan merencanakan rencana selanjutnya.


"Tidak usah terburu buru Tuan... Kita masih punya banyak waktu..." Flyin yang bisa membaca isi pikiran Alan pun tersenyum kecil. Mengetahui Alan sedikit menyesal telah meminjamkan Joker.


Lebih dari tiga jam Alan dan Flyin menelusuri area hutan yang lebat. Semakin lama mereka berdua berjalan, area hutan semakin lebat, menandakan belum ada satupun makhluk yang pernah melewati hutan tempat mereka berdua berjalan.

__ADS_1


"Akan susah jika seperti ini terus..." Alan mulai mengaktifkan Shadow Zone, memperlebarnya hingga jarak semaksimal mungkin. Alan membuat Shadow Zone begitu tipis, sehingga bisa menempuh puluhan kali lipat dari jarak yang biasa. Membuat Alan bisa mendeteksi apa saja yang telah terlewati oleh Shadow Zone.


Kontrol Alan terhadap Shadow Zone sekarang nyaris sempurna. Hanya kalah dari Shadow Blood, sang pemilik Shadow Zone yang sesungguhnya. Tapi tentu itu tidak bisa dibuat perbandingan, mengingat hanya kedua orang itu saja yang bisa menggunakan Shadow Zone.


"Ah... Kita semakin dekat dengan jalan utama." Alan bisa mendeteksi adanya sebuah jalan utama 5 KM di hadapannya. Monster monster yang ada di hutan pun juga tidak luput dari deteksi Shadow Zone. Namun dirinya tidak hanya mendeteksi adanya sebuah jalan dan monster monster. Alan juga mendeteksi adanya sekumpulan player yang tengah bersembunyi di dekat jalan tersebut, bersembunyi di antara pepohonan yang lebat.


"Hem... Sepertinya kita akan mendapat sedikit hiburan." Alan tersenyum kecil, mengetahui adanya sekumpulan player yang nampaknya sedang menunggu sesuatu.


"Apa Tuan?"


"Sudahlah.. Lebih baik kita lihat saja..." Alan mengajak Flyin untuk terus melangkahkan kaki. Paling tidak dirinya sudah tahu bagaimana cara untuk keluar dari hutan lebat ini.


###


"Ini..."


"Ada apa?" Salah satu player bernama Rhodes bertanya pada anak buahnya. Dirinya tahu betul jika anak buahnya yang merupakan seorang Archer tersebut tidak akan bereaksi tiba tiba jika tidak ada sesuatu.


"Tidak apa Kapten... Aku hanya merasakan adanya sebuah gelombang kejut kecil yang lewat." Balas Archer bernama Wolf Eye.


"Maksudmu?" Rhodes tentu tahu, Wolf Eye memiliki item sensorik yang begitu peka. Dirinya bisa merasakan keberadaan siapapun di dalam radius 1 KM. Untuk itulah Rhodes membawa Wolf Eye dalam misi penyergapan kali ini.


"Mungkin hanya angin lewat Kapten. Gelombang itu hanya seperti angin lewat begitu saja." Jawab Wolf Eye dengan tidak yakin. Dirinya benar benar merasakan adanya sebuah gelombang energi menerpa tubuhnya, tapi masalahnya gelombang itu langsung menghilang begitu saja, bagaikan angin lewat.


"Awasi terus keadaan sekitar. Jangan sampai misi penyergapan kita ini gagal." Rhodes memperingatkan Wolf Eye agar tetap waspada. Misi penyergapan kali ini begitu penting untuk guildnya. Jika sampai misi kali ini gagal, Guild Master pasti akan begitu marah padanya.

__ADS_1


"Baik Kapten... Percayakan padaku." Anggukan kepala Wolf Eye mengakhiri percakapan mereka berdua. Lagipula sasaran mereka telah mulai terlihat.


Serombongan kereta kuda yang membawa hasil tambang yang dikawal oleh puluhan prajurit nampak mendekati hutan tempat Rhodes dan anak buahnya berada. Rhodes pun memberi aba aba kepada anak buahnya untuk segera bersiap menyergap rombongan kuda yang datang.


__ADS_2