
Meskipun ada ribuan Angel yang melindungi Kuil Cahaya, Tara mulai sedikit merasa gusar. Ketenangan yang sedari tadi terpancar di wajahnya kini perlahan luntur dengan sendirinya. Pasalnya dirinya tidak bisa mendeteksi dimana pasukan Demon yang menyerang. Namun satu persatu Angel yang berjaga di sekitar Kuil Cahaya berjatuhan dengan sendirinya.
"Sial... Kenapa ini terjadi? Berapa banyak musuh yang menyerang?" Umpat Tara pada Prioda yang berdiri di sampingnya. Dirinya sudah tidak mendapati adanya Toni di sisinya, sehingga menjadikan Prioda sebagai sasaran kemarahannya.
"Kita masih belum tahu Nona Tara... Tapi mereka menyerang dari empat sisi." Jawab Prioda yang masih belum tahu jumlah musuh yang menyerang. Pandangannya tertutup oleh pasukan Angel yang berjaga di sekitar Kuil Cahaya.
"Cepat bertindak! Aku tidak memanggilmu kesini hanya untuk berdiri dan melihat anak buahmu mati satu persatu." Perintah Tara pada satu satunya High Angel yang ada di Kuil Cahaya tersebut.
"Baik Nona Tara..." Prioda merasa sedikit kesal, mendapat bentakan dari Tara. Namun dirinya juga sadar, jika apa yang dilakukan Tara demi kelangsungan Kuil Cahaya di Kerajaan Demon God.
Angel Prioda langsung mengepakkan enam pasang sayap putihnya untuk terbang melesat ke puncak piramida gelap yang menutupi Kuil Cahaya.
###
"Ah... Ini membosankan..." Selene serasa ingin memukuli kepala Alan. Pekerjaan seperti ini seharusnya sudah cukup untuk dilakukan para anak buahnya saja, tidak perlu sampai harus dirinya yang seorang High Demon turun tangan.
Selene sudah terlanjur berubah ke dalam bentuk terkuatnya, mengingat Alan memperingatkan dirinya agar berhati hati. Namun apa yang dirinya dapatkan tidak sesuai ekspektasinya.
Memang jumlah Angel yang menjaga Kuil Cahaya sangatlah banyak. Namun keenam duplikat tubuhnya sudah lebih dari cukup untuk menghabisi setiap Angel yang mencoba mendekati dirinya. Dirinya pun hanya berdiam sembari memandangi para Angel yang mati satu persatu karena dibunuh duplikat tubuhnya.
###
"Aaa...." Jeritan demi jeritan terdengar dari setiap Angel yang terbunuh di sisi timur Kuil Cahaya. Mereka mati dengan cepat setelah mendapat serangan tebasan pedang. Tidak ada satupun yang bisa melihat siapa yang telah menyerang mereka. Mereka hanya bisa merasakan sakitnya tertebas pedang dan akhirnya mati tanpa mengetahui siapa pembunuhnya.
"Formasi bertahan!" Teriak salah satu Angel yang terus melihat kawanannya mati satu persatu. Mencoba bertahan dari serangan pembunuh berdarah dingin yang membayangi dirinya.
Para Angel langsung membentuk sebuah formasi bertahan. Berkelompok setiap sepuluh orang dan saling membelakangi punggung. Dengan begitu mereka akan bisa mengetahui siapa yang menyerang mereka.
"Hem... Kalian justru terlihat sudah pasrah akan kematian kalian jika seperti itu..." Senyum kecil tercipta dari bibir Rendemiz yang saat ini telah menghilangkan keberadaannya. Kekuatan special yang dimilikinya membuat dirinya tidak bisa terdeteksi sedikitpun.
"Kalau begitu akan aku percepat kematian kalian..." Rendemiz mulai kembali melancarkan serangan. Tidak ingin membuang waktu terlalu lama dengan para Angel yang ada di Kuil Cahaya tersebut.
Slash...
Slash...
Formasi bertahan yang diterapkan oleh para Angel nyatanya tidak berguna. Mereka tetap tidak bisa mendeteksi keberadaan Demon yang menyerang mereka.
"Semuanya... Berikan berkah cahaya kalian padaku!" Teriak salah satu Angel yang tadi memberi komando untuk membentuk formasi bertahan. Meminta kepada teman teman Angelnya untuk memberikan berkah cahaya yang mereka miliki pada dirinya.
Dengan menerima berkah cahaya dari teman temannya, dirinya akan jauh bertambah kuat. Dirinya percaya diri dapat mengalahkan Demon tidak terlihat yang menyerang mereka.
__ADS_1
Lebih dari 50 Angel langsung mengangkat satu tangan mereka ke atas. Mengirimkan berkah cahaya yang mereka miliki pada salah satu temannya.
