
Sosok Alan yang masih dengan tenang berdiri di atas benteng Istana Marry begitu menekan jiwa para Demon yang ada di sekitar Istana Marry, tidak terkecuali keempat High Demon yang tersisa. Mereka semua ingin lari. Tapi mereka tidak bisa lari, ketika mereka berpikir akan berlari menjauhi dari Alan. Mereka justru berlari mendekati Alan.
Hal itu tentu membuat semua Demon yang ada di tempat tersebut merasa frustasi. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi dengan tubuh mereka. Seakan akan tubuh mereka tidak lagi menuruti perintah otaknya.
Para Demon tidak menyadari jika semua karena efek dari Real Counter tentunya. Real Counter membalikkan semua yang ada di dalam Shadow Zone. Jika Demon tersebut begitu cepat, maka kecepatan Demon tersebut akan berbalik menjadi begitu lambat. Jika Demon tersebut ingin kabur menjauh dari Alan, maka Demon tersebut justru akan mendekati Alan. Real Counter akan membalikkan semua kondisi dan pikiran yang menjadi target di dalam Shadow Zone.
Hanya saja Real Counter tidak bisa merubah akan sesuatu yang berhubungan dengan kematian dan kehidupan. Tidak ada kemampuan yang mampu mengganggu gugat dua hal tersebut, kecuali kemampuan dari Tuhan tentunya.
"Siapa sebenarnya kamu?" Moroz yang kakinya gemetaran memberanikan diri bertanya akan identitas Alan. Tidak pernah dirinya dengar di Dunia Abyss ini ada sosok yang bahkan kekuatannya bisa melebihi kekuatan dari Jenderal Besar para Demon sekalipun. Namun di hadapannya kini bisa dirinya kenali dan yakini jika sosok tersebut bukanlah seorang Demon.
"Sia sia belaka jika aku menjawab pertanyaanmu. Karena kalian semua akan menjadi makanan Shadow Bloodku!" Alan mengaktifkan Shadow Step. Membuat kecepatannya dua kali lipat dari kecepatan normalnya. Padahal kecepatan biasanya saja sudah cepat. Ditambah dua kali lipat? Membuat tubuh Alan bagaikan sebuah bayangan abu abu yang menyerang ke arah keempat High Demon.
"Kurang ajar..." Moroz berusaha melawan dengan mengayunkan pedangnya ke arah bayangan Alan. Namun ayunan pedangnya seakan berbalik arah dengan sendirinya. Menebas tangan kirinya sendiri.
Slash...
Setelah ditebas tangan kirinya dengan pedangnya sendiri, Alan melengkapi luka yang diderita Moroz dengan menebas lehernya. Membuat leher Moroz harus terpisah dari tubuhnya. Darah hijau bagaikan sebuah air mancur yang keluar dari tubuhnya yang sudah tanpa kepala.
Bukan tanpa alasan Alan menjadikan Moroz sebagai sasaran kedua. Moroz memiliki kecepatan yang sangat merepotkan, bahkan jauh lebih cepat daripada dirinya. Untuk itulah dirinya membunuhnya terlebih dahulu sebelum Real Counternya telah berakhir.
"Monster..." Gumam Branco yang melihat Alan membunuh Moroz dengan satu kali serangan. Dirinya tahu betul seperti apa keras dan kuatnya tubuh seorang High Demon. Namun di hadapan Alan, tubuh High Demon tersebut bagaikan sebuah tahu empuk. Ditebas dengan mudah menggunakan kedua belatinya.
"Apa yang harus kita lakukan?" Berisha hanya bisa memandang kosong ke arah Alan. Dirinya tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menyelamatkan nyawanya. Melihat kedua temannya mati dengan mudahnya di tangan Alan.
Alan tidak berpuas diri hanya dengan membunuh Moroz, dirinya melesat dengan cepat ke arah ketiga High Demon yang tersisa.
Ketiga High Demon tersebut berusaha melawan Alan, namun tentu saja semuanya sia sia. Real Counter benar benar telah membuat mereka semua tidak berdaya untuk melawan Alan. Alan membunuh ketiga High Demon yang tersisa. Menjadikan jiwa mereka makanan bagi Shadow Blood yang ada di dalam tubuh Alan.
