New World

New World
Eksekusi Rencana Toni


__ADS_3

"Apa kau yakin kita hanya akan pergi berdua saja?" Red Ascend nampak meragukan keputusan Toni yang hanya membawa dirinya untuk pergi memeriksa Dungeon yang tiba tiba muncul. Padahal menurut dirinya, tempat yang akan mereka datangi tentu adalah suatu tempat yang penuh dengan bahaya.


Toni pun tersenyum lembut kepada Red Ascend, mencoba bersikap wajar agar rencananya tidak terbongkar sebelum dimulai. "Kita hanya akan memeriksanya terlebih dahulu. Akan sangat mencolok nantinya jika kita pergi dalam satu rombongan besar." Toni mencoba membuat alasan.


"Tapi kan kamu bisa mengirim orang lain. Tidak harus kamu sendiri yang berangkat." Red Ascend tetap bersikukuh, jika rencana yang Toni akan jalankan ini tergolong nekat. Mereka masih tidak tahu bahaya apa yang akan mereka hadapi nantinya. Jika Toni dan dirinya sampai mati sebelum penyerangan, tentu akan sangat mengurangi kekuatan dari batalion Toni.


"Sudahlah... Percaya padaku..." Toni tidak mau berdebat terlalu panjang. Mau bagaimanapun, jika dirinya berdebat dengan Red Ascend dirinya tidak akan pernah bisa menang.


"Hah... Baiklah..." Red Ascend pun hanya bisa menuruti kemauan Toni. Mau bagaimanapun Toni adalah kapten dari batalionnya, Toni yang menentukan rencana terbaik untuk keberhasilan misi.


"Begitu dong... Itu baru My Sweet Heart." Toni mengusap kepala Red Ascend. Membuat rambut merah yang dimiliki gadisnya tersebut sedikit berantakan.


"Uhm..." Gembung pipi Red Ascend membuat wajah Red Ascend semakin imut.


Setelah keluar dari Ibukota Kerajaan Demon God, Toni langsung mengeluarkan mana dari dalam tubuhnya. Sebuah aura kecoklatan pun keluar dari dalam tubuhnya.


"Earth Surf!"


Sebongkah tanah yang cukup untuk dinaiki dua orang langsung menyembul dari dalam tanah, Toni dan Red Ascend pun naik ke atasnya. Dan dengan aliran mana dari kaki Toni, bergeraklah bongkahan tanah tersebut ke arah yang Toni inginkan.


"Berpeganganlah... Kita sedang sedikit diburu waktu." Toni memperingatkan kekasih hatinya tersebut. Tanpa diberitahu dua kali pun Red Ascend langsung melingkarkan tangannya di pinggang Toni. Menjaga dirinya agar tidak terjatuh dari lesatan papan seluncur tanah yang Toni buat.


Bagaikan sepasang kekasih yang sedang bertamasya, Toni dan Red Ascend menelusuri hutan hutan yang penuh dengan pepohonan. Hutan yang seharusnya penuh dengan monster, kini bagaikan sebuah taman belakang rumah bagi kedua sejoli tersebut. Semua berkat Joker tentunya. Toni bisa menghindari area yang sekiranya penuh dengan bahaya, dan bisa mengambil jalan tercepat ke tempat tujuannya.


Satu jam menaiki papan seluncur tanah, Toni dan Red Ascend sampai pada satu bibir gua. Mulut gua tersebut tidaklah lebar, hanya cukup untuk dimasuki oleh satu orang saja. Bagian dalam gua nampak begitu gelap, hingga mata telanjang mungkin tidak akan berfungsi dengan normal jika di dalamnya.


"Apa kamu yakin ini tempatnya?" Red Ascend sedikit takut untuk memasuki gua di hadapannya. Jalan masuk ke gua begitu kecil. Jika ada bahaya besar yang menanti, tentu akan sangat sulit bagi mereka berdua untuk melarikan diri.


"Aku yakin ini tempatnya." Toni mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam gua. Dirinya sudah pernah mendatangi gua di hadapannya, dan memastikan jika tidak ada bahaya yang akan menantinya.


"Hah... Baiklah..." Red Ascend pun hanya bisa mengikuti Toni, bagaimanapun hanya Toni seorang yang diberitahu oleh Poska mengenai lokasi yang harus mereka datangi.


"Fire Light!"


Red Ascend mengeluarkan sedikit mananya untuk membuat penerangan di dalam gua yang gelap. Membuat bebatuan gua yang keras bisa terlihat oleh mata.


Dua puluh menit sendiri Toni dan Red Ascend menulusuri gua tersebut. Red Ascend bahkan sudah berulang kali meminta kepada Toni untuk kembali. Dirinya benar benar takut di dalam gua tersebut, mengingat kecilnya akses keluar masuk yang harus mereka lewati.