Cahaya cahaya putih langsung bersinar dari tubuh para Angel yang mengangkat tangan, setiap cahaya putih langsung terbang ke arah salah satu Angel yang meminta berkah cahaya tersebut.
"Hiya..." Teriak Angel yang menerima berkah cahaya dari teman temannya. Kekuatan yang dirinya miliki langsung bertambah kuat dengan sendirinya. Cahaya putih langsung menyelimuti sekujur tubuhnya, membuat satu perisai pelindung yang bisa melindungi tubuhnya dari serangan apapun.
"Ooohh... Ingin mengorbankan teman temanmu demi keselamatanmu sendiri?" Rendemiz tersenyum kecil, melihat lebih dari 50 Angel langsung tergeletak lemas setelah mengirimkan berkah cahayanya. Common Angel tidak memiliki berkah cahaya yang begitu banyak, sehingga kehilangan berkah cahaya membuat Common Angel langsung kehilangan hampir seluruh tenaganya.
Rendemiz memanfaatkan situasi dengan membunuh para Angel yang tergeletak lemas. Dirinya sudah belajar banyak dari Alan mengenai strategi pertarungan. Jika tidak bisa membunuh yang kuat secara langsung, perlemah kekuatan musuh yang ada terlebih dahulu.
Dalam hitungan detik Rendemiz langsung menghabisi lebih dari 50 Angel yang lemah. Darah emas yang mengalir dari setiap Angel yang dirinya bunuh pun menempel di Timeless Blade yang dirinya genggam. Membuat Timeless Blade sedikit bisa terlihat dengan kasar mata.
"Jadi disitu kamu rupanya." Senyum Angel yang menerima berkah cahaya dari teman temannya. Dirinya tidak ambil pusing dengan kematian teman temannya, yang lebih penting bagi dirinya adalah keselamatan Kuil Cahaya, bukan keselamatan para Angel.
Angel tersebut langsung melesat cepat ke arah darah emas yang melayang di udara, yang merupakan refleksi bayangan dari Timeless Blade.
"Ooohh... Lalu kenapa kalau kamu tahu posisiku? Bukankah hasilnya akan sama saja?"
Rendemiz mengibaskan Timeless Blade, membuat darah emas yang tadinya menempel di Timeless Blade langsung terlepas ke udara. Keberadaan dirinya pun kembali tidak bisa dilihat oleh para Angel.
Thang...
Thang...
"Kau tidak akan bisa membunuhku..." Ejek Angel tersebut, setelah merasakan beberapa tebasan pedang Rendemiz membentur perisai cahayanya.
"Ooh ya? Mari kita lihat..." Rendemiz menggenggam erat Timeless Bladenya, bersiap memberikan serangan yang lebih kuat kepada Angel di hadapannya. Dirinya sudah begitu gatal ingin membuat Angel di hadapannya menutup mulut selamanya.
###
Diantara keempat sisi yang menyerang Kuil Cahaya, mungkin yang tidak begitu berefek memberikan serangan dalam dampak besar hanya sisi Barat, tempat Flyin menyerang.
Flyin hanya seorang Advance Demon, kekuatan yang dirinya miliki jauh di bawah Rendemiz maupun Selene. Tubuhnya memang lebih kuat daripada Common Angel, namun tetap saja, jumlah Angel yang mengepung dirinya ada ratusan. Jika bukan karena kemampuan membaca pikiran dan Immunity Potion Ball yang Alan berikan, seratus nyawa pun tidak akan cukup untuk membuat dirinya keluar hidup hidup dari tempat itu.
"Sial.. Kenapa serangan kita tidak ada yang mempan kepadanya?" Teriak salah satu Angel yang begitu frustasi dengan keadaan. Sudah berkali kali dirinya dan Angel lainnya mendaratkan serangan di bagian vital Demon di hadapannya. Namun Demon di hadapannya seakan tidak terpengaruh sama sekali akan serangan yang diterimanya.
Padahal dirinya tahu betul, tombak dan pedang yang digunakan oleh para Angel telah menebas tubuhnya. Namun anehnya, tidak ada luka sama sekali yang tercipta dari setiap serangan yang mendarat di tubuh Demon tersebut.
"Kita serang terus... Kekuatan special yang dirinya miliki pasti ada batasannya." Teriak Angel tersebut. Mencoba menolak pikiran akan Demon di hadapannya tidak bisa dibunuh.
"Hem... Sepertinya ini akan menjadi sedikit lebih lama... Tapi tak apa, aku bisa memanfaatkan situasi ini..." Gumam Flyin sembari memberikan serangan serangan pada Angel di sekitarnya. Setiap cakaran yang Flyin berikan selalu bisa memberikan luka yang fatal, atau malah langsung membunuh Angel yang diserangnya.
__ADS_1
Namun jumlah Angel yang begitu banyak, membuat Flyin harus tetap berkonsentrasi secara penuh. Flyin tetap tidak boleh terlalu mengandalkan efek Immunity Potion Ball yang Alan berikan. Dirinya sudah belajar banyak dari Alan selama setahun mengikuti Alan berpetualang, kita tidak bisa terlalu mengandalkan satu kemampuan yang kita miliki, kita harus memiliki suatu kemampuan yang bisa menutupi kekurangan dari kemampuan kita lainnya.
Dan dari situlah Flyin sadar, jika dirinya tidak boleh hanya mengandalkan efek dari Immunity Potion Ball, dirinya sadar diri jika dirinya jauh lebih lemah dari Alan maupun kedua Demon kakak beradik. Oleh sebab itu, dirinya bisa menjadikan pertarungan melawan Angel sebagai ajang pelatihan keras pada tubuhnya. Membuat dirinya bisa melampaui batas maksimal yang selama ini membatasi pikirannya.
"Akan kulihat seperti apa batasan yang aku miliki..." Flyin mengeluarkan aura keunguan dari dalam tubuhnya. Menghindari setiap serangan Angel dan langsung membalas dengan mendaratkan serangan.
###
"Kita menyebar! Musuh kita hanya ada 4!" Toni memberi komando kepada anggota batalyonnya.
"Empat?" Setiap anggota Light Guardian seakan tidak percaya dengan apa yang Toni katakan. Empat Demon dan bisa membuat ribuan Angel yang menjaga Kuil Cahaya kerepotan. Pertanyaan akan sekuat apa Bangsa Demon pun langsung terlintas di benak mereka.
"Ya... Lima jika dihitung dengan Naga yang ditunggangi salah satunya." Jawab Toni akan pertanyaan tidak berbentuk dari semua anggotanya tersebut.
"Naga?" Semua anggota Light Guardian langsung terdiam, mereka telah melihat video di reruntuhan Gereja Satanisme. Jika benar itu Naga yang sama, maka tamatlah sudah riwayat mereka.
"Biar aku dan Prioda yang menghadapi Naga beserta Demon penunggangnya, kalian urus ketiga Demon lainnya." Toni langsung menjawab ketakutan dari para anggotanya. Meskipun dirinya sedikit takut, namun dirinya bisa sedikit percaya diri karena keberadaan Joker bersamanya. Joker bisa memberikan informasi informasi yang bisa dirinya gunakan dalam pertarungan nantinya.
"Kapten?" Vizgraf sedikit ragu dengan keputusan Toni. Dirinya juga sudah melihat seperti apa Naga yang ada di video tersebut. Dirinya ragu jika Toni dan Angel Prioda akan bisa menghadapi Naga beserta Demon penunggangnya.
"Tenang... Ada para Angel juga. Jangan cemaskan aku..." Jawab Toni sembari mengeluarkan sebuah alat dari tas penyimpanannya. Alat yang selama ini hanya dirinya simpan karena takut akan rusak.
Sebuah papan terbang yang bisa membantu dirinya untuk bisa terbang melayang. Meskipun Toni begitu sayang untuk menggunakan papan terbang tersebut, namun dirinya akan sangat membutuhkan papan terbang tersebut untuk menghadapi Naga yang bisa terbang.
"Ingat... Jangan mati!" Pesan Toni sebelum dirinya menaiki papan terbang dan melesat ke arah puncak piramida hitam yang menutupi Kuil Cahaya.
"Yang harusnya bilang seperti itu aku Kapten..." Ucap Vizgraf dengan perlahan, dirinya takut jika Toni dan Prioda akan gagal mengahadapi Demon beserta Naga yang ditungganginya.
***HALO SEMUA... TERIMA KASIH TELAH MEMBERIKAN DUKUNGAN DENGAN TETAP MEMBACA NOVEL PERTAMA SAYA INI.
SEMPAT SAYA MEMBACA KOMENTAR DAN ADA YANG MINTA CRAZY UP. MAAF SEKALI LAGI? BUKANNYA SAYA TIDAK MAU, TAPI MASALAHNYA ADALAH ADA DI WAKTU.
BIARKAN SEDIKIT SAYA GAMBARIN KONDISI SAYA DALAM MENULIS...
.....
JADI... GITU...
.....
TERIMA KASIH UNTUK SEMUA DUKUNGAN YANG KALIAN BERIKAN. SETIAP LIKE, VOTE, DAN KOMENTAR KALIAN MENJADI PENYEMANGAT TAMBAHAN SAYA.
__ADS_1
CUKUP PAHITNYA KOPI SAJA YANG KAU RASAKAN, PAHITNYA DICAMPAKKAN JANGAN...
EEEAAA...***