New World

New World
RnP Guild Selanjutnya


__ADS_3

Semua anggota RnP Guild terdiam setelah melihat piramida hitam menghilang secara perlahan. Bangunan Kuil Cahaya yang seharusnya berdiri di dalam piramida tersebut kini telah tiada. Berganti dengan sebuah lahan kosong yang terdapat begitu banyak lubang lubang besar.


"Guild Master... Apa yang harus kita lakukan?" Gina langsung menghubungi Fire Blade yang masih terbang di udara melalui panggilan sistem.


"Kita benar benar terlambat... Tapi paling tidak kita masih bisa mengurus pelakunya. Jika kita membunuh mereka, maka Kuil Cahaya tentu akan berterima kasih pada kita."


"Tapi Guild Master..." Gina mencoba memperingatkan Guild Masternya. Di hadapannya kini hanya ada beberapa orang saja, dan beberapa orang itu adalah yang telah membunuh dan menghancurkan Kuil Cahaya. Kekuatan beberapa orang di hadapan mereka tentu tidak bisa dianggap sebelah mata.


"Jangan bodoh! Mereka sudah melalui pertarungan yang berat. Mereka pasti sudah kehabisan tenaga. Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk membunuh mereka."


Tanpa pikir panjang, Fire Blade langsung meluncurkan bola bola api ke arah Alan dan yang lainnya. Mengawali serangan yang tentunya akan memacu semangat para anak buahnya.


"Dasar orang yang tidak sabar untuk mati..." Gumam Alan pelan melihat lebih dari dua puluh bola api menyasar dirinya dan yang lainnya.


"Flyin... Jaga dia untukku!" Alan memberikan Toni pada Flyin, dirinya tidak ingin Toni sampai ikut terluka dalam pertarungannya. Dirinya sudah berhutang begitu banyak pada sahabatnya satu itu, dan tentunya Alan akan mencoba membalasnya sebisanya.


Boom...


Boom...


Boom...


Setiap bola api yang menyasar Alan dan yang lainnya hancur terkena panah angin dari Alan. Bola api yang tadinya panas dan membara, langsung berubah menjadi serpihan serpihan api kecil.


"Dihancurkan begitu saja?" Gina dan semua anggota RnP Guild terperangah melihat serangan bola api Guild Master mereka dengan mudahnya dihancurkan. Meskipun itu hanya bola api biasa, namun atribut yang dimiliki oleh Fire Blade begitu tinggi. Tentu saja serangan biasa Fire Blade jauh lebih kuat daripada serangan skill skill player biasa.


"Sepertinya dia pemimpinnya..." Alan melihat seseorang yang terselimuti api seutuhnya melayang di udara. Dirinya yakin jika sosok terselimuti api tersebut adalah pimpinan dari ribuan pasukan yang menyerangnya.


"Kenapa tidak kamu keluarkan para Demon saja? Akan lebih cepat bagi kita jika kamu melakukan hal itu..." Selene memberikan saran pada Alan. Ribuan player yang mengepung dirinya bukanlah menjadi masalah bagi Selene, hanya saja Selene tidak ingin menyianyiakan darah dari ribuan player tersebut. Para Demon tentu akan dengan senang hati mengikuti Alan bertarung demi darah para player tersebut.


"Belum saatnya... Lagipula kita sudah lebih dari cukup untuk melawan mereka." Balas Alan pada saran Selene.


Memang akan lebih cepat dan mudah bagi mereka untuk melawan para player dengan bantuan para Demon dari The Forgotten World. Hanya saja Alan masih harus mengatur sebuah tatanan untuk para Demon nantinya. Sebuah tatanan agar para Demon tidak lepas kendali dan menyerang setiap orang yang memiliki darah merah. Alan sedang mencoba membuat suatu Kerajaan yang bisa ditinggali semua ras, bukan hanya suatu Kerajaan untuk bangsa Demon sendiri.


"Ah... Terserah kau saja... Jaga dia untukku!" Selene ikut memberikan tubuh Vizgraf pada Flyin, tidak ingin sampai boneka barunya terluka maupun lecet sedikitpun.


"Ah... Padahal Saya juga ingin ikut..." Flyin menghela nafas panjang. Tidak bisa menolak perintah dari para High Demon tersebut. Padahal dirinya juga ingin ikut menghisap darah dari para player yang ada. Namun mau bagaimana lagi? Dirinya tidak mungkin juga untuk menolak perintah dari Alan maupun Selene, dengan terpaksa dirinya hanya bisa memandang ketiga temannya meninggalkannya sendirian.

__ADS_1


"Serang mereka!" Teriak Fire Blade sembari terbang meluncur ke bawah. Mendekati sosok bertudung hitam yang diyakininya sebagai pimpinan mereka.


"Uargh..." Raungan Chiro yang begitu keras langsung mengiringi langkah kaki Alan dan yang lainnya. Semburan api hitam putih dari mulut Chiro menjadi serangan permulaan pada ribuan player anggota RnP Guild.


"Aaa..." Jeritan langsung terdengar dari arah para player yang terkena semburan api Chiro.


"Chiro! Jangan hanguskan makananku!" Teriak Selene yang sedikit kesal melihat Chiro membakar para player yang seharusnya bisa diambil darahnya.


"Uargh..." Chiro tidak memperdulikan peringatan Selene. Dirinya terus menerus menyemburkan api. Mencegah siapapun mendekati Flyin yang menjaga Toni dan Vizgraf.


"Tenang... Masih ada banyak sasaran yang bisa kamu ambil..." Alan tersenyum kecil melihat tingkah laku Selene dan Chiro.


"Terserahlah... Awas saja kalau sampai aku nanti tidak puas minum darah..." Selene mempercepat laju kakinya, menarik cambuknya dan mulai menyerang para player anggota RnP Guild.


"Elementalist, penyihir! Serang!" Teriak Gina memberi aba aba pada semua range player untuk mengawali serangan.


Lesatan petir, panah api, tombak tanah hingga jarum jarum air yang begitu tajam langsung meluncur ke arah ketiga Demon yang sedang berpencar.


"Ini kalian bilang serangan?" Rendemiz tersenyum kecil, melihat ratusan serangan campuran menyasar dirinya.


"Akan aku tunjukkan seperti apa serangan itu seharusnya!" Dengan mengaktifkan Time Space dan kekuatan specialnya, tubuh Rendemiz menghilang begitu saja. Seakan akan dirinya tidak pernah ada disana. Dan dengan sekejap mata, setiap melee player yang berada di barisan terdepan langsung jatuh tak bernyawa. Jika pun ada yang masih bernyawa, pasti salah satu tangan atau kakinya sudah terlepas dari tubuhnya.


"Yuhu...." Selene mulai menari narikan cambuknya. Menyayat setiap player yang sekiranya berada di dalam jarak jangkauan cambuknya. Sesekali Selene menjerat player dan menariknya ke dalam genggamannya. Mendaratkan taring tajamnya ke leher para player untuk menghisap darahnya.


"Ah... Luar biasa..." Selene melepas salah satu tubuh player yang sudah tidak bernyawa, bibir di wajahnya masih terhiasi darah merah milik player yang baru saja dirinya hisap.


"Siapa lagi?" Mata Selene melirik ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari sasaran selanjutnya.


Berbeda dengan Selene dan Rendemiz yang begitu bersemangat, Alan nampak santai dalam menghadapi para player anggota RnP Guild. Dengan mengaktifkan Shadow Zone, tidak ada satupun serangan jarak jauh yang bisa menyentuh Alan. Semua serangan jarak jauh yang mendekat ke Alan berbalik arah tepat dua meter di dekat Alan, dan bahkan ada beberapa serangan yang mengenai anggota RnP Guild lainnya. Membuat para player itu mati terkena serangan temannya sendiri.


Alan hanya berdiam diri dan menembakkan panah anginnya ke arah player yang mendekatinya. Setiap panah anginnya selalu tepat sasaran, jika bukan jantung atau kepala player maka leher lah yang menjadi tempat pendaratan panah angin Alan. Membuat setiap player yang terkena panah angin Alan langsung mati seketika.


"Gila... Mereka gila..." Apa yang Gina alami tidak lain adalah suatu ketakutan. Walaupun RnP Guild berjumlah ribuan. Namun nyatanya semua itu nampak tidak berarti. Musuh yang mereka hadapi kali ini bukanlah suatu musuh yang bisa dihadapi dengan kekuatan jumlah. Akan berapapun jumlah mereka, di hadapan suatu kekuatan yang absolut akan nampak sia sia belaka.


Apalagi setelah dirinya melihat sosok berjubah hitam yang membawa panah. Bahkan dirinya yang seorang Shadow Archer sekalipun tidak akan mungkin bisa melakukan apa yang dilakukan oleh sosok berjubah hitam tersebut.


"Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja..." Gina melesatkan satu panah birunya ke arah sosok berjubah hitam tersebut.

__ADS_1


"Shadow Arrow!"


Panah biru Gina langsung berubah menjadi sebuah lesatan hitam yang melesat begitu cepat.


Thang...


Alan langsung menangkis serangan tersebut dengan busur panahnya.


"Bisa menggagalkan Shadow Zoneku?" Alan sedikit terkejut akan ada satu serangan yang bisa mendekati dirinya. Jika saja Alan terlalu mengandalkan Shadow Zone untuk menangkis serangan tadi, maka dirinya pasti sudah terkena serangan tadi.


"Ditangkis begitu saja?" Gina tidak mengira, panah birunya yang begitu berharga hanya di tangkis dengan busur panah begitu saja. Padahal dirinya harus mengeluarkan puluhan koin emas untuk bisa mendapatkan satu panah biru dari pasar gelap New World.


"Kamu sepetinya akan merepotkan... Aku harus mengurus dirimu terlebih dahulu..." Sebuah suara tiba tiba terdengar di belakang Gina. Gina mencoba membalikkan badannya untuk melihat siapa yang tiba tiba muncul di belakangnya. Kilasan akan sebuah belati yang sedang mengincar lehernya bisa Gina lihat dari ujung sudut mata.


Gina pun tidak bisa lagi untuk menghindar, kecepatan yang dimiliki musuhnya melebihi apa yang bisa dirinya bayangkan. Gina hanya busa pasrah menerima nasib sebagai salah satu korban dalam pertarungan dengan Bangsa Demon.


Thang...


"Aku tentu tidak akan membiarkanmu membunuh Kapten kesayanganku..." Sebuah tangan api menghadang laju belati Alan. Membuat belati Alan terhenti beberapa centimeter sebelum menebas leher Gina.


"Guild Master..." Gina yang merasakan panas di lehernya langsung melompat ke depan. Memanfaatkan sebaik mungkin sedikit waktu yang telah diberikan oleh Guild Masternya untuk menyelamatkan nyawanya.


"Oh... Si arang mencoba mengganggu..." Ejek Alan pada sosok terselimuti api yang menangkis The Forgotten Dagger. Rasa panas bisa Alan rasakan memancar dari seluruh tubuh sosok di hadapannya.


"Siapa yang kamu panggil arang?" Fire Blade begitu murka mendengar ejekan dari Alan. Tidak pernah sekalipun ada yang berani mengejek dirinya ketika dirinya menunjukkan bentuk Elemental Body miliknya.


"Akan ku buat kamu menjadi arang yang sesungguhnya..." Fire Blade memperbesar api yang menyelimuti tubuhnya. Mencoba membakar The Forgotten Dagger beserta tangan yang memegangnya.


***


Sekedar info...


Tahukah kalian? Dari setiap chapter yang saya terbitkan, ada dua batang rokok dan secangkir kopi yang menjadi sumber inspirasi.


Jadi jika saya tidak update dalam satu hari, itu berarti saya sedang tidak memiliki rokok yang menjadi teman menulis saya... Hahaha...


Hei... kamu... Kelak kamu akan tahu... Menjaga rinduku tidak akan semudah menenggak kopi pahitku...

__ADS_1


Eeeaaa...***


__ADS_2