Selesai membunuh ketiga High Demon, Alan mengalihkan pandangannya ke arah para Demon yang tersisa. Menjadikan mereka sasaran selanjutnya untuk menjadi santapan bagi Shadow Blood di dalam tubuh Alan.
"Silahkan pilih... Mau mati dengan mudah dan cepat? Atau harus dipersulit?" Alan tersenyum kecil, melihat wajah ketakutan dari para Demon yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
Tujuh puluhan Demon yang tersisa pun tidak punya pilihan. Pilihan manapun yang akan mereka pilih, ujungnya tetap satu, Kematian. Mereka tentu lebih memilih untuk tetap diam, dan membiarkan Alan mempercepat proses kematiannya. Daripada harus di perlama dan dibuat semakin menyakitkan oleh Alan.
Rendemiz yang melihat Alan menghabisi semua Demon yang ada di depan Istana Marry seorang diri sampai lupa untuk bernafas. Dirinya tahu jika Alan itu kuat, tapi tidak pernah dirinya bayangkan Alan akan begitu kuat. Sampai bisa menghadapi ratusan Demon seorang diri. Dirinya pun bersyukur tidak menjadi pihak yang harus melawan Alan.
###
"Ratu... Ada sedikit gangguan di depan Istana Anda." Varta segera memberikan laporan pada Marry, begitu mengetahui adanya keributan di luar Istana Marry.
"Gangguan? Apa itu? Tidak bisakah Preus dan yang lainnya mengatasi hal itu?" Marry nampak tidak begitu memperdulikan laporan Varta. Istananya dilindungi oleh lima High Demon yang kekuatannya begitu hebat. Apalagi kerjasama mereka berlima begitu luar biasa.
"Saya sudah mengirimkan mereka berlima Ratu... Tapi mereka berlima telah dikalahkan." Varta sangat berhati hati dalam berkata. Takut jika Marry langsung akan marah begitu mendengar perkataannya.
"Hahahaha.... Kamu memang suka bercanda Varta. Memang siapa yang telah menyerang Istana ini? Azazel?" Marry tahu sekuat apa kelima High Demon anak buahnya tersebut. Jika mereka berlima bisa dikalahkan, salah satu kemungkinan adalah yang menyerang Istana Marry adalah salah satu Jenderal Besar para Demon.
"Itu... Yang menghabisi mereka berlima adalah seorang Elf, Ratu..."
"Elf?" Begitu mendengar satu kata yang begitu asing di Dunia Abyss perhatian Marry langsung sepenuhnya teralihkan kepada Varta. Jika benar ada Elf di Dunia Abyss ini, tentu Marry tidak akan membuang kesempatan untuk bisa mendapatkan suplai darah segar yang begitu lezat untuk diminum.
"Menarik..." Marry langsung bangkit dari singgasananya. Dirinya segera pergi dari ruang singgasana, dan menuju ke tempat lain.
Bukan keluar Istana untuk menghadapi Alan, melainkan ke ruang tahanan. Dirinya hanya perlu memainkan satu bonekanya untuk membawakannya suplai darah segar bagi dirinya, Zepar.
"Apa maumu?" Berbeda dengan dahulu dahulu yang selalu memuja Marry, sikap Zepar jauh berbeda di hadapan Marry kali ini. Zepar kali ini nampak tidak menyukai melihat kedatangan Marry di ruang tahanannya.
"Tenanglah sayang..." Marry memegang jeruji besi yang menjadi pembatas dirinya dengan Zepar. Bisa jelas terlihat jika Zepar memiliki beberapa luka bekas terbakar di seluruh tubuhnya. Luka yang dirinya dapatkan dari Hell Chain yang dahulu mengikatnya. Namun Hell Chain tersebut kini telah lenyap, seiring dengan lenyapnya sang pengguna Hell Schyte.
"Cuih..." Zepar berusaha meludahi wajah Marry. Namun ludahnya tidak mencapai tubuh Marry sedikitpun.
Melihat sikap Zepar yang berubah begitu drastis, Marry hanya tersenyum kecil. Dirinya tidak terlalu mempermasalahkan perubahan sikap Zepar. Dirinya hanya perlu sekali lagi menanamkan Absolute Love ke dalam tubuh Zepar, dan Zepar akan sekali lagi menjadi salah satu boneka mainannya.
Krek...
__ADS_1
Pintu jeruji besi yang memisahkan Marry dengan Zepar terbuka. Membuat Marry bisa memasuki ruang tahanan yang mengurung Zepar. Sosok Zepar yang terikat rantai di dinding ruang tahanan pun kini bisa terlihat dengan jelas oleh Marry.
"Apa kamu tidak bosan tinggal disini sayang?" Marry membelai wajah Zepar, dengan hangatnya dirinya menyentuh wajah yang terdapat luka bekas terbakar berbentuk rantai tersebut.
Sontak kepala Zepar mengikuti belaian tangan Marry. Kemarahan dan kebencian kepada Marry karena telah dikurung di ruang tahanan tersebut seakan sirna seketika. Berganti dengan rasa nyaman karena di sentuh oleh belaian tangan halus Marry.
"Bagus sayang... Aku juga sebenarnya ingin bersamamu." Marry mendekatkan wajahnya ke wajah Zepar, membiarkan hembusan nafas hangatnya memapar wajah Zepar.
Perasaan Zepar bagaikan terbang melayang, kekuatan Absolute Love mulai merasuki pikirannya.
"Apa kamu ingin selalu bersamaku sayang?"
Mendengar pertanyaan manja dari Marry, kepala Zepar bereaksi dengan sendirinya untuk mengangguk. Mengiyakan pertanyaan yang baru saja ditanyakan oleh Marry.
"Seharusnya kita bisa selalu bersama sayang..." Marry mendekapkan wajahnya pada dada Zepar. Tubuh Zepar yang masih terikat dengan erat di dinding ruang tahanan, memudahkan Marry untuk menyandarkan kepalanya pada dada bidang Zepar.
"Tapi ada seorang Elf yang selalu mengejar ngejar diriku. Aku takut sayang..."
Mata Zepar langsung melotot, mendengar adanya seseorang yang bersaing dengan dirinya demi mendapatkan cinta Marry.
"Apa kamu mau menangkapnya untukku? Aku tidak mau membunuhnya. Aku ingin mengajarkan kepadanya jika aku bukanlah sosok yang bisa dirinya cintai." Tanpa mengangkat kepalanya dari dada Zepar, Marry terus mencoba merayu Zepar. Memperdalam Absolute Love yang kini hampir mencapai klimaksnya.
"Akan kulakukan semua untukmu sayang..." Suara serak Zepar keluar dari mulut Zepar, menandakan Zepar begitu menahan amarah saat ini.
"Terima kasih sayang... Kamu memang selalu bisa menjadi pelindungku..." Marry melepaskan dekapannya, dan memerintahkan penjaga ruang tahanan untuk melepaskan rantai yang mengikat Zepar.
Para penjaga sempat ragu, namun melihat anggukan kepala dari Marry sekali lagi. Membuat para penjaga ruang tahanan memberanikan diri. Mereka tentu tahu jika Zepar kini telah terjatuh ke dalam lubang Absolute Love yang terdalam.
"Kamu akan membutuhkan ini sayang..." Marry menyerahkan Timeless Blade yang dirinya sita dari Zepar. Mengembalikannya kepada Zepar agar digunakan sebagai senjata dalam menangkap sosok Elf yang akan menjadi penyuplai darah segar bagi dirinya.
"Terima kasih sayang... Aku akan segera kembali untukmu!" Zepar dengan langkah yang begitu mantap meninggalkan ruang tahanan. Mencoba menuruti permintaan Marry untuk menangkap sosok Elf yang ada di luar Istana Marry.
__ADS_1
"Hati hatilah sayang... Jangan sampai kamu membunuhnya..." Marry memberikan kesan pamitan yang manja. Namun raut wajah Marry langsung berubah menjadi tersenyum licik setelah berucap. Dirinya puas melihat Zepar kini telah kembali menjadi boneka yang bisa dirinya permainkan. Ditambah bayangan meminum darah segar setiap hari yang sudah terngiang ngiang di kepalanya, membuat suasana hati Marry benar benar bahagia.