Wush...


Sebuah angin yang cukup kencang berhembus dari dalam gua. Membuat bola api yang menjadi penerangan mereka berdua langsung padam. Kegelapan langsung menyelimuti mereka berdua.


"Ahh..." Red Ascend tentu terkejut dengan padamnya api yang dirinya buat secara tiba tiba. Apa yang dirinya benar benar takutkan telah terjadi.


"Kalau kau takut cukup tutup matamu. Aku akan memegangi tanganmu." Toni berlagak seperti pahlawan di dalam cerita cerita fantasi. Dengan memegang tangan Red Ascend, dirinya kembali mengajak Red Ascend untuk menuju tempat tujuannya.


"May..." Suara Toni yang begitu lembut terdengar. Toni telah melepaskan genggaman tangannya dari tangan Red Ascend. Kini Toni tengah berpose selayaknya ksatria yang sedang memuja kekasihnya. Dengan sebuah cincin di tangan kanannya, Toni siap untuk melakukan eksekusi rencananya.

__ADS_1


"Bukalah matamu..."


May pun membuka matanya. Dengan perlahan dirinya memberanikan diri untuk membuka kedua matanya.


Wuing...


Silau... Itulah yang dirinya rasakan ketika pertama kali membuka mata di dalam gua. Cahaya hijau, biru, kuning, merah berpadu menjadi satu kesatuan yang membentuk suatu keindahan di dalam gua.


"Earth Blast!"


Toni mengalirkan mananya ke seluruh penjuru dinding gua. Bebatuan warna warni yang menghiasi dinding dinding gua pun langsung pecah dengan sendirinya. Pecah menjadi serpihan serpihan kristal kecil yang berwarna warni. Membuat sebuah hujan kristal yang begitu elok dipandang mata.


"Aku tahu ini terlalu cepat... Tapi ini akan menjadi bukti keseriusanku padamu."


"Di dalam gua ini, dengan butiran butiran kristal yang menjadi saksinya." Toni menjeda perkataannya, bersiap mengatakan maksud dan tujuannya.


"May... Mau kah kamu selamanya di sampingku? Menjadikan aku yang pertama kamu lihat ketika kamu terbangun di pagi hari? Mau kah kamu menikah denganku?" Tangan Toni sedikit bergetar, menandakan perlu mental yang begitu kuat untuk mengatakan ucapannya barusan.


"Ini..." Air mata Red Ascend runtuh dengan sendirinya. Dirinya benar benar tidak menduga jika Toni menyiapkan sesuatu seperti ini untuk dirinya.


Red Ascend benar benar terharu dengan apa yang Toni lakukan. " Maaf Ton... Tapi aku..."


###


(Red Ascend Proove)


"Awas saja nanti... Akan aku balas dia jika sudah sampai di Kota."


Aku pun tidak bisa mengelak lagi, sudah terlanjur sudah. Yang bisa aku lakukan hanyalah menuruti kata katanya. Aku terlalu takut akan hal yang bernama kegelapan.


Dengan perlahan aku harus mengikuti langkah kaki Toni, lantai gua yang licin dan keras memaksa diriku untuk ekstra hati hati. Aku heran, bagaimana Toni bisa berjalan selayaknya orang normal di dalam gua gelap seperti ini.


Angin yang tadinya bertiup kencang pun tidak lagi aku rasakan. Kini sensasi udara dingin yang begitu menusuk kulit menerpa tubuhku. Jika bukan karena aku seorang elementalist api, mungkin aku akan kedinginan disini. Namun tentu aku masih belum berani membuka mata. Aku yakin, tempat yang aku pijak saat ini masih gelap. Lebih baik aku menutup mata, daripada harus membuka mata dan hanya kegelapan yang aku lihat. Bukankah itu semua sama saja?


"Apa kita sudah sampai?" Tanyaku pada Toni, yang sekiranya telah melepaskan genggaman tangannya. Ingin ku memukul kepalanya, karena dengan seenak hati melepaskan tangan seorang gadis di tempat yang begitu gelap seperti ini.


"May..." Suara Toni ku dengar begitu halus, suara manja yang begitu jarang aku dengar keluar dari mulut Toni.


"Bukalah matamu..."


Aku pun memberanikan diri untuk membuka mata. Toni begitu paham tentang diriku yang sangat takut akan kegelapan. Dan aku percaya pada Toni, jika Toni tidak akan membuatku merasakan hal yang namanya ketakutan.


"Ini..." Sontak aku terbuai dengan apa yang aku lihat. Crystal warna warni yang masing masingnya mengeluarkan cahaya menghiasi seluruh gua. Cahaya warna warni memantul kesana kemari, membuat dinding gua yang seharusnya gelap, kini terlihat begitu mengesankan.


Duar...


Mataku semakin tidak bisa percaya dengan apa yang aku lihat. Seolah olah apa yang aku lihat ini hanya sebuah kebohongan belaka. Kristal yang tadinya menghiasi setiap dinding dan lantai gua, kini pecah menjadi serpihan serpihan kecil. Membuat gua yang aku tempati bukan lagi sebuah gua yang menyeramkan.

__ADS_1


Aku bagaikan seorang peri, yang tengah bermain di tengah tengah hujan kristal warna warni. Air mataku pun tak kuasa menetes dengan sendirinya. Tidak aku sangka, aku akan diperlakukan begitu istimewa oleh kekasih ku satu satunya.


Keterkejutan yang aku terima tidak berhenti sampai disana. Tanpa aku duga, Toni mengatakan suatu kata kata yang begitu diimpikan oleh semua wanita.


"Maukah kau menikah denganku?"


Sebuah pertanyaan sederhana namun begitu sulit untuk dijawab. Aku tidak menduga sama sekali. Toni... Seorang anak bangsawan, akan melamar diriku yang hanya seorang anak pemilik dojo.


Bagi semua wanita tentu itu adalah idaman. Namun bagiku? Tentu aku ingin untuk membalas dengan sebuah kata "YA" atau hanya dengan anggukan kepala pun sudah cukup.


Tapi begitu banyak yang harus dipertimbangkan.


Siapa aku?


Apa aku pantas menerima semua ini?


Aku pun sadar dengan batasan diriku. Aku hanyalah anak pemilik sebuah dojo. Aku tidak akan pantas untuk bisa bersanding dengan layak di samping Toni. Aku tidak siap untuk bertemu dan diperkenalkan kepada keluarga Toni tentang siapa diriku.


Siapa dia? Kenapa kamu memilih wanita seperti dia? Apa kamu tidak bisa memilih wanita?


Aku tidak siap untuk mendengar sebuah pertanyaan penuh kedengkian seperti itu. Aku tidak siap untuk melihat tatapan iri nan penuh ejekan pada setiap orang yang melihat diriku. Tatapan yang mengartikan aku hanya memanfaatkan Toni untuk menaikkan derajat diriku dan keluargaku.


Dengan berat hati pun... Aku harus melakukan apa yang bukan maksud hatiku.


"Maaf Ton... Tapi aku tidak bisa menerimanya." Air mataku keluar dengan sendirinya saat diriku berkata seperti itu. Perkataan penolakan yang sangat bertentangan dengan kata hatiku yang sebenarnya.


Namun itu adalah yang terbaik kurasa. Toni berhak untuk mendapatkan seseorang yang jauh lebih pantas, daripada diriku yang hanya seorang anak pemilik dojo.


###


(Author Proove)


Jawaban dari Red Ascend benar benar menghujam hati Toni. Dirinya benar benar tidak menduga jika Red Ascend akan memberikan jawaban yang 180° berkebalikan dari harapannya.


"Kenapa May?" Toni tak kuasa meneteskan air matanya. Sebuah penolakan akan cintanya yang begitu tulus benar benar menyakitkan hatinya.


"Kamu berhak untuk mendapatkan yang lebih baik dari diriku." Jawab May sembari memalingkan wajahnya. Dirinya tidak kuasa melihat pria yang dicintainya harus bersujud memohon cinta kepada dirinya.


"Kamu lah yang terbaik bagiku May... Aku yakin itu..." Toni menggenggam erat tangan May. Mencoba meyakinkan kekasihnya tersebut jika dirinya tidak salah telah memilih wanita.


"Maaf Ton... Tapi aku benar benar belum siap..." Red Ascend tak kuasa jika harus tetap berada di tempat tersebut. Suasana gua yang begitu indah, ditambah sosok Toni yang sedang memohon cinta pada dirinya. Lambat laun dirinya pasti akan luluh jika tetap berada di tempat tersebut.


Red Ascend pun berlari keluar gua, meninggalkan Toni yang masih bersujud dengan satu kakinya.


"May.. Tunggu... Beri aku penjelasan May..." Toni mencoba mengejar Red Ascend. Namun nampaknya Red Ascend tidak ingin Toni melakukan hal tersebut.


Red Ascend melambaikan tangannya, dan sebuah dinding api merah membara menutupi jalan keluar gua. Membuat Toni tidak bisa mengejar Red Ascend yang meninggalkan dirinya sendirian di dalam gua.

__ADS_1


"Maafkan aku Ton.... Tapi ini yang terbaik..." Sembari meneteskan air mata, Red Ascend terus berlari meninggalkan Toni. Dengan sebuah bola api di tangan kanannya, dirinya terus menelusuri sempitnya jalan keluar gua yang harus dirinya lalui.


__ADS